TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
105 - KETURUNAN TUNGGUL AMETUNG


__ADS_3

Saat Hayan hendak menerima bulu ekor dari Cendra guna menyembuhkan tangannya yang ia gores untuk memanggil hewan-hewan kontraknya, suara memekakan terdengar dari tempat Idaline berada dan di sana terdapat bekas asap putih.


Hayan terperangah merasakan ikatan yang terputus dalam jiwanya.


Sebuah ikatan kuat yang seharusnya tetap terjalin kecuali diputus dengan paksa


atau


salah satu pihak telah


MATI.


"Teleportasi, tuan. Persis seperti yang dibicarakan dayang itu," kata Berani mengingatkan kejadian Widya ketika memanggil Idaline.


Kala itu dayang yang diperintahkan Hayan untuk menghasut Widya merasa frustasi karena helatan akbar pernikahan Idaline dan Djahan telah dilaksanakan sedangkan Widya tak kunjung terlihat tanda-tandanya ingin mengabari Idaline.


Putri tertua dari Baga Sapta itu terus mengurung diri di kamar bahkan tidak boleh membiarkan kepala dayang masuk.


Dayang itu mengira Widya diam sebab menerima titah Maharaja untuk menjadi Maharani.


Namun ternyata Widya dapat memanggil Idaline dalam satu kedipan mata di dalam kamarnya dan tugas sang dayang suruhan Hayan agar Widya memohon pada Idaline pun terselesaikan.


"Kalian kembalilah," ucap Hayan menarik bulu dari mulut Cendra lalu mengikatnya ke tangannya yang terluka.


Kerumunan hewan kontrak Hayan lenyap seketika kecuali Berani yang kini dinaiki Hayan dan terbang di atas langit menuju tempat Idaline mungkin berada.


"Saya sudah memberi tahu tangan-tangan Anda," ujar Cendra di dalam kepala Hayan.


Burung Cendrawasih yang cerdas itu telah menulis dengan kakinya agar seluruh tangan kanan Hayan bersiap dengan kemungkinan terburuk.


Tetua Sapta yang merupakan keturunan Tunggul Ametung mungkin saja mencari kesempatan menghilangkan Idaline dan calon pewaris tahta Bhumi Maja.


Apalagi dua putra dari Bata Sapta digantung akibat ikut dalam pemberontakan Sadeng di masa Ibu Suri.


Dan sekarang putra tersisa Bata Sapta yaitu Baga Sapta telah dipindahkan dari pusat kepemerintahan seolah melarang keluarga Sapta untuk masuk menjadi pegawai pemerintah.


Bata Sapta sangat licik bisa saja dia menghasut cucunya Widya Sipta agar memanggil Idaline.


"Kerja bagus," puji Hayan.


Di kediaman barunya Baga Sapta sedang memberi perintah pada Slamet dan Baja untuk berkeliling Madura, tempat yang baru mereka pijak setelah perjalanan panjang.


"Sebagian kalian pergilah berkeliling melihat daerah yang kita tempati. Daerah ini masih jarang orang yang memungkinkan sulit untuk kita memerintah sebab bisa saja mereka menolak orang asing."


"Dan sebagian yang lain pergi ke kota dan lihat kesuburan di sana. Suatu saat bisa jadi kita butuh bahan-bahan dan jasa yang diperlukan."


Tiba-tiba Baga Sapta terkejut merasakan kekuatan besar mendekat ke arah mereka. Dia dan putra-putranya bergegas pergi ke luar mencari orang hebat mana yang kekuatannya melebihi mereka semua.


"Di mana dyah??" tanya Hayan tak sabar.


Berani meringik dan menghentak-hentakkan kakinya menyebarkan aura intimidasinya dan meretakkan tanah di sekitarnya.


Para pengawal dan prajurit yang berjaga langsung terjatuh di tempatnya.


"Mohon maaf, Yang Mulia Maharaja. Kami sudah empat bulan tidak berhubungan dengan Dyah Widya Sipta." Baga berkata dengan jujur tapi itu tidak menyenangkan hati Hayan.


"OMONG KOSONG!" Hayan meloncat dari kuda putih bersayap ke depan Baga yang bersimpuh dan gemetar. "Katakan!"

__ADS_1


"Mohon ampuni kami, Yang Mulia. Putri hamba disembunyikan oleh Yang Mulia Maharani tanpa tanda yang tertinggal. Bahkan ibunya jatuh sakit karena rindu."


Wajah Hayan mengeras. Idaline memang bisa melakukan hal ini. Salah Hayan mengancam Widya yang akhirnya disembunyikan oleh Idaline ke tempat yang tidak bisa Hayan pikirkan.


"Lebih baik kalian berucap jujur!" berang Hayan menaiki Berani. Dia terbang ke titik-titik yang muncul di otaknya.


"Siapkan pasukan!" perintah Baga Sapta pada anak-anaknya.


Baga tidak membenci ayahnya ketika menyerahkan dia dan putra-putranya ke Maharaja demi keselamatan keluarga besar Sapta.


Karena dia tahu itu yang terbaik untuk semuanya daripada keluarga besar Sapta musnah dari muka bumi.


Dan saat ini Baga Sapta melihat kemarahan besar Maharaja yang besar kemungkinan dapat menghancurkan keluarga Sapta secara keseluruhan.


