![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Tarian, nyanyian, dan pembacaan puisi terus dilakukan hingga malam hari. Usai membersihkan diri, para tamu kembali berkumpul untuk melanjutkan pertunjukan yang tertunda.
Hidangan-hidangan berat dan ringan tersedia di dalam dan di luar aula. Orang-orang yang hadir masih asyik bercengkerama dan bersemangat menantikan pertunjukan selanjutnya.
Tetapi tidak dengan perempuan pendek yang memakai kain wastra putih sepanjang tujuh hasta. Idaline menatap datar orang-orang yang tersenyum padanya, pipinya terasa bengkak akibat terus tersenyum dan bercerita panjang pada para bhre baru.
"Kalau Anda cemburu suruh saja beliau menjaga jarak dari para wanita," bisik Sudewi mengarah pada Djahan yang sedang dikelilingi putri-putri sah para bangsawan atas dan menengah yang belum memiliki pasangan.
"Laki-laki yang sudah punya pasangan itu harusnya mengingat statusnya." Indudewi menatap tajam Djahan yang masih berdiri di posisinya di pintu utara.
"Bukannya selama ini Tuan Mahapatih selalu menjaga jarak?" Netarja mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu.
"Maka dari itu..!" marah Indudewi.
Saat kedua belah pihak sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sebuah asap keluar di tengah aula. Suara teriakan mendayu-dayu bergema di ruangan. Sepasang mata bersinar biru terpancar dari asap putih tebal itu. Lalu ia melangkah keluar dan berdiri di depan Idaline.
"Kenapa kamu memanggilku?"
"Eh? Utih?" Idaline terkejut melihat harimau putih kontraknya muncul di tengah ruangan, berdiri di antara sekumpulan orang yang mengelilingi dirinya dan sekumpulan orang yang mengelilingi Djahan.
"Mbakyu mengerikan sekali saat cemburu." Sudewi menatap dengan tatapan penghakiman pada Idaline. Para gadis yang mengelilingi Djahan membubarkan diri karena ketakutan melihat Utih.
"Bukan gitu ih!" Idaline tersenyum canggung. Djahan yang mendengar dari jauh tersenyum senang. "Kenapa kamu datang?" tanya Idaline mengelus kepala Utih.
"Aku melihat kamu mengeluarkan aura yang sangat kuat. Kupikir kamu sedang terdesak dan aku langsung menyambut panggilanmu."
Idaline menutup mukanya malu. "Tidak ada, tidak ada. Pergilah!" usir Idaline mengibas-ngibaskan tangannya. Utih menatap bingung Idaline lalu menghilang dari Aula Arjwa.
"Kudengar ada keributan."
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja." Sudewi, Indudewi, dan Netarja menjatuhkan lutut mereka, bersimpuh, dan mereka merekatkan kedua tangan di atas kepala.
Karena kemunculan Utih, semua orang sampai tak merasakan kehadiran penguasa mereka sekaligus bintang utama pesta. Tamu-tamu yang lain bersujud menyadari kesalahan mereka mengabaikan sang maharaja.
"Jangan sungkan."
"Keributan ini datang dari perasaan yang terpendam," sindir Sudewi kembali menatap penuh penghakiman pada Idaline yang tersenyum canggung.
Idaline mengalihkan pandangannya melihat langit-langit aula berhiaskan bunga dan ukiran-ukiran unik yang berasal dari setiap daerah.
"Yang Mulia, para penari telah menunggu," ucap Netarja pada Hayan yang masih menunggu jawaban Idaline, sedangkan perempuan itu masih terdiam dengan wajah merah padam.
Hayan mengangguk lantas berlalu duduk di singgasananya.
Sudewi dan Indudewi yang terus bersitegang berubah menjadi kompak selama menggoda Idaline. Perasaan gadis di tengah mereka bercampur kesal dan senang. Sedangkan Netarja beberapa kali menatap Hayan yang memegang gelas teh lebih lama dari biasanya.
"Gawat," pikir Rajasaduhiteswari baru itu.
••••••••••••••••••••
Hari kedua yang juga hari terakhir adalah hari perburuan. Hayan mempersingkat waktu pesta penobatan yang biasanya memakan waktu sepuluh hari dipersingkat menjadi dua hari karena peperangan dengan Wengker belum usai.
Idaline memakai kacamata hitam karena tidak tahan cahaya emas dari berbagai sisi yang menghiasi tempat duduk para tamu-tamu kehormatan dan karena tidak tahan sinar mentari yang sangat terang benderang, matahari seolah menyiramkan cahayanya ke tempat perburuan.
"Banyu," panggil Fusena.
"Kami memberi salam kepada Petapa Agung," ucap para gadis, rekan berbincang Idaline sambil bersimpuh.
"Semoga kalian selalu diberi keselamatan." Fusena menjulurkan tangannya memberi berkat.
"Saya permisi," pamit Idaline pada rekan-rekannya itu.
Idaline dan Fusena pun pergi meninggalkan mereka. Sudewi, Indudewi, Netarja, dan gadis-gadis lain berdiri tegak setelah suara langkah kaki kedua orang itu tak terdengar.
