TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
071 - KALIGRAFI


__ADS_3

"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharani."


"Candra, bersikaplah seperti biasa saja saat tidak di acara formal," tegur Idaline tak senang perubahan yang dilakukan Candra. Biasanya anak itu terbuka dan tersenyum cerah. Kini wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Hamba mana berani," jawab Candra dengan wajah tanpa ekspresi.


"Huh. Candra, kakak sudah buatkan sambal kesukaanmu!"


"Hamba mana berani."


"Ya sudah, akan kuhabiskan. Padahal ini tidak terlalu pedas, rasanya pas!" Idaline mengangkat alisnya, Candra tetap berdiri tak kunjung duduk dengan ekspresi datar seperti jalan tol. Idaline menghela napas lalu menepuk kursi kayu di sebelahnya. "Duduklah, ini perintah."


"Hamba mana berani,"


"Ini bocah kenapa datang kalau cuma berdiri?" Idaline meraih tangan Candra. "Ada apa?" tanya Idaline melihat ekspresi sedih Candra.


"Kak, orang-orang bilang aku ngga boleh menemuimu lagi," adu Candra menitikan air mata.


"Hmm. Duduk dulu," ucap Idaline akhirnya dituruti Candra. "Dengar, Candra. Orang sekitarmu mungkin bilang ini dan itu dan aku juga akan sibuk dengan para nona dan nyonya, tapi mereka orang yang ga kukenal, aku ingin tetap berbincang bersama Candra."


Idaline mengusap air mata Candra lalu tersenyum melihat air mata Candra telah berhenti. "Sabar ya? Kakak temui para nona dan nyonya. Kamu makanlah yang kenyang!" pesan Idaline sebelum meninggalkan ruang makan.


Candra menuruti Idaline dan melahap makanan di atas meja sampai ludes, ia kemudian duduk di meja taman sambil menatap lurus Idaline yang masih berbincang bersama para nona dan nyonya tanpa henti.


"Tuan, mungkin Yang Mulia Maharani akan sampai sore," ucap dayang yang sudah dua kali mengisi teko Candra.


"Kakak hari ini janji ingin membeli kendi dan tempayan langsung di ibu kota."


"Sebenarnya.. para nyonya sudah memanggil pengrajin-pengrajin terbaik di ibu kota," ujar dayang menunjuk dengan kedua jempolnya kereta kuda yang baru berhenti diiringi kereta kerajinan-kerajinan di belakang kereta kuda utama.


"Heee? Apa kakak lupa?" gumam Candra kesal. Ia sudah membayangkan pergi berbelanja bersama Idaline.


Dahulu mereka berbelanja dengan singkat karena dikejar waktu dan berbelanja bahan-bahan membosankan. Sekarang Candra ingin membeli benda-benda menarik, tetapi Idaline melupakan janjinya!


"Candra! Kemarilah!" panggil Idaline dari tempat duduknya. "Nyonya Buntala memiliki kenalan para pengrajin terhebat. Pilih saja yang kamu sukai."


"Tapi kak.." Candra menunjukkan kertas di tangannya.


"Oh iya." Idaline menerima kertas Candra dan memberikannya pada pengrajin. "Apa Anda bisa membuat ini?"


"Kami akan melakukannya," jawab pengrajin setelah membaca detail kertas desain Candra dan mereka menyanggupinya.


"Bagus. Buatlah masing-masing empat pasang dengan warna berbeda yang saling berhubungan warnanya."


"Baik, Yang Mulia."


"Yang Mulia Maharani, hamba sudah memberikan desainnya. Jika tidak ada hal lain, hamba mohon pamit," kata Candra menggembungkan pipinya.


Idaline membuka mulutnya lalu tersenyum. "Nona dan nyonya, hari sudah semakin petang. Saya ada hal lain yang harus dilakukan."

__ADS_1


Para nona dan nyonya saling melirik melihat kedekatan maharani dan pria yang digadang-gadang sebagai penyihir agung. Tidak ada hal mencurigakan bila maharani dekat dengan orang hebat.


Masalahnya adalah Candra tidak bertindak sebagaimana seharusnya seorang bawahan.


Mereka hanya bisa menyimpulkan dengan pikiran masing-masing.


"Kami mohon undur diri, Yang Mulia." Para nona dan nyonya membawa satu set hadiah dari Idaline dan masuk ke dalam kereta-kereta mereka. Mereka baru berangkat setelah maharani masuk ke kediamannya.


"Candra, hari ini tidak bisa bepergian. Ingin melakukan hal lain?"


Candra mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu berpikir keras mengganti waktu berharga dengan sebuah benda berharga. Ia tersenyum saat mendapatkan ide di kepalanya.


"Gimana kalau buatkan namaku kak?"


"Kaligrafi?" tanya Idaline dijawab anggukkan oleh Candra. "Aku tidak bisa seni." Idaline menjawab dengan jujur. Ia tidak percaya diri dengan kesenian.


"Tulisan tangan kakak saja." Candra berkata dengan teguh. Dengan hal ini dia mendapatkan pusaka yang tidak ada duanya.


Kesungguhan wajah Candra membuat Idaline bingung, ia mengambil kuas dan tinta hitam lalu menulis nama Candra Ekadanta di tengah kertas yang besar.


"Sangat tidak bagus," gumam Idaline memperhatikan tulisan keringnya yang meleber ke bawah.


"Aku suka kak!" seru Candra merebut kertas itu dari tangan Idaline yang hendak membuangnya.


"Jadi, ada berita apa hari ini?"