Jika menyerahkan Widya dapat menenangkan Maharaja, Baga akan melakukannya dengan kedua tangannya sendiri!


Sementara itu di tempat lain..


Sebuah cairan merah memercik ke pakaian putih lapis terluar yang dikenakan sahabat Idaline, Widya sedang menghancurkan buah di dalam wadah dan menuangkannya ke dalam gelas.


Tangannya begitu terampil sudah seperti pisau berputar di dalam blender yang menghancurkan buah sampai lembut.


Widya tersenyum puas melihat mahakarya di depannya akan tetapi matanya justru memandang awan yang bergerak.


"Sayang, jusnya sudah siap?" tanya Bimo memakai apron putih senada dengan yang dikenakan Widya.


Widya yang sedang menatap langit tersadar lalu meletakkan gelas-gelas ke atas nampan. "Sudah. Ini kubawa~" ujar Widya.


Entah kenapa Widya merasa seperti ada yang sedang mencarinya padahal hidupnya selama ini sangat menyenangkan hanya berdua bersama Bimo.


"Terus berkata akan pulang tapi tidak pulang-pulang," cibir Widya dalam hati. Sahabatnya itu seharusnya sudah pulang dari beberapa bulan lalu tapi masih saja tinggal di keraton.


Widya merasa senang akan hal ini sebab semua orang tersayangnya tinggal di tempat yang sama dengannya.


Egois memang tapi Widya tidak bisa membohongi hatinya untuk berharap semua orang ada di sini termasuk Udelia.


"Sini, nyonya." Bimo mengambil gelas-gelas di meja.


"Kamu sedang memotong kelapa. Aku saja."


"Kelapanya sudah selesai. Akan kuantar sekalian."


"Baiklah, sayang. Hati-hati."


Widya menatap Bimo yang berjalan menjauh dengan tangan kanan dan kirinya memegang nampan. Suaminya ini pekerja keras yang tidak kenal lelah.


"Rasanya suamiku ini bisa mengalahkan puluhan ksatria-ksatria Sapta. Malam hari saja dia sangat gagah. Sungguh semangat bagai kuda~" Widya cengengesan mengingat malam-malamnya yang panas.


Dia sampai tidak sadar ada ibu-ibu berwajah muram karena tidak kunjung direspon.


"Nona, saya mau semangkanya!" tegur si ibu-ibu dengan geram.


"Oh iya bu. Silakan," kata Widya tersenyum sopan.


"Satu buah ya dipotong." Si ibu yang mau marah pun tidak jadi. Wajah ramah seperti ini mana bisa dimarahi~


Apalagi warung yang didatanginya memang ramai dan di siang hari yang panas pasti melelahkan.

__ADS_1


Daripada membuat keributan lebih baik memesan agar cepat dilayani dan bisa menikmati buah manis di hari yang terik.


"Baik, bu."


"Saya sebenarnya penasaran.."


"Silakan bertanya," ucap Widya sambil memotong semangka.


"Buah-buahanmu penuh di sisi kanan dan kiri warung, kenapa tidak memperlebar bangunan?"


Widya ikut menatap warungnya yang hanya selebar ruang ganti di rumah besar keluarga Sapta. Ibu-ibu ini bukanlah yang pertama yang bertanya perihal hal ini ini.


Tentu saja Widya tidak berniat memperbesar warung yang akan dilirik bangsawan-bangsawan besar.


"Akua adalah rakyat jelata, aku tidak mungkin menyinggung para bangsawan~"


"Segini sudah cukup. Toh semuanya akan habis jadi tidak perlu ruang."


"Anda mungkin tidak ingat, tapi saya langganan selama sepekan ini."


"Terima kasih bu," balas Widya kembali tersenyum. "Sepekan berarti lima hari~" ucapnya dalam hati sambil merapihkan potongan buah ke atas piring.


"Ingin dibawa ke mana bu?" tanya Widya keluar dari warungnya.


"Ke sana," jawab si ibu.


"Begini, keponakan saya ingin bekerja di sini. Anda boleh tidak memberinya uang yang penting beri dia pekerjaan terutama yang berjumpa banyak orang."


"Mohon maaf. Kami tidak bisa melakukannya. Anda bisa mencoba di kedai lain."


Widya meletakkan piring-piring berisi semangka ke atas meja kemudian menangkup kedua tangannya di depan dada.


"Silakan nikmati keindahan pantai kami~" tutur Widya menunjuk pantai putih bersih dan air yang jernih.


Sangat jauh berbeda dengan pantai di dunia modern di tempat tinggalnya yang sudah dikotori minyak.


"Kalau menerima orang nanti akan ketahuan," batin Widya menendang-nendang pasir putih di kakinya.


Sebenarnya hidup sebagai putri penasihat sangat menguntungkan Widya di banyak sisi terutama ketika mengurus hal-hal rumit.


Hidup sebagai manusia yang tidak memiliki latar belakang yang kuat sungguh sulit. Widya sudah sampai di titik ini, tidak mungkin dia memberi celah yang besar.


Celah yang mungkin membuatnya ketahuan.


Widya merasa damai hidup berdua dengan Bimo.


Tidak ada perang dingin, tidak ada etika yang ketat. Hidup dengan nyaman adalah keinginannya.


"Masa bodo dengan tahta dan harta."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 30 November 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2