TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
052 - UPACARA PERNIKAHAN


__ADS_3

Demi menjaga kenetralan sebagai murid Petapa Agung, Djahan dan Idaline memutuskan tidak menyebarkan pernikahan mereka kecuali kepada para kepala keluarga bangsawan tertinggi dan keluarga intinya.


Juru paes keraton memberikan sentuhan terakhir riasannya dengan memakaikan ronce melati di kepala Idaline. Tubuh seputih susu itu hanya berbalut kain jarik berwarna hitam dan putih dilapisi ronce melati yang melintang di bahu dan panjang ke bawah hingga menutupi hampir seluruh lengannya.


Sang perias memastikan sekali lagi bahwa ronce melati di kepala Idaline telah terpasang sempurna lalu menjauhkan tangannya. "Sudah selesai, Yang Mulia," ujarnya mundur beberapa langkah.


Di balik jendela yang terbuka lebar, Idaline membuka matanya dan langsung disambut lalu lalang perhiasan berjalan, ia lupa kalau keluarga inti bangsawan tinggi tetap saja berjumlah banyak orang. "Harusnya kubilang keluarga kerajaan saja," sesalnya.


"Cepat sekali sudah sebulan berlalu." Air mata Bejo meluncur keluar. Gadis kecil yang diurusnya sudah akan menikah.


"Anda cantik sekali, nona..Yang Mulia. Tidak terasa Anda sudah mau menikah." Sri mengusap air matanya yang berlinang.


Tembang mijil laras dibunyikan saat Idaline melangkah keluar. Tatapan tajam yang berani dilemparkan orang-orang tidak mengherankan Idaline karena motif jarik yang dipakainya tidaklah pantas dipakai sembarang orang.


Lidah api. Sebuah simbol bagi kekuasaan, kehebatan, keagungan, keberanian, kesaktian, dan ambisi besar. Simbol dan motif yang hanya boleh dipakai oleh raja dan ratu Kerajaan Maja atau saat ini adalah Maharaja, Maharani, dan Ratu Bhumi Maja.


Idaline tidak sempat mengganti pakaiannya karena perias itu memakaikan jarik di saat-saat terakhir sebelum ronce melati dipasangkan. Dan Idaline yang menutup mata karena gugup memudahkan perias dan para dayang untuk mengganti kainnya.


Di depan keramaian, Idaline melakukan sungkem kepada walinya yaitu Ibu Ratu yang telah menjadi Ibu Suri. Setelah dibisikkan beberapa wejangan, Idaline dibantu berdiri oleh para dayang kemudian ia duduk di atas bangku beralaskan tikar pandan.


Idaline memejamkan mata saat siraman demi siraman mengenai tubuhnya. Aroma air yang wangi menenangkan jiwanya dan menghilangkan kegugupannya. Andai bukan berada di luar ruangan, Idaline mungkin sudah tertidur karena nyamannya aroma itu.


"Semoga kamu mendapatkan yang seharusnya," ucap Ibu Suri ketika melakukan siraman yang terakhir.


"Seharusnya?" batin Idaline.


Juru paes menggosokkan landha merang, santan kental, dan air asam di rambut Idaline, juga konyoh panca di seluruh tubuh Idaline lalu membilasnya hingga bersih. Setelahnya juru paes menuangkan air untuk Idaline berkumur sebanyak tiga kali.


Dari kendi yang sama, juru paes menyiramkan air ke kepala, wajah, telinga, leher, tangan, dan kaki sebanyak tiga kali.


"Wes pecah pamore!" seru sang juru paes memecahkan kendi.


Wes pecah pamore artinya sudah pecah pamornya, tanda Idaline sudah siap untuk menikah. Serangan gugup itu kembali menyerang Idaline tetapi senyuman tidak hilang dari wajahnya. Idaline merasa menjadi perempuan yang paling bahagia karena menikah dengan Djahan.


Dayang-dayang membantu Idaline berganti kain kering lalu rambut perempuan itu dikeringkan dengan panas dari bara api dalam pedupan.


Juru paes menggelung rambut Idaline, menggambar cengkorongan paes samar samar, kemudian rambut-rambut halus di luar cengkorongan paes dialubi-alubi atau dikerik.


