TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
077 - SURAT


__ADS_3

"Maharani tidak ingin bertemu?" tanya Djahan di atas kudanya.


"Benar, Tuan Mahapatih."


"Katakan pada Maharani, aku akan melakukan semua yang diperlukan," kata Djahan meninggalkan Kedaton Sedap Malam tanpa menunggu jawaban.


"Seperti itu kata beliau, Yang Mulia."


Idaline malahap manggis seraya berselonjor di atas kasur, dia menatap sang dayang yang baru saja berjumpa dengan Djahan. Idaline meneruskan makannya hingga seluruh buah di piring ludes.


Dayang yang membawa pesan menelan salivanya kesusahan. Apa dirinya membuat kesalahan? Maharani tidak pernah membiarkan orang berlutut hingga waktu yang lama, selama dirinya.


Rekan-rekannya turut gelisah. Majikan mereka sekarang seperti bangsawan perempuan lainnya yang hanya diam dan memandang lurus ke depan. Tidak dapat mereka baca apa yang diinginkan Idaline.


Biasanya Idaline akan menunjukkan keinginannya meski tidak mengatakannya.


Namun sekarang mata Idaline benar-benar kosong.


"Suratnya sudah diberikan?" tanya Idaline pada dayang yang sedang memijatnya.


"Sudah sampai dengan selamat, Yang Mulia."


"Bagus sekali. Stok cokelatku sudah habis."


Para dayang merasa lega karena Idaline kembali terlihat hidup dan matanya bersinar.


Hari ini adalah hari yang panjang bagi Idaline. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain memikirkan surat yang dibawa ksatria apakah sudah sampai atau belum.


Maka ketika mendengar suratnya telah sampai, Idaline tersenyum lebar.


Saat ini suratnya pasti sudah sampai pada Rakryan Tumenggung atau Rawindra Sanjaya yang biasa dia panggil dengan nama kecilnya, Indra.


Indra menunggu bersama pasukannya di depan kantor perkebunan Janapada. Dia menunggu orang yang sedang memeriksa gudang penyimpanan.


"Mohon maaf, Tuan. Kalau ingin cokelat putih Anda harus menunggu esok hari," ucap Roro memberikan bingkisan cokelat dan buah yang tersedia.


"Tidak masalah," kata Indra menerima pesanan yang ada sambil tersenyum sopan.


Roro memegang jantungnya yang berdegup kencang. Selama ini dia sering keluar masuk keraton dan melihat banyak bangsawan yang tampan lagi rupawan.


Tetapi rasanya baru kali ini ada yang menarik baginya.


Rawindra Sanjaya.


Siapa yang tak kenal dia bagi orang yang sering berada di keraton? Semua orang membicarakan tentang kerendahan hati dan keramahannya pada bawahannya.


Orang ini seperti berada di atas langit namun menghangatkan sekitarnya.

__ADS_1


Bagai matahari yang selalu ditunggu untuk mengusir gelapnya malam.


Ramah bukan sekedar senang menebar senyuman namun juga turut membantu menyelesaikan masalah-masalah sampai tuntas.


Pernah ada yang bertanya kenapa bangsawan tinggi sepertinya mau mengurus masalah orang-orang kecil?


Indra menjawab, "Seseorang berkata semua manusia itu sama dan membantu mereka yang kesusahan sedang kita mampu menolongnya adalah sebuah keharusan. Yang penting jangan memaksakan diri."


Penggemar perempuan Indra sempat patah hati sebab mata Indra memancarkan aura cinta yang kuat saat mengatakannya, akan tetapi selama bertahun-tahun Indra tetap sendiri.


Jadi mereka menyimpulkan kata-kata itu dikatakan oleh pengasuhnya. Dan Indra selalu mengingatnya dengan baik.


Sudah tampan, sopan, cerdas, baik, suka menolong, kaya, dan memiliki kedudukan yang tinggi pula. Siapa yang tidak mau menjadi pasangannya?


Tidak sedikit bangsawan wanita mengirimkan surat lamaran terlebih dahulu namun Indra menolak semuanya.


Tentu saja bangsawan-bangsawan itu tidak akan membuka mulut tentang hal memalukan yang menimpa mereka.


Jadi mereka hanya bisa menelan rasa penasaran mereka dan menunggu waktu untuk mengetahui perempuan mana yang mengisi hati Indra.


"Kita cari penginapan," perintah Indra pada anak buahnya.


"Tapi tuan, perintah Yang Mulia.."


"Pernikahan akan diadakan empat hari lagi. Menjemput esok tidak akan ada yang berubah."


