TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
025 - BUNGA YANG MEKAR


__ADS_3

"Bukannya kamu penjaga Raden Ajeng? Kenapa malah menghilang?" selidik Indra.


Siji menerawang ingatannya yang jauh, Udelia merupakan orang yang selalu membuat rencana sesempurna mungkin. Adik sepupunya itu selalu melakukan hal dengan sempurna sesuai standarnya, bahkan kehidupan sehari-hari jika tidak sesuai dengan list dalam rencananya, gadis itu akan kesal sendiri.


Loro, saudara kembarnya, selalu menjahili Udelia setiap bertemu. Kesempurnaan alur hidup Udelia terus kacau jika mereka berkumpul. Terutama rencana liburan Udelia bersama teman-teman. Maka dari itu sering terjadi pertengakaran kecil antara Udelia dan Agis walaupun mereka telah beranjak dewasa.


"Raden Ajeng punya rencananya sendiri." Siji kembali pada posisinya di balik layar. Ia tidak ingin membuat Udelia semakin benci padanya dengan menampakkan diri apalagi ikut campur masalahnya.


"Apa Anda ingin tampil?" tanya dayang selesai membersihkan Idaline.


"Tidak perlu. Mahapatih akan memberitahu."


"Baik, Yang Mulia. Selamat beristirahat." Para dayang keluar meninggalkan Idaline sendirian.


Idaline bangkit dari duduknya. Para dayang telah membawa pakaian samarannya keluar. Ia menundukkan tubuhnya mengambil dan membuka kotak yang berisi pakaian cadangan, ia mendengus tidak menemukan isinya.


"Lebih baik Anda beristirahat." ucap Indra muncul di sebelah Idaline yang sedang mendorong kotak di bawah ranjang.


PUK. Kepala Idaline terkatuk ranjang karena terkejut.


"Sangat tidak sopan masuk ke kamar gadis lewat dari jendela." Idaline mengelus kepalanya yang terbentur.


"Pelindung bayangan tidak mungkin masuk lewat pintu." kilah Indra.


"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Idaline merujuk pada Cethi.


"Tuan Mahapatih membawanya bersama para pengawal yang sudah berani memegang Anda."


Idaline memutar kedua bola matanya dan berkata, "Tapi bukannya kalian berdua juga memegang aku?"


Indra mengingat tangannya yang memegang telinga Idaline. Ia bersimpuh dengan cepat hingga terdengar suara tabrakan antara tanah dan kakinya. "Saya sudah melakukan kesalahan besar." sesalnya.


Kejadian di kediaman Mada masih teringat jelas di benak Indra. Rasa sakit yang ia lihat pada diri Idaline lebih besar dari dirinya. Sedikit sentuhan dari lawan jenis pasti membuatnya ketakutan, begitu yang ada di benak Indra.


"Duduklah temani aku minum teh." perintah Idaline mendaratkan tubuhnya di kursi panjang. Ia melihat tatapan putus asa pada mata Indra dan rasa sesal begitu nampak di wajahnya.


Indra dengan patuh duduk di seberang Idaline dan menerima teh yang sudah dingin. Sedikit tersentak karena rasa manis berlebihan bagi mulutnya.


"Kejadian yang aku alami sudah sangat lama. Aku melupakannya dalam waktu yang sangat lama sampai-sampai tidak percaya akan ingatan yang muncul tiba-tiba. Tapi melihat kenyataan aku tidak bisa bergaul dengan pria, juga aku yang tidak percaya pada diri sendiri, dan kebencian nyata pada orang-orang yang kuanggap bersalah semakin membuatku yakin."


"Anda tidak perlu mengingat kejadian kelam."


"Tapi kalau aku terus menghindarinya itu hanya akan berlarut. Bohong kalau dibilang aku sudah memaafkan semuanya, namun akan jadi masalah jika terus dendam pada hal yang tidak mereka lakukan. Aku ingin sekali memaafkan mereka karena tidak tahu, tapi benarkah mereka tidak tahu?"