"Bagaimana bisa orang rendahan berjalan dengan tegak di sisi Petapa Agung?"
"Nona Sipta, jaga ucapanmu," tegur Netarja menatap dingin Wati, putri dari Asha, selir Baga Sapta.
"Ma-maafkan saya, tuan puteri."
__ADS_1
"Minta maaflah pada orangnya," kata Netarja beralih memandang Indudewi dan Sudewi bergantian. "Rajasaduhirendudewi, paman sudah menunggu," ucap Netarja kemudian meninggalkan mereka. Karena Hayan masih belum memiliki pasangan, Netarja yang akan mendampinginya sebelum secara resmi pergi ke wilayah kekuasaan.
"Orang rendahan yang kamu bilang itu Raden Ajeng Paramudita, Sipta Wati." Widya berdiri menjulang di depan Wati.
Adik perempuannya yang licik itu setiap hari terus bertambah kadar bodohnya sebab ide-ide dari ibunya, Asha, selalu Widya patahkan tepat ketika mereka berpikir telah berhasil, maka Wati memikirkan idenya sendiri tetapi idenya lebih buruk dari ide Asha.
"Beliau tidak perlu menunduk ketika berjalan di samping gurunya," tambah Widya mengulum senyum merasakan kehadiran orang di belakangnya.
"Kami memberi salam pada Tuan Penasihat," sapa para gadis melihat ayah kedua orang yang sedang bersitatap dengan tegang.
"Jangan sungkan, jangan sungkan," balas Baga menyuruh anak-anak muda itu berdiri tegak.
Para gadis menundukkan kepalanya ke arah istri Baga, ibu dari Widya, dan para selirnya lalu berpamitan kembali ke keluarga masing-masing.
"Ucapanmu terdengar ke seluruh penjuru." Mata Baga menyala dengan amarah meletup-letup.
"Dan beliau adalah guruku yang kau bilang penipu, sampai mengambil setengah anggaran untuk fasilitas dan bayarannya," imbuh Widya berbalik menghadap Baga dan memiringkan sedikit kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di dada. "Ananda memberi salam kepada ayahanda." Widya menyembunyikan senyumannya melihat guratan otot di wajah Baga semakin nampak.
"Ti..tidak tidak ayah. Kakanda memfitnah ananda!" tukas Wati.
"Ayahanda, ananda izin pergi. Nona Catra sudah menunggu," pamit Widya.
Pandangan Baga melunak saat melihat Widya. Ia terlalu fokus pada anak perempuan lainnya yang sedang membuat masalah jadi tidak membalas salam Widya. Baga memegang sebentar kepala Widya lalu mengangkat tangannya. "Pergilah," kata Baga mengizinkan.
"Kakanda! Kita belum menyelesaikan perbincangan ini!" cecar Wati.
"Diamlah! Perburuan akan segera dimulai." Baga melangkahkan kakinya ke kuda yang ia parkirkan. Wati berjalan hati-hati bersama ibunya dan istri ayahnya, juga tiga selir lainnya.
Widya menyeringai. Ayahnya sudah mendapatkan laporan tentang perilaku buruk Wati terlebih dahulu sebelum ia berbicara.
Idaline mengajari Widya untuk memupuk sedikit demi sedikit kesalahan orang lain, di kemudian hari dapat membeberkan semua itu sekaligus melalui fakta-fakta yang tertulis dan terlihat lalu dibumbui sedikit ucapan-ucapan agar lebih panas. Maka kesalahan ringan akan berubah menjadi kesalahan berat.
Wajah Idaline tertabrak punggung Fusena yang tiba-tiba berhenti. Idaline menggosok hidungnya yang memerah bak terbentur tembok yang kokoh. Idaline menatap nanar kacamata hitamnya yang terbelah menjadi dua.
"Apa sih?" kesal Idaline tak merasakan kehadiran orang lain.
"Mbakyu, senjata jiwa itu bisa membawamu pulang," ujar Fusena.
"Masih butuh beberapa waktu sampai mengendalikannya dengan benar," jawab Fusena.
"Aku sudah menanti selama enam tahun, tak masalah jika sebentar. Tapi.." Idaline berjongkok menatap pantulan wajahnya di air selama beberapa saat. "..itu milik orang lain,"
"Orang lain yang menggunakannya akan membawa masalah pada daerah di sekitarnya. Mbakyu tidak berpikir untuk tinggal di sini kan?" selidik Fusena.
"Tentu saja tidak."
"Mahapatih semalam datang meminta izin."
Idaline mengangguk. "Iya aku akan menikah dengannya."
Fusena menyisir rambutnya. "Mbakyu bercanda 'kan?" tanyanya tidak mau mendengar jawaban lain. Idaline pun diam tidak menjawab. "Mbakyu, batalkan atau kukirim ke penjara jiwa!" ancamnya memahami Idaline yang kukuh pada pendiriannya.
"Ih apaan coba? Ini hidupku kamu jangan ngatur-ngatur," gerutu Idaline.
