TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
017 - KALIAN AKAN MENIKAH (1)


__ADS_3

Idaline memasuki dapur memeriksa olahan cokelat susu, dia tidak sabar memakan camilan kesukaannya.


"Kebetulan sekali nona datang, kami ingin memberikan Anda contoh." sambut Gecko membawa mangkuk berisi cokelat. Dia orang yang paling antusias mengubah buah pahit menjadi enak dimakan. "Rasanya seperti menggunakan sihir." bangganya dalam hati.


Gecko selalu mengagumi sihir, setiap hari mempraktikkan hal-hal yang dia tahu. Namun semuanya pupus setelah Sirang, pujaan hatinya yang telah menguasai sihir berkata tidak ada jalan baginya. Sudah terlambat untuknya mempelajari sihir.


"Terima kasih." Idaline menyicip cokelat cair dalam mangkuk. "Hmm..pas." komentarnya. Sebenarnya kurang manis untuk dirinya sendiri, tapi karena ia penggila manis mungkin akan terasa buruk jika orang lain yang mengonsumsinya.


"Kalau begitu kami akan mencetaknya." Gecko membuat banyak cetakan lucu saat Roro memerintahkannya membuat cetakan. Padahal dia hanya disuruh membuat cetakan persegi panjang, antusiasmenya yang tinggi lah yang memberinya inovasi baru.


"Kalian sudah bekerja keras." kata Idaline meletakkan mangkuk kosong.


"Semua berkat arahan nona." ucap Roro, Gecko, dan Sirang serempak menundukkan kepalanya.


"Kalian bawalah satu batang setiap orang."


"Ti-tidak nona. Kami mana berani. Makanan ini terlihat sangat mewah." tolak Sirang diangguki Gecko dan Roro.


"Aku tidak ingin dihantui oleh hantu penasaran yang belum mencoba cokelat sama sekali. Padahal dalam proses pembuatan dia berbinar menghirup aromanya."


"Nona sangat teliti." Sirang tersenyum malu. Memang ia hampir meneteskan air liur saat menyangrai biji kakao.


"Setelah dibekukan, masukkan ke kotak yang indah. Lalu kumpulkan ke dalam kotak kayu besar yang diisi es. Isi sebanyak-banyaknya, tidak masalah jika kita kehabisan es. Sisakan satu kotak untuk Candra. Isi bagiannya sama rata."


Idaline telah membaca jadwal pengiriman es yang akan dikirim setiap dua sampai tiga pekan sekali.


Ia masih tidak percaya negeri tropis yang ditempatinya memiliki es hampir di seluruh puncak pegunungan.


Sebagai Udelia, ia hanya melihat sedikit salju di puncak gunung, tidak sampai berbalok-balok seperti yang dipesan keluarga Idaline.


Air dan udara Janapada tergolong dingin karena dikelilingi tiga bukit yang lebat dan sungai yang mengalir deras. Hanya keluarga Idaline dan kepala desa yang membeli es untuk menyimpan daging, katanya jadi lebih enak setelah dibekukan.


Idaline menyuruh Roro membersihkannya dan tidak perlu lagi membeli daging yang harus disimpan dalam es.


Ayah Idaline selalu mengadakan pesta daging setiap panen raya untuk menyenangkan para pekerja. Idaline tetap menjalankan acara itu tapi dengan hewan yang baru disembelih di hari setelah mengirim semua hasil panen ke para pelanggan.


Sebelumnya para pekerja membeli daging sesuai keinginan mereka. Idaline yang mendengar kalau itu adalah daging tikus, ular, dan sebagainya langsung merasa mual.


Para pekerja merasa tidak enak sudah diberikan bonus masih harus memilih daging-daging yang jarang mereka konsumsi, akhirnya mereka memilih daging-daging yang murah. Ayah Idaline malah mengira itu daging kesukaan mereka.


Kemudian Idaline memutuskan membeli kambing dan sapi setelah menghitung bersih hasil pesta panen. Jangan ada lagi daging menjijikan, katanya.


"Nona, saat saya berburu dengan yang lain di bukit Napa, kami melihat ular spirit yang sangat besar. Saya pernah bekerja di kota lalu diajari sedikit ilmu sihir oleh pemilik toko." ujar Sirang membuat suasana menjadi serius.


"Kalian tidak terluka kan? Apa ular itu meminta sesuatu?"


