![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Mas, Slamet Sapta benar-benar bekerja sama dengan mereka?" tanya Idaline pada Siji.
Bagi manusia modern ini pasti aneh karena tidak mungkin seorang anak berusia tujuh tahun melakukan makar pada negaranya.
Akan tetapi di dunia ini seorang anak tujuh tahun apalagi dia adalah seorang bangsawan, sudah mampu menguasai bidang-bidang wajib dan sudah menemukan bakat dirinya.
Maka sangat mungkin Slamet Sapta terlibat dalam kasus besar.
"Tidak seperti itu. Dilihat dari surat yang ditemukan, dia menyukai salah satu wanita mereka."
"Surat ya?" lontar Idaline "Pernyataan orang saja dapat memberatkan apalagi surat-surat cinta yang sering dikirimkan."
Perempuan ini pasti menjebak Slamet dan memikatnya entah bagaimana caranya.
Dia yang polos dalam percintaan pasti tidak akan sadar sedang dipermainkan.
Siji mengangguk. "Sedikit suratnya tapi banyak informasi yang diberikannya terlebih wanita itu kemudian dipekerjakan sebagai pelayan di istana lewat persetujuan tuan Sapta."
"Mereka mempekerjakan orang dengan seenaknya?!" celetuk Loro.
"Mata-mata itu licik, Loro," ucap Siji.
"Slamet ini tidak sengaja menyelamatkan si wanita dari para bandit. Kamu tahu kan bandit-bandit tidak akan berani berkeliaran di sekitar ibu kota? Kalau dia cerdas seharusnya paham dari awal!" ujar Siji.
"Oh ya ampun, Slamet.. Slamet.." Idaline berdecak sengit. "Tunggu, mas kan baru kembali? Bagaimana mereka ditangkap sebelumnya?!"
"Saat surat cinta Slamet Sapta tiba, tuan Bata Sapta yang mengambilnya dari kurir pesan. Dia membaca isi surat itu dan menemukan kejanggalan lalu diperiksalah seluruh surat yang diterima Slamet."
"Kalau Bata Sapta berarti adalah mantan Sapta Prabu, yah meski masih melakukan tugas Sapta Prabu secara tidak resmi," kata Idaline.
Dia kurang memahami masalah ini namun Baga Sapta tidak pernah memiliki tugas sebagai seorang Sapta Prabu meski sudah dilantik.
Malahan Bata Sapta, ayah Baga Sapta, yang melakukan tugas-tugas Sapta Prabu.
Padahal pria tua itu telah pensiun.
Idaline ingin bertanya pada Hayan, tapi jika tentang pekerjaan negara Hayan selalu menolak Idaline untuk terlibat.
Katanya takut Idaline kelelahan.
Idaline benar-benar tidak paham.
Dia peka dan mengerti perasaan Hayan pada dirinya.
Akan tetapi Hayan adalah penguasa.
Semua manusia di suatu daerah akan selalu dipandang sebagai budak dari pemimpin daerah. Namun Hayan tidak memanfaatkan kecerdasan Idaline.
Idaline hanya diperintahkan membangun ulang bangunan-bangunan di Keraton.
Ini termasuk hal penting namun bukan hal genting.
Dari kacamata keilmuan, harusnya Idaline ditempatkan di bidang permasalahan negara.
"Belum ada keluarga bangsawan lain yang tahu permasalahan ini."
"Dengan perkataan keluarga besar Sapta berlepas diri dan meminta Yang Mulia Maharaja menyelamatkan para wanita, Bata Sapta memberikan semua bukti yang mengarah hanya pada cucunya. Dia ingin masalah ini diselesaikan secara rahasia."
"Kemudian ditemukan bukti-bukti lain bahwa Baga Sapta dan putra-putranya mendukung hubungan mereka berdua. Ini tidak aneh bagi kita dan tidak menjadi bukti kuat atas pengkhianatan sebuah besar keluarga. Tapi.."
"..Bata Sapta bersama Baga Sapta dan putra-putranya membuka jalan masuk ke istana bagi para mata-mata," urai Siji panjang lebar.
__ADS_1
"Gawat sekali," gumam Idaline.
Idaline memijat keningnya yang pening. Ayah dan putra-putranya ini pasti mendukung hubungan percintaan antara Slamet Sapta dan rakyat jelata.
Widya telah merubah cara pandang keluarga bangsawan tertinggi setelah keluarga kerajaan ini agar memandang semua manusia sama karena setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi orang besar.
Idaline sedikit memaklumi putra-putra Sapta yang tidak dapat mengetahui identitas Soca, mata-mata Galuh, dan dia juga memaklumi Baga Sapta yang tidak menemukan informasi ini karena geraknya dibatasi Hayan.
Semestinya mereka bisa terbebas karena ketidaktahuan.
"Udel, yang bersalah harus dihukum," tutur Loro.
Bagi Loro, jika kesalahan seperti ini dibiarkan, selanjutnya para bangsawan akan abai dan bisa saja negara merugi akibat ketidak hati-hatian mereka.
Jadi bagaimanapun awalnya, bila sudah terlibat maka harus dihukum!
Idaline tahu hal ini. Yang bersalah harus dihukum.
Tapi bukankah seorang anggota keluarga bangsawan biasanya menutupi kesalahan mereka?
Apalagi kesalahan besar ini bisa menghapuskan satu keluarga besar
Bata Sapta yang notebene adalah bangsawan senior pasti sangat memahami konsekuensi besar ini.
Idaline menatap Siji yang sepertinya sudah tahu alasan Bata Sapta yang bersegera melapor pada Hayan.
"Bata Sapta terlihat menyayangi cucu-cucu perempuannya namun itu hanya dalih untuk menyelamatkan dirinya," ujar Siji menatap Idaline yang menatapnya penasaran.
