![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Di hari yang terang, burung-burung berkicauan di dahan-dahan yang rindang. Meja-meja disusun rapih di atas lantai dan turut diletakkan di halaman bale’ ageng menyambut para tamu undangan sang pemilik baru.
Orang-orang sangat berantusias dan menampilkan wajah cerah, sebagiannya merasa tersanjung memenuhi undangan itu dan sebagiannya berharap lebih. Namun tidak bagi seorang gadis yang tetap tersenyum tapi dalam manik matanya tersirat kesuraman yang kelam.
"Aku tidak boleh menyalahkan Udel. Ini takdirku. Bertemu ibu sudah cukup. Adik-adikku juga ada di sini. Selanjutnya aku harus melakukan sesuai posisiku." Widya menatap kosong ke arah teh di tangannya. Orang-orang yang menyapa telah pergi meninggalkan Widya dan ayahnya.
"Ayahanda meminta maaf sudah membiarkanmu di desa tanpa pendidikan yang benar. Juga membiarkan ibumu berada di paviliun surem ketika sakit," ucap Baga yang duduk di sebelah Widya.
"Seseorang bilang padaku untuk melepaskan benci agar bahagia mudah datang. Selanjutnya bersikaplah dengan benar, yah. Anda penasihat orang besar, kalau mudah dipengaruhi akan jadi kehancuran bagi lisan ayahanda."
"Ucapanmu benar." Baga tidak bisa mengelak ujaran putrinya. Jika orang-orang tahu rumah tangganya rumit, posisinya akan tergeser apalagi bila ketahuan ia dapat dipengaruhi salah satu selirnya.
Yang sebenarnya adalah Hayan telah mengetahuinya dan membiarkan Baga dalam posisinya agar menteri tua itu dapat diperhatikan dari dekat, tinggal menunggu waktu. Baga tidak menyadarinya karena begitu percaya diri.
"Ayahanda, surat titah bisa diberikan di kediaman. Kenapa ananda harus ke keraton?" Widya menatap lurus Baga menelisik emosi yang disimpan rapih ayahandanya.
"Jangan mempertanyakan perintah Yang Mulia Maharaja," kritik Baga. Ia juga tidak memiliki gambaran yang akan dilakukan tuannya terhadap putrinya. Di sana tidak ada perempuan selain para menteri yang ditunjuk.
Hayan mengembalikan dominasi para pria karena ada beberapa kasus yang merugikan negara sebab para menteri perempuan sering kali terbawa suasana. Meski begitu ia tetap memilih perempuan-perempuan berkualitas dari segi kecerdasan dan mental.
Mental para menteri itu harus setara antara menteri perempuan dan menteri laki-laki.
"Kukira ayahanda yang berinisiatif." Widya mendengar akan ada pengumuman penyuntingan maharani hari ini setelah pergantian menteri.
Baga tahu yang terjadi di kediamannya tetapi tidak berani mempertanyakan keputusan maharaja yang tidak lagi menunjukkan kelanjutan dari titah yang diturunkannya.
"Kenapa Yang Mulia Maharaja mengundang perwakilan kerajaan lain di acara internal seperti ini?!" gerutu Baga memandang satu persatu wajah-wajah asing.
Widya menatap tak percaya. Ada yang menjilat ludah sendiri.
Sementara di sisi lain keraton, orang nomor dua Bhumi Maja telah sampai di halaman Bale’ Ageng. Ia menatap serius istrinya yang meminta pergi ke Kedaton Sedap Malam tidak ingin ditemani.
"Istriku benar sendirian saja ke Kedaton Sedap Malam?" tanya Djahan memegang pundak Idaline.
"Iya. Aku tidak mungkin pakai terusan begini. Pergilah, rapatnya sudah mau dimulai."
Ketika Maharaja tak kunjung mengeluarkan barang-barang Raden Ajeng dari kediamannya, Djahan masih berpikiran positif. Tetapi hari ini jantung Djahan berdegup tidak nyaman.
Djahan mengecup lama tilaka, tanda di dahi Idaline. Rasanya seperti akan jadi sesuatu yang sangat berharga. "Hati-hati," pesannya.
Idaline melambaikan tangan pada Djahan yang memasuki Bale' Ageng. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri dan jantungnya terasa akan copot saat seseorang memegang pundaknya dari belakang.
Idaline mengarahkan tangan ke belakang bersiap menyerang orang yang menyentuhnya.
"Ida tenanglah. Ini aku, Indra," cetus Indra menahan tangan Idaline.
"Indra?" Idaline mengerutkan dahinya mengumpulkan orang-orang yang memiliki nama Indra dalam benaknya. "Oh! Indra! Bagaimana kabarmu?" tanyanya menarik tangan yang dipegang Indra. Anak remaja itu semakin besar saja.
