TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
029 - CALON NYONYAKU


__ADS_3

"Yang Mulia, Anda tidak ingin membantu Raden Ajeng?"


Hayan menatap sekilas pengawal bayangan yang baru direkrutnya. Kemudian ia kembali fokus pada teh merah di tangannya. "Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, Bayuaji."


"Tuan Bena Padya sekarang menerobos masuk ke dalam rumah." ujar Bayu mengintai rumah Idaline.


"Oh, bagaimana guruku akan menanganinya?" Sudut bibir Hayan terangkat, ia tertarik mendengar kelanjutannya.


"Yang Mulia yakin tidak ingin membantu? Dia berani memegang punggung polos Raden Ajeng." ucap Bayu membacakan kondisi. Ia ingin menyelamatkan buntalan kecil itu dan mematahkan tangan kurang ajar Bena, namun ia sendiri sekarang hanyalah sebuah kaki-tangan seorang yang kelak akan berkuasa, ia tak lagi bisa bergerak atas kemauannya sendiri.


"Apa?"


"Oh dia terpental. Raden Ajeng memang hebat." Bayu menepuk tangannya ketika Idaline menendang Bena. "Eh? Yang Mulia?" panggil Bayu tidak menemukan Hayan di sampingnya dan ia pun kembali ke atas pohon mengawasi Hayan yang berjalan menuju rumah utama Kedaton Sedap Malam.


"Mohon Yang Mulia Pangeran tunggu sebentar. Yang Mulia Raden Ajeng sedang berganti pakaian." kata kepala dayang Kedaton Sedap Malam saat Hayan sampai di depan pintu.


"Bagaimana keadaannya?"


"Semua baik, Yang Mulia." jawab kepala dayang bersamaan pintu terbuka dan menampakkan Idaline telah berganti kain jarik.


"Oh Hayan, maaf sudah membuatmu menunggu lama."


Hayan menjulurkan tangannya menangkap pundak Idaline dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri meneliti tiap jengkal kulit putih itu lalu menjauhkannya dan kembali meneliti dari atas ke bawah. Sedangkan Idaline hanya bisa terpaku karena kejadiannya begitu cepat.


"Kamu tidak baik-baik saja. Ruam merahnya masih berbentuk. Istirahatlah dengan nyaman, aku ada urusan mendesak."


"Kalau begitu hati-hati." pesan Idaline dengan pikiran masih kosong. Ia memejamkan mata sebentar lalu masuk rumah dan menenangkan diri.


••••••••••••••••••••


"Mohon maaf, Yang Mulia Pangeran. Hamba tidak berniat meneruskan orang tua hamba dengan menjadi Rakryan Tumenggung." Indra berucap sambil matanya memancarkan tekad yang bulat.


"Ucapanmu sama seperti gurumu." Hayan tersenyum tanpa emosi lalu menatap Indra dengan tatapan penghakiman. "Pada akhirnya dia menjadi mahapatih." sindirnya.


"Beliau hanya mematuhi perintah Yang Mulia Prabu Kertarajasa Jayawardhana." Indra membungkukkan tubuhnya dan menangkup kedua tangannya di depan dada. "Kalau tidak ada hal lain, hamba mohon izin."


"Seorang nenek tua sebatang kara tinggal di perbatasan. Dia tidak ingin pergi karena makam suami dan anak-anaknya berada di sana."


"Sungguh setia sekali." komentar Indra tidak mengerti Hayan tiba-tiba menceritakan hal yang menyentuh hati.


"Dua belas tahun yang lalu kakinya lumpuh karena dinyatakan bersalah oleh kediaman Rakryan Tumenggung. Kesalahannya adalah tidak mematuhi perintah atasan."


"Bibi Sugiyem?" gumam Indra teringat satu-satunya dayang yang tulus padanya. Meski samar, ia melihat Sugiyem menahan dayang laknat itu dan berusaha menolongnya. Namun apalah daya, Sugiyem hanyalah seorang dayang tua yang kedudukannya rendah karena kurang cakap tangannya.


"Kamu mungkin bisa membujuknya dan lagi ilmumu sangat sia-sia jika tidak digunakan."


Suara Hayan menarik Indra kembali ke kenyataan. Ia sejenak terdiam mengumpulkan rangkaian ucapan Hayan yang kabur di telinganya. "Ha-hamba tidak memenuhi standar untuk jadi seorang prajurit." ujarnya menangkap maksud Hayan agar Indra kembali ke posisinya.


"Selama kamu siap. Serahkan lainnya padaku."


