TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
073 - HANYA BISA PASRAH


__ADS_3

"Angot apa bocah ini?" pikir Idaline melihat sarapan Hayan tak disentuh, hanya diacak-acak hingga makanan di piring tak berbentuk. "Hayan, rasanya akhir-akhir ini kita hanya sarapan bersama," tegur Idaline agar Hayan kembali fokus pada makanannya.


"Maharani sibuk bersama Ekadanta dan terkadang mahapatih." Hayan merenggut dan meletakkan piring jauh-jauh dari jangkauannya. Ia kemudian mencucui tangan di wadah.


"Itu karena pekerjaan. Aku selalu mengirim pesan untuk makan siang dan malam bersama." Idaline melemparkan tatapan menyidik.


"Aku sibuk di siang dan malam hari."


"Pembangunan sudah dimulai dan terkoordinasi dengan baik," tutur Idaline menginformasikan.


"Maharaniku lakukan saja yang diperlukan, jangan memaksakan diri." Hayan mendekat dan mengecup kepala Idaline. "Aku pergi," pamitnya.


"Apa ada yang aneh dari Maharaja?" tanya Idaline pada para dayang.


"Semalam beliau memanggil tabib ketika Yang Mulia sedang tertidur," ujar dayang yang diperintahkan Hayan untuk memanggil tabib keraton.


"Panggil Ra Konco kemari!" titah Idaline kemudian meninggalkan piring-piring yang telah kosong. Ia bahkan menghabiskan makanan di atas piring Hayan.


Idaline mandi sendiri tanpa bantuan orang lain kemudian bersiap dibantu para dayang, sementara Ra Konco sudah berdiri menunggu di halaman depan.


"Hamba, Ra Konco, menghadap Yang Mulia Maharani," kata Ra Konco sembari bersimpuh setelah melihat Idaline keluar dari rumah utama Keraton Capuri.


"Bangunlah. Katakan alasan Maharaja memanggilmu semalam." Dalam hal ini Idaline, seorang Maharani berhak tau bila tidak ada titah khusus dari Maharaja.


Kesehatan dan keperluan pribadi Maharaja adalah tanggung jawab Maharani. Mereka yang berada di sana bukannya membocorkan suatu rahasia yang besar, kecuali Maharaja menurunkan titah khusus untuk menyembunyikan perihal dirinya.


Atau bila hubungan Maharaja dan Maharani buruk, tidak ada kewajiban bagi penghuni keraton untuk mengatakan yang mereka tahu pada Maharani.


Tetapi hubungan Maharaja dan Maharani sangat amat baik.


Bahkan tak jarang Maharaja pulang di sore hari hanya untuk menghabiskan waktu bersama Maharani.


Meskipun akhir-akhir ini Maharaja disibukkan dengan hal lain, Maharani dan Maharaja tetap dalam satu rumah yang sama bahkan selalu menghabiskan malam bersama Maharani.


Kesibukan lain itu hanyalah kesibukan sementara.


"Terima kasih, Yang Mulia." Konco bangun sambil menundukkan kepalanya. "Yang Mulia Maharaja merasa tidak enak badan, hamba memeriksanya. Beliau masuk angin," ujar Ra Konco menunjukkan resep vitamin untuk Maharaja.

__ADS_1


"Masuk angin? Masuk angin katamu?" tanya Idaline menelisik.


"Be-benar, Yang Mulia." Ra Konco memaklumi kecurigaan Maharani sebab paman dari Maharaja, yaitu raja kedua di Kerajaan Maja mati diracuni oleh tabib kepercayaannya. Ra Konco menjelaskan dengan detail semua bahan obat dan manfaatnya.


"Hmm." Idaline menyipitkan matanya lalu terpejam dan mengangguk. "Baiklah. Kamu boleh pergi."


"Kakak, aku datang!" Candra menatap tombak yang menghalangi jalannya. Tidak biasanya ia ditolak kedatangannya oleh para pengawal Idaline.


"Mohon maaf, tuan. Yang Mulia sedang bertemu dengan Yang Mulia Maharaja," ucap pengawal memberitahukan.


"Aku akan menunggu," putus Candra mengerti. "Huh. Andai saja aku lebih tinggi dari Maharaja!"


"Yang Mulia bilang Anda bisa mengambil batu di ruang kerja." Dayang kamar Idaline berdiri di sisi Candra. Ia dan kawan-kawannya baru saja mengantar Idaline ke Bale' Ndamel. Idaline selalu memerintahkan para dayang untuk pulang karena bekerja di Bale' Ndamel akan menghabiskan waktu hingga malam hari.


Candra menatap tajam pengawal lalu mengikuti dayang ke ruang kerja.


"Hayan, kudengar kamu masuk angin. Kubawa teh dan kerokan. Eh-" Idaline menyelingar. Di tengah bale' ndamel yang biasanya kosong kini ada meja besar lengkap dengan berbagai jenis makanan. "Kamu tidak sarapan tapi makan sebanyak ini?!"