Indra diam merasakan hal yang sama. Saat ia dilecehkan oleh seorang pelayan, benarkah pelayan lain tidak mengetahui? Atau apa mereka juga melakukan hal laknat itu padanya? Dalam ingatannya tidak ada, tapi apa suatu hal yang benar mereka diam saja padahal kedua orang tuanya sedang berjuang di garis depan mempertahankan kerajaan?


Ingatannya berakhir saat kepala pelayan memaksa masuk ingin memberitahukan kematian kedua orang tuanya, wanita tua itu melihat kelakuan pelayan wanita yang bekerja di bawahnya langsung, hanya dilakukan pengusiran dengan tuduhan pencurian pada rekannya.


Segitu pentingnya nama baik lebih dari mental korban?


"Memaafkan mungkin tidak bisa. Tapi jangan terus memikirkannya, buang saja ke belakang." acuh Idaline meski ada pergulatan batin antara otak dan hatinya. Lebih baik tidak ia pikirkan daripada kedua organ tubuhnya itu semakin menggila.


"Anda..bagaimana bisa tidak memikirkannya?"


"Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Pandang ke depan dan lihatlah masih banyak hal menunggu."


"Anda orang yang positif." puji Indra.


"Aku adalah orang yang sangat khawatir hal-hal terjadi tidak sesuai prediksi."


"Saya waktu itu sedang merayakan pesta kecil bersama rekan-rekan. Tidak ada yang menyangka seorang dayang kecil berani naik ke ranjang dan mencoba meraih keuntungan. Saat saya mencoba melindungi diri, dia menceritakan segalanya. Ingatan saya datang bertubi seperti Anda, mohon maaf saya tidak bermaksud membuat Anda ingat." sesal Indra mengingat tindakan gegabahnya.


"Ini sudah kehendak yang di Atas. Lebih baik lihat sisi baiknya, aku jadi bisa bertemu dua sepupuku." Idaline tersenyum kecil.


"Anda benar-benar orang yang positif."


••••••••••••••••••••


"Melihat kemampuan dan wawasanmu, aku sudah yakin kamu adalah Parikesit, anak Ki Ageng Lawu." ucap ratu masih di dalam aula bersama suaminya dan anak penjaga Wukir Mahendra.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda."


"Tapi tetap informasimu akan dikonfirmasi setelah tim penyidik sampai. Yang bekerja sama dengan kami adalah Ki Ageng Lawu dan yang mendapatkan kepercayaan kami adalah Ki Ageng Lawu."


"Hamba sudah sejauh ini, menunggu beberapa hari tidak masalah."


Tiga pasang mata yang berada di ruangan itu bergerak ketika pintu terbuka. Siluet orang yang baru saja pergi, kini kembali lagi.


"Kenapa kembali?" tanya ratu melihat Djahan memasuki ruangan.


"Saya ingin melaporkan tentang adik Parikesit."


"Cethi?" gumam Parikesit.


"Silakan."


Djahan menepuk tangannya sekali. Cethi dibawa para pengawal lalu ditaruh di tengah aula, Parikesit sontak mendekatinya.


"Dia menggunakan pakaian pelayan dan menyamar lalu membawa makanan untuk pangeran. Raden Ajeng Paramudita yang menemukannya." jelas Djahan.


"Lalu empat pengawal itu?" tunjuk ratu pada para pengawal yang dibawa kemudian oleh para pengawal lainnya.


"Mereka sangat bodoh berani menangkap Idaline. Apa mungkin seorang pengawal tidak mengetahui orang-orang yang dilayaninya?!" sungut Djahan.


"Mohon ampun Yang Mulia Ratu. Kami sungguh-sungguh tidak mengetahui kalau beliau adalah Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita. Kami hanya menangkap seorang perusuh yang menumpahkan hidangan untuk pesta. Sebelumnya kami menjaga di perbatasan." sanggah salah seorang pengawal yang masih utuh tangannya.


