TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
081 - BERTINDAK SESUKA HATI


__ADS_3

"Pergi ke rumah tahanan," perintah Idaline di dalam kereta.


Kusir dan dayang-dayang terdiam di tempat. Mereka diperintahkan untuk membawa Maharani pulang ke Kedaton Sedap Malam.


Melakukan perintah tangan kanan Maharaja adalah hal yang mesti dilaksanakan. Kendatipun demikian, perintah Maharani merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.


Mereka menatap Huna meminta jawaban.


"Yang Mulia Maharaja menyuruh Anda beristirahat," tegur Huna.


Dia tidak bisa membaca pikiran Idaline. Apa perempuan ini tidak menyayangi nyawanya?


Maharaja yang lembut itu bisa bertindak kejam jika semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya.


Semua orang masih merekam jelas kejadian Samha Mihir.


Di hari Maharaja mengusirnya, pada malamnya Samha Mihir memanfaatkan ketiadaan Maharani.


Malam itu..


Flashback : ON


Hayan tidak sanggup pulang ke Keraton Capuri. Dia tidak akan mungkin bisa menahan diri untuk tidak menyelamatkan Idaline.


Dia ingin melakukan hal itu, sengat ingin namun kemarahan masih mendominasi dalam diri Hayan.


Dia yakin Maharaninya tidak menolak ajakan Mahapatih.


Karena cinta, Idaline bisa melakukan segala hal. Termasuk melanggar batas-batas norma.


Hayan paling tahu hal ini.


Suara ketukan pintu menambah buruk suasana hati Hayan. Dia bertanya-tanya siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini!


"Yang Mulia Maharaja, mohon maaf mengganggu. Hamba Samha Mihir mohon izin berjumpa. Hamba telah datang ke Keraton Capuri dan tidak dapat menjumpai Yang Mulia Maharani. Hamba masih memiliki beberapa hal untuk disampaikan."


Samha mengucapkan kebohongan yang apik. Dia tahu Idaline sedang dihukum dan dia tidak perlu capek-capek datang ke Keraton Capuri.


Dayang-dayang setianya memberi tahu Samha bahwa Maharaja berada di Bale' Ndamel .


Tidak ada satu orang pun yang berani mendekat. Maka bisa dipastikan Maharaja belum menyentuh makanan sedari menemukan Maharani dalam keadaan yang tidak pantas.


Dayang-dayang milik Samha telah mengabarkan berita ini ke seluruh penjuru Keraton. Mereka turut membanding-bandingkan antara Maharani yang tidak pernah sekali pun bekerja dengan Samha Mihir yang sangat rajin menyelesaikan masalah dan tugas seorang Maharani.


Ditambah Maharani membuat kesalahan besar.


Jadi dayang dan abdi ndalem tidak ada yang menghalangi Samha untuk sampai di pintu Bale' Ndamel. Pengawal yang tahu Samha adalah pengganti sementara Maharani membiarkan perempuan itu mengetuk pintu.


Hayan yang sedang merenung menatap pintu yang sesekali diketuk diiringi panggilan yang mendayu-dayu.


"Maharaja.. Anda baik-baik saja?" tanya Samha dengan nada sensual.

__ADS_1


Hayan menggertakkan giginya. Sepertinya peringatan yang dia sampaikan tidak membuat Samha jera!


"Masuklah," ucap Hayan setelah puluhan kali Samha mengulang ucapannya.


Samha masuk dengan gembira. Dia meletakkan beberapa kertas sembari menjelaskan pada Hayan dan menunjuk-nunjuk kalimat yang dia jelaskan.


Pada kenyataannya Samha hanya ingin menunjukkan pakaiannya yang sedikit melorot ke bawah. Meja tamu yang lumayan pendek membuat gerakannya seolah alami terjadi.


Samha merasa sangat malu karena tidak mendapatkan respon dari Maharaja.


Namun Samha telah menyiapkan segalanya untuk berhadapan dengan hari ini.


Samha sudah bersusah payah mendapatkan posisi untuk menggantikan tugas Maharani, mengalahkan ribuan bangsawan-bangsawan wanita yang mendaftar. Tentu saja bukan untuk sekedar jadi sementara.


Perempuan itu diam-diam mengumpulkan pendukung dan mendapat beberapa orang setia.


Dia adalah putri dari Rakryan Demung, menteri rumah tangga Keraton.


Banyak orang menaruh harapan pada Samha. Waktu yang dihabiskan Samha di dekat Hayan lebih banyak daripada Idaline.


Kedekatan ini yang akan menjadi landasan kuat melebihi sebuah status.


Mereka yakin Samha lebih mengerti tentang Maharaja dan dapat merebut hatinya.


Mereka bertaruh dengan harga tinggi.


"Permisi, Yang Mulia," pamit Samha mendengar ketukan di pintu Bale' Ndamel. Dia seakan-akan berada di tempatnya sendiri.