"Ketua Soca ada di rumah Sapta dalam waktu yang lama dan Bata Sapta yang merekomendasikan agar dia menjadi pengawal Keluarga Sapta."
"Tunggu apalagi? Kita harus menangkapnya!"
"Ketua itu adalah Bimo, suami nona Sipta," ucap Siji membuat Idaline terkesiap. "Bagaimana, nok? Yang ini haruskah mas beri tahu? Apa yang harus mas lakukan? Haruskah mas masuk sekarang?"
"Kalian kembali. Aku harus melakukan sesuatu." Idaline melepaskan tangan Loro dan menunggang kudanya.
Siji yang melihat kepergian Idaline menghela napasnya. Adik sepupunya itu pasti sudah memutuskan dengan mantap.
Idaline turun dari kudanya dan memberikan tali kekang kuda pada prajurit membiarkan mereka memarkirkan kudanya lalu dia berjalan masuk melewati pengawal dan para prajurit juga ksatria yang berlalu-lalang.
Idaline mengambil obor dan terus melangkah masuk ke bagian tempat tergelap sampai muncul cahaya dari obor-obor yang tergantung.
Seorang pria yang sedang menulis di mejanya terkejut dengan kedatangan sesosok manusia mulia di tempat hina ini.
Bergegas dia berdiri dan menyambut Idaline.
"Yang Mulia–"
Idaline mengangkat tangannya memotong ucapan pria itu. "Aku sendiri."
"Silakan Yang Mulia." Pria itu menunjuk dengan tangannya lalu Idaline berjalan semakin masuk ke dalam.
Tanah yang mereka pijak berubah lembab dan aroma busuk menyeruak. Pria itu bergegas menyalakan pedupa agar tidak mengganggu penciuman majikannya.
Idaline berjalan ke satu persatu ruangan persegi yang batasi besi-besi yang berjejer rapih. Dia menengok ke kanan dan kiri sampai di ujung ruangan.
"Di mana Slamet Sapta?" tanya Idaline tidak melihat anak kecil itu di seluruh sel penjara.
"Dia berada di ruang wlaka, Yang Mulia."
Mereka pun menuju ruang wlaka, ruangan kejujuran, tempat menyiksa para tahanan.
__ADS_1
Ketika pintu ruang wlaka dibuka, bau anyir menusuk indra penciuman mereka.
"Uh!" Idaline mengernyit dan menutup hidungnya. Banyak darah menggenang di lantai Wlaka.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Akan kami bersihkan dahulu," kata pria itu mempersilakan Idaline duduk di luar ruang wlaka dan memberikan segala yang dibutuhkan Idaline terutama aroma wewangian.
Tak lama kemudian Wlaka jadi bersinar.
"Mohon maaf sudah membuat Anda menunggu."
"Tinggalkan kami," kata Idaline memasuki ruang wlaka.
Sesudah semua orang keluar dan menutup pintu dengan rapat, Idaline mendekat pada Slamet yang terduduk di tanah dengan banyak luka di tubuhnya.
Anak kecil ini pasti telah mendapatkan berbagai penyiksaan agar mengatakan hal-hal yang ingin didengar para penyidik.
"Slamet, aku akan memberimu satu kesempatan."
Hayan menatap Boco Ekadanta dan Arsa Wistara yang berdiri di depan mejanya.
"Kami menciptakan alat sihir untuk melumpuhkan kemampuan lawan tanpa kita terkena dampaknya," ujar Boco memberikan alat penelitiannya.
"Murid kami tidak bisa bertemu Mahapatih yang sedang ditahan dan juga tidak bisa menemui Baga Sapta yang masih menjadi penasihat Anda, Yang Mulia," tambah Boco sebab pengujian hanya dapat dilakukan bila sudah mendapat izin dari Mahapatih.
Tapi ternyata Boco menemukan fakta bahwa salah seorang yang pernah menjadi muridnya, Baga Sapta, ditangkap Maharaja.
"Anda bisa menanyakannya di penjara."
"Penjara?" celetuk Arsa. Dia berpikir Baga Sapta ditempatkan di Rumah Tahanan sama seperti Mahapatih jadi mereka bisa menemui kedua orang tertinggi itu di dalam kawasan yang sama.
Djahan yang telah selesai masa tahanannya harus berkutat dengan berbagai dokumen jadi dia belum sempat bertemu dengan para bangsawan.
Apalagi Hayan tidak mengumumkan waktu Djahan di rumah tahanan.
Para bangsawan hanya bisa menerka-nerka.
"Yang Mulia, apa tidak berlebihan menaruh penasihat ke dalam penjara?" tanya Arsa.
Dia menilai Maharaja tidak memiliki kesopanan pada para tetua terlebih seorang penasihat yang diangkat penguasa sebelumnya.
Alangkah banyak terobosan yang diciptakan Baga Sapta.
Dalam pandangannya, sangat tidak mungkin Baga Sapta mencoba melakukan pemberontakan.
"Silakan bertanya langsung. Saya masih memiliki pekerjaan lain."
"Kami permisi, Yang Mulia."
Boco dan Arsa menunduk pada Hayan lalu berjalan mundur dan menuju tempat yang disebutkan Hayan.
Wajah Maharaja yang terlihat serius membuat keduanya mengubah pikirannya.
Bilamana Baga Sapta terlibat dalam pengkhianatan, Boco dan Arsa yang akan menghabisi Baga dan orang-orang yang bersekutu dengannya.
Sekiranya betul Baga Sapta adalah pengkhianat,
pasti saat ini pasti ada bantuan yang datang ke sel penjara untuk menyelamatkan mereka!
Sebab tidak akan ada orang waras yang mempertaruhkan nyawa mereka.
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | 18 November 2021
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA TEMAN-TEMAN