![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Kesempatan adalah sesuatu yang amat berharga apalagi bila kesempatan itu adalah sebuah jalan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Banyak manusia berharap kembali agar memilih jalan yang benar. Tetapi satu detik yang baru saja berlalu adalah hal yang paling jauh di dunia ini. Tidak akan ada yang mampu memberikannya kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada kesempatan kali ini Hayan akan memperbaiki kesalahannya meski dengan jalan yang terkesan egois, dia tidak peduli. Perlahan tapi pasti Hayan akan memberikan yang Idaline harapkan di masa lalu. Sebuah permintaan yang seharusnya menjadi hak tiap pasangan.
Yaitu cinta dan kasih sayang.
Tidak ada satu ucapan maupun perbuatan yang menunjukkan kasih sayang apalagi cinta terhadap sang wanita. Pria itu tidak memedulikan hujan cinta yang dibuat wanitanya sampai datang waktu mereka tak lagi bersama.
Waktu yang mereka habiskan bersama banyak, namun sang pria terus memperhatikan hanya untuk menunggunya membuat kesalahan. Dia berhasil.
Dan dia pun menyesalinya.
"Buka mulutmu," perintah Hayan menyuapi nasi dengan tangannya.
Idaline menjauhkan wajahnya dari tangan Hayan. "Aku sudah makan obat dengan teratur. Pergilah."
"Kamu hanya makan pisang setiap minum obat. Kalau kamu belum makan nasi, kamu akan terus melihatku," ancam Hayan. Idaline tidak bisa berbuat apa-apa selain mengabaikan Hayan dan Hayan menggunakan hal itu untuk mengancamnya. Hayan tidak ingin Idaline bertambah sakit.
"Tanah ini adalah milikmu. Kamu bisa melakukan apa pun." Idaline menarik napasnya. "Kamu adalah hukumnya. Apa pun yang kamu lakukan tidak akan ada yang mempermasalahkannya." Alis Idaline mengkerut menatap Hayan. Ia tidak menyukai cara Hayan meraihnya tapi ia tidak bisa membencinya. Entah kenapa amarahnya tidak sebesar sebelum menikah.
Setelah menikah ia merasa ini adalah hal yang seharusnya terjadi.
"Maafkan aku tidak memperhatikan makanan saat itu. Kalau saja kamu bilang sedang hamil..."
Idaline mengelus dan memandangi perutnya. "Aku juga tidak tahu," lirihnya berurai air mata. "Andai kamu tidak mengganggu. Kami pasti menjadi keluarga yang bahagia!" tukas Idaline, matanya berkilat penuh amarah.
"Aku tidak menyesal menjadikanmu maharani," tegas Hayan. "Sekarang makanlah dengan benar. Atau kupanggil nona Sipta untuk mengurusmu?"
"Jangan!!" tolak Idaline. "Kamu belum memberitahukan pada orang lain kan?" Idaline memperhitungkannya. Tidak mungkin Hayan mempermalukan dirinya sendiri.
Bisa jadi orang akan berpikir Hayan dan Idaline telah melakukan hal nista atau orang-orang akan tahu Hayan telah memisahkan dua orang dari pemiliknya, banyak orang belum tahu Idaline telah memiliki suami.
"Iya." Hayan tidak ingin orang-orang menyulitkannya. Sapta Prabu termasuk Ibu Suri di dalamnya akan berpikir ulang tentang keberadaan Idaline jika mengetahui Idaline pernah mengandung.
Sebelumnya Hayan sudah berkata dengan meyakinkan bahwa Idaline dan Djahan tidak mungkin melakukan hal sejauh itu dalam waktu dekat.
Sama seperti dirinya dahulu.
Namun ternyata tidak. Dua orang itu saling menyatakan cinta dengan memadu kasih.
"Aku akan makan. Tetaplah rahasiakan berita ini." Idaline duduk dengan tegak. "Dan aku ingin bertemu Djahan."
Hayan menyuapkan nasi pada Idaline, wanita itu tidak menolaknya. "Baiklah. Cukup sampai gumatel."
Idaline menghela napas. Waktu gumatel adalah waktu ketika matahari sudah mulai panas atau sekitar pukul 09.00 pagi. Idaline menatap langit yang telah terang dan ia memperkirakan waktu baru saja lewat dari jam tujuh pagi.
Di tengah-tengah pesta yang belum usai, kedatangan Djahan dilakukan tanpa jejak menggunakan kereta samaran. Titah emas yang tidak boleh ditolak mengharuskannya datang ke Keraton Capuri.
__ADS_1
Djahan terhuyung ke belakang saat hendak memberi salam. Tidak ada dayang dan pelayan di dalam rumah utama bahkan penjaga pintu tidak ada, pintu terbuka lebar seolah memperbolehkannya masuk tanpa menunggu jemputan.