"Baik, Yang Mulia."


Kemudian Indra mengikuti Hayan ke ruang rapat. Ia menunggu di luar ruangan setelah Hayan mengangkat tangannya menyuruh Indra berhenti di depan Aula Ageng.


"Selamat datang Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Pangeran." salam para menteri berdiri dari duduknya dan bersimpuh.


"Duduklah." perintah ratu.


"Pagi ini kita akan membahas persiapan kedatangan para Senopati." ucap Baga Sapta, penasihat kerajaan, membuka rapat pagi hari.


"Yang Mulia, apakah tidak beresiko mengirim semua Senopati yang merupakan pemimpin pasukan keamanan di tiap-tiap daerah?" tanya Wikrama Buntala, mahamentri i hino.


"Perang kali ini bukan hanya melawan sebuah kerajaan, Wukir Mahendra merupakan titik keseimbangan pulau. Sangat mungkin mereka menemukan beberapa rahasia yang belum ditemukan karena syarat antar kerajaan untuk tidak menggali lebih dalam." jelas ratu. "Bagaimana dengan para pengungsi?" tanyanya.


"Semua sudah berada di tempat yang aman." jawab Gamya Padya, Rakryan Tumenggung.


"Aku mendengar ada beberapa keluarga yang tidak percaya dan terus menetap di perbatasan." timpal Hayan.


"Kami mengurus yang ingin pergi. Kami tidak bisa melakukan pemaksaan untuk yang ingin tetap tinggal." ralat Gamya.


"Padahal tugas keamanan kerajaan adalah memastikan keselamatan rakyatnya." cibir Hayan.


"Mohon maafkan kelalaian hamba."


"Perang sudah di depan mata dan kamu masih belum mengamankan rakyat."


"Mohon maafkan ketidakmampuan hamba."


"Tidak perlu menanggung beban sendiri. Yuwamentri Tumenggung akan melakukannya."


Ucapan Hayan sontak membuat semua menteri yang hadir terkejut. Beberapa dari mereka bahkan tidak tahu ada Yuwamentri Tumenggung yang telah dilantik. Selama ini hanya ada pelatihan-pelatihan untuk calon Yuwamentri Tumenggung tanpa kepastian orang yang akan mendapatkan posisi.


"Yuwamentri Tumenggung?" ucap Catra Yuswanto, Mahamentri I Sirikan memastikan.


"Mahamentri I Sirikan sudah melupakannya?" balas Hayan menyeringai. "Masuklah!"


"Hamba memberi salam pada Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Pangeran." Indra masuk dan bersimpuh di tengah aula.


"Bangunlah." perintah ratu.


Indra bangun lalu berdiri di belakang Hayan.


"Yuwamentri Tumenggung sudah kembali dari pelatihannya. Berbagilah beban bersamanya, tuan Padya." papar Hayan.


"Tapi dia kan–"


"Rakryan Tumenggung." potong ratu.


"Hamba siap menerima perintah." jawab Gamya.


"Yuwamentri Tumenggung sudah kembali. Tugasmu akan semakin ringan."


"Hamba sangat bersyukur akan sebuah bantuan besar datang di saat kita membutuhkan."


Tanpa ragu Indra duduk di kursi Yuwamentri Tumenggung yang telah ia tinggalkan sejak lebih dari sepuluh tahun lalu dan ikut membahas rencana dalam masa peperangan.


"Rapat selesai sampai di sini. Bekerjalah pada bagian kalian masing-masing." tutup ratu.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia."


"Rawindra Sanjaya tetaplah di sini."


Satu persatu orang pergi meninggalkan ruangan menyisakan ratu dan Indra termasuk Hayan. Indra berdiri dengan tegap sambil menundukkan kepalanya.


"Semua pelaku sudah menerima hukumannya." Ratu berjalan memunggungi Indra.


Raut bingung terukir di wajah Indra tidak mengerti maksud ucapan ratu.


"Kepala pelayan dan orang-orang yang diam atas penderitaanmu, semua sudah dibuat diam." Ratu meraih jendela, memandang jauh ke depan. "Pelaku utamanya hanya bertahan delapan bulan."


"Terima kasih atas perhatian ratu yang besar."


Indra selama ini menduga ratu tidak peduli padanya padahal sangat jelas ada yang tidak beres di kediaman Sanjaya. Namun ternyata tanpa suara dan tanpa keributan, ratu membereskan semua orang dalam diamnya.


Ratu sendiri melakukan hal di luar batasnya yaitu ikut campur dalam masalah keluarga bangsawan tingkat tinggi karena Bimasena Sanjaya adalah rekan dan bawahannya yang setia.