"Yang Mulia, Anda belum makan. Silakan dimakan sayur asem buatan hamba."


"Bukankah kamu bilang pekerjaan Maharani sangat banyak dan merepotkan? Kamu masih memiliki waktu untuk memasak," sindir Hayan menatap sayur di meja.


"Ini karena hamba mendengar Yang Mulia belum makan, maka hamba membuat sayur asem pedas kesukaan Anda. Hamba membuatnya di sela-sela kesibukan hamba. Lagian ini adalah hari terakhir hamba bekerja. Besok hamba kembali ke keluarga hamba."


Selama di akademik Samha Mihir mengurus makanan dan keperluan Hayan juga saat Hayan masih menjadi Pangeran dan bertempat tinggal di Kedaton Kambang.


Sebelum memasuki akademik dan sesudah lulus dari akademik, kadang kala Samha membantu bibinya yang bekerja sebagai Kepala Pelayan di Kedaton Kambang.


Sayangnya Samha tidak bisa mengikuti Hayan hingga ke Kabalan karena dia gagal dalam tes kepegawaian.


Kemudian seluruh dayang dan pelayan diganti saat Hayan memasuki Keraton Capuri.


Dan Samha pun tidak lagi bisa menjangkau Hayan.


"Hamba saja. Silakan nikmati hidangan Yang Mulia." Samha merapihkan berkas yang tadi dijabarkannya. Dia meletakkan ke atas lemari kecil yang terletak di dekat jendela.


Hayan meneliti sayur asem yang diberikan Samha. Lalu melahapnya.


Samha tersenyum kecil dan menghitung mundur.


Saat hitungannya berakhir tubuh Samha diangkat dari belakang.

__ADS_1


"Berani sekali kamu mempengaruhi bawahan-bawahanku!!" Hayan mencengkeram tengkuk Samha. Tadi dia tidak memperhatikan karena pikirannya terfokus pada Maharaninya.


Sekarang semuanya menjadi jelas.


Bukan sayur asem yang diberikan Samha yang bermasalah, namun lilin penerangan di Bale' Ndamel yang bermasalah!


Yang menggantinya adalah seorang dayang Bale' Ndamel.


Jadi pengaruh Samha sudah sampai ke tempat paling sakral di Bhumi Maja.


Bale' Ndamel seharusnya menjadi tempat orang-orang paling setia!


Masih mencengkeram tengkuk Samha, Hayan menyeretnya ke Aula Pramanem, aula sunyi yang hampir tidak terdengar suara selain suara di dalam ruangan.


Hayan melempar Samha ke tengah aula dan menyalakan api di tembok lalu muncul simbol besar di tanah.


"Aku masih mempertimbangkan jasa keluargamu makanya tidak menghabisi nyawamu. Tapi jika sekali lagi kamu berulah, jangan lagi berpikir untuk memiliki nyawa!" Ucapan Hayan lirih namun menyakiti telinga Samha yang sedang mengerang kesakitan di tengah aula.


Sebagai putri menteri pengurus rumah tangga, Samha tinggal di keraton dan mengetahui seluk beluk keraton.


Samha sangat hafal kegunaan tiap-tiap tempatnya termasuk Aula Pramanem. Aula Pramanem digunakan untuk menghukum orang dengan membuatnya cacat.


Pertama kali Samha memergoki Hayan sedang pergi ke Aula Pramanem bersama gurunya, Samha berpikir Hayan sedang dijebak. Ternyata sang gurulah yang dijebak karena telah mengusik hati Hayan dengan mengatainya sebagai seorang yang bodoh.


Waktu itu Hayan berumur empat tahun. Anak sekecil itu sudah menunjukkan sisi bengisnya. Samha sangat takut akan tetapi Hayan tidak pernah menggubris kesalahan-kesalahan kecilnya dan Samha menjadi besar kepala.


Samha berpikir dia adalah orang spesial.


Setelah memastikan Samha tidak dapat menggunakan kekuatannya, Hayan kembali ke Bale' Ndamel dan mulai melakukan bersih-bersih.


Dia menghabisi setiap dayang dan pelayan yang mengkhianatinya.


Flashback : OFF


Kejadian itu menjadi peringatan bagi setiap penghuni Keraton terutama dayang dan pelayan agar tidak mengusik Maharaja.


Di senyapnya malam berita itu menyebar ke rumah-rumah bangsawan. Lantas tidak ada lagi perempuan yang berani menggoda Maharaja.


Walaupun terjadi hal yang sedemikian besarnya, Maharani malah mempermainkan hati Maharaja.


Bukankah Maharani juga pernah merasakan kebengisan Maharaja di gudang Keraton Capuri?


Dayang, pelayan, dan abdi dalem juga Huna yang ada di sana tidak dapat membaca pikiran Idaline.


Idaline terlalu bertindak sesuka hati.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 04 November 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2