Jika dia berada di jalur utama, dia akan sampai di ibu kota dan jika dia berbelok sedikit ke kiri, dia akan masuk ke Janapada.


Jadi Indra tidak mengabaikan perintah Maharaja.


Dia hanya beristirahat bersama rombongannya.


"Baik, tuan."


Anak buah Indra mengekor di belakang Indra. Dia meringis menerima bisikan yang tidak seperti sebuah bisikan dari para wanita. Dia dianggap tidak becus sebagai bawahan. Perempuan-perempuan itu sengaja mengeraskan suaranya agar si anak buah sadar diri.


"Tuan.." Anak buah Indra menangis tanpa air mata dan tanpa suara karena harga dirinya diinjak-injak. Dia juga merasa kasihan melihat tuannya kerepotan.


Akan tetapi Indra tidak mau memberikan barang bawaannya meski tangan kanan dan kirinya memegang kantung jerami besar ditambah kotak kayu besar yang dipegang dengan kedua tangannya.


Semua tawaran gadis-gadis muda dan tawaran ibu-ibu yang ingin membantu pun ditolak Indra.


Bagi anak buah Indra yang terkena tatapan penghakiman dari para gadis, kalau bisa memilih, dia lebih memilih berdiri sepanjang hari untuk menjaga keluarga Kerajaan Galuh di Lapangan Bubat daripada digosipi sebagai laki-laki tak berguna.


Lapangan Bubat yang biasanya hijau dihiasi kambing-kambing dan para gembalanya, kini dipenuhi tenda-tenda dengan tenda besar sebagai pusatnya.


Genderang penyambutan terus digaungkan oleh para prajurit yang berbaris rapih. Mereka bertugas menyambut bangsawan-bangsawan atau perwakilan bangsawan yang datang berkunjung.

__ADS_1


Bangsawan-bangsawan Maja bercengkerama dengan bangsawan-bangsawan Galuh yang kebanyakan dari mereka masih keturunan raja-raja Sunda Galuh.


Mereka mencoba mengambil perhatian Tuan Putri Citra Resmi yang akan menjadi Ratu Bhumi Maja.


Ratu, orang yang akan menghabiskan waktu dengan Maharaja lebih banyak dari seorang Maharani.


"Berani sekali kamu bilang aku datang untuk menyerahkan putriku?!" berang Buana menghentikan alunan musik.


Para bangsawan pun berdiri dan saling bertanya-tanya. Salah satu senior dari bangsawan Galuh menyuruh dengan sopan bangsawan-bangsawan Maja untuk pulang terlebih dahulu.


Bangsawan-bangsawan Galuh mendekat ke tenda Raja dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati sebab suasana di luar tenda saja sudah sangat tegang.


Papat yang sedang bersimpuh dan menunduk di depan Buana lantas bangun dan berdiri tegak menatap mata Buana. "Mahapatih mengingatkan, Bhumi Maja sudah terbentang hingga ke Lamuri. Tunduklah dan serahkan Putri Citra Resmi sebagai upeti."


Darah mendesir naik ke wajah Buana, dia tidak pernah mengharapkan sambutan seperti ini ketika dirinya sudah berbesar hati meninggalkan Kerajaan Galuh untuk berangkat menuju tempat mempelai pria berada.


Seharusnya mempelai pria yang datang ke rumah mempelai wanita!


Dan lagi, Bhumi Maja telah menjanjikan hal-hal besar untuk kerajaannya!


Bagaimana bisa mereka mengingkari janji!?


Di mana jiwa ksatria mereka?!


Dan apa mereka lupa sejarah Kerajaan Sunda Galuh jauh lebih panjang daripada Kerajaan Maja?


Raja-raja Sunda Galuh lebih memahami pulau ini lebih dari siapa pun!


"Besar sekali nyali kalian!" Buana meraung sembari merobek dan melemparkan robekan kertas ke wajah Papat.


Pelayan yang sudah memperingatkan Buana berdiri dengan gemetar di pojok ruangan. Dia akan menyaksikan sejarah yang besar!


Perasaannya bercampur aduk antara sedih dan takut tetapi perasaan tertariknya jauh lebih besar membuat dia yang tidak tahu caranya bertarung terus berada di dekat para petinggi.


Dia ingin melihat sejarah dengan kedua matanya sendiri.


"Anda harusnya ingat, saya bukan hanya tangan kanan Tuan Mahapatih," ucap Papat yang kini dikelilingi para prajurit Galuh.


"Saya juga murid beliau," imbuh Papat sudah berdiri di luar tenda.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 31 Oktober 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2