TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
099 - MEMECAHKAN DUA-DUANYA


__ADS_3

Tingkeban adalah ritual tujuh bulanan dengan tujuan mendo'akan bayi yang dikandung calon ibu agar terlahir dengan normal, lancar, dan dijauhkan dari berbagai kekurangan dan segala mara bahaya, juga mendo'akan sang jabang bayi agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan beguna bagi umat manusia.


Selain mendo'akan, inti utama dari upacara tingkeban atau mitoni adalah melakukan siraman pada sang calon ibu.


Sebelum siraman dilakukan, calon ibu dan calon ayah akan meminta restu pada kedua orang tua mereka agar segalanya dilancarkan.


Hayan menuntun pelan Idaline menuju Gitarja dan Dhara yang telah menunggu.


Dengan mengenakan selembar jarik dan ronce melati di tubuh dan di kepala, Idaline duduk bersimpuh di depan Gitarja.


Hayan juga memakai ronce melati di lehernya. Dia duduk di samping Idaline setelah memastikan perempuan itu duduk dengan nyaman.


Mereka berdua menangkup kedua tangannya di atas ekapal dan meminta restu pada Gitarja dan Dhara.


"Ibunda, mohon do'a restunya agar ananda dapat melahirkan dengan selamat dan cucu ibunda lahir dengan sehat," pinta Idaline pada Gitarja.


"Semoga putriku sehat selalu dan anakmu lahir tanpa cacat. Cucuku pasti bahagia terlahir darirmu dan bangga denganmu. Putriku pasti bisa melalui semua rintangan dan halangan." Gitarja berkata dengan kepercayaan besar pada Idaline.


Gitarja merasa dia adalah manusia yang paling beruntung.


Setelah melewati masa kepemimpinan dengan gemilang, Gitarja mendapatkan menantu seorang murid dari Petapa Agung.


Kelak cucunya memiliki peluang besar untuk dibimbing langsung oleh Petapa Agung dan menjadi penguasa pertama yang merupakan murid Petapa Agung.


Maka Bhuminya akan semakin agung dan jaya.


Atau sekurang-kurangnya, sang cucu akan dibina oleh murid Petapa Agung yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri.


Gitarja menurunkan tangan Idaline kemudian menangkup wajah menantu kesayangannya ini dan mencium kedua pipi dan keningnya.


"Aamiin. Terima kasih ibunda," ucap Idaline.


"Wanita terkadang tidak mengucapkan keinginannya. Pengertianlah. Jangan mengikuti perasaan. Ibunda dengar justru kamu yang mengalami ngidam. Jadilah suami dan ayah yang sempurna, bukan hanya seorang Maharaja yang hebat. Semoga anakmu lahir dengan selamat dan tanpa cacat."


"Amin. Do'akanlah ananda selalu, ibunda. Ananda masih memiliki banyak kekurangan sebagai seorang suami," pinta Hayan dengan nada sesal.


Dia telah melewati banyak waktu bersama Idaline dan calon bayi mereka karena menuruti egonya sendiri.


Andai dia menurunkan egonya, dia pasti akan mendapatkan pengalaman menyenangkan dengan memenuhi segala ngidam bayinya.


Dia sering melihat Idaline ragu mengatakan hal yang diinginkannya dan setiap Idaline meminta makanan, Hayan selalu ingin menyuapkan makanan itu langsung ke mulut Idaline.


Tapi dia malah lebih memilih menuruti egonya untuk menjauh.

__ADS_1


"Belajarlah dari kesalahan untuk menutupi kekurangan," bisik Gitarja.


Hayan menatap Idaline yang sedang fokus meminta do'a pada Dhara kemudian kembali menatap sang ibu. "Ananda mengerti."


Gitarja mencium kening Hayan lalu Hayan membantu Idaline berdiri dan menggandeng Idaline ke tempat siraman. Gitarja dan Dhara mengikuti di belakang.


Nyonya besar dari tujuh keluarga besar yang akan mengisi acara-acara inti. Mereka membagi tugas yang akan dijalankan seperti sekarang ada Raty Sipta, Buntala, Catra, Pandya, Wistara, dan ibu suri yang akan menyiram Idaline.


"Ke mana penyiram satunya?" tanya Gitarja mengambil gayung dari tangan nyonya Wistara.


Tadinya Gitarja berencana menempatkan nyonya dari ketujuh keluarga besar untuk menyiram Idaline langsung agar tidak ada kecemburuan di antara mereka dan dia yang membawa kelapa.


Namun Idaline meminta list yang lain dan Gitarja tidak bisa membantahnya.


