TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
097 - SESUAI INTRUKSI MAHARAJA


__ADS_3

"Nah sekarang apa yang Anda inginkan, kepala Soca?" tanya Idaline dengan dingin.


Dia tidak akan melepaskan pria ini jika memalsukan perasaannya dan hanya menggunakan Widya untuk mencapai tujuannya.


Sebenarnya hal ini tidak perlu dipastikan bukan? Setiap mata-mata pasti memakai berbagai tipu muslihat.


Idaline hanya membuang-buang waktu.


Tapi jika benar kelompok ini mencuri sesuatu yang dimiliki Bhumi Maja entah itu informasi ataupun sebuah benda, Idaline akan mengambilnya tiga kali lipat.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharani," ucap Bimo bersimpuh di depan Idaline.


Ini mengagetkan Idaline. Sikap rendah diri seperti ini tidak diperlukan ketika identitas telah diketahui karena akan berdampak pada martabat yang dimilikinya.


"Hamba menyerahkan diri kepada Anda, namun hamba mohon bebaskan seluruh keluarga Sapta. Mereka tidak ada sangkut pautnya. Kamilah yang berniat buruk."


Dalam hati Bimo meringis. Mungkin kelompok mereka adalah kelompok Soca terburuk sepanjang Kerajaan Sunda Galuh telah berdiri.


Dia dan kawan-kawannya telah terjebak dalam permainan yang mereka buat sendiri.


Dia sekarang paham kenapa jarang ada mata-mata handal menggunakan trik jatuh hati pada target.


Sebab hampir keseluruhan dari mereka yang diutus dan berpura-pura jatuh cinta pada rekan, saudara, ataupun anak-anak musuh, semuanya menjadi jatuh cinta sungguhan.


Mereka terkena senjata sendiri tapi mereka tidak menyesalinya.


"Kapan terakhir kali kamu berhubungan dengan mereka?" tanya Idaline.


"Tiga puluh lima bulan yang lalu, Yang Mulia."


"Hiduplah dengan tenang di sisa waktumu," putus Idaline.


Idaline menghela napas panjang. Dia ini sedang menolong penjahat terbesar di periode awal Hayan naik tahta.


Entah di masa depan dia akan dikatakan sebagai orang bodoh atau dikatakan sebagai pengkhianat.


Bimo mengeluarkan kerisnya. Dia menempelkan ujungnya ke telapak tangan sampai keris itu menembus telapak tangannya lalu mulai mengucapkan sumpah.


"Hamba, Bimo dari Galuh bersumpah setia pada Bhumi Maja. Jika melanggar hamba akan mati mengenaskan dengan cara-cara yang tidak akan terpikirkan oleh manusia sebelumnya-"


"Dan dibenci Widya untuk selamanya," tambah Idaline.


"Dan dibenci Widya untuk selamanya," ucap Bimo mengikuti. "Hamba serahkan darah ini." Bimo memeras tangannya ke atas telapak Idaline.


"Kalian memiliki darah yang unik." Idaline mencium aroma darah yang tawar tidak ada aroma besi seperti yang biasa Idaline cium saat menghirup aroma darah.


"Kami sejak dari nenek moyang sampai sekarang tetap menggunakan tapaan murni dan tidak melalui jalur cepat. Semua didapat melalui tapaan bertahun-tahun. Semuanya menjaga darah sejak bayi, termasuk tidak memakan hal-hal yang mengotori darah," terang Bimo.


Jalur cepat adalah bertapa di tempat yang mengandung banyak energi seperti pegunungan mistis atau bertapa di sebelah monumen yang dibangun Petapa Agung, Fusena.


Orang-orang Sunda Galuh bertapa di atas bukit tertinggi tempat udara masih bersih dari hiruk pikuk kota yang ramai.


Mereka merasakan energi alam tanpa bantuan ajian ataupun jimat. Mereka akan duduk diam di suatu tempat sampai tubuh mereka dapat bersatu dengan alam dan dengan mudah mengeluarkan kekuatan tanpa perlu ajian ataupun rapalan.


"Lalu bagaimana dengan keluarga kerajaan?" tanya Idaline.


Pria di depannya sudah hampir tiga tahun tidak berjumpa dengan kelompoknya, tapi sebelumnya pasti dia bekerja dengan giat.


Maka tidak apa-apa kan Idaline meminta sedikit rahasia Sunda Galuh?


Mungkin saja kali ini kedua kerajaan itu akan takluk di bawah kaki Maja.