Idaline menaikkan tangan. Dayang yang membawa kain jarik dengan motif berbeda pun terdiam.


"Kali ini selasih?"


"Mohon maaf Yang Mulia, bunga selasih akan menjadi simbol keluarga Tuan dan Nyonya Mada," ujar dayang takut-takut. Pertama kali berhasil, belum tentu yang kedua.


Idaline meneliti seluruh wajah para dayang lantas menyetujui kain itu.


"Silakan dinikmati," ucap Ibu Suri berdiri di depan wanita-wanita dan anak-anak gadis mereka. Ia menerima koin dari tanah liat dan memberikan cendol dawet pada masing-masing yang mengantri.


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Orang-orang makan dengan nikmat." Air liur Idaline sudah menumpuk di mulutnya. Hidangan di luar sangat menggugah selera. Sungguh menyiksa orang yang semestinya paling bahagia.


"Mohon bersabar, nona," ucap Sri mengelus rambut Idaline. "Anda bisa meminum jamu delima putih." Sri menyodorkan gelas di tangannya.


"Putih kabeh," gerutu Idaline dalam hati tetapi langsung menyambarnya. "Bagaimana keadaan di luar, bi?" tanyanya menyerahkan gelas.


"Tuan sepuh Sapta sudah membawa air siraman ke kediaman pengantin pria dan Sirang sudah pergi ke kediaman Sapta. Anda tidak usah khawatir." Sri keluar meninggalkan Idaline sendirian dengan kembar mayang yang baru selesai dirangkai para tamunya.


Juru paes menyuruh Idaline lalu ia dan anak buahnya memijat Idaline.


Idaline berbaring setelah para dayang keluar namun tak kunjung dapat menutup mata hingga hari berubah gelap. "Padahal tinggal besok," gumamnya ragu memikirkan kesempatan pulang yang akan datang sebentar lagi. Idaline takut menyakiti hati Djahan.


"Cobaan selalu menghujam di penghujung," ucap Netarja mengupas buah di sampingnya.


"Kamu sedang mencobaiku?" kesal Idaline sama sekali tidak menyentuh makanan selain nasi putih dan air putih. Jamu delima putih hanya diberikan satu tenggakkan.


"Kalau tidak ingin ngiler, tidurlah. Eh tidak, Anda harus melakukan midodoreni." Netarja meletakkan buahnya lalu menarik Idaline hingga terduduk.


"Kenapa kamu di sini? Baru datang itu harusnya tidur." Idaline mengerjapkan matanya yang buram akibat duduk mendadak.


Ketiga bhre datang di akhir acara, mereka langsung menemui Idaline di kamar dan pergi beristirahat kecuali Netarja yang ikut-ikutan minta dipijat.

__ADS_1


"Kamu cepatlah tidur," usir Idaline kembali duduk dengan tegak dan memegang buah jeruk di tangannya.


Netarja menghabiskan buahnya dalam diam lalu bangkit keluar dari kamar pengantin.


"Jagalah Raden Ajeng malam ini," titah Netarja pada pengawal bayangannya.


"Tapi Anda–"


"Ini perintah!" tegas Netarja tak mau dibantah.


"Siap laksanakan, Yang Mulia."


Netarja merenggangkan badannya dan menguap dengan puas. "Kakanda jangan lakukan hal aneh," gumamnya memasuki kamar tamu di Kedaton Sedap Malam. Netarja tidak kembali ke Kedaton Siwakan yang masih miliknya karena khawatir maharaja itu akan membuat masalah.


"Konyol sekali bidadari akan datang. Seperti kurang kerjaan saja," ejek Idaline tepat sebelum enam cahaya memasuki kamarnya.


Perempuan berambut violet mengambil jeruk Idaline, mengupasnya lalu membagikan satu persatu pada para saudarinya.


"Maukah kamu mengantarkan ini pada saudari kami? Tugas kami hanya memberi berkat, tidak bisa keluar dari kamar pengantin," kata perempuan bermata violet itu sambil memberikan daging buah terakhir.


"Sayang sekali." Idaline meraih daging jeruk terakhir lalu menelannya.