"Mereka sangat berani memegang tubuh berharga keluarga kita." geram Dhara. Djahan mengangguk setuju. "Potong kedua tangan mereka." perintah Dhara sambil mengusap dagunya sendiri berpikir hukuman segitu sangatlah ringan. "Bagaimana kalau kakinya juga membuat masalah?"


"Kami siap melaksanakan." ucap pengawal mengerti maksud suami ratu kemudian membawa mereka keluar.


"Saya..Hamba mohon maaf atas kesalahan hamba membiarkan Yang Mulia Raden Ajeng ditangkap oleh para pengawal." Tubuh Cethi bergetar dengan hebat memikirkan konsekuensi yang akan diterimanya.


"Kesalahanmu bukan hanya itu." ucap Djahan menyipitkan matanya.


"Tindakan mencurigakannya kuharap bukan rencanamu." tukas ratu pada Parikesit.


"Mo-hon Yang Mulia Ratu tenang. Hamba mohon kita dengarkan dulu alasannya. Bagaimanapun Cethi adalah murid Ki Ageng Lawu, tidak mungkin dia melakukan dosa yang besar."


Ratu memejamkan matanya sebentar lalu menatap Cethi. "Jangan mempermalukan gurumu."

__ADS_1


"Saat hamba akan kembali ke kamar, hamba melihat seseorang berambut merah yang ikal dikuncir kuda melakukan gelagat aneh. Dia menaburkan serbuk mencurigakan, kemudian hamba memeriksanya ketika dia sudah menjauh. Itu adalah serbuk cendhak."


"Tercipta dari perpaduan berbagai bubuk racun, cendhak merupakan racun yang tidak berbau, berwarna, maupun berasa, disentuh kulit tidak akan mengakibatkan kerusakan, namun saat ditelan akan membuat kerusakan pada tenggorokan sepuluh jam setelah dikonsumsi." jelas Cethi.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui serbuk yang sulit diidentifikasi itu?" Tersirat dalam nada Djahan ketidakpercayaan yang jelas.


"Sebenarnya guru sedang meneliti racun tersebut untuk membuat penawarnya. Hamba jadi hapal karena terus membawanya dan guru tidak akan berhenti sebelum menemukan penawar yang bisa membersihkan secara menyeluruh organ tubuh dari racun tersebut."


"Ki Ageng Lawu memang seperti itu." komentar ratu.


"Lalu orangnya, apa kamu ingat?" tanya Djahan tak sabar.


Sejenak hening karena Cethi tampak berpikir. Lalu perempuan itu menjawab, "Dia memiliki bekas sayatan di punggung atas sebelah kanan."


"Informasi ini akan digunakan untuk mencari pelaku. Kamu tetap ditahan karena sudah membuat Raden Ajeng kesulitan." vonis Djahan.


"Hamba sebenarnya ingin membicarakan hal itu pada penyidik. Ternyata pengawal malah membawa kami ke aula pertunjukan. Hamba tidak mengerti kenapa mereka menangkap Yang Mulia Raden Ajeng."


Djahan menatap Cethi yang balik menatapnya berani.


"Kenapa memakai baju pelayan?"


"Karena hamba tidak bisa asal mengambil mangkuk dari nampan jamuan. Hanya pelayan yang diperbolehkan mendekat."


"Tetap saja kamu menyamar!"


"Itu karena saya tidak bisa mendekat. Mana bisa asal tebak yang mana yang diracun..!"


"Baiklah. Kita hentikan dahulu sampai di sini. Kalian berdua pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Istirahatlah dengan santai." putus ratu melihat situasi semakin menegang.


"Terima kasih, Yang Mulia Ratu." ucap Cethi dan Parikesit bersamaan. Mereka berjalan mundur lalu keluar secepat mungkin.


"Anda biasanya sangat tenang dan teliti." tegur ratu.


Djahan menghela napas panjang. Seperti ucapan ratu, harus tenang dan teliti untuk menyelesaikan suatu masalah. Tidak boleh asal menuduh apalagi memberikan hukuman. Karena memperbaiki hubungan lebih sukar daripada menjatuhkan hukuman.


"Kesalahan saya yang tidak memikirkan sampai situ."