"Djahan, maafkan aku," ucap Idaline terisak.
"Aku tahu kamu memiliki alasan." Dengan ragu Djahan mengelus kepala Idaline. Bagaimanapun status istrinya saat ini adalah maharani, atasannya dan pasangan atasannya.
"Bukan itu. Aku. Aku keguguran. Bayi..kita.." Idaline tercekat. Ia tidak bisa melanjutkan kata berikutnya. Ia menjatuhkan wajahnya ke dada bidang Djahan untuk merendam suara tangisnya.
"Apa?!"
"Aku tidak tahu sedang hamil malah bepergian jauh. Tidak menjaga makananku. Tidak menjaga jabang bayi ini dengan benar," ujar Idaline sambil tersedu-sedu. Ia menumpahkan sesak dalam dadanya.
Sungguh bayi mungil hasil cinta sepasang suami istri adalah anugerah terbesar, namun dirinya tidak bisa menjaga anugerah itu dengan benar. Ia merasa menjadi manusia terburuk di dunia.
Idaline tidak terlalu menyukai anak-anak, tapi bukan berarti dirinya tidak menyukai anak dalam rahimnya sendiri. Ia sangat menyesal. Ingin rasanya ia kembali ke hari sebelum dirinya berkelana dan duduk dengan patuh di dalam Kedaton Sedap Malam. Bisa saja kemudian Hayan akan melepaskan mereka berdua.
Idaline sungguh-sungguh menyesal.
"Sudah. Sudah. Bukan salahmu. Bukan salahmu." Djahan memeluk erat Idaline. Ia merasa bersalah tidak menjaga keluarganya dengan benar. "Tak apa.. Tak apa.." Djahan menutup matanya menahan perih di hatinya.
Ia seharusnya sadar sejak Idaline tiba-tiba menghilang di malam pertama mereka, bahwa ada yang tidak beres dengannya. Apalagi selanjutnya Idaline meninggalkannya hanya untuk menjadi Maharani.
Djahan tahu Idaline bukanlah orang serakah. Tidak mungkin Idaline meninggalkan dirinya kecuali untuk kembali pulang ke dunianya.
Tubuh Idaline melemas, kesadarannya menghilang. Djahan dengan sigap menggendongnya ke kursi panjang di sana. Ia bersimpuh di sebelah Idaline, mengusap kepalanya dengan sayang lalu mencium dahinya lama dan dalam. Dalam diam ia bersumpah akan melakukan hal seharusnya dilakukan.
"Sudah gumatel." Hayan tersentak merasakan keris menempel di lehernya.
"Buat apa saya melakukannya? Itu hanya akan menyakitinya dan bahkan bisa menyebabkan kematian," ujar Hayan tenang. "Saya sudah susah payah mendapatkannya," imbuhnya membuat Djahan berdecih.
"Saya bersumpah tidak akan melepaskan Anda kalau menyakiti dirinya," sumpah Djahan membawa gemuruh, ia memasukkan kerisnya kembali ke dalam sarung.
"Sebelumnya juga begitu. Anda tidak menyebutkan namanya." Hayan menggerakkan matanya dan para ksatria bayangan Hayan menghilang dari belakang Djahan. "Karena Idaline adalah orang moden. Betul?" Hayan menatap serius Djahan.
Djahan melepaskan pandangannya dari mata Hayan dan beralih menatap Idaline. "Lalu Anda ingin memenjarakannya?" tanyanya tak membantah.
"Anda tahu orang seperti itu bisa tiba-tiba hilang, kembali ke tempatnya. Sama seperti dua mata-mata saya."
"Saya kira ibu suri sangat membenci mereka," ucap Djahan melangkahkan kakinya ke tempat Idaline terbaring lemas.
"Tentu saja. Pemberontakan demi pemberontakan di zaman paman dan di saat awal-awal ibu suri naik tahta masih begitu membekas." Hayan menautkan kedua tangannya di balik punggung. Sungguh dirinya saat ini sedang menahan amarah yang besar. Lelaki di depannya.. lelaki di depannya telah merenggut kesucian maharaninya! Hayan tidak bisa terima.
Hayan menarik napas dalam-dalam dan berusaha memadamkan amarahnya. "Daripada membuatnya merasakan mimpi indah sesaat, lebih baik dia melakukan yang diperlukan dengan kekuatan dan kecerdasannya." Tidak! Hayan tidak akan membiarkan Idaline pergi dari sisinya, lagi. Hayan akan memastikan maharaninya terus berada di sisinya meski harus menentang takdir.
Djahan mengelus rambut Idaline. "Dia harus melakukan sesuai keinginannya, tetapi saya tahu dia memiliki alasan. Jadi, jangan sakiti dia," tekan Djahan di akhir kalimat.
