![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Mbakyu, tetaplah sadar!" Fusena mengguncang bahu Idaline, wanita itu menekuk wajahnya kesakitan.
Perlahan-lahan guncangan itu menjadi tak berarti dan Idaline semakin tak sadarkan diri sampai sebuah benda jatuh tepat di tengah keningnya, wajah Idaline sedikit lebih baik.
"Mbakyu bertahanlah!" Fusena melonggarkan pegangannya. Ia terdiam melihat wajah damai Idaline dengan pancaran mata yang tenang.
Jika dia selamatkan Idaline sekarang, dia tidak tahu kapan lagi akan berjumpa dengan perempuan ini.
Namun jika tidak menyelamatkannya, dia tidak bisa berdiam diri melihat Idaline hanya terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
"Guru.." panggil Ekata menyadarkan Fusena yang tenggelam dalam pikirannya.
Fusena tersadar, dia menaruh tangan kirinya di jantung Idaline dan tangan kanannya mengeluarkan bola hitam yang besar.
Kemudian dia menumpuk tangan kanannya ke atas tangan kiri dan fokus memasukkan bola hitam ke tubuh Idaline.
"Perasaan ini.." gumam Ekata. Ia melempar cecak dari wajah Idaline menggunakan jentikkan jarinya sampai cecak itu terhempas ke tembok.
Lalu cecak yang memiliki corak yang sama dengan cecak yang jatuh ke punggung Idaline beberapa waktu yang sebelumnya, terjatuh ke lantai dan mengeluarkan asap putih.
"Ouch! Tidak bisakah taruh aku dengan hati-hati?!" seru seorang gadis yang muncul dari dalam asap.
Gadis itu mengenakan pakaian dengan nuansa putih cokelat dan sebuah selendang cokelat dengan ukiran bunga krokot terikat di sisi kanan dan kiri pinggangnya.
"Siapa kau?" tanya Ekata curiga. Dia sama sekali tidak merasakan kekuatan dari cecak yang jatuh ke kening Idaline.
"Kualitas murid Petapa Agung benar-benar tidak bagus," ejek gadis itu sambil berdiri merenggangkan tubuhnya.
Sudah sejak lama dia tidak berwujud asli. Dia berusaha membiasakan bentuk tubuhnya. Dia menggerakkan jari jemarinya yang tampak sehat.
"Aku tau kamu bidadari. Tapi siapa kau?" ulang Ekata di akhir kalimat.
"Aku dikutuk–"
"Aku tau. Siapa kau?" potong Ekata.
Orang yang cerdas dan berpengetahuan pasti tahu tidak ada alasan lain bagi seorang bidadari menggunakan wujud hewan selain dihukum oleh rajanya.
Bidadari dan bidadara menganggap diri mereka agung dan lebih tinggi dari makhluk lainnya, maka dari itu mereka tidak akan sudi berubah ataupun menyamai makhluk lain.
Gadis itu menatap kesal Ekata. Dia seharusnya bahagia tidak perlu berbusa-busa menjelaskan cerita panjangnya, tapi melihat makhluk yang sok tahu seperti yang berdiri di depannya, benar-benar membuat hatinya kesal.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu menjelaskan dengan benar!" Ekata berkata dengan tegas.
"Maharani terkena kekuatan bidadara, lebih tepatnya si pangeran hitam. Sebagai bidadari aku bisa menyerap inti kekuatan itu dan menutup bagian luka yang dalam. Sebagai gantinya, aku terbebas dari kutukan."
"Kenapa kau ada di sini?"
"Cecak adalah binatang lemah yang tidak bisa bepergian jauh. Setelah diturunkan ke sini, aku bisa ke mana lagi?"
Bidadari berwarna cokelat merenggut kesal. Sudah dua kali dia dilempar oleh penduduk negeri ini.
Kalau saja dia tidak baik hati, dia sudah musnahkan kota ini!
Ekata menatap dalam-dalam mata bidadari berkekuatan tanah di depannya.
__ADS_1
Ada sebuah kisah yang tersebar di kalangan rakyat kalau bidadari tidak akan berbohong dan sekarang Ekata mempercayainya.
"Terima kasih," ucap Ekata mewakili gurunya yang sedang sibuk.
Bidadari itu mengangguk lalu mengangkat selendangnya terbang melewati jendela dan menghilang dari dalam ruangan.
Dia menatap rindu langit yang luas. Sudah belasan tahun dia terjebak dalam bentuk cecak dan bertahan dari segala serangan yang menimpanya.
Baik mereka yang sekedar memukulnya dengan kayu atau berusaha memusnahkan hewan-hewan pengganggu dengan menggunakan kekuatan.
Tatapan si bidadari ke langit luas tiba-tiba terlepas saat merasakan tatapan menusuk dari tempat yang dilewatinya.
Kepala bidadari itu menengok ke bawah dan dia melihat kekuatan yang familiar baginya, si bidadari menurunkan selendangnya lalu mendarat di depan anjing yang sedang menatapnya.
"Kesalahanku hanya memberi tahu tempat ini dan tentang orang-orang yang akan datang kemari pada kalian. Sedang kamu dan temanmu membuka portal dimensi dengan paksa, bahkan membawa jiwa yang tidak terdaftar," kata si bidadari cokelat pada si anjing.
Meski bidadari dan bidadara cokelat termasuk kalangan bawah, sebelum dikutuk dia adalah penjaga batas dimensi yang diberkahi kekuatan besar karena kecerdasannya.
Suatu hari sepasang bidadara dan bidadari biru dari kalangan atas merayunya agar memberi tahu keberadaan dimensi yang dijaganya dan memberi tahu list jiwa-jiwa manusia dari bumi yang akan pergi ke sana.
