TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
031 - PULANG


__ADS_3

"Padahal aku sudah menjelaskan dengan lengkap di surat." keluh Idaline membaca ulang surat yang dikirimkan Sri.


Nona, tuan Nanadana sudah datang. Beliau membawa banyak hadiah. Pesta ulang tahun nona mungkin terlewat, tapi pernikahan kalian sudah disiapkan oleh warga.


"Yang Mulia, mohon maafkan hamba tidak memberikan dengan gesit." sesal pelayan yang bersimpuh beberapa meter dari Idaline. Ia telat memberikan surat itu karena datang di malam hari ketika Idaline sedang tertidur.


Idaline menghela napasnya berhasil mendidik dayang dan pelayannya agar tidak mudah bersujud. "Siapkan kereta."


Idaline baru berkata ingin izin pulang ke Janapada, ratu langsung menyetujuinya. Ia dikawal sepuluh orang rangga dan Siji Loro sebagai ksatria pribadinya. Belum separuh perjalanan, empat orang rangga kembali datang mengawal kereta yang berisi penuh hadiah.


"Apa Djahan belum bilang pada Ibu Ratu?" gumam Idaline.


"Nona, selamat datang."


"Idaline! Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku di belakang dan tidak berkata apapun?" Nandana keluar dari rumah Idaline, raut wajahnya terlukis kekhawatiran.


"Bibi, sudah kubilang jangan biarkan dia menginap di rumah."


"Nona.." Sri berpikir Idaline dan Nandana terlibat pertengkaran kecil. Ia harus membuat keduanya berbaikan dan kembali pada jalan yang seharusnya.


"Tuan-tuan, suami nona Jumiati Yasa sudah memaksa masuk kediaman Raden Ajeng ini. Bawa dia ke kepala desa."


"Baik, Yang Mulia." sahut salah seorang rangga menangkap Nandana.


Idaline memutar matanya. Ia berharap Nandana dihukum warga desa bukannya dibekuk prajurit.


"Melihat kamu masih berkeliaran, sepertinya mereka tidak menghukummu dengan benar." Idaline menatap tajam Nandana yang lewat di depannya sambil diringkus oleh ksatria.


"Maafkan bibi. Siapa yang menyangka dia akan menikah dengan putri mentri pangan?" ucap Sri setelah menelaah ucapan Idaline.


"Putri selir dan pengajar akademik terlihat cocok!" cemooh Idaline. "Pergilah dengan baik, lalu aku akan membiarkanmu pergi melihat istrimu lahiran!" teriak Idaline terdengar oleh semua orang yang sedang menyiapkan pesta untuk mereka.


"Ya ampun bibi tidak becus sekali, ternyata dia sudah menikah sejak lama." omel Sri pada dirinya sendiri.


"Bibi bilang apa? Mereka baru menikah dua. bulan. lalu kok." tekan Idaline pada kata dua bulan.


"Kalian hentikan membuat masakannya!" perintah Sri dengan marah.


"Lanjutkan saja lalu bagi pada orang-orang." sela Idaline. "Tuan-tuan makanlah dengan nyaman." ucapnya pada para rangga kemudian Idaline pergi menyiapkan tempat tidur untuk mereka.


"Nona, bagaimana kalau kita siapkan rumah lain supaya mereka bisa beristirahat dengan nyaman?" usul Sri melihat beberapa lapis tikar jerami membentang di ruang tamu yang sudah dikosongkan dari kursi dan segala perabotnya.


"Mereka tidak akan mau." Idaline menatap Siji dan Siji mengerti maksud tatapannya. Ia panggil para rangga untuk bertemu Idaline.


"Yang Mulia, kami menghadap." ucap serempak para pria dewasa di hadapan Idaline.


"Karena kita sudah melewati perjalanan jauh. Berbaringlah dengan nyaman."


Para ksatria saling memandang ragu. Mereka tidak pernah memejamkan mata kecuali beberapa saat hanya untuk menghindari kegilaan akibat jarang tidur. Kenyamanan sudah mereka tanggalkan begitu menapaki jalan ini.


"Berbaringlah. Ini perintah!"


Mendengar kata perintah, secepat kilat keempat belas orang itu berbaring di atas tikar yang sudah digelar. "Kami harus menjaga Yang Mulia." ucap salah satunya.


"Aku di sini. Jadi tutuplah mata kalian, aku ingin melihat kemampuan kalian."


Belum lama mereka memejamkan mata, semuanya tertidur dengan pulas. "Ya-yang Mulia!" panggil salah satu dalam mimpinya.