"Aku merindukanmu." Tanpa aba-aba Indra menarik Idaline ke dalam pelukannya.
Idaline sontak mendorong dada Indra hingga pelukan itu terlepas.
"Maafkan aku," sesal Indra menggosok rambutnya canggung. Perbuatannya memang melewati batas. Tidak sepantasnya dua anak manusia berlawanan jenis tanpa ikatan berperilaku berlebihan. Setan hanya akan tertawa senang melihatnya.
"Yuwamentri!" panggil pasukan Indra yang berada tak jauh dari mereka.
"Ida, masih ingat janji kita? Aku sudah bertahan lebih dari lima tahun tidak melihatmu dan berusaha berbaur dengan warga desa juga orang-orang yang lewat. Tetap saja perasaanku padamu tidak berubah. Rasa ini sangat memuncak sampai aku berpikir akan mengikutimu meski ke ujung dunia.”
"Yuwamentri!!" panggil pasukannya sekali lagi dengan suara lebih keras.
"Nah, Ida. Aku akan berbicara tentang kesungguhanku. Mohon beristirahatlah dengan tenang. Janji kita akan terlaksana!"
Idaline mengerjap-ngerjapkan matanya masih bingung akan keadaan dan ucapan Indra.
"Terima kasih sudah menungguku sampai menjemput segala. Maaf aku harus pergi sekarang." Indra mencubit pipi Idaline lalu pergi memimpin pasukan.
"Ah! Janji itu!" ucap Idaline tersadar. Ia ingat janji yang terucap di bawah sinar rembulan.
"Yuwamentri lama sekali sih. Padahal kita harus bergegas," gerutu salah satu pasukannya berkacak pinggang.
Indra datang ke depan mereka dan dengan beberapa perkataannya pasukan itu membubarkan diri.
Idaline diam memperhatikan, ia ingin membicarakan hal itu dengan serius tetapi Indra sangat sibuk. Ia mengeratkan jubahnya lalu memasuki kereta. "Ke Kedaton Sedap Malam. Dengan kekuatan penuh!"
__ADS_1
Sementara itu ruangan berubah sunyi ketika penjaga pintu menyeru kedatangan sang bintang utama.
"Yang Mulia Maharaja memasuki ruangan!" seru penjaga pintu.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja, semoga Anda selalu diberikan kesejahteraan dan selalu terbang seperti garuda," ucap para menteri bersimpuh menyambut Hayan.
"Bangunlah," perintah Hayan setelah duduk di singgasananya.
"Terima kasih Yang Mulia."
Kripala berdiri di bawah anak tangga lalu membacakan list pergantian para menteri termasuk dirinya.
"Kepada tuan Parikesit silakan maju.” Kripala membaca bait terakhir.
Parikesit bersimpuh di tengah aula.
"Sebagai penghargaan telah menjaga Wukir Mahendra dalam waktu yang lama, nama Ki Ageng Lawu diabadikan menjadi Wukir Lawu pengganti Wukir Mahendra dan Parikesit putra Ki Ageng Lawu telah banyak berpartisipasi dan menimbang banyak hal lain, diberikan jabatan sebagai Wiyasa di Watek Lawu yang terletak di Wukir Lawu."
"Semoga kemakmuran selalu dalam bhumi kita." Parikesit menerima dua gulungan lalu kembali ke tempat duduknya.
"Kepada para menteri bertugas diharapkan kemampuannya untuk menyatukan kepulauan-kepulauan di bawah naungan Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja."
"Kepulauan akan bersatu! Hidup Yang Mulia Maharaja!"
"Hidup Yang Mulia Maharaja!"
Hayan mengangkat tangannya, para tamu seketika hening. Hayan akan menyampaikan berita penting dari mulutnya langsung.
"Di hari bahagia ini, aku mengumumkan satu kebahagiaan lainnya. Kepada semua yang hadir dan juga para raja dari perwakilan kerajaan-kerajaan sahabat, aku mengundang kalian semua untuk hadir di hari pernikahanku dengan murid Petapa Agung yang akan menjadi Maharani Bhumi Maja pada Kliwon pertama bulan Apit Lemah."
Djahan dan perwakilan kerajaan lain sontak berdiri. Meski berbeda alasan, menikahi murid Petapa Agung adalah hal yang tidak mungkin. Pasangan dari murid Petapa Agung harus mengikuti langkah kaki sang murid, mereka tidak berhak menempati satu daerah terlalu lama karena sang murid mengemban tugas yang besar sama seperti sang guru.
"YANG MULIA JANGAN BERCANDA!" teriak Djahan, darah mendesir naik ke wajahnya.