"Lebih baik Anda beristirahat saja. Persiapan ulang tahun pangeran yang besar ini pasti melelahkan. Saya sudah menyita banyak waktu Anda padahal sudah berjanji tidak akan menyulitkan Anda~"


"Saya sudah memilih. Maka harus melakukan tugas sampai akhir."


"Tugas Anda sudah selesai. Beristirahatlah dengan nyaman dan mari kita menonton pertunjukan para gadis muda." ratu mengangkat tangan mempersilahkan Djahan yang dekat pintu pergi terlebih dahulu.


Djahan mengangguk singkat dan berjalan keluar.


"Sepertinya ada bunga yang mekar." bisik Dhara.


"Kita harus memetikkan bunga itu untuknya."


"Tapi ratuku, Anda telah membuat aturan yang sulit untuknya~"


"Suamiku, bukannya dia baru berumur lima belas tahun?" ratu mengedipkan matanya pada sang suami. Dhara terkekeh pada tingkah lucu istrinya. Ia mencuri satu ciuman di pipi ratu sebelum pergi meninggalkan aula.


••••••••••••••••••••


"Kalau nona-nona itu tau kamu di tempatku, kediaman ini tidak muat menampungnya." ucap Idaline pada Hayan yang sedang membaca kertas-kertas di atas meja.


"Itu tidak akan mungkin~" balas Hayan percaya diri. Ia menggulung kertasnya lalu menatap Idaline dengan serius. Orang yang ditatapnya menaikkan alis tidak mengerti. "Hadiahku mana?" Hayan menadahkan tangannya.


"Yuwaraja sudah punya semuanya. Mana mungkin ada yang bisa aku berikan?"


"Jadi tidak ada hadiah untukku?" Hayan memasang wajah cemberut.


"Yah, karena kamu sudah mahir dalam bela diri dan pengetahuanmu semakin luas, kekayaanmu juga tidak bisa dibandingkan dengan aku yang miskin ini."


"Aku belum jadi Yuwaraja. Kekayaan antara putri dan pangeran tidak ada bedanya."


Idaline mendengus tidak percaya. "Mana mungkin tidak ada bedanya." Ia beranjak pergi mengambil kotak di dalam kamarnya. "Hanya ini yang bisa kuberikan."


"Terima kasih guru~"


"Jangan panggil begitu."


"Cambuk?" gumam Hayan, ia tidak memahami alasan Idaline memberikan cambuk kuda yang bentuknya aneh sekali dan bukan terbuat dari rotan tetapi terbuat dari perak, rasanya akan melukai jika ia mencambukkan itu pada kuda.


"Bukan untuk kuda." ucap Idaline melihat kebingungan Hayan. "Meski kamu ahli bertarung dengan tangan kosong, keris, dan tombak. Kamu bisa menggunakan cambuk untuk merebut senjata mereka. Ksatria yang memiliki kebanggaan tidak akan mengingkari sumpah ksatrianya."


Sumpah dasar bagi prajurit, pengawal, dan ksatria adalah melawan sesuai dengan senjata musuh atau senjata yang lebih rendah untuk lawan yang mudah.


"Anda meremehkan saya?" Hayan menatap dingin Idaline.


Idaline tersenyum menenangkan. "Kamu sangat cerdas dalam segala hal. Tapi di atas langit masih ada langit. Dan manusia bukan makhluk yang bisa menembus tembok, suatu saat bahkan yang terkuat bisa terpojok." Idaline membereskan berkas Hayan.


"Pelajarilah keahlian jarak jauh juga, panah lebih ringan daripada tombak. Keahlian keris dan tombakmu sudah setara para rangga. Bagaimana?"


"Guru benar-benar cerdas."


"Sudah kubilang jangan panggil guru. Lalu berkas sebanyak ini sangat membuat sakit mata. Rapihkan dengan ini." Idaline mengambil jepit rambutnya yang dibuat Atem lalu menjepit kertas-kertas yang sudah ia tumpuk. "Aku gambarkan penjepit yang lebih bagus lalu pergilah buat sendiri."