Ratu sampai menerima beberapa sanksi dari Sapta Prabu karena tindakannya.


Dan ratu tidak menyebarkan beritanya untuk menjaga martabat Rawindra Sanjaya.


Kemudian datang budak gila yang mencoba menaiki ranjang Indra namun terus ditolak Indra, hasilnya si budak menceritakan hal terlarang.


Tetapi kejadiannya tidak sesederhana itu.


Kekuatan Sanjaya cukup untuk memporak porandakan sebagian kerajaan.


Beruntung Djahan menemukannya yang sedang kekalutan.


"Sudah kewajibanku." Ratu berbalik menatap Indra. "Kamu lakukan kewajibanmu sebagai penerus kedua orang tuamu."


"Hamba tidak berani. Hamba tidak memenuhi syarat."


"Kamu sudah berlatih tujuh tahun sebagai penerus dan mendapat pelatihan pribadi dari guruku. Tidak mungkin tidak memenuhi syarat."


"Kesucian saya.." ragu Indra.


Ratu menggerakkan matanya ke arah lain. "Aku membuat syarat itu karena pria akan memberikan simbol setia pada wanitanya, membuat kekuatan mereka tidak lagi penuh. Bukankah kamu sendiri merasakan kekuatan yang besar sejak berlatih dengan mahapatih?"


"Hamba tidak bermaksud merendahkan guru."


"Bukan. Kamu jangan rendahkan dirimu sendiri. Padahal kamu lebih kuat dari ksatria-ksatria seusiamu."


"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba akan berusaha."


Ratu memegang bahu Indra. "Bagus." pujinya kemudian ratu berjalan keluar. "Jangan merasa terbebani. Lakukanlah seperti biasa, aku mencari orang yang kompeten." ucapnya sebelum menghilang dari pintu.


"Perintah Yang Mulia Ratu siap hamba laksanakan."


••••••••••••••••••••


Hari-hari yang sibuk telah berlalu. Pasukan perang kedua kerajaan telah bertemu, pertarungan sengit terus terjadi di perbatasan desa Mahendra. Warga sipil menghindari rute tersebut meski harus berjalan memutar, demi keselamatan nyawa dan harta bendanya.


Seperti ucapan Idaline, pasukan kerajaan Maja dipukul mundur hingga perbatasan kerajaan karena pasukan kerajaan Wengker sudah menemukan dan menguasai batu kristal.


Melihat hal itu Tuti membuat cerita bahwa batu di desa Gulet ditemukan Candra temukan saat berlatih. Secara terpisah desa Gulet diberitahukan terlebih dahulu untuk bekerja sama dan tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya.


Informasi tentang kerajaan Maja yang ingin meneliti batu baru tersebar ke telinga musuh. Idaline pun memberitahu jalan rahasia pada keluarga Ekadanta untuk mengelabuhi musuh.


"Maafkan ibu karena tidak menyebutkan dirimu sama sekali."


"Tidak peduli saya dicantumkan atau tidak, yang penting pasukan kita selamat."


"Raden Ajeng memang rendah hati."


"Bagaimana dengan penelitiannya, bu?" tanya Idaline sedikit khawatir.


Pasukan terpukul mundur sampai ke perbatasan merupakan hal buruk yang mencoreng nama baik kerajaan di hadapan musuh dan di hadapan rakyat. Banyak rakyat gelisah dan mulai mempersiapkan diri untuk pindah.


Tidak ada yang bagus bagi wilayah yang kalah, kecuali sang musuh memiliki pedoman yang kuat untuk berlaku adil dari Yang Maha Adil.


"Batu itu sangat bagus, para penyihir tingkat tinggi dan juga guru-guru petapa dapat menggunakannya. Namun hanya Penyihir Agung dan Petapa Agung yang dapat membersihkan bagian dalamnya dengan sempurna yang kemudian bisa digunakan untuk siapapun termasuk para pemula."


"Bagian desa Gulet bagaimana?"


"Penyihir mereka tidak terlalu kuat. Karena terus berada di tempat yang sama, mereka tidak berkembang. Mereka yang semakin lelah setiap harinya karena perang tiada henti merasa sangat kuat ketika sedikit segar." Tuti juga memiliki ide yang sama dengan Idaline untuk merekrut orang-orang yang telah berperang selama beberapa tahun terakhir, namun nyatanya mereka tidak serius berperang!


