![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Pergi ke rumah tahanan," perintah Idaline di dalam kereta.
Kusir dan dayang-dayang terdiam di tempat. Mereka diperintahkan untuk membawa Maharani pulang ke Kedaton Sedap Malam.
Melakukan perintah tangan kanan Maharaja adalah hal yang mesti dilaksanakan. Kendatipun demikian, perintah Maharani merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.
Mereka menatap Huna meminta jawaban.
"Yang Mulia Maharaja menyuruh Anda beristirahat," tegur Huna.
Dia tidak bisa membaca pikiran Idaline. Apa perempuan ini tidak menyayangi nyawanya?
Maharaja yang lembut itu bisa bertindak kejam jika semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya.
Semua orang masih merekam jelas kejadian Samha Mihir.
Di hari Maharaja mengusirnya, pada malamnya Samha Mihir memanfaatkan ketiadaan Maharani dan berusaha menaiki ranjang Maharaja.
Tanpa memandang kinerja Samha Mihir yang baik selama menggantikan Maharani dan di masa-masa sebelumnya, Maharaja menghukum Samha Mihir dengan merusak tapaannya.
Maka dari itu sampai sekarang tidak ada yang berani menggoda Maharaja.
Maharani malah mempermainkan hati Maharaja.
Idaline menatap kesal dayang, pelayan, abdi ndalem, dan kusir yang diam saja.
Lalu Idaline menatap sengit Huna yang naik ke keretanya. Pria itu akan memastikan sendiri Idaline kembali ke Kedaton Sedap Malam.
"Jika tidak ingin ikut, kembalilah bantu Hayan," ketus Idaline.
Hayan sudah memisahkan Djahan dan Idaline, masih mau membatasi pergerakannya?!
Idaline tidak akan tinggal diam!
Huna menutup rapat mulutnya dan mengikuti Idaline dengan tenang. Dia berjaga di depan gapura saat Idaline masuk ke rumah tahanan.
Rumah tahanan adalah rumah biasa yang tidak sebesar rumah para bangsawan.
Luasnya hanya empat depa, sungguh jauh berbeda dengan rumah bangsawan di mana satu kamar saja mencapai empat belas depa.
Satu depa adalah empat hasta. Satu depa kurang lebih mencapai seratus delapan puluh sentimeter.
Rumah dengan luas empat depa itu mencakup seluruh bagian rumah dari tempat tidur, kamar mandi, ruang masak, dan ruang makan. Tidak ada pelayan yang menemani. Tahanan harus melakukan semuanya seorang diri.
"Djahan.." panggil Idaline tidak direspon Djahan. Pria itu sedang berdiri di depan jendela yang terbuka lebar tak jauh dari tempat duduk Idaline karena ruangan yang tidak terlalu besar.
Idaline duduk dengan gelisah. Mereka saling terdiam sampai teh panas di meja menghilang uapnya.
"Kamu benar-benar hamil?" tanya Djahan menatap wajah Idaline.
Pembuluh darah tampak tegang di wajah Djahan saat Idaline menjawab dengan anggukan, Djahan melemparkan pandangannya ke luar ruangan dan mencengkeram kusen jendela hingga retak.
Idaline berdiri di samping Djahan. Dia memegang tangan Djahan dan membersihkan kayu-kayu kecil yang menempel di telapak tangan pria itu.
Idaline tidak sanggup melihat Djahan terluka.
__ADS_1
"Udelia, aku membiarkanmu berada di sisinya berpikir kamu ingin menghabiskan waktu dengan maksimal. Kalau seperti ini.." Djahan berbalik menarik tangannya dan mencengkeram bahu Idaline.
"Kalau seperti ini, kenapa tidak kembali saja padaku dan habiskan waktu bersama?!" sambung Djahan. Matanya memerah karena marah.
"Maafkan aku. Aku juga inginnya begitu," lirih Idaline di akhir kalimat. Idaline mengernyit merasa bahunya amat sakit.
Djahan meraih dagu Idaline dan mengunci pandangannya. Dia menatap dalam-dalam mata Idaline. "Masih belum terlambat jika kamu ingin pergi."
"Tidak," tolak Idaline. "Waktuku tinggal sebentar. Djahan, kumohon jagalah anakku saat aku tidak di sini," pintanya memohon.
Djahan melepaskan Idaline lalu mengusap wajahnya sendiri. Dia berusaha menghilangkan amarahnya.
"Kamu meninggalkanku, menghilangkan anakku lalu datang menyuruhku menjaga anakmu dengan orang lain?" tuduh Djahan.
Idaline meluruh ke lantai, kedua tangannya memegangi kusen jendela mencoba menahan berat tubuhnya.
"Maaf.. maafkan aku.. maaf, aku tidak bermaksud menghilangkan bayi kita," sesal Idaline.
Dia benar-benar menyesal. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Andai saja waktu bisa diputar, Idaline akan mempertahankan bayi mereka dan melakukan segala cara agar terlepas dari rencana Hayan.
Kemudian tercetus dalam benak Idaline, apa hanya karena bayi itu?
Jika tidak ada seperti sekarang, dia menyerah pada pernikahannya dengan Djahan?