"Guru benar-benar akan menggambar?" Hayan menarik sudut bibirnya tersenyum meremehkan.


Idaline fokus menggambar tidak menggubris ucapan Hayan. Setelah beberapa kertas ia remas lalu buang, Idaline menghentikan tangannya. "Hahaha. Benar. Aku punya murid yang bisa menggambar, kenapa tidak dia saja yang menggambar melalui ucapan gurunya ini?" kesal Idaline menyadari keahlian menggambarnya nol besar.


"Seharusnya bilang dari awal."


Kemudian Hayan menggambar sesuai dengan bayangan Idaline.


"Berikan ini pada Mpu Chantas." perintah Hayan pada prajurit bayangannya.


"Baik Yang Mulia."


"Ini sudah larut, bagaimana bisa kamu mengganggu Mpu Chantas?"


"Benar ini sudah larut. Aku akan menginap." jawab Hayan tak peduli maksud pertanyaan Idaline.


"Kamu tau? Gosip lebih cepat melesat daripada keris dikeluarkan dari sarungnya."


"Kalau begitu aku akan tidur di sini supaya tidak keluar dari sarung, dengan begitu takkan terlihat yang lain."

__ADS_1


"Hei. Bukan begitu." Idaline berkacak pinggang melihat Hayan mengambil tempat tidurnya lalu ia pergi ke ruang belajarnya dan tidur di sana.


••••••••••••••••••••


"Maaf, Yang Mulia. Yang Mulia Pangeran tidak ada di tempat."


Perayaan ulang tahun berlangsung selama lima hari. Pada hari kedua acara diadakan pada siang hari karena pagi harinya para bangsawan saling berkunjung. Semua orang mengira pangeran bersembunyi di Bale' Gawe.


"Tentu saja dia tidak ada di sini, Hayan sekarang ada di kediamanku." ucap Idaline dalam hatinya.


"Tidak apa-apa. Aku ada urusan lain."


"Maaf Yang Mulia–" ucap salah satu pengawal.


"Silakan, Yang Mulia." potong yang lain mengangkat tombaknya.


Idaline masuk saat para pengawal memberi jalan.


"Bagaimana kamu bisa membiarkan orang lain masuk?" bisik pengawal yang melarang.


"Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita adalah guru Yang Mulia Pangeran."


"Aku tidak mendengar yang seperti itu."


"Karena beliau guru tidak formal. Kamu juga baru dipindahkan ke sini jadi tidak tahu."


"Tapi bukannya tetap saja tidak boleh sembarangan?"


"Kamu tidak tahu? Pagi-pagi buta Yang Mulia Pangeran datang sebentar kemudian langsung pergi ke kediaman Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita, beliau datang pasti ada sesuatu."


"Begitu.."


Idaline mengambil kertas di atas meja Hayan. Ia memutari meja lalu duduk di kursi kerja Hayan. "Ini memang tidak sopan. Tapi harus dilakukan." Idaline menunduk membaca kertas dengan fokus.


"Saya mengantar camilan Anda."


"Melihat kamu yang berkeliaran. Sepertinya mereka tidak menghukummu, Cethi."


Cethi menghentikan gerakannya dalam menata meja. Ia menegakkan tubuhnya lalu menghadap ke sumber suara. "Raden Ajeng?" ia melihat Idaline bangkit dari kursi Hayan. "Anda berani sekali duduk di kursi pangeran!" Cethi mengepalkan tangannya cemas.


"Ada perlu apa datang kemari, nona pelayan?"


Cethi terkejut mendengar suara berat Idaline, ia semakin terkejut melihat pop-up yang muncul di depannya.


"(Bagaimana kalau kita mulai dari perkenalan? Nama saya Udelia dari divisi desain dan koding Ekogrop)"


"(Saya Amel siswa PKL di Ekogrop) Eh," Cethi menyadari bahasa yang mereka gunakan, ia tersenyum lebar pada Idaline lalu berlari memeluknya. "A-akhirnya saya tidak sendiri. Hiks. Hiks." Cethi pun menangis tersedu-sedu.