"Ini.. mereka adalah keturunan petapa yang terus menjaga garis keturunan. Kekuatan paling utama diturunkan adalah mengubah tulisan dengan darah, makanya kertas keluarga kerajaan selalu wangi semerbak melati." Bimo hanya dapat menjelaskan dengan singkat.


Jika tidak, dia akan meledak saat ini juga karena telah berkhianat!


Bimo berharap Maharani dapat memaafkannya dengan memandang dia adalah suami dari sahabatnya.


Tapi Bimo hanya bisa pasrah jika dia terus ditanyakan hal lainnya.


Ini memang sudah konsekuensinya mengkhianati tanah air tempat kelahirannya.


"Melati umum digunakan makanya tidak dicurigai," lontar Idaline.


"Benar, Yang Mulia."


"Apa yang akan terjadi padamu?" tanya Idaline merujuk pada harga kesetiaan yang ditawarkan.


Tidak mungkin suatu penguasa membiarkan orang kuat berdiri bebas di bawah kakinya.


Para penguasa pasti menggunakan sesuatu untuk menekan orang itu.


Karena kesetiaan bisa habis terkikis masa.

__ADS_1


"Darah kami akan menjadi kotor dan lama kelamaan akan menggumpal lalu kami akan meledak."


Idaline tidak melihat kebohongan dari pria ini. Dia mengibaskan tangannya menyuruh Bimo pergi lalu melempar sebuah botol obat.


"Aku akan mengirim Ra Sanca secara rutin. Berumur panjanglah," pesan Idaline sebelum Bimo menghilang di atap-atap kamar.


"Hamba akan melaksanakannya, Yang Mulia."


Nung yang memasuki kamar majikannya sekilas melihat bayangan Bimo. Karena penasaran, Nung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Dia melupakan keberadaan Idaline di sana.


"Ada apa?" tanya Idaline membuat Nung terlonjak kaget.


"Apakah Yang Mulia juga pindah?" tanya Nung. Dia berpikir Idaline tidak akan mau pindah ke Keraton Capuri.


"LANCANG!!" bentak Idaline.


Bisa-bisanya seorang dayang mempertanyakan keputusan seorang Maharani?


Dan tidak adakah otak dalam tempurung kepala perempuan ini?


Bagaimana bisa dia tidak berpikir bahwa suami dan istri harus bersama?


"Hamba mohon ampuni hamba." Nung menjatuhkan diri di belakang Idaline.


Semasa hidupnya dia belum pernah melakukan kesalahan sebesar ini! Nung merasa sangat bersalah.


"Kamu tangan kanannya," sindir Idaline. Tentu saja bawahan pemimpin tertinggi Bhumi Maja tidak perlu memberi hormat terlalu dalam pada selain majikannya.


"Kerjakan dengan cepat. Aku ingin beristirahat." Idaline mengusir Nung.


Setelah amarahnya mereda Idaline duduk di pendopo dan memainkan bonang yang tergeletak di sana.


Djahan tersenyum di depan gapura mendengar lagunya mengudara. Tidak ada yang tahu lagu ini kecuali dirinya dan Idaline.


Dia tadi ingin mengunjungi Idaline namun selalu dihalang-halangi oleh pengawal penjaga gapura.


"Baiklah, aku tidak akan menemui Maharani sesuai intruksi Maharaja."


Para pengawal menghela napas lega.


Jika gagal dalam tugasnya, sudah pasti mereka akan dihajar Djahan yang marah karena terus menerus dihalangi dan ditambah hukuman dari Hayan akan menanti mereka.


"Tapi.."


Para pengawal mengeratkan pegangannya pada tombak.


"..katakan pada Maharani untuk ingat."


"Baik, tuan."


Djahan menatap sebentar Idaline yang sedang membunyikan bonang kemudian dia menaiki kudanya dan berjalan menjauh.


Para pengawal mengawasi Djahan yang menjauh dengan kudanya.


"Saya kira kita akan mati."


"Jangan bernapas lega dulu. Kita harus sampaikan pesan pada Maharani."


"Saya yang akan sampaikan."


"Bodoh. Maharani justru lebih mengerikan," gumam pengawal bersimpati pada kawannya.


"Kenapa suaranya berbeda meski urutannya sudah sama?!" kesal Idaline membunyikan asal bonang di depannya.


Dia yakin sudah mengurutkan nada sesuai yang diajarkan Djahan, namun nada yang muncul berbeda!


"Yang Mulia.." sapa pengawal membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Belakangan sepertinya pelatihan terlalu longgar." Idaline menatap dingin pengawal yang berdiri menjulang di luar pendopo.