Orang-orang tersentak mendengar suara Djahan yang menggelegar. Salah satu perwakilan kerajaan sahabat maju lalu berlutut dan membungkukkan tubuhnya.
"Yang Mulia Maharaja, mohon pikirkan sekali lagi! Petapa Agung dan muridnya adalah milik pulau ini, tidak ada yang dapat memilikinya kecuali ia harus berjalan bersama,” papar sang perwakilan dari salah satu kerajaan itu.
"Benar, Yang Mulia. Kami memiliki tuan putri yang indah dan cerdas," timpal yang lain berlutut di sebelah orang yang telah terlebih dahulu berlutut.
"Meski tidak memberi tahu saat mengundang. Tempat siraman dan wajahnya sangat jelas," bisik Pamasi Wistara, Rakryan Kanuruhan, dengan nada rendah.
"Benar." Catra Yuswanto, Mahamentri i Sirikan, mengganggukkan kepalanya.
"Namun ini keputusan kami bersama. Di sisi lain aku akan membiarkan Ki Ageng Ekata Ekadanta bepergian di pulau ini dan pulang hanya ketika merindukan keluarganya," ujar Hayan tanpa meminta pendapat orang-orang yang bersangkutan.
"Ini.." Kedua perwakilan saling menatap.
Tidak ada masalah dari yang ditawarkan sang maharaja. Toh murid kedua tidak terlalu menonjol dan dalam ucapan Hayan tersirat arti tidak akan memanggil Ekata kecuali Ekata sendiri yang datang ke Bhumi Maja. Peluang kerajaan lain dikunjungi akan lebih besar mengingat Ki Ageng tidak akan lagi terikat dengan tanah kelahirannya.
"Terima kasih, Yang Mulia Maharaja," ucap mereka bersamaan lalu kembali duduk ke tempatnya.
"Kenapa aku harus masuk saat suasananya tegang?" keluh Indra.
"Bale' Ageng selalu tegang setiap saat," canda ksatria yang menjaga pintu.
Di kalangan pengawal, prajurit, dan ksatria, Indra terkenal tegas namun baik tidak memandang latar belakang orang-orang. Ksatria-ksatria dari keluarga besar lain pun baik namun bila di dekat mereka seperti ada sekat tak terlihat, ada batas yang harus dijaga antara kalangan atas dan kalangan bawah.
Maka para pria itu lebih senang bergaul dengan satu-satunya keturunan resmi keluarga Sanjaya dibanding bangsawan-bangsawan tingkat tinggi lainnya. Keakraban mereka seperti tak mengenal dinding pembatas bernama kasta.
"Oh tandanya datang," ujar Indra melihat anggukan Kripala.
“Semoga beruntung,” kata dua ksatria penjaga pintu bersamaan.
"Yuwamentri Rakryan Tumenggung memasuki ruangan."
"Hamba, Rawindra Sanjaya, Yuwamentri Rakryan Tumenggung menghadap Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja. Semoga Yang Mulia selalu terbang seperti garuda." Indra bersimpuh di tengah aula.
"Yuwamentri dapat mengakhiri perang dengan kerajaan Wengker karena idenya yang menakjubkan. Mulai hari ini kamu akan menjadi Rakryan Tumenggung. Sebagai hadiah, kuberi satu permintaan.” Hayan menggerakkan matanya pada Kripala.
Kripala pun memberikan gulungan titah pada Indra.
"Semoga kemakmuran selalu dalam bhumi kita." Indra menerima gulungan, menggenggamnya dengan kedua tangan, menciumnya, dan meletakkan di depan dada. "Yang Mulia Maharaja, mohon restui pernikahan hamba dengan Raden Ajeng Paramudita."
__ADS_1
Senyum di wajah Hayan menghilang. Matanya menghunus dan tubuhnya mengeluarkan aura dingin. Indra yang sudah biasa menghadapi orang-orang seperti itu hanya terdiam menunggu jawaban tanpa mengerti keadaan.
"Sepertinya Rakryan Tumenggung belum benar-benar memikirkan hadiahnya," geram Hayan tidak menutupi emosinya.
"Kamu tau seberapa genting suasana ini kan?" bisik Baga pada putrinya.
Widya bermandikan keringat dingin, wajah pucatnya mengintip Hayan dan Djahan yang menatap datar Indra yang masih bersimpuh. Widya berdiri dengan gemetar lalu bersimpuh di belakang Indra.
Widya masih tidak habis pikir, bagaimana bisa sahabatnya mampu bertahan di sisi dua orang yang sangat menakutkan? Persetan dengan kekuasaan. Hidup dengan sederhana dan bahagia adalah impian Widya. Tetapi kini rasanya Widya tidak mampu lagi bermimpi.