Perempuan berambut violet, perempuan berambut nila, perempuan berambut biru, perempuan berambut hijau, perempuan berambut kuning, perempuan berambut jingga, dan bermata senada dengan rambut, serempak memelototi Idaline.


Netra hijau terpejam selanjutnya tersenyum dan menjadi yang pertama pergi dari kamar Idaline.


••••••••••••••••••••


Idaline sudah memakai pakaian dalamnya dan duduk dengan tenang di meja rias ketika dayang hendak membangunkannya.


"Anda tidak tertidur?" lirih dayang.


"Aku tidur dengan nyaman, lihatlah wajah cerahku."


"Meski begitu Anda harus dimandikan ulang," cetus Wedok, sang juru paes keraton, memasuki ruangan Idaline.


"Tidak perlu. Aku sudah mandi," tolak Idaline.


Masuklah sepuluh orang dayang tanpa takut menggotong Idaline ke kamar mandi.


"Maaf, juru. Tubuh Yang Mulia sudah bersih," ucap dayang melongokkan kepala dari kamar mandi.


"Tentu sudah bersih. Tapi tubuhnya belum lembut dan kenyal, pakailah susu dan madu juga ramuan yang sudah disiapkan!" raung Wedok sedang mempersiapkan peralatan riasan wajah.


"Ma-af Yang Mulia, juru paes tetap menyuruh," ujar dayang mendekat dengan menundukkan kepala, takut dihukum.


Idaline yang sedang menatap jendela di luar kamar mandi berbalik. "Kalian lakukan dengan cepat, usahakan jangan melihat."


"Baik, Yang Mulia."


Idaline memejamkan matanya, rasa malunya sedikit demi sedikit berkurang saat tangan-tangan profesional memijat tubuhnya dengan lembut.


Juru paes mulai merias setelah Idaline mengeringkan tubuhnya, berulang kali alat make-up menyentuh wajah Idaline.


"Silakan, Yang Mulia," kata juru paes menyudahi riasannya.


Sekilas ekspresi Idaline mengeras karena merasa wajahnya sangat tebal, sedetik kemudian ia tersipu melihat pantulan dirinya di cermin.


"Cermin ini sangat bersih dan jelas. Mohon beri tahu hamba apabila ada kekurangan," kata Wedok.


"Sangat jelas sekali." Idaline memegang cermin besar di hadapannya. Cermin yang ia temukan di Pragota. "Aku hadiahkan cermin ini. Biarkan wanita lain puas melihat karyamu."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Idaline mengangguk lalu berganti pakaian, kepalanya dihias dengan sedemikian rupa. Ronce melati dipasangkan di rambutnya, juga cunduk mentul sebanyak tujuh buah, gunungan di depannya, dan sepasang cethung.


"Wedok, kelat bahu, dan binggel kana masih di lemari."


"Tapi ini sudah sepasang dengan pakaiannya, Yang Mulia."


Dengan kampuh berlatar hijau, Idaline menyesuaikan kebaya putihnya agar senada. Binggel kana dan kelat bahu yang diberikan Djahan pun sudah ia sesuaikan.

__ADS_1


"Lakukan saja."


Wedok menatap kelat bahu dan binggel kana sederhana yang kontras dengan hiasan kepala Idaline. Tetapi ia tidak memiliki hak untuk memaksa Idaline menyesuaikan penilaiannya. Bukan karena Idaline adalah Raden Ajeng, tetapi setiap pengantin berhak berhias sesuai keinginannya.


"Sudah, Yang Mulia," ucap sang juru paes.


Di sisi lain Djahan mengenakan pakaian senada dengan Idaline, Djahan memakai kalung ronce melati dan ronce melati pada keris yang diselipkan di belakang pinggangnya. Djahan duduk di tengah panggung menunggu Kripala selesai merapalkan do'a. Kripala menyelesaikannya dan menjabat tangan Djahan.


"Saya nikahkan engkau dan ..." Kripala berhenti dan melirihkan nama pengantin wanita lalu lanjut membacakan mas kawin yang terbilang fantastis meski untuk seorang mahapatih. "..Anda bersedia?" tanyanya mengakhiri bacaan yang menyesakkan dada.


"Saya, Djahan Mada bersumpah akan menjaganya sepanjang hidup saya. Memberikannya yang terbaik dan menerima dengan sepenuh hati semua perihal dirinya," jawab lantang Djahan.


