![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Roro Pita bukannya istrimu?"
Djahan menutup mulutnya menahan tawa. "Pasti kamu dengar dari orang-orang."
"Pasti seperti itukan?" Idaline menjauhkan tangan dari wajahnya dan memandang lelaki di sebelahnya.
Djahan melepas tawanya melihat riasan Idaline yang luntur. "HAHAHA." Djahan tidak dapat menghentikan tawanya dan menunjuk wajahnya sendiri sambil terus tertawa.
"Argh! Ini karena para dayang bilang harus menyesuaikan dengan pakaiannya." Idaline menatap Djahan yang tertawa, lelaki yang selalu serius itu ternyata bisa tertawa. "Siapkan air hangat."
"Baik, Yang Mulia."
"Aku tidak mendengar dari orang-orang. Tapi itu tertulis di prasasti, bukannya Tanca kamu yang menyuruh?"
"Nona salah kaprah, meski namaku sama dengan tangan kanan raja pertama dan menteri kepercayaan raja kedua, bukan berarti aku orang yang sama kan?"
"Bagaimana kalau kukatakan aku punya hubungan dekat dengan Petapa Agung?" Idaline mengeluarkan aura yang diberikan Fusena. Namun ia masih belum dapat menggunakannya sebagai senjata.
"Ini.." gumam Djahan mengenali aura Petapa Agung. "Jadi begitu." Djahan merubah ekspresinya menjadi serius.
Ia mengangkat tangannya saat Siji dan Loro muncul di belakang Idaline. Dua orang itu mengangguk lalu berpindah ke belakang Djahan. "Katakan apa maumu?"
"Aku tidak peduli pada yang terjadi dalam hidupmu–"
"Padahal tadi menangis sesenggukan." sindir Siji.
"Diamlah! Aku belum buat perhitungan dengan kalian!" Idaline mengarahkan jari telunjuknya pada Siji dan Loro bergantian.
"Aku terlibat masalah karena Hayan.ehm..Pangeran mendengarkan ucapan Sudewi dengan serius. Kamu tahu sendiri hubungan Yang Mulia Ratu dan Petapa Agung kurang harmonis."
Orang-orang bergosip cinta Petapa Agung ditolak oleh Ratu, ada pula yang bilang karena Petapa Agung tidak suka pemimpin wanita.
Tapi tentu saja Petapa Agung tidak berpikiran sempit. Masalahnya jauh lebih besar.
Ratu mengundang Petapa Agung untuk mengurangi gosip yang menyebar luas, namun Petapa Agung tidak memiliki kewajiban untuk memenuhinya.
Idaline jadi berpikir bila sepupunya datang ke istana untuk menemuinya, bisa saja konflik di antara keduanya semakin membesar.
"Keadaannya memang seperti itu." Djahan mengangguk setuju.
"Fu–ehm Petapa Agung berjanji ingin bertemu denganku di Janapada, sayangnya aku terkurung karena Pangeran. Sekalipun aku dapat izin Ibu Ratu, pangeran akan menghalangiku pergi dari ibu kota atau bahkan istana."
"Tapi kedatangan Petapa Agung bisa jadi keuntungan untuk negeri. Beliau bisa memberikan berkat untuk keluarga kerajaan dan hubungan mereka juga bisa membaik." timpal Djahan.
"Justru sepertinya akan jadi lebih buruk. Dia tidak suka saat aku jadi Raden Ajeng." Idaline mengingat tatapan Fusena seperti ingin menghancurkan lencananya, sepupunya itu terus menatap lencananya dengan pandangan membara.
"Kalau seperti itu akan gawat."
"Keraguan pangeran juga ingin aku hilangkan. Aku ingin kamu membuat kami berada di Janapada dengan aman."
Dalam masa kepemimpinan raja sebelumnya, yaitu Kalagemet putra seorang budak dari pulau tetangga yang dihadiahkan ke raja pertama, terdapat sedikitnya tujuh pemberontakan besar yang sampai menumpahkan darah dan dua di antaranya bahkan menduduki tahta raja.
Lalu di awal pemerintahan ratu sekarang, ratu harus menghadapi dua pemberontakan besar ketika para petinggi kerajaan banyak yang ragu padanya. Ratu dengan gemilang menghancurkan dua pemberontak di sisi yang berbeda dalam waktu bersamaan.
Meski tahun-tahun selanjutnya terus berjalan damai dan orang yang berseberangan mulai melihat hasil kerja ratu yang berhasil menundukkan dua kerajaan tetangga, tidak menutup kemungkinan ada bahaya untuk pangeran calon terkuat raja selanjutnya.
"Aku ada permintaan pada Petapa Agung." pinta Djahan.
"Akan kusampaikan."