Tidak seperti bukit Jana yang digunakan warga desa untuk berburu karena dipastikan tidak ada hewan spirit.


Bukit Napa dan bukit Jada tidak pernah dimasuki sampai ke dalam, orang-orang akan menghindari kedua bukit itu karena belum dipastikan keamanannya.


Bukit Jana saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Janapada selama ini.


"Desa ini tidak pernah benar-benar ada ahli sihir atau kanuragan, maka warga desa berpikir cukup untuk memburunya bersama agar tidak ada masalah di kemudian hari." tutur Roro.


"Kami mungkin akan memberitahu kepala desa jika berbahaya. Tapi ular itu hanya terdiam tidak melakukan apa pun meski melihat kami lewat. Teman saya yang ingin mengambil tanaman obat di dekat tubuh ular itu pun baik-baik saja." tambah Sirang.

__ADS_1


"Kepala desa pasti memiliki jalan keluar terbaik. Kalian berbincang saja dengannya." usul Idaline.


"Tidak, nona. Sebenarnya sepuluh tahun lalu ada rusa kecil yang memiliki spirit, rusa itu langsung diburu oleh kepala desa dan yang lain. Akhirnya nyonya Agni yang berurusan dengan induk rusa yang mengamuk." Gecko mengingat masa kecilnya, ia ngeri melihat kerusakan yang terjadi.


Gecko mengatupkan mulut menyadari ucapannya yang menyinggung ibu Idaline. Tatapannya berubah sendu kala respon Idaline biasa-biasa saja, ia berpikir Idaline belum memahami yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Kalau rusa sih bisa saja dia memang diburu kepala desa tapi ternyata memiliki pelatihan." kata Idaline.


"Saya juga awalnya berpikir begitu. Tapi kakak saya yang melaporkan bahwa ada rusa yang dapat membuat rumput terbang di bukit Jada, para pria pun memburunya hari itu juga. Warga desa berharap tidak hidup berdampingan dengan hewan berbahaya." terang Roro.


"Kalo begitu gawat. Ular kalem ini akan jadi masalah jika diusik."


"Benar, nona." Roro berniat melaporkan yang terjadi pada ayahnya, namun ayahnya pasti melapor pada kepala desa. Dengan berbicara pada Idaline, ia harap ada jalan keluar.


Gadis kecil yang belum sampai setengah usianya itu dalam pikiran Roro pasti memiliki jalan keluar. Ia yakin itu. Nonanya bukan gadis biasa.


"Apa dia mencari tuan?" terka Idaline.


"Ular besar biasanya berusia panjang apalagi memiliki kekuatan supernatural yang juga besar, mungkin saja hewan itu ingin mencari tuan jenis baru untuk menambah pengalaman."


Idaline membayangkan ular yang telah berkelana dari Sabang sampai Merauke. Dari zaman batu sampai zaman modern. "Ketuaan," ucapnya dalam hati tertawa menggambarkan wajah ular lengkap dengan rambut dan kumis putih sedang membeli boba.


"Maaf nona, saya tidak mempelajari sedalam itu." sesal Sirang.


"Bagaimana dengan orang-orang yang datang bersamaku?"


"Kami juga ingin mengusulkan seperti itu, nona. Mereka mungkin bisa berkomunikasi dengannya dan bertanya keinginannya lalu menyuruhnya pergi dengan mudah." ujar Gecko mengatakan maksud mereka memberitahu Idaline.


"Ayo kita berbicara dengan mereka."


"Aduh jantungku." Sri mengelus dadanya yang hampir copot.


"Di mana ketiga orang itu, bi?" tanya Idaline mengelus lengan Sri memberikan ketenangan padanya.


Mendengar suara Idaline, Dopo keluar meninggalkan camilannya di ruang tamu. "Mereka keluar setelah selesai makan, Yang Mul..em Nona. Mohon maaf tidak meminta izin pada Anda terlebih dahulu."


"Aku tidak bertanya padamu." Idaline mengerutkan dahinya menatap orang yang keluar ternyata Dopo. "Di mana mereka?" tanyanya pada pria dewasa penguasa sihir terkuat di antara orang-orang yang saat ini berada di desa Janapada.


Sri masuk ke dalam rumah melanjutkan pekerjaannya setelah ditatap Dopo untuk meninggalkan halaman. Dopo pun menyelisik ketiga orang yang datang bersama Idaline.