"Dengan ini Djahan Mada telah resmi menjadi suaminya," tutup Kripala.


Dayang menerima sinyal dari rekannya lalu memberitahu teman-temannya dan membantu Idaline ke luar menuju panggung. Djahan tersenyum lebar dari tempatnya.


Susah payah Idaline duduk di samping Djahan tetapi pria itu tidak membantunya karena tangannya masih digenggam Kripala.


Pewarna merah di pipi Idaline menyelamatkan wajahnya yang panas terbakar melihat Djahan yang lebih bersinar. Dayang memakaikan tudung di kepala mereka lalu turun membiarkan tiga orang di atas panggung bundar yang terletak di halaman Kedaton Sedap Malam.


Djahan dan Idaline menunggu Kripala menyelesaikan bacaannya. Kripala menatap wajah Idaline dan Djahan bergantian. "Nona bersedia menjadi istrinya?" tanyanya menambahkan sesi yang tidak ada.


Di zaman itu pengantin wanita tidak ditanya terlebih dahulu maka tak aneh banyak wanita-wanita cantik yang terpaksa menikah karena bebagai alasan. Kripala bertanya atas perintah Hayan yang yakin Idaline akan merubah pikirannya.


"Saya bersedia. Saya.." Ucapan Idaline terhenti, Djahan mengangguk. "Saya.. bersumpah akan mematuhi Djahan Mada sepanjang berada di jalan kebenaran dan menerima semua yang diberikan dengan sepenuh hati,"


"Pasangan baru telah resmi hadir. Semoga Tuan Mahapatih dan istri dapat membina rumah tangga bersama dan memberikan kemakmuran bagi Bhumi Maja."


Setelah resmi, pengantin akan melakukan rangkaian adat lainnya. Djahan menuntun Idaline ke prosesi adat di bawah panggung. Orang-orang menyebar memberikan ruang untuk pengantin baru itu.


Yang pertama dilakukan adalah melempar gantal, Djahan melemparnya ke dada Idaline sebagai arti sudah mengambil hatinya dan Idaline melempar gantal ke lutut Djahan sebagai tanda bakti pada suami.


Kemudian Djahan menginjak sebutir telur ayam mentah dan Idaline membasuhnya dengan air kembang tujuh rupa. Djahan membantu Idaline berdiri lalu mereka minum air degan bergantian.


Ritual terakhir sebelum makan bersama adalah membuat simbol aura, Djahan menghancurkan tilak di kening Idaline.


Djahan memejamkan mata saat jari Idaline bertukar menyentuh keningnya, sesuatu yang terjadi hanya beberapa kali dalam sejarah. Tilak Djahan hancur usai Idaline menyelesaikan bacaannya. Idaline membuka matanya sembari tersenyum.


Seorang dayang maju memberikan kantung merah berjahit benang emas kepada Idaline lalu Djahan mengucurkan emas dan biji-bijian dari bokor. Idaline menerimanya tanpa satu pun emas atau biji terjatuh ke tanah.


Djahan dan Idaline duduk di kursi pelaminan melakukan dulangan sebanyak tiga kali.


Acara adat pun berakhir dilanjutkan dengan makan-makan para tamu yang telah ditunggu-tunggu. Tidak ada tamu mereka yang langsung pulang seusai makan, hampir seluruhnya berbincang-bincang atau sekedar kumpul bersama kawannya sampai sore menyapa mereka baru pulang untuk sekedar berganti pakaian dan berpindah tempat pesta di kediaman Mada.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 05 September 2021


KELEAN PAS NIKAH GIMANA GUYS?


YUKK KOMEN PENGALAMANNYA DI BAWAH


Terima kasih atas vote dan komennya


Man-teman jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen yaa


Yang lewat juga jangan lupa like dan komen guys:)


Komen Z aja juga gpp:)


Sehat selalu semuanya


Love, Al-Fa4


Today In History :


05 September 1795 M


Amerika meminta perlindungan pada Armada Laut Aljazair


Tercetuslah perjanjian dengan 22 pasal antara George Washington dan Hassan Pasha

__ADS_1


__ADS_2