Dia yang kecil tidak bisa melawan dua kekuatan besar akhirnya membeberkan semuanya. Dia kira keduanya hanya penasaran sebab bidadari kecil sepertinya diberi tugas yang besar.
Namun ternyata Tuman dan Wayuni yang mestinya menjadi sepasang suami istri memaksa masuk ke dimensi itu dan memaksa jiwa dari bumi yang tidak terdaftar masuk ke dalam dimensi yang dijaganya.
Semua itu ketahuan raja mereka dan akhirnya mereka bertiga diturunkan ke dimensi ini dengan wujud hewan.
Tuman menjadi anjing, Wayuni menjadi babi, dan si bidadari cokelat menjadi cecak.
"Apa selamanya aku akan menjadi anjing di siang hari?" tanya Tuman melihat si bidadari cokelat sudah berubah kembali ke wujud aslinya.
"Selamatkanlah manusia yang terkena kekuatan para pangeran atau putri, mungkin kamu bisa menjadi manusia, bukan lagi hewan."
"Terima kasih." Tuman menatap berbinar bidadari cokelat yang semakin menghilang di langit.
Dia yakin dirinya bisa kembali ke bentuk semula sama seperti makhluk kecil itu!
Dia tidak peduli meski langit melarangnya untuk mendekat.
Yang penting dia bisa kembali ke bentuk aslinya agar dia bisa menghabiskan sisa hidup dengan pantas bersama istri dan anaknya.
"Tuman, kenapa terus menatap ke langit?" tanya Sumbi meletakkan piring ke samping Tuman. Anjing itu menunjuk pohon mangga yang sudah berbunga.
"Oh kamu melihat pohon." Sumbi mengoreksi ucapannya sendiri. "Sudah akan berbuah."
Tuman menghela napas lega, dia tidak mau istrinya mengira dia merindukan langit.
.
.
Ekata menatap cemas Fusena yang tak kunjung membuka matanya, gurunya itu masih berdiri dengan posisi yang sama, tidak bergerak sedikit pun meski hari sudah berubah malam.
Fusena fokus memasukkan sedikit demi sedikit bola hitam yang terbentuk dari senjata jiwa yang dahulu diberikan Idaline.
Karena tubuh Idaline terluka hebat, Fusena memakan waktu untuk memasukkan bola tersebut.
__ADS_1
Ekata mengalihkan tatapannya ke arah Idaline yang juga tidak bergerak sedikit pun, lebih tepatnya tidak bisa karena luka di sekujur tubuhnya.
Setelah bola hitam menghilang dari tangan Fusena dan masuk dengan sempurna ke jantung Idaline, pandangan Idaline berubah kosong lalu perlahan matanya tertutup.
Di detik yang sama Fusena menghilang dari kamar yang ditempati Idaline. Kekuatan Fusena yang menyelimuti ruangan itu turut memudar dan menghilang.
Djahan, kepala dayang Kedaton Sedap Malam, kepala dayang Keraton Capuri, kepala pelayan, dan pemimpin abdi ndalem yang sudah menunggu berbondong-bondong masuk penasaran dengan keadaan Idaline.
Mereka berharap Maharani mereka selamat.
Ekata menggantikan posisi Fusena, dia memegang dahi Idaline dan memejamkan matanya untuk memeriksa tubuh Idaline secara menyeluruh.
"Maharani sudah sembuh," ucap Ekata pada orang-orang yang masuk.
Mereka menghela napas lega dan bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa.
.
.
Ruangan serba putih selalu menjadi ciri khas ketenangan.
Pintu dan jendela ruangan yang tertutup membuat bunyi monitor di sisi ranjang terdengar jelas di ruangan putih itu.
Wajah dan tubuh orang yang berbaring di atas ranjang dipenuhi dengan berbagai alat bantu.
Sudah lebih dari tiga bulan dia tidak sadarkan diri.
Namun detik ini, mata yang sudah lama tertutup itu perlahan bergerak. Dan dari pinggir mulutnya keluar darah merah segar membuat khawatir mereka yang menunggu di sisi ranjang.
Dengan kecemasan yang tinggi, seorang wanita paruh baya membuka pintu dan berteriak membuat gaduh lorong yang mestinya tenang.
Dia lupa ada alat pemanggil yang sudah disediakan agar yang menjaga pasien tidak perlu berletih-letih mencari ruangan dokter.
Namun yang namanya cemas selalu membuat orang bertindak di luar batasnya. Kepala wanita itu melongok di pintu dan terus berteriak agar ada seseorang yang datang memeriksa anaknya yang terlihat mengkhawatirkan.
"Dokter! Dokter! Dokter! Cepatlah!!" teriak si wanita paruh baya tak sabar.
"Nda, tenanglah. Sudah dipanggil mas John." Seorang pria jakung berdiri di belakang ibunya lalu menuntun ibunya kembali duduk agar tenang dan tak terlalu cemas.
Lima menit kemudian dua orang dokter bersama beberapa perawat memasuki ruangan itu dan melakukan segala pemeriksaan.
Ibu dan anak-anaknya keluar dari ruangan itu dan menunggu tim dokter sampai selesai melakukan pemeriksaan.
"Selamat, ibu. Nona Udelia sudah sadar," kata seorang dokter setelah rekan-rekannya pergi.
"Jon! Lamon!" panggil ibu mereka tak percaya.
Dua pria dewasa itu mengangguk sambil tersenyum bahagia, akhirnya kakak mereka sadar dari komanya
"Syukurlah!" seru si ibu memasuki kamar rawat putrinya.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 04 Desember 2021
__ADS_1