"Tapi bukannya mereka bisa menggunakannya, bu? Aku lihat ada beberapa orang yang bisa memakai batu itu." Idaline mengingat masa pertandingan antara desa Gelut, desa Gulet, dan desa Gulat.


"Itu karena antara batu dan mereka terus berbagai energi satu-sama lain hingga memiliki energi yang sama."


"Oh begitu." Idaline menghela napas panjang. Butuh waktu lama untuk beradaptasi jika ingin semudah para prajurit desa Gulet dalam menggunakan bebatuan ajaib itu.


"Seperti katamu, ada beberapa yang gagal dan beberapa yang berhasil, itu pun hanya sekali pakai."


"Karena hidup berdampingan dengan bebatuan?"


"Benar. Mereka jadi bisa memasukkan energi tanpa dibersihkan bagian dalamnya, namun sedikit yang berhasil karena sihir mereka lemah untuk memecahkan batu tersebut."


"Hmmm. Apa karena energi mereka sama pada akhirnya akan menutupi ruang di batu lalu menjadi batu mati?"


"Sementara penjelasannya seperti itu."


"Padahal energi mereka sama. Kenapa tidak menggunakan batu tersebut sebagai sumber energi?" Idaline berpikir dengan dalam.


"Sihir menggunakan energi jiwa yang didapat dari berbagai emosi. Tidak seperti kanuragan yang menyerap kekuatan alam, agar sihir dapat menyerap kekuatan dari luar, kita harus membuat ruang dalam jiwa kita. Ini hanya bisa dilakukan penyihir tingkat tinggi."


"Setiap bertambah energi, energi itu akan membentuk ruangnya sendiri. Dengan ilmu yang tinggi saja yang bisa membuat ruang baru, mengatur gerak dan ukuran energi dengan detail." sambung Idaline.


Tuti mengangguk. "Dasar-dasar sihir sangat rumit dan bisa menyebabkan kematian mendadak jika tidak benar dalam mengendalikannya. Namun jika berhasil, penyihir akan lebih kuat dari petapa karena mereka menggunakan energinya sendiri hingga waktu pembentukan kekuatan lebih singkat dan bisa sering digunakan."


"Kalau begitu apakah petapa lebih lemah?"


"Petapa lebih kuat dalam level yang sama. Tetapi selain tidak membawa kematian, bertapa sama sulitnya dengan sihir. Seorang petapa harus konsentrasi dengan benar dan harus terus menambah cepat durasi penyerapan mereka agar dapat berguna di pertarungan sesungguhnya."


"Jadi sihir cepat membuat kuat tapi taruhannya kematian karena menggunakan energi jiwa, sedangkan bertapa aman tapi jalurnya panjang." rangkum Idaline.

__ADS_1


"Iya."


"Uh ibu, sepertinya kita sudah membuang waktu." ucap Idaline melihat para selir dan putri-putri Candraaji diam menunggu dan mendengarkan mereka dengan saksama.


"Tidak, putri. Kami pun mendapat ilmu dari penjelasan nyonya besar." ucap salah satu selir.


"Seperti ucapan ibu selir, kami mendapat ilmu dari pembicaraan Anda. Sebenarnya selain dua putri tertua, kami belum memutuskan akan belajar sihir atau tidak. Ayahanda membolehkan kami memilih, pada akhirnya kami tidak tahu apapun. Kemudian sekarang kami menjadi tahu." ujar perwakilan putri Ekadanta.


"Betul kata mbakyu. Kami berterima kasih pada Raden Ajeng." sahut yang lain.


"Terima kasih, Raden Ajeng."


"Ah..iya." wajah Idaline memerah, ia selalu malu setiap mendengar pujian dan tidak ingin mendengarnya lagi.


••••••••••••••••••••


"Aku akan pergi besok." lempar Indra. Ia dan Idaline sedang duduk di rumput menikmati bintang yang bertebaran di langit.


"Sudah waktunya ya?"


Sejak kembali mendapatkan titelnya, Indra diberikan rumah tinggal di markas pasukan. Karena baru, dia diperintahkan untuk menjaga istana, namun suasana yang kurang menguntungkan bagi pasukan kerajaan Maja membuat ratu dan para menteri memutuskan semua prajurit dan ksatria tersisa pergi, selain pasukan rangga, pasukan inti istana.


Di tengah kesibukannya, Indra tidak sengaja bertemu Idaline saat beristirahat sebentar di bawah pohon. Kemudian Idaline menyuruhnya datang ke halaman Sedap Malam di waktu senggang.


"Aku tidak menyangka kita memiliki banyak kesamaan dan kamu mau mendengarkan cerita tidak jelasku."