"Tenanglah. Tenanglah. Aku aman di sebelahmu." ucap Idaline menenangkan. Raut sang ksatria tidak lagi tertekuk.


"Kamu memberi mereka obat tidur?" Loro menatap curiga Idaline.


"Aku hanya memberi lilin aroma terapi. Mereka yang kelelahan akan tenang lalu tidur dengan nyaman. Hoaaam. Aku juga mengantuk. Ada dua kamar tersisa jika kalian ingin beristirahat."


"Kalau kami istirahat, tidak akan ada yang menjagamu!" Siji khawatir Idaline merencanakan hal lain.


"Kita ada di Janapada. Tidurlah dengan pulas. Bukannya mas ingin ke medan perang? Di sana tidak akan bisa tidur." ledek Idaline, ia sudah mengajukan surat keberatan jika pengawal pribadinya dipisahkan darinya. Kemudian ratu memutuskan semua pengawal pribadi dilarang ikut selain rangga yang menjaga istana.


"Kamu terlihat ngantuk. Pergilah tidur. Aku akan berjaga." usir Siji sebelum Idaline melancarkan serangannya. Ia tahu Idaline memiliki rencana terselubung.


"Mas juga keliatan lelah. Mungkin kita bisa sedikit bersantai." balas Idaline.


"Tidak. Aku akan berjaga di sini." tolak Siji.


Sedangkan Loro memasuki kamar yang ditunjukkan Sri. Dia melompat ke atas kasur dengan riang. "Ya ampun, kasur kapuk. Sudah lama sekali." gumamnya memejamkan mata. Loro sehati dengan Idaline agar beristirahat di sela-sela waktu santai yang sulit didapatkan.


Siji mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha sadar. Lilin aroma terapi benar-benar meregangkan otot yang keras, mata yang terus ia tahan akhirnya tertutup.


••••••••••••••••••••


"Yang Mulia, bagaimana bisa Anda membiarkan kami tertidur pulas sampai pagi?" protes prajurit yang sudah menyelesaikan ritual mandinya di sungai.


"Betul. Betul. Bagaimana kalau ada sesuatu?" sahut yang lain.


"Tenanglah. Aku baik-baik saja kan?" Idaline merasa menjadi artis yang sedang dikelilingi para wartawan. Tadi ketika ia melangkah keluar kamar langsung saja dirinya dicecar berbagai pertanyaan dan omelan dari para rangga.


"Kali ini sangat beruntung. Bagaimana kalau selanjutnya..?" tambah yang lain.


"Tidak ada selanjutnya. Kita harus terus membuka mata." timpal yang lain sebelum Idaline menjawab.


"Kalian pergilah bersiap." usir Idaline dan berhasil. Ruangan ramai itu mendadak sepi.


"Nona, ada Tini." ucap Sri masuk bersama Tini.


"Nonaaa, maafkan saya tidak mendengar berita karena sangat fokus membuat kasur besar untuk hadiah." Tini menyesal tidak berada di sisi Idaline ketika pria yang dicintai Idaline mengkhianatinya. Padahal Idaline sudah banyak membantunya termasuk memberikan obat yang sangat berkhasiat bagi kesehatan ibunya.


"Aku akan membawanya. Terima kasih."


"Sudah menjadi tugas saya."


"Saat ada bahannya, buatlah satu lagi lalu kirim ke keraton."

__ADS_1


"Ya? Keraton?" ucap Tini tak percaya. "Saya akan membawa kasurnya ke kereta." Tini mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Tini yang sibuk mengurus ibunya tidak tahu banyak hal di desa kecuali hal-hal penting seperti perayaan, panen, dan hari-hari besar. Ia menjauhkan diri dari gosip agar tidak selalu ingin tahu urusan orang lain.


"Nona, Anda akan pergi begitu saja?" sedih Sri membantu Idaline berganti pakaian.


"Idaline sudah menjadi Raden Ajeng, banyak yang harus aku lakukan bi." kata Idaline menenangkan.


"Yang Mulia, keretanya sudah siap."


"Padahal masih pagi loh." Sri menatap langit, di sana sang matahari masih mengintip malu-malu.


"Bibi saya pergi. Mohon jaga diri baik-baik. Katakan lewat surat jika ada perlu." pesan Idaline lalu kembali pulang bersama para rangga.


Idaline sebenarnya sangat malas bepergian dengan waktu lama hanya untuk masalah tak penting seperti sekarang. Namun bila Idaline tidak datang, warga desa akan tetap menikahkan Idaline dan Nandana. Ketika itu terjadi, semua akan lebih sulit.