Pengawal itu menyadari kesalahannya dan langsung memberi salam dengan benar. "Mohon ampuni hamba sudah bertindak tidak sopan, Yang Mulia."


"Kayanglah."


"Maaf?"


"Kubilang kayang!" Idaline menatap pengawal yang tak kunjung melakukan kayang. "Perlu kutunjukkan??"


"Silakan Yang Mulia," kata pengawal yang tidak mengerti arti kayang.


Yang dia tahu adalah kayangan tempat para bidadari berada.

__ADS_1


Idaline menyisir rambutnya tidak menyangka ada bawahannya yang begitu lemot. Dia menatap tajam pengawal itu.


"Katakan siapa namamu?!" Idaline berkata dengan kesal.


Hari ini Idaline selalu ingin marah-marah.


Semua yang terjadi melenceng jauh dari perkiraannya.


Dia berniat memberitahukan Widya perihal kehamilannya lalu menghabiskan waktu lebih banyak tanpa perlu lagi memikirkan Hayan dan Djahan.


Tapi sekarang dia sendirian. Hayan pasti sibuk dengan banyak hal dan dia tidak diperbolehkan bertemu siapa pun.


"Ha-hamba Taraka Sak," jawab Sak gugup. Rasanya dia telah melakukan kesalahan besar tapi dia sendiri tidak menyadarinya!


"Oh?" Raut wajah Idaline berubah ramah mendengar nama yang dikenalinya. "Keluarga Taraka?" tanyanya memastikan.


"Benar Yang Mulia. Hamba putra ketiga dari–"


"Putra ketiga! Berarti kamu sangat jago dalam seni musik?" Idaline sangat antusias mengetahui jati diri pengawal bodoh di depannya.


Setidaknya dalam hal musik, manusia ini jauh lebih baik dari kebanyakan orang!


"Masih terlalu jauh jika dibandingkan Yang Mulia," ucap Sak rendah diri.


"Kemari duduklah." Idaline menatap Sak yang langsung duduk di depannya. "Coba bunyikan ini dan ini." Idaline menopang dagunya menunggu pukulan Sak.


Sak memukulnya dengan kekuatan sesuai perkiraan Idaline. Idaline tidak bisa memukul dengan tepat seperti Sak, jatuhnya pukulan Idaline akan terlalu keras dan menimbulkan bunyi yang memekakan telinga.


Sedangkan Sak memukul dengan tepat, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, kekuatannya pun tidak terlalu ringan ataupun tidak terlalu kuat.


"Oh benar~ Lalu bagian ini.."


Idaline memejamkan mata menikmati alunan musik dari tangan Sak. Lagu ini mengingatkannya pada Djahan.


Dia merindukan Djahan tapi mulai hari ini dia tidak dapat menemuinya.


Sak menghentikan gerakan tangannya melihat theklek yang mendekat ke arah pendopo, ia tundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani melanjutkan pukulan bonang yang masih di tengah jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Hayan dingin.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja."


Sak yang mendapat kewarasannya langsung bersujud di depan Hayan.  Kesalahannya pada Maharani belum diselesaikan, jangan sampai dia bermasalah dengan Maharaja! Jangan! Jangan sampai!


Jika sampai melakukan kesalahan, entah bagaimana nasib dirinya.


"Maharani tidak ingat janjinya padaku?"


"Aku tidak melanggar janji. Oh betul, ada apa kamu menghadap?" tanya Idaline pada Sak. Tadi dia tidak fokus dan baru sadar pengawal ini pasti datang untuk suatu urusan.


"Tuan Mahapatih memberikan pesan pada Yang Mulia Maharani untuk ingat. Begitu ucap beliau."


Setelah itu Taraka Sak naik menjadi bekel di perbatasan.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 20 November 2021


Urutan keamanan Bhumi Maja seperti ini,


1. Raja ( Sekarang Maharaja )


2. Mahapatih


3. Rakryan Tumenggung


4. Rangga ( Pasukan inti keraton )


5. Senopati ( Pemimpin pasukan daerah )


6. Bekel ( Pasukan kecil yang terdiri dari beberapa lurah dan kelompoknya )


7. Lurah prajurit ( Kepala dari 10 prajurit )


8. Prajurit


Secara pribadi sendiri ada tiga tingkatan


Pengawal - Prajurit - Ksatria


Tentu saja pengawal daerah berbeda dengan pengawal keraton.


Ksatria daerah bisa saja jadi pengawal keraton.

__ADS_1


__ADS_2