Idaline menepuk-nepuk punggung Cethi hingga tenang. "Ayo kita duduk dulu." Idaline menuntun Cethi ke kursi di sisi kanan meja lalu Idaline duduk di sisi kiri meja.


"Apa tidak masalah?" takut Cethi, mereka masih berada di dalam ruangan kerja pangeran.


"Jangan khawatir. Minumlah dan tenangkan diri." Idaline menuangkan teh ke gelas mereka.


"(Kak Lia ada di sini apa karena koma?)"


"(Sepertinya begitu. Kamu bagaimana bisa sampai di sini?)" Idaline mengenal siswa PKL itu sepekan sebelum dirinya hilang kesadaran. Amel adalah siswa yang rajin dan cerdas, pemimpinnya sampai berniat merekrutnya dan membiayai kuliahnya.


"(Komputer kakak tidak menyala saat ada orang yang ingin mengambil alih proyek kakak. Ketika dibongkar kak Dion, di tengah jalan dia ada panggilan darurat, pc kakak dibiarkan gitu aja. Malamnya aku nemenin tante lembur, katanya nanggung mau selesai, terus dia bilang aku coba saja rakit pc kakak.)"


"(Pas aku pasang prosesor tiba-tiba aja ada cahaya muncul, aku mundur dong, tapi tante malah ketawa mikir aku takut nyalain. Aku positif aja mungkin kena capek. Sudah selesai dan nyala dengan aman. Aku coba periksa proyek kakak, disuruh tante. Aku fokus lihat program kakak yang ga jalan-jalan, layar komputernya jadi putih, siapa sangka kedip sekali malah jadi langit?)"


"Pasti berat ya?" Idaline merasa ada yang salah dengan komputernya. Nanti ia akan menyelidikinya jika sudah kembali.


"Tidak kok. Aku anggap ini liburan~"


"Benarkah? Tapi apa kamu yakin akan kembali?"


Cethi diam mendengar ucapan Idaline, ia tidak tahu dan tidak yakin akan kembali atau tidak. "A-aku tidak tahu." ucapnya terbata.


"Kalau melihat perkembangan sejauh ini, sudah berapa hari? Tidak. Sudah berapa bulan?"


Cethi tidak pernah memikirkannya, ia terus fokus pada pop-up yang muncul. Dalam hatinya ia terus yakin bahwa waktu baru lewat beberapa jam saja. "Aku pikir kakak membuat VR."


"Selama ini kamu bertahan dengan keyakinan itu?"


Tidak. Cethi juga hampir putus harapan setiap pop-upnya menghilang. Ia yang selalu dibimbing jadi kehilangan arah saat jeda waktu dari cerita yang ada dalam alur.


Idaline bangun dan berjalan ke depan Cethi. "Apa kamu tidak merindukan keluargamu?" tanyanya sambil mengusap kepala Cethi.


"Tentu saja aku merindukan mereka." jawab Cethi cepat. "Maka dari itu aku memilih rute ini yang belum selesai dikerjakan."


Semakin terkenal seorang tokoh, semakin banyak prasastinya, tapi malah jadi luas opini yang beredar.


Udelia dan tim kecilnya membuat game dengan mengusahakan isinya tujuh puluh persen sesuai cerita aslinya, maka kisah yang samar akan mereka teliti lebih dalam.


Mereka sudah memberitahu publik akan terlambat dua bulan untuk mencari yang mendekati kebenaran.


Dan rute yang belum selesai itu adalah meraih cinta pangeran. Pangeran Kerajaan Maja, Nirankara Hayan Wijaya.


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 13 Agustus 2021


Makasih banyak like, komen, vote, dan hadiahnya teman-teman.


Sehat selalu semua.


Love, Al-Fa4


Today In History :


13 Agustus 1164 M


Kemenangan di Harim (Harenc)


30.000 tentara koalisi 4 negara


vs

__ADS_1


9.000 kaum Muslimin


__ADS_2