Sesampai di keraton, Idaline langsung bertolak mengantar kasur ke Kedaton Kambang.


"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita." ucap para dayang dan pelayan Kedaton Kambang begitu melihat Idaline.


"Bangunlah."


"Guru sudah pulang?" Hayan mendengar Idaline pulang ke desa. Ia tidak menyangka Idaline akan sangat patuh pada anjuran ratu agar secepatnya pulang, padahal Idaline tidak diperintah untuk pulang dengan cepat.


"Aku membawa benda yang akan membuatmu tidur dengan nyaman."


"Kamu pulang karenaku?" senang Hayan dalam hati. "Apa kamu membagi-bagi ini dengan gratis?" selidiknya.


"Kasur ini berbeda karena sangat lembut. Baru dua kali diproduksi Janapada. Satu berada di kediamanku. Satunya, terimalah. Belajar cambuk akan sangat lelah, pikirkan ini sebagai hadiah tambahan supaya kamu tidak kelelahan." jelas Idaline.


"Baiklah. Terima kasih." Wajah Hayan terasa panas ketika mengetahui hadiah Idaline hanya untuknya seorang.


••••••••••••••••••••


"Kamu sudah pergi sebulan lalu. Masa perang seperti ini sangat rentan keluar masuk keraton." ucap Hayan saat Idaline ingin meminta izin lagi. "Saat perayaan akhir tahun kita bisa menyamar untuk keluar."


"Sekarang dan saat perayaan apa bedanya? Ayolah berikan izin. Aku ingin kembali ke Janapada sekarang juga." mohon Idaline tak sabar. Tahun baru akan datang malam nanti. Idaline tidak mau terlalu mepet untuk berangkat ke Janapada. Terhitung pagi ini saja sudah termasuk terlambat mengingat perjalanan membutuhkan waktu dua belas jam.


"Kamu menginap di bulan lalu itu sudah diberikan izin yang sangat besar oleh ratu. Padahal setelah kepergian pasukan pertama, bahkan seekor semut pun dilarang keluar dari keraton." Hayan bangun dari duduknya. "Matahari sudah muncul. Aku pergi rapat dulu, guru."


Idaline menempelkan kepalanya di tembok, waktu janjian dengan Fusena sudah dekat dan ia masih sulit untuk keluar. Djahan yang sudah bersepakat dengannya sulit ditemui. Idaline menghela napas. "Dengar. Aku akan pergi menikmati malam pergantian tahun." ucapnya pada para dayang kamarnya.


"Kami akan menyiapkannya."


"Aku tidak akan melibatkan kalian. Beri surat di rak kedua pada Hayan jika dia bertanya. Malam nanti tidurlah dengan nyenyak dan jangan mendengar apapun."


"Kami siap melakukan perintah Anda."


"Pergilah. Bantu yang lain."


"Kami permisi, Yang Mulia."


"Senok, keluar keraton di saat seperti ini akan jadi kejahatan besar." ujar Siji muncul dari pembatas ruang tamu.


"Semua orang kediaman ini akan jadi penjahatnya." tambah Loro.


"Ada apa sampe kamu senekat ini?" tanya Siji lembut mengusap rambut Idaline.


"Kami saja yang lakukan." timpal Loro.


Idaline tersenyum lebar. "Aku akan pulang!!" ucapnya riang.


Siji dan Loro terkejut mendengar ucapan Idaline. Mereka tidak tahu-menahu perihal rencana Idaline akan pulang dalam waktu dekat.


"Kamu egois sekali!" Loro menggertakkan giginya. "Orang-orang akan jadi korban!" Ia menatap sedih Idaline. Perasaannya tidak bisa dibendung. Loro enggan berpisah dari adik sepupunya.


Idaline menghindari mata Loro yang ekspresinya sangat jelas. Ia tidak mau ada keraguan tertuang dalam hatinya. "Mas seperti tidak mengenal aku saja."


"Senang mendengarnya. Akhirnya kamu kembali." Siji menepuk kepala Idaline. "Selanjutnya hiduplah dengan teratur. Menjadi programmer tidak harus mengurangi waktu tidur. Kamu jangan memaksakan diri." nasihatnya.


"Baik, mas." Idaline menundukkan pandangannya. "Kalian juga jangan memaksakan diri. Djahan tidak akan memarahi kalian jika ingin keluar dari zona ini. Hiduplah dengan aman."