"Bukan tidak jelas, beberapa orang memang bercerita dari hal yang dia sukai dulu, di lain hari akan bercerita hal yang dia benci dahulu. Justru kamu, apakah tidak kesal selalu mendengar ceritaku yang berulang perihal dunia dalam mimpiku?"


Idaline tahu bahwa Indra adalah tipe yang akan tenang setelah bercerita ketika lelaki itu menerobos masuk lalu berbicara dengan menggebu di kediaman Mada. Ia menjadi teman bicara Indra melihat anak remaja itu nyaman berbicara dengannya.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Teleportasi yang kita anggap sebagai mitos, bisa digunakan dengan mudah oleh Petapa Agung."


"Dia sudah berkembang sangat pesat." Idaline tersenyum melihat bintang yang berkedip padanya. Ia merebahkan diri merasakan angin sejuk menerpa wajahnya.


"Hari ini aku ingin berkonsultasi." Indra ikut merebahkan dirinya di samping Idaline.


"Setelah ini kamu harus kembali. Bukankah besok berangkat sebelum matahari terbit?"


"Iya." Indra memiringkan tubuhnya menatap Idaline. "Wajahku selalu panas dan jantungku berdetak sangat keras ketika didekatmu. Tabib bilang aku harus bertanya pada penyebabnya." tutur Indra salah paham, tabib menyuruhnya bertanya pada dirinya sendiri.


"Itu tanda jatuh cinta." ucap datar Idaline.


Wajahnya datar, tapi otaknya bekerja sangat keras untuk keluar dari situasi tersebut. Ia pernah lari dari pernyataan cinta temannya karena semua teman sekelasnya bekerja sama menyiapkan dengan sangat lebay.


Ia pikir akan baik-baik saja, tapi ternyata malah ditatap tajam oleh teman-temannya selama sebulan. Aktingnya yang berpura-pura tidak tahu, gagal.


"Begitu." singkat Indra.


Idaline menggerakkan matanya melihat Indra bangun terduduk. Hatinya sangat aneh menerima respon tidak sesuai perkiraan. "OCPD sialan." kutuknya dalam hati.


Ia berpikir Indra akan malu-malu.


Atau.


Menyatakan padanya perasannya.


"Kamu adalah calon nyonyaku. Aku terlalu berani karena terus bersama."


"Nyonyamu?"


"Eh?" wajah Indra memerah menyadari arti ucapannya. "Ma-maksudku kamu dan guru."


"Kami tidak memiliki hubungan apapun."


Wajah datar Idaline yang memandang lurus Indra membuat jantungnya berdebar semakin cepat. Telinganya yang sedikit tertutup uraian rambut memerah.


"A-aku sudah mengatakannya. Aku akan kembali."


Idaline memegang tangan Indra yang berusaha kabur. "Perasaanmu ini adalah cinta monyet, cinta sementara karena pertama kali merasa akrab." Idaline menjelaskan agar Indra tidak terlalu salah dalam menilai hatinya.


Ekspresi kecewa terlukis dengan jelas di wajah Indra. Ia melepas tangan Idaline perlahan.


"Dengar. Bergaullah dengan wanita, kalau perasaanmu padaku tidak berubah. Aku akan menjadi nyonyamu." Idaline mengedipkan matanya.


Kekecewaan seketika musnah dari hatinya. Pikiran dan jantung Indra sudah tidak beraturan. Ia menatap malu Idaline yang masih duduk di rumput. "Ingat janjimu!" tegasnya lalu berjalan dengan kaku.


"Kita akan menikah saat itu juga!" Idaline tertawa melihat langkah besar Indra yang terburu-buru.


"Senok Udel sudah besar, menerima pernyataan cinta lelaki dengan tenang." tutur Siji turun dari pohon.


"Tenang apanya? Aku tidak membuat kesalahan kan tadi?" Idaline menutupi wajah merahnya.


"Dasar playgirl," ejek Loro.


Idaline mengusap wajahnya. "Pada akhirnya dia akan menyadari itu cinta monyet."


"Anak berumur tujuh tahun sudah mengetahui cinta monyet." cibir Loro.


"Mas Agis selalu aja ngajak ribut." Idaline menghentakkan kakinya masuk ke dalam kamar.


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 17 Agustus 2021


Jangan lupa like, komen, dan share untuk menambah semangat author!


Makasih banyak vote dan hadiahnya teman-teman.


Sehat selalu semua.


Love, Al-Fa4.


Today In History :


17 Agustus 1945 M


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2