Tetapi waktu keberadaannya di dunia ini memang benar-benar tinggal sebentar.
Fusena sudah memberitahukan tanggal tepatnya. Dan Idaline sudah mempersiapkan hati untuk kembali menjadi Udelia,
Berbeda dengan Udelia yang mesti bekerja sebagai karyawan, ingin sesuatu pun harus menabung dahulu.
Idaline sudah mempersiapkan diri menjadi pekerja keras lagi.
"Aku memikirkannya. Kamu menghilangkan bayiku untuk merangkak naik ke ranjang Maharaja... sungguh keji!" sergah Djahan menatap Idaline yang bersimpuh di kakinya.
Idaline menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan membiarkan rambutnya terurai di depan wajah.
Dia menggigit bibirnya mendengar kata demi kata yang meluncur keluar dari mulut Djahan.
"Begitukah aku di dalam pikiranmu?" lirih Idaline tidak percaya pendengarannya.
Djahan terkesiap akan ucapannya sendiri. Matanya yang memerah berubah redup dan sendu. Ucapannya sangat tidak pantas.
"Aku salah bicara," gumam Djahan menjauh dari Idaline. Dia takut kelepasan dan berbicara hal-hal yang tidak pantas lagi.
"Aku tidak bisa berdiam diri melihat sahabatku yang sudah menderita di dunia, harus sekali lagi menderita di sini. Aku sama sekali tak ada pikiran berdiri di posisi ini," aku Idaline.
Dia mendongak menatap Djahan yang memalingkan wajahnya. "Terserah kamu percaya atau tidak!"
"Aku–"
"Kalau aku ingin melakukannya, akan kupilih jalan yang lebih aman," ujar Idaline sambil berdiri dengan hati-hati.
"Kenapa aku harus menderita selama berbulan-bulan? Cara kami jauh lebih maju!" Idaline memaksakan senyumnya lalu berjalan keluar menuju Huna yang menguping semua pembicaraan.
__ADS_1
Idaline memandang malas Huna sebelum menaiki kereta kudanya.
"Aku minta maaf. Ucapanku keterlaluan," lirih Djahan menutup tirai jendela. Pikirannya sedang kacau. Untuk saat ini dia tidak ingin berjumpa dengan siapa pun.
Sementara itu dampak ucapan Idaline sangat besar.
Setelah Huna melaporkan semua ucapan Idaline tanpa ditambahi ataupun dikurangi, Hayan memerintahkan seorang dayang untuk terus mengawasi Idaline.
Bahkan ketika Idaline buang air kecil di dalam kamar mandi, dayang itu harus masuk ke dalam dan memperhatikannya tanpa berkedip.
Idaline tidak peduli dengan sang dayang maupun sikap Hayan yang hangat hanya pada sang bayi.
Berhari-hari Hayan tidur di sampingnya dan memeluknya sambil mengusap-usap perutnya namun pria itu tidak pernah menanyakan kabar dirinya.
Meskipun begitu, setiap keinginan dari si jabang bayi, semua dikabulkan Hayan.
Idaline tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.
Hatinya sedang hancur berantakan. Dia berusaha menatanya namun hatinya tak kunjung berubah membaik.
"Yang Mulia, Anda harus benar-benar tidak beranjak dari kasur. Dan cobalah jangan memikirkan hal berat. Katakan saja semua yang ingin Anda lakukan," ujar tabib yang dipilih Hayan.
Awalnya ucapan ini adalah kalimat yang dipesan Idaline pada Ra Konco.
Mual itu hanya pemanis. Hayan lah yang setiap malam secara diam-diam menyelinap ke kamar mandi untuk memuntahkan air dan angin.
Selama ini tidak ada yang dikeluhkan Idaline bahkan sampai dia sendiri tidak merasa sedang mengandung.
Sekarang semuanya jadi kenyataan.
Idaline yang terus menerus memikirkan mendiang bayinya jadi membebankan raga dan jiwanya dan tidak memikirkan jabang bayinya sekarang.
Idaline makan hanya ketika perutnya meronta-ronta minta diisi.
Idaline tidur hanya ketika Hayan menamaninya. Jika tidak, perempuan hamil itu akan begadang dan memikirkan banyak hal.
Idaline men de sah panjang. Kondisinya saat ini tidak baik. Dia memikirkan anaknya yang lain tapi justru mengabaikan anaknya yang sekarang.
"Aku ingin sendirian malam ini," tutur Idaline memandang kosong sup hambar di depannya.
"Tidak bisa Yang Mulia," tolak Nung, dayang yang ditunjuk Hayan.
Tabib menggeleng pada Nung. Perempuan hamil ini memang harus menenangkan dirinya. Keberadaan Nung sebenarnya justru membebani Idaline. Idaline ingin menangis tapi air matanya tidak keluar di hadapan orang lain.
Tabib membungkuk dan tangan kanannya memaksa Nung untuk membungkuk. "Kami izin keluar," pamitnya.
"Matikan semua nyala api. Biarkan satu jendela terbuka untuk penerangan."
"Baik, Yang Mulia."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 05 November 2021
jANGAN LUPA like, komen, dan vote
__ADS_1