"Katakan saja." ucap Idaline melihat keraguan di mata Dopo.


"Mereka pergi menuju hewan spirit di bukit Napa."


Dopo tahu orang-orang desa Janapada tidak berlatih sihir maupun kanuragan dan membenci hewan spirit yang dianggap bencana oleh mereka.


Meski sekarang sudah membaik sejak orang-orang desa Janapada bekerja di kota, tetap saja hewan spirit adalah hewan berbahaya bagi mereka.


"Apa kalian akan menangkapnya?" tanya Idaline sedikit khawatir.


Perkelahian dua kekuatan besar akan menimbulkan dentuman besar.


Saat itu terjadi, tidak lagi dapat menyembunyikannya dari warga desa. Mereka pasti berbondong-bondong datang ke bukit Napa untuk mengusir si ular dan akan banyak korban berjatuhan.


"Hewan berlatih untuk menjadi kuat dan untuk menjadi penguasa di tempatnya. Mereka akan menyegelnya."

__ADS_1


"Apa hewan ini berbahaya?"


"Hewan ini berbentuk ular." jelas Dopo.


Idaline dan lainnya mengangguk setuju.


"Dia sudah berlatih di kedalaman untuk waktu yang lama. Sekarang saatnya berganti kulit, jadi kondisinya lemah. Sesungguhnya ini merupakan kesempatan yang bagus untuk berkontrak dengannya. Sayangnya kami sudah memiliki hewan kontrak dan tidak dapat menambah. Sementara kami menyegelnya sambil mencari pemuda yang cocok."


"Syukurlah kalau seperti itu."


Helaan napas mereka tak berlangsung lama, sebuah dentuman besar terdengar dan mengguncang tanah hingga terjadi longsor di bukit Napa. Dengan cekatan Sirang menangkap tubuh Idaline yang hampir terjatuh.


"Terima kasih." ucap Idaline menjejakkan kakinya kembali ke tanah.


"Maaf, permisi Yang Mulia." Usai memeriksa Idaline, Dopo berlari menuju bukit Napa. Dalam satu kedipan mata, ia hilang dari pandangan mereka.


Idaline menekuk dahinya berpikir dengan keras. "Sirang! Bawa semua temanmu ke bukit." perintahnya terpikir ide bagus.


"Nona, ini berbahaya." ucap Sri yang muncul ketika dentuman kedua yang lebih kecil berbunyi.


"Aku memiliki rencana. Apa semua yang bersamamu pernah berlatih?"


"Benar, nona. Itu sebabnya kami berani masuk sedikit lebih dalam untuk mencari tanaman obat."


"Baguslah."


Ketiga orang itu pergi mencari rekan-rekannya. Sementara Idaline meyakinkan Sri ia akan menangani semuanya.


Idaline menggigit jempolnya menunggu dengan cemas, ia bernapas lega saat Sirang datang bersama yang lain.


"Kalian percaya padaku?"


"Ya, nona."


Idaline, Sirang, dan empat orang lain berlari dengan sekuat tenaga.


"Apa ini tidak apa-apa?" cemas Gecko.


"Tatapan mata nona penuh keyakinan. Aku yakin nona punya rencana." kata Roro percaya diri.


"Semoga seperti itu."


Keenam orang itu berlari ke depan tidak mempedulikan teriakan orang-orang dari yang memperingati sampai memaki mereka bodoh berlari ke sumber gempa.


"Mereka berniat melindungi desa kita. Seharusnya kita membantu bukannya mencela!" ucap salah satu orang memberi semangat.


"Benar. Awalnya kupikir dentuman ini adalah gempa, tapi sepertinya ada sesuatu di bukit Napa."


Keenam remaja sampai di bukit Napa ketika pepohonan di kaki bukit hancur rata dengan tanah. Selama beberapa menit mereka mengatur napas dan jantung hingga kembali normal.


"Dopo, lindungi kami."


"Yang Mulia?! Kenapa Anda kemari?" omel Dopo sambil memberi sihir pelindung di sekitar Idaline dan kawan-kawannya.


"Nona?!" panggil Sirang hendak meraih tangan Idaline yang berjalan keluar dari ruang pelindung yang dibuat Dopo. Gadis itu berlari cepat, ketika tangan Sirang menyentuh sihir pelindung, ia terpental masuk ke tengah ruang pelindung.

__ADS_1


"Mundurlah!" perintah Idaline.


__ADS_2