Siji tersenyum mendengar ucapan Idaline, tidak membalas ucapannya.


"Selama ada jalan untuk membawa keamanan. Kita harus menempuhnya." kata Loro bercita-cita membuat tanah yang ditinggalinya aman bagi siapa pun.


"Jika sudah mencapai batas dan tidak bisa memanjatnya. Berbalik saja mas. Jangan menunggu musuh di pojok jalan."


"Kita harus melewati batas untuk meningkatkan kekuatan." Loro tersenyum melihat pipi Idaline yang dicubitnya.


"Mas Agis jangan membahayakan diri."


"Kalau begitu kita tidak akan pernah melewati batas,"


"Huh. Selalu saja membalas!" kesal Idaline.


"Katakan pada saudara-saudari kita, jangan terpisah meski sudah lama tidak berjumpa."


"Hiks. Kenapa kalian tidak bisa kembali?" Air mata yang ditahan Idaline tumpah ruah. Ia memeluk Siji yang berada di sebelahnya. Loro menepuk-nepuk punggung Idaline membuatnya semakin menangis. Loro dan Siji memalingkan kepalanya menyembunyikan bulir air yang keluar.


Mereka menghabiskan waktu bersama hingga langit menggelap. Idaline membawa tas yang sudah ia siapkan dan sebuah obor. Ia akan meminta maaf pada Fusena karena terlambat datang.


"Kamu benar-benar yakin dia adalah Petapa Agung?" tanya Loro yang mengantarnya.


"Mas sudah lupa dengan wajahnya? Dia itu Fusena. Jangan lupa aku bisa mengenali seseorang dari punggungnya. Bahkan kalian yang kembar saja bisa kukenali." bangga Idaline.


"Mas sadar sih tapi masa iya?" Loro menopang dagunya. Sepupunya yang lain sudah lama berada di dunia ini dan berada di puncak kekuatan. Loro benar-benar tidak menduganya.


"Kalian nanti bicara saja dengan santai. Dia akan memberikan berkat saat tahun baru."


Siji menggerakkan tangannya mengangkat air terjun. "Hati-hati Idaline. Jangan percaya pada ucapan manis lelaki."


"Akan kusumpal mulut mereka menggunakan kabel!!" sahut Idaline yang sudah memasuki goa.

__ADS_1


••••••••••••••••••••


"Sepertinya pihak keraton sudah mengetahui kalo mbak kabur." Fusena menyesap cokelat panas yang dibuat Idaline. Pagi itu suasananya damai karena warga terlelap akibat kelelahan berpesta sepanjang malam.


"Iya. Hayan menyuruhku kembali ke istana atau dia akan mengirim seluruh rangga kemari." Idaline meletakkan surat perintah pangeran ke atas meja.


"Berlebihan sekali." cibir Fusena.


"Fusena, tolong kamu pergi ke keraton setelah ini. Mas Agus dan mas Agis sudah tidak sabar berbincang denganmu. Dan Djahan ingin membicarakan sesuatu." pinta Idaline.


"Aku akan mengabulkan semua ucapan mbak." ucap Fusena tanpa ragu.


"Kamu kaya jin aja." Idaline teringat serial jin yang mengabulkan keinginan seseorang.


"Tapi di mana dua orang yang mbak katakan?"


"Nona, ada dua orang yang izin berjumpa."


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Panjang umur baginda!" kata Idaline menyambut Hasta dan Atem.


"Saya Hasta memberi salam kepada Petapa Agung." "Saya Atem memberi salam kepada Petapa Agung." ucap Hasta dan Atem bersamaan.


"Ayo kita berangkat." Fusena bangkit dari duduknya dan berjalan di depan.


"Sini kubantu." tawar Idaline pada Ekata yang kesulitan membawa barang-barang.


"Tidak apa-apa. Ini merupakan latihanku. Yang Mulia pergi saja berbincang dengan guru." Ekata berlari dengan kencang meninggalkan Idaline.


"Barang-barangnya akan jatuh kalau dia lari secepat itu." Idaline meletakkan tangan di alisnya menghalau matahari yang menusuk mata.


"Idaline, aku sangat berterima kasih." ucap Atem memeluk singkat Idaline lalu mereka kembali mengekor di belakang Fusena.


"Aku menemukan jalan, tentu harus dilewati bersama." Idaline melemparkan senyum tulusnya yang dibalas senyuman semua orang yang mendengar ucapan Idaline.