Sekarang jika sesudah air di gayung habis dan perempuan yang ditunjuk Idaline belum datang, Gitarja hanya bisa menyuruh nyonya Mihir untuk datang sebab nyonya Ekadanta lebih terbuka pikirannya.


"Maaf saya telat."


Seorang wanita muncul dari kamar rias padahal Hayan yakin tidak ada orang di sana.


Hayan sendiri yang mendandani Idaline sebab perempuan itu tidak ingin dirias wajahnya jadi hanya perlu memakai jarik dan ronce.


"Bidadari?" gumam Hayan setelah memperhatikan beberapa saat.


Nawang tersenyum dan mengangguk pada Idaline yang menatapnya bertanya. Dia mempersilakan perempuan itu mengenalkan dirinya dengan benar.


Lagian ini salahnya datang dengan mencurigakan.


Nawang tidak mau orang-orang yang hadir di sana salah sangka pada satu-satunya teman manusianya yaitu Idaline.


"Perkenalkan teman saya, Nawang, bidadari merah dari tujuh bidadari di langit," ujar Idaline.


Tanpa perlu mengucap salam Nawang mengeluarkan bokor dan mengarahkannya ke atas kepala Idaline.


"Semoga anak-anakmu selalu bijaksana. Jika putri akan cantik jelita dan lemah lembut. Jika putra akan rupawan dan gagah perkasa." Nawang berdo'a sembari perlahan-lahan menuangkan air ke rambut Idaline yang sedang terpejam.


Kemudian Nawang membantu Idaline memakaikan kain tambahan dan mengikatnya dengan janur. Hayan memutus janur itu lalu memusnahkannya.


"Berlebihan sekali," pikir Gitarja dan yang lainnya.


Padahal janur itu hanya perlu diputus lalu dibuang ke sembarang arah.


Setelah itu Hayan meluncurkan telur ayam ke dalam kain longgar yang dipakai Idaline hingga telur itu pecah di piring tembikar.

__ADS_1


Tuti Ekadanta dan Iro Mihir bergantian memasukkan kelapa ke kain Idaline yang diterima Gitarja lalu Gitarja menggendong keluar kelapa-kelapa itu.


"Yang Mulia silakan dipakai." Iro memberikan secarik kain panjang di nampan.


"Aku akan memecahkan dua-duanya," ucap Hayan tidak mau memilih.


Idaline tersenyum canggung ketika semua orang menatapnya. "Maharaja, mohon dipakai, ya?" Idaline menjulurkan kain itu ke arah Hayan.


"Jika Maharaniku menginginkannya."


"Cepat sekali berubahnya," batin para perempuan yang datang melihat acara tingkeban Maharani mereka.


Hayan berjongkok membiarkan Idaline memakaikan kain itu sebagai penutup mata lalu Hayan berjalan ke arah Gitarja.


Ia mengambil salah satu cengkir gading, meletakkannya di tanah, menarik keris di pinggangnya, kemudian memecahkannya.


Gitarja terbelalak. Cengkir gading, kelapa muda, di gendongannya ikut pecah. Hayan menyeringai meski matanya masih tertutup.


"Anak ini..!" Gitarja menggelengkan kepalanya. Putranya yang keras kepala itu memang keras kepala.


Hayan memecahkan dua kelapa sesuai ucapannya.


"Yang Mulia.." panggil dayang khawatir. Air kelapa itu muncrat sampai membasahi wajah Gitarja.


Gitarja memandang dingin gambar Kamajaya yang masih utuh di cengkir gading itu. Padahal pecahan yang disebabkan Hayan ada di pinggir buah tapi airnya justru menampar wajahnya bukannya jatuh ke bawah sesuai lubang yang dibuat Hayan.


"Pertanda apa ini?" batin Gitarja curiga.


"Yang Mulia Ibu Suri," panggil dayang sekali lagi dengan nada yang rendah. Dia takut melihat eksprei Gitarja saat ini.


"Tidak perlu," tolak Gitarja, ia melepaskan kain gendongan dan pakaiannya tetap kering.


"Yang Mulia Maharani, sekarang adalah saatnya nyamping," ucap Iro mencairkan ketegangan.


Idaline pun dengan pasrah berganti pakaian hingga tujuh kali. Sebenarnya dia ingin beristirahat tapi apalah daya, ritualnya belum selesai.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 23 November 2021


Jangan lupa like, komen, dan fav agar author semangat


mohon maaf kemarin tidak update

__ADS_1


Sehat Selalu semuanya


Love, Al-Fa4


__ADS_2