"Sangat disayangkan, para prajurit ketagihan dalam berjudi. Diketahui sekelompok dari mereka telah mengancam pemuda bangsawan untuk memeras uangnya. Yang paling mengejutkan mereka berani melawan dan menganggap diri setara saat keluarga sang pemuda mengetahui uang yang terus habis di kotak harta karun si pemuda adalah karena pemerasan mereke."


Menghabiskan uang dalam waktu singkat membuat mereka menjadi marah, lantas yang bisa mereka lakukan selanjutnya adalah menindas yang lemah agar tidak rugi setelah mereka menghabiskan uang dengan keserakahan.


Menghabiskan uang dengan berharap nilainya dapat berlipat ganda di atas pertaruhan yang palsu.


"Mereka sudah ditangani?" tanya Idaline menginginkan jawaban terbaik.


Ia tidak ingin menemukan fakta mengejutkan lainnya, seperti para prajurit yang tidak berjudi menutup mata karena para prajurit yang berjudi adalah rekan mereka atau para prajurit lurus itu takut pada para prajurit penjudi.


"Kejadiannya di kademangan sebelah rumah utama keluarga Sanjaya."


Idaline tersenyum kecil. Meski dia ingin tahu bagaimana kondisi di lapangan bila tidak ada Rawindra Sanjaya, kali ini dia bersyukur Indra dapat menangani para penjudi itu dan kejadian juga tempat judi itu berakhir dengan cepat.


"Sangat tidak beruntung," komentar Idaline tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.


"Kakak, Bangkara adalah seniman yang lahir di Cipamali. Dia tidak memiliki kekuatan tapi lukisannya adalah senjatanya. Dia dikirim oleh Prabu Lingga Buana untuk melukis nona keempat Buntala."


"Bagus sekali!" geram Idaline. Ia tahu situasi ini, situasi di mana takdir akan bertemu. Idaline tidak tahu selanjutnya apakah sesuai alur atau melenceng bagai takdir dirinya. Yang mana pun, ada keuntungan besar bagi Idaline.


"Tapi bagus sekali," tambah Idaline menopang dagunya.


Bila tidak sesuai alur, ini adalah kesempatan Idaline untuk kembali menikmati sisa waktu di luar keraton!

__ADS_1


Bila sesuai alur, ia akan memberikan kejutan dan meminta tiket keluar dari keraton!


Idaline menerka-nerka alur yang telah terjadi, sudah sampai seberapa jauh semuanya berjalan sesuai alur.


Bila dipikir-pikir Hayan telah melihat lukisan Bangkara saat pergi ke pasar bersamanya


"Apa saat itu Hayan sudah melihatnya? Apa dia sudah jatuh cinta dengan lukisan itu? Apa Hayan akan melamarnya?" batin Idaline bertanya-tanya.


Idaline merasa tak nyaman.


"Sebelas hingga dua puluh empat hari mereka akan sampai," tutur Candra memperhatikan wajah Idaline. Ini adalah bahaya yang amat besar bagi posisi Idaline, tetapi wanita itu sangat tenang.


"Semoga mereka sampai dengan selamat." Idaline berdo'a dengan tulus.


"Aku tidak bisa membaca yang kakak rencanakan."


"Kita lihat sampel ukiran yang kamu bawa dari seluruh daerah," kata Idaline mengalihkan pembicaraan.


Candra adalah orang yang bebas, meski seorang penyihir istana terikat dengan istana, yang dilakukan para penyihir tidak terlalu banyak karena sedikit yang berminat dengan sihir.


Sehingga kemajuannya tidak terlalu diperhatikan oleh negara kecuali jika menemukan alat-alat yang bisa digunakan oleh para petapa juga.


Berbeda dengan petapa dan pegulat, di luar tugas resmi biasanya mereka akan diundang oleh keluarga-keluarga bangsawan dan atau dikirim ke daerah untuk melatih para penerus bangsa.


"Kak, aku akan menikah," ucap Candra saat Idaline sedang melihat-lihat kertas gambarnya.


"Wah, Candraku sudah besar. Padahal kamu masih imut begini." Idaline mencubit pipi Candra dan menarik-nariknya.


"Eh? Sejak kapan agak kencang begini? Ini, Candra. Makanlah cokelat yang banyak. Tidur yang banyak." Idaline menyodorkan sekotak cokelat dari dalam cincin yang terdapat batu pemberian Candra.


"Aku sudah lima belas tahun." Candra merenggut. Idaline masih saja menganggap dirinya anak kecil


"Masih. Kamu masih lima belas tahun." Idaline menekan kata masih sembari mencubit hidung Candra hingga memerah. "Imutnya. Kaya badut haha."


"Tapi kakak berumur tiga belas tahun." Candra menggosok hidungnya yang memerah.


"Eh??" Idaline lupa pada usianya saat ini karena penampilan dirinya begitu matang. Apalagi selalu melihat Djahan yang telah dewasa dan wajah Hayan yang terlihat lebih dewasa dari seusianya.


Ia selalu berpikir dirinya adalah wanita berumur dua puluh lima tahun!


"Badud itu apa kak?" tanya Candra teringat kos akata aneh keluar dari mulut Idaline.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 19 Oktober 2021


Ingat ya! Ini zaman enam ratus tahun lalu. Zaman nenek saja masih banyak yang menikah di usia sembilan sampai tiga belas tahun. Lebih dari itu diundang perjaka tua atau perawan tua.


meleber = tinta bocor, tumpah, tidak sinkron antara garis yang diinginkan dengan tinta yang muncul.

__ADS_1


Kalau ada yang bisa jelasin lebih jelas, komen ya arti meleber!


Btw kaligrafinya mau diapain sama Candra ya?


__ADS_2