Djahan menganggukkan kepalanya. Ia mengangkat tangan menyuruh Siji dan Loro pergi.
"Tunggu." tahan Idaline. Lalu ia berdiri sambil berkacak pinggang. "Kalian masih memiliki hutang penjelasan padaku."
Siji dan Loro menciut saat Idaline berjalan mendekati mereka. "Sa-saya tidak mengikuti Anda. Loro yang melakukannya." ucap Siji menunjuk Loro.
"Maafkan saya. Saya hanya mencoba melindungi Anda dari bahaya."
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa kamu ada di desa?" tanya Idaline menelisik wajah Siji.
"Saya menjemput Anda karena Loro bilang Anda sudah menyelesaikan urusan Anda."
"Jangan salahkan mereka. Akulah yang menyuruh. Mohon maafkan aku." ucap Djahan mencoba menengahi.
"Tenang saja. Aku tidak akan membocorkan kelemahanmu. Jadi berhentilah menyuruh orang mengikutiku. Itu sangat merinding lebih dari melihat hantu."
Menilik keinginan bertemu Fusena, Idaline jadi tahu yang ditakutkan Djahan. Yang hilang padahal membawa gemilang di dua kepemimpinan sebelumnya.
Idaline berdo'a Djahan akan mendapatkannya lagi agar cerita kembali pada jalurnya, yaitu Djahan membawa masa keemasan di masa kepemimpinan ratu dan di masa kepemimpinan Hayan.
"Anda bisa melihat hantu?"
"Ya." jawab Idaline. "Kalian berdua pergi berdiri di halaman sambil mengangkat tangan selama empat jam. Djahan.." Idaline menjeda ucapannya mengingat prasasti yang masih ia yakini kebenarannya. Tatapan Idaline menjadi sendu kembali.
"Uh, jangan lupa bawa camilan itu setiap hari!" asal Idaline pergi dari ruang tamu.
"Yang Mulia, kami sudah menyiapkan airnya."
"Antar aku."
"Baik, Yang Mulia." Para dayang membimbing Idaline ke kamar mandi.
Idaline yang sedang membasuh wajah dikagetkan dengan aura mencekam dari luar jendela. Ia berlari keluar tidak mendapati siapa pun.
"Apa aku terlalu was-was?" pikirnya menerima bantuan dayang membersihkan kakinya yang terkena tanah.
"Ada apa?" tanya Djahan yang menunggu di dekat sana.
"Tidak. Mungkin pikiranku lelah."
"Ingin berkeliling?" ajak Djahan. Melihat langit telah cerah, Idaline mengangguk menerima ajakannya.
"Kalau boleh tahu, alasan apa yang harus aku katakan pada ratu?" tanya Djahan setelah mereka menjauh dari para dayang.
Kalau cerita Sudewi benar-benar terjadi, Idaline ini sungguh anak yang malang.
Kehilangan orang tua di usia muda dan di waktu dekat dengan perayaan ulang tahunnya juga pernikahannya.
Setelah itu diculik oleh golongan hitam lalu tubuhnya ditanam paksa sihir hitam dan dikendalikan dari balik layar.
Ketika dibebaskan, ia tinggal di Janapada tidak tahu calonnya telah menghamili wanita lain dan menikahinya.
Menunggu di hari pernikahan malah mendengar kabar yang tidak diinginkan pengantin mana pun.
Lalu berakhir menjadi alat penghancur desa.
"Dia ini sungguh sangat keterlaluan!" marah Djahan.
"Aku sudah membalasnya. Jadi katakan saja pada Ibu Ratu kalau dia menikah dengan nona muda keluarga Yasa. Sayangnya pernikahan yang baru dua pekan itu sudah memiliki calon keturunan berusia lebih dari tiga bulan."
"Itu adalah dosa yang sangat besar."
Hukuman bagi pezina tidak cukup hanya cambukan tali. Para menteri membuat hukuman pukul dengan kayu agar yang ingin berhubungan menjalin ikatan resmi dahulu.
Semua elemen selalu berusaha menjaga tanah mereka tetap suci.
Itulah sebabnya tidak ada rumah bordil di Kerajaan Maja.
Jika ada, semua yang terlibat akan dihukum mati. Termasuk yang sekedar menginjakkan kaki di sana.
"Orang tuaku sudah membelikan rumah di dekat akademik agar mudah baginya mengajar, siapa yang tahu ayahanda dan ibunda meninggal saat perjalanan ke sana." Idaline mengusap matanya yang sudah bersih dari riasan.
Ia sama sekali tidak memiliki urusan dengan Nandana, tapi perasaan Idaline asli masih tertinggal dalam dirinya dan sangat kuat. Air matanya terus saja mengalir.