Mereka menghentikan langkah melihat Fusena mengangkat tangannya. Bukit Jada yang mereka daki penuh dengan pepohonan yang tinggi, setelah beberapa ratus meter baru terlihat tanah yang lapang.


"Tanah di sini lapang dan tidak ada orang yang datang. Aku akan mulai." Fusena duduk bersila di tengah lapangan.


"Kalian berendamlah dahulu untuk penyucian raga." ucap Ekata telah menyiapkan tiga kuali untuk masing-masing orang.


Idaline, Atem, dan Hasta memasuki masing-masing kuali besar yang berisi berbagai jenis tanaman yang sudah direbus.


"Bertahanlah sebentar. Ramuan ini untuk menghilangkan kotoran raga agar jiwa yang suci dapat keluar dengan mudah. Kejahatan akan terus muncul selama bumi beredar, kita tidak akan menyangka jika kejahatan tersebut ada di dekat kita dan terhisap oleh tubuh." jelas Ekata melihat raut kesakitan ketiga orang yang mulai memasukkan tubuhnya.


"Guru akan selesai dalam beberapa menit. Bertahanlah sebentar lagi."


Idaline berusaha mengingat hal-hal lucu dan hal lainnya agar pikirannya teralihkan dari rasa sakit yang menusuk tulangnya. Atem pun membayangkan wajah putrinya yang telah ia tinggalkan selama beberapa tahun belakangan, meski sebenarnya baru beberapa bulan, dan Hasta juga membayangkan wajah ibunya yang entah bagaimana keadaannya mengingat sakitnya setiap tahun semakin parah.


"Demi pulang!" "Demi Dila!" "Demi ibu!"


"Kalian boleh membuka mata." Fusena berdiri di samping portal hitam pekat yang tidak terlihat ujungnya.


Ketiga orang yang mendengar intruksi Fusena membuka mata, mulut ketiganya memuntahkan darah merah kehitaman yang sangat kental dalam jumlah yang berbeda.


"Uhuk..uhuk..." Suara batuk terdengar setelah Idaline selesai memuntahkan darah yang memaksa keluar.


"Mbakyu masuklah dahulu, mereka masih mengeluarkan darah kotor."


Atem dan Hasta menganggukkan kepala mereka.


"Apa masih harus mengeluarkan darah kotor?" tanya Idaline melihat Atem dan Hasta terus muntah.


"Tidak. Sisa dalam tubuh mereka sudah berkurang banyak."


"Kalian boleh keluar dari kuali." ucap Ekata setelah Atem dan Hasta tidak lagi mengeluarkan darah.


Rasa mual dalam tubuh mereka langsung berhenti saat turun dari kuali. Tubuh mereka terasa ringan seperti kapas.


"Mbakyu. Berhati-hatilah dengan semua orang. Teman terdekat kita bisa jadi bencana jika terus mengetahui rahasia kita. Ceritakanlah yang perlu saja." pesan Fusena.


"Iya. Kamu cobalah sedikit percaya pada yang lain. Jangan menanggung beban sendiri."


"Lebih baik kalian dahulu. Pembicaraan mereka sepertinya masih panjang." usul Ekata.


"Silakan." ucap Hasta. Atem berjalan memasuki lubang hitam terlebih dahulu lalu Hasta mengikutinya di belakang.


"Iya, mbakyu." patuh Fusena. "Aku mencintai mbakyu." tambahnya.


"Aku juga mencintaimu. Jagalah dirimu baik-baik. Walau merantau jangan lupa tidur dan makan dengan teratur." Idaline tersenyum sedih memandangi Fusena lalu memasuki lubang hitam menyusul Hasta dan Atem. "Kuharap kita bisa berjumpa lagi, Fusena, mas Agus, mas Agis."


Fusena diam selama beberapa saat meski portal yang dibukanya telah lenyap. Ia memandang lurus ke depan hingga hari menjadi terik lalu mengajak muridnya turun dari sana. "Kita pergi ke keraton."


"Baik, guru."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 19 Agustus 2021


Makasih banyak teman-teman atas like, komen, vote, dan hadiahnyaaa.


Makasih udah support author. Do'akan sukses selalu ya, kalian juga.


Insyaallah tetap up setiap hari.


Jika ada typo atau adegan ga nyambung langsung komen aja yaa.


Author baca kok meski belum sempat balas, hehe.


Kalau ada kritik atau saran langsung cus komen aja dengan kata-kata yang baik ya.


Sekali lagi terima kasih banyak untuk teman-teman semua.

__ADS_1


Sehat selalu..


Love, Al-Fa4


__ADS_2