"Ini dunia lain," balas Fusena.
"Tetap ini hidupku," kata Idaline tidak mau kalah.
"Jangan keras kepala, mbak." Fusena sangat paham, sekali Idaline membuat keputusan itu tidak akan mudah diubah. Tetapi sekarang Idaline melanggar batasan yang telah dibuatnya sendiri? "Kenapa?"
"Aku ingin bersenang-senang, ketika bangun aku harus menghadapi dunia yang keras lagi." Idaline mencabuti kelopak bunga yang dipetiknya. "Selain di desa, aku terus belajar. Itu pun cuma sebentar, lalu belajar lagi dan lagi." Idaline menatap kesal Fusena.
"Itu kan demi kebaikan mbakyu." Fusena memperhatikan Ruru yang terbang di atas mereka. "Bagaimana kalau menikah denganku?" Fusena terkejut saat Idaline tiba-tiba berdiri, gadis itu berjinjit mendekatkan wajahnya. Fusena terlonjak, dahinya memerah terhantam kepala Idaline.
"Aduh sakit." Idaline menggosok kepalanya yang ia benturkan ke kepala Fusena. "Kamu itu ya sangat tidak pengertian! Lagian, kamu adalah adikku. Dulu maupun sekarang,"
Fusena mengusap kepala Idaline menghilangkan bekas merahnya dan rasa sakitnya.
"Coba pikirkan perasaanmu padaku dan para mas. Itu hanyalah perasaan sayang terhadap saudara. Hanya karena aku perempuan, kamu salah mengira."
__ADS_1
"Aku tau hatiku." Fusena mengacak rambut Idaline. "Lakukanlah sampai aku selesai. Ingat mbakyu, saat sadar jangan main-main seperti ini,"
"Kamu menggemaskan sekali." Idaline mencubit pipi Fusena lalu berlari kembali ke lapangan.
"Hati-hati!" teriak Fusena.
Bohong kalau dikatakan Idaline tidak tahu perasaan Fusena. Ia mempunyai kepekaan yang tinggi.
Dan Idaline juga berbohong kalau ia hanya ingin bermain-main. Idaline mencintai Djahan, tetapi suatu saat mereka akan berpisah karena Idaline bertekad untuk pulang apa pun keadaannya.
Maka ketika ada kesempatan, Idaline tidak akan menyia-nyiakannya.
"Semuanya sudah berkumpul," bisik Idaline pada Fusena yang berdiri di depannya.
"Petapa Agung, mohon berkati acara ini," pinta Hayan. Walaupun statusnya sudah lebih tinggi dari dua raja kerajaan besar yang ada di pulau yang sama, Petapa Agung tetaplah Petapa Agung, seseorang yang harus dihormati seluruh orang termasuk seorang Maharaja.
Sudah menjadi kewajiban bagi Petapa Agung mengakui raja dan ratu yang baru, apalagi di tanah yang diberkatinya. Hayan menggunakan kesempatan di luar itu untuk menunjukkan dukungan Fusena terhadap dirinya.
"Lindungilah Idaline," titah Fusena menerima pentungan.
"Pasti," balas Hayan.
"Semoga awal ini memulai kehidupan yang penuh semangat!" Fusena membunyikan gong hingga tiga kali. "Bersainglah dengan sehat untuk mendapatkan yang terbaik," tambahnya lalu semua kuda yang telah menunggu melesat dari tempatnya.
"Yang Mulia, saya memberi salam." Pamget bersimpuh di samping Idaline.
"Tuan kepala akademik? Silakan yang nyaman saja." Idaline tak enak hati, orang tua berjenggot kemerahan itu terlalu menghormati dirinya.
"Terima kasih. Bolehkah saya meminta tolong?"
"Mari." Idaline memandang sedih kue di atas meja. Tangan-tangan koki istana tidak ada duanya dan kue yang hanya keluar di hari perayaan belum juga ia sentuh. "Semuanya ganggu terus!" batinnya menggerutu. Idaline menampakkan senyum pada Pamget yang berjalan di sebelahnya.
"Hamba menghadap Yang Mulia Maharaja." Netarja mengejar Hayan yang pergi dari tempat duduknya.
"Bicara seperti biasanya saja ketika kita berdua," ucap Hayan sedang menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Kakanda, adinda dan para Raden Ajeng diundang oleh murid Petapa Agung."
"Kalian diundang?"
"Jadi kakanda sudah tau?" Netarja mengira mereka adalah yang pertama diundang oleh Idaline.
Hayan tersenyum kecut. "Aku tamu pertama."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 03 September 2021
TERIMA KASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA SAYANG-SAYANGKU
Yang belum hayuk dukung author dengan like dan komen,
juga vote dan hadiahnyaaa.
Sehat selalu semua
Love, Al-Fa4
Today In History :
03 September 1260 M
Kemenangan di 'Ain Jalut
Dinasti Mamalik
vs
Kekaisaran Mongol
__ADS_1
Hanya 2 tahun berselang dari pembantaian Baghdad pada tahun 1258 M