"Apa dia tidak tahu situasi sedang rumit?" bisik Wikrama Buntala, Mahamentri i Hino.
"Hamba, Widya Sipta, putri tertua Baga Sapta, menghadap Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja. Semoga Yang Mulia selalu terbang seperti garuda."
Setelah Widya membuka mulut, dalam selang yang sebentar hanya ada keheningan. Djahan sedang menahan diri dan orang-orang merasa takut. Hayan terus menatap Widya yang begitu berani sebelum mengeluarkan suaranya.
"Widya Sipta telah banyak membantu Ratu Rajapatni, untuk itu aku–"
"Bukan itu!" potong Widya. "Mendiang ibu suri menitipkan pesan terakhir." Ia menatap Hayan tanpa keraguan di matanya.
"Waktunya sadar. Udel sudah menemukan pijakannya, bagaimana bisa aku kehilangan keberanian? Meski canggung dan tak tau harus apa, Udel menemaniku. Sekarang semua sudah kembali, sedang Udel sendirian. Aku tau ketegaran yang coba kau bangun," ucap WIdya dalam hati.
"Pasti menakutkan kan?" imbuhnya.
"Ratu Rajapatni menitipkan kain sutera emas yang disulamnya seorang diri sebanyak tiga gulung untuk diberikan pada Widya Sipta yang telah menemani di Kedaton Rarem," kata Kripala membacakan list di kertas terpisah.
Hayan mengangkat sudut bibirnya. "Benar-benar adik seperguruanku," gumamnya lalu ia bangkit membuat semua orang sontak bangun dari duduknya.
"Widya Sipta adalah murid satu guru denganku, mendapatkan burung bidadari sebagai hewan kontraknya dan sudah membuktikan kecakapan dirinya di Kademangan Sono. Kuangkat kau sebagai Dyah dan kuberikan Watek Wono juga seratus ribu emas sebagai hadiah untuk Dyah Widya Sipta."
Juru tulis menuliskan tiap ucapan Hayan, lalu mengeringkannya dan memberikannya pada Widya.
"Pengangkatan menteri sudah berakhir. Silakan nikmati pesta kalian." Hayan meninggalkan ruangan. Para tamu menghela napas lega. Maharaja yang baru diangkat itu tidak seperti baru sebentar berkuasa.
Lebih seperti orang yang telah memegang tampuk kekuasaan sepanjang hidupnya.
"Dyah Widya Sipta mohon mengikuti Yang Mulia Maharaja," ucap Kripala.
Widya mengangguk lalu mengikuti langkah Kripala dengan tenang. Jauh di belakang mereka, Baga menatap khawatir.
"Tuan Mahapatih, kami tahu kemarahan Anda. Bagaimanapun Anda adalah orang yang selalu mengedepankan tanah ini. Mohon yakinkan Yang Mulia untuk menarik ucapannya," kata orang yang diam-diam masih tidak setuju.
Murid Petapa Agung adalah murid Petapa Agung. Tidak bisa dimiliki oleh satu daerah saja. Murid Petapa Agung harus melakukan kebajikan untuk seluruh kepulauan.
"Kalian silakan nikmati pestanya." Djahan bangun dan berjalan ke pintu utama. "Rakryan Tumenggung, kamu sudah bisa bangun."
"Ah. Lalu permintaan saya?" Indra sebenarnya masih setia menunggu sang juru tulis yang sedang merapihkan kertas-kertas berlapis emas di mejanya, barangkali ada titah khusus untuk pernikahannya dengan Idaline.
Rahang Djahan menegang. Ia menekuk dahinya menatap nyalang sang murid yang paling bontot. "Tanyakanlah sekali lagi padanya," ucap Djahan menggertakkan gigi.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 11 September 2021
Dyah artinya anak muda. Dalam penyebutan biasanya para pangeran dan putri juga di depan namanya disebutkan Dyah tetapi di sini Author pake kata Dyah untuk gelar di bawah Raden Ajeng yaaa. Untuk Raden Ayu akan diperuntukkan bagi Tuan Putri dan Raden Ajeng yang sudah menikah.
Kalau pria yang sama dengan Raden Ajeng adalah Raden Bagus nanti setelah menikah menggunakan Raden Panji. Untuk para Pangeran yang sudah nikah.adalah Raden Mas Panji.
Terima kasih atas dukungannya guyss
Dukung terus dengan Like, Komen, Share, Vote, Hadiah, dan View yaaa
Untuk View tinggal scroll scroll aja ke atas :*
Apa yang terjadi pada tanggal 11 September 2020 ?
Today In History :
11 September 1599 M
Laksamana Keumalhayati
vs
__ADS_1
Cornelis de Houtman