"Jangan buang air matamu untuk orang tidak berguna itu. Usaplah dengan ini supaya pakaianmu tidak basah." Djahan memberikan sapu tangannya.
__ADS_1
"Wah apakah kamu orang barat?" Idaline menrima sapu tangan dari Djahan.
"Apa maksudmu?"
"Tidak. Terima kasih sudah menghiburku. Tapi sepertinya aku ini memang tidak disayang Tuhan."
"Jangan berkata hal yang mengerikan begitu."
"Kalau Dia sayang padaku kenapa harus memisahkan aku dengan kedua orang tuaku? Ditinggalkan di tempat berbahaya yang menentang maut dalam tubuh lemah seperti ini. Entah aku bisa bertahan dan kembali atau tidak."
Idaline berjongkok tidak kuat membayangkan wajah keluarga yang sangat ia rindukan. Ia menutup wajahnya malu memperlihatkan mata bengkaknya yang terus mengeluarkan air mata.
Djahan mensejajarkan tubuhnya di depan Idaline. Ia elus kepala Idaline hingga tenang. "Tuhan tidak pernah mencoba hambaNya di luar batas kemampuan." Djahan terkejut merasakan rintik hujan kembali turun. "Ida, ayo masuk." ucapnya lembut di telinga Idaline.
Suara tangis Idaline malah semakin membesar seiring derasnya hujan. Djahan yang mendengar suara pilu itu memeluk erat Idaline sambil berkata, "Tenanglah semua sudah berlalu. Semua pasti berlalu. Tuhan tidak akan mungkin meninggalkan kita."
Para dayang ragu untuk mendekat dan memberikan payung karena tuan mereka tidak pernah sedekat itu bahkan pada para muridnya. Akhirnya Idaline dan Djahan terus berada di tengah guyuran hujan.
Ketika sudah tenang, wajah Idaline memerah merasakan banyak orang berdiri di dekat mereka, ia mengintip Djahan yang masih setia berjongkok bersamanya.
Djahan yang melihat Idaline memberikan senyum hangatnya.
"Ayo masuk." ajak Djahan ingin melepaskan pelukannya tapi Idaline menenggelamkan wajahnya di dada Djahan.
"Kakimu sakit?" Djahan membuat alasan agar mengurangi rasa malu Idaline. Gadis itu mengangguk dengan cepat memahami maksud perkataan Djahan.
Djahan menggendong Idaline yang terus menelungkupkan wajahnya hingga masuk ke kamar tamu.
"Layani Raden Ajeng dengan benar." perintah Djahan pada para dayangnya.
"Baik, tuan."
Idaline memegang ujung pakaian Djahan yang bersiap pergi. "Terima kasih."
Djahan kembali tersenyum hangat lalu pergi dari kamar tamu. Segera para dayang membersihkan tubuh Idaline. Gadis itu ingin mandi sendiri tapi tidak memiliki tenaga, ia hanya bisa pasrah pada tangan-tangan profesional.
Idaline berbaring di atas kasur tidak dapat bergerak. Karena terus bersin, para dayang tidak membolehkannya turun dari kasur dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis-lapis kain.
Para dayang membuat sup untuk menghangatkan Idaline dan tangan lihai mereka menyuapkan sup ke dalam mulut Idaline, tidak memperbolehkan tamunya untuk bergerak sendiri.
"Hari sudah terang, aku ingin bertemu Djahan." Idaline menghirup aroma tanah basah bekas hujan turun.
"Tuan sedang pergi ke Keraton."
"Ya sudah aku mau istirahat dulu." Idaline membaringkan tubuhnya dibantu para dayang yang kembali meletakkan berlapis-lapis kain ke tubuhnya. "Mahapatih pasti memiliki banyak pekerjaan." pikir Idaline.
Setelah memberikan teh, para dayang mundur teratur keluar dari kamar Idaline. Ia yakin sudah melihat seluruh dayang keluar dari kamarnya, tapi begitu memejamkan mata, Idaline merasakan tatapan tajam dan aura yang sangat kental berdiri di dekat ranjangnya.
Idaline membuka matanya melihat seorang lelaki dengan rambut panjang hitam diikat setengah dan bagian bawahnya dibiarkan terurai, pupilnya yang berwarna abu-abu seperti dapat melihat jauh dari yang biasa manusia dapat lihat.
"Kalian para wanita benar-benar menggunakan berbagai cara untuk naik ke ranjang pria tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi! Wanita itu benar-benar pendek akal!"
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 01 Agustus 2021
Author note:
Pita artinya Kuning.
Makasih atas like, komen, vote, dan hadiahnya teman-teman.
Buat yang baru datang jangan lupa tinggalkan jejak ya sayangkuh~
Sekedar Z aja gpp. Hehe.
Sehat selalu semua.
__ADS_1
Love, Al-Fa4.