"Bagaimana dengan Anda? Hati Anda penuh untuk tanah ini. Saat orang tua Anda terbunuh, dengan pikiran sekalut itu Anda masih memikirkan nasib tanah ini. Anda memberi tahu pada Raja Wijaya tentang kedatangan Mongol yang sudah memusnahkan kampung halaman Anda dan sedang bersiap menyerang daerah lain."
__ADS_1
Djahan menyelidik wajah Hayan yang terlihat percaya diri. Tentu saja detail kisah itu dicatat untuk keperluan taktik di masa yang akan datang jika berjumpa hal yang sama.
"Anda melakukan pemberontakan karena Raja Jayanagara terus melakukan hal tidak senonoh, Anda sangat berani mengambil keputusan dalam kebenaran. Tidak menyimpan dendam ketika kekuatan Anda disegel dan berubah lemah. Anda bahkan mau mengajari Ibu Suri cara menjadi pemimpin yang benar dan kuat," tutur Hayan mendekat.
"Kalau bukan orang seperti Anda di sisi saya untuk menyatukan kepulauan-kepulauan, apa masih ada yang pantas?" Hayan menjulurkan tangannya. "Bagaimana? Apa Anda mau?" tanyanya menegaskan.
"Anda ingin saya bekerja sama dengan Anda?" Djahan menatap Hayan tidak percaya. Lelaki itu baru saja memisahkan dirinya dengan wanita yang dicintainya dan kini mengajaknya bekerja sama? Djahan tidak bisa memahami pikiran Hayan! Atau lelaki itu telah menjadi gila karena tahta dan kuasa?
"Tenang, saya akan tetap di posisi ini sampai mahapatih yang baru siap," imbuh Djahan menghujani wajah Idaline dengan kecupan. Ia tidak peduli meski ada orang gila yang memperhatikannya dengan marah.
••••••••••••••••••••
Idaline sedang berendam di kolam belerang, ia menikmati sensasi rileks dari belerang dan aroma wangi dari kemenyan yang dinyalakan di sisi kanannya, pijatan di bahu dan tengkuknya menambah segar tubuh eloknya.
Sudah dua bulan berlalu dan selama itu Idaline tinggal di Keraton Capuri, ia tidak melakukan apa pun. Hanya tidur, makan, menikmati halaman, dan malas-malasan. "Sempurna. Haha." Idaline tertawa lepas. Walaupun berada di halaman yang sama, Hayan hanya menemaninya di pagi hari seperti dahulu lalu pergi memulai kegiatan.
"Kamu aja," bisik dayang.
"Ngga berani," bisik lainnya.
"Bicaralah," perintah Idaline membuat kedua dayang yang saling berbisik itu tersentak.
"Yang Mulia, sebenarnya kami mendengar desas-desus kalau Yang Mulia Maharaja sedang mencari wanita lain. Se-selama ini tugas Anda dikerjakan nona besar Mihir," terang salah seorang dari mereka.
"Aku harus berterima kasih padanya," balas tenang Idaline.
"Ta-tapi Yang Mulia, nona itu sudah memiliki tunangan. Tapi dia mengundurnya dan malah dekat-dekat dengan Yang Mulia Maharaja terus. Bahkan hingga sampai malam hari. Di tempat umum selalu terlihat berdua hingga utusan kerajaan sahabat yang baru mengira mereka adalah pasangan. Mereka mengira nona Mihir adalah Maharani," cicit dayang di kalimat terakhir.
"Bagaimana dengan gerak-gerik nona Mihir?" tanya Idaline penasaran. Perempuan penggantinya sangat bersemangat.
"Nona Mihir selalu mendekati Yang Mulia bahkan ketika rapat bersama para pria, nona Mihir menunggu Yang Mulia di pintu keluar."
"Jaga ucapan kalian," tegur Bejo muncul bersama beberapa dayang. Dayang-dayang itu membawa berbagai makanan dan minuman. "Nona Mihir hanya membawa daftar para gadis yang belum menikah dan daftar gadis-gadis yang baru beranjak dewasa. Sudah saatnya melakukan pemilihan selir."
"Itu bahkan lebih buruk," ucap serempak para dayang dalam hati.
"Mari kita kesampingkan dulu. Yang Mulia, daging gepeng yang Anda katakan sudah siap."
"Entahlah, aku jadi malas." Idaline merasa kesal. Ia tidak mau berbagi dan Bejo mengatakan seolah ia harus berbagi. Tadinya akan ia biarkan namun mendengar penjelasan Bejo, ia menjadi sangat kesal. "Aku ingin makan gulai kambing," tuturnya memberikan pekerjaan lain. Idaline sangat malas melihat wajah Bejo.
"Baik, Yang Mulia." Bejo pergi bersama para dayangnya.
"Ceritakan semua yang kalian tahu." Idaline bangun menerima handuk dari dayang. "Tanpa tertinggal sedikit pun!" tambahnya berapi-api.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 02 Oktober 2021
__ADS_1