"Maharaniku, kemarilah, kita makan bersama!" ajak Hayan tanpa melepaskan daging di tangannya.


"Bagaimana aku bisa makan?! Isinya asu tugel, celeng, musika, dan serigala!?" tunjuk Idaline pada masing-masing makanan. "Jangan mencariku nanti malam!" ancam Idaline merasa mual berada di sana.


"Ogah! Pisaunya pasti bekas makananmu!!" Idaline meletakkan teh lalu berjalan dengan sebal. Ia menghentak-hentakkan kaki dan beranjak pergi.


"Sapinya masih hidup," kata Hayan masih terdengar di telinga Idaline.


Akhirnya Idaline memerintahkan membuat peralatan dapur yang baru lalu para pelayan menyembelih sapi. Ia membuat bumbu sendiri dan mencontohkan cara membakar dengan benar, para dayang dan pelayan mengikutinya dengan teliti.


"Aromanya sedap sekali."


"Tentu saja. Ini sate. Dengan campuran kecap manis dan bawang putih, aromanya sangat nikmat." Idaline menutup mata menghirup aroma dalam-dalam makanan yang terasa nikmat. Meski lebih mantap bila kambing yang disate.


"Eh, Hayan?!" seru Idaline saat membuka mata dan melihat Hayan di balik asap yang beterbangan. "Enyahlah!!"


"Aromanya sangat enak. Aku ingin mencoba," ucap Hayan berdiri di samping Idaline.


"Enyahlah Hayan, kamu bau asu." Idaline membelalak terpikirkan sebuah kesimpulan. "Jangan-jangan selama ini kamu makan siang dan malam dengan itu semua!?"

__ADS_1


"Tidak, sayangku." Hayan melingkarkan tangan di pinggang Idaline. "Empat hari kemarin perutku tak enak, hanya makan sayur sepanjang hari. Baru tadi siang aku begitu lahap dan menginginkan semua itu. Selama hidupku ini aku baru memakannya. Entahlah rasanya aku hanya ingin memakannya."


Idaline menggoyangkan bahunya yang jadi sandaran kepala Hayan agar terjatuh dari bahunya. "Jangan sentuh aku mas!!"


Sedetik kemudian bibir Idaline bergetar menahan tawa lalu melepasnya karena tidak tahan. "Hahaha!" Idaline tertawa teringat sinetron di sebuah stasiun televisi ikan terbang.


"Aku mau makan satenya," pinta Hayan mengabaikan tawa Idaline. Perempuan itu memiliki dunianya sendiri dan Hayan belum tahu. Selama ini Idaline tidak pernah menceritakan tentang dirinya yang asli.


Sangat berbeda ketika bersama dengan Djahan.


Hayan tiba-tiba merasa marah!


"Tidak bisa," tegas Idaline. "Maharaja sudah makan berbagai daging tadi." Idaline mencoba menghitung jumlah piring yang dihabiskan Hayan.


"Belum kenyang." Hayan meminta dengan pupil besarnya. Aroma sate sudah menusuk indra penciumannya lalu jatuh ke dalam hatinya! Jika tidak makan sate hari ini, Hayan merasa tidak ada lagi hal berharga di dunia ini.


"Haih. Ayo duduk, satenya sudah matang." Idaline membawa satu piring penuh dan terpaksa memenuhi permintaan Hayan karena pria itu bertingkah seperti anak-anak. Bila tidak dituruti, besar kemungkinan Hayan akan marah besar dan berimbas pada seluruh Bhumi Maja.


"Benar! Hayan begitu kekanakkan! Orang lain lah yang harus mengalah. Kekuatan besar, kekuasaan besar, semua manusia yangmemilikinya pasti berlaku sewenang-wenang!"


Idaline menggelengkan kepalanya, masih ada mereka yang beriman yang tidak tergiur dengan gemerlapnya dunia lalu menggunakan kuasa dan kekuatan untuk membantu mereka yang lemah dan untuk memenuhi tugasnya sebagai pemimpin.


Wajah Idaline melongo, baru satu tusuk ia habiskan sembari memaki dalam hati, sisa sate yang lain sudah ludes dimakan Hayan. Dayang menaruh piring lain dan kejadian itu berulang, hingga empat piring ditumpuk di sisi mereka, Idaline tidak tahan lagi untuk menceramahi Hayan.


"Hayan, kamu harus hentikan. Sudah banyak daging masuk ke perutmu hari ini!"


Hayan tersenyum miring. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini!


"Asal maharaniku mau menghabiskan sepanjang malam bersama," ucap Hayan bukan sebuah penawaran, melainkan sebuah pemberitahuan.


Idaline hanya bisa pasrah.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 23 Oktober 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2