
Hari minggu, jam 9 pagi, Musa dan Sari sudah bersiap-siap, mereka sudah menelepon kakek Atmo dan menyampaikan bahwa mereka tidak bisa main ke rumah beliau karena Sari mulai mengikuti kelas ibu hamil.
Sari dan Musa berjalan keluar rumah, Musa mengunci pintu rumah dan masuk kedalam mobil, Sari berdiri di depan pintu gerbang menunggu Musa, setelah mobil keluar dari pintu gerbang Sari naik kedalam mobil dan mereka menuju rumah sakit tempat Sari akan mengikuti kelas ibu hamil.
Rumah sakit swasta yang di sarankan oleh dokter Agus, karena salah satu instruktur senam adalah kenalan dokter Agus.
Jadwal kelas ibu hamil hari ini dihadiri sebanyak 10 orang, termasuk dengan Sari.
Ada yang hadir sendiri ada juga yang di temani oleh suaminya, seperti Sari.
Kelas berlangsung selama 2 jam, ada penjelasan materi dan juga senam ibu hamil.
Dengan sabar Musa menunggu di ruang tunggu bersama beberapa bapak muda lainnya.
Kebanyakan peserta yang di temani oleh suaminya itu sama seperti Sari, hamil anak pertama. Makanya obrolan mereka begitu nyambung, karena merasa sedang dalam fase yang sama, menunggu kelahiran si buah hati mereka.
" Mas Musa apa juga suka merasa emosi kalau istri lagi minta ini itu segala macam?, soalnya istri saya kadang mintanya yang aneh-aneh, mana mintanya tengah malam, dan harus nyari saat itu juga", ucap Alan, suami Yusi yang usia kehamilannya dengan Sari selisih 2 minggu saja.
" Istriku alhamdulillah nggak macem-macem sih Mas, nggak minta ini itu, kayak ibu hamil yang ngidam-ngidam begitu", ujar Musa.
" Wah beruntung sekali, andai istriku juga tidak banyak mau seperti istri Mas, pasti aku akan sangat senang", gumam Alan.
" Dinikmati saja Mas, istri kita kan juga sudah berjuang membawa perut besarnya kemana-mana, hasil dari ulah kita juga, jadi turuti saja kemauannya, seperti kata mentor, hati seorang wanita hamil harus di jaga agar terus bahagia, biar janin di dalam perutnya juga bahagia", sambung Amin yang duduk di sebelah Musa.
Merekapun terus mengobrol selama 2 jam hingga istri istri mereka keluar dari kelas dengan wajah yang terlihat lebih bersemangat.
Musa mengambil sapu tangan nya dan mengusap keringat yang membasahi wajah Sari.
" Apa di dalam panas?, kamu sampai berkeringat seperti ini?".
" Tadi terakhir kegiatannya senam, jadi sedikit mengeluarkan keringat", jawab Sari.
" Kalian mau langsung pulang atau mampir kemana dulu?, rencananya kita mau mampir makan siang ke Bebek goreng haji Slamet", ucap Alan menyebut salah satu nama rumah makan yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi mereka saat ini. Alan begitu terlihat ribet karena tangannya penuh dengan barang bawaan, ada tas dan barang-barang milik Yusi, istrinya.
Alan memang paling sering mengeluh dengan tingkah istrinya di banding yang lain, mungkin karena Yusi begitu manja dan begitu banyak kemauan di saat hamil.
Meski baru beberapa kali bertemu, tapi rasa senasib seperjuangan membuat mereka bisa cepat akrab.
" Mampir atau pulang?", tanya Musa lirih pada Sari.
" Pulang, aku capek Mas", jawab Sari.
Musa langsung menjawab Alan,
__ADS_1
" Rencananya kami langsung pulang, Sari kecapekan, maaf kami pulang dulu ya", Musa berpamitan dengan Alan, amin dan beberapa teman lainnya.
Karena cuaca yang sangat panas, Musa sengaja memperbesar nyala AC mobilnya, agar Sari yang sedang kepanasan dan berkeringat merasa lebih nyaman.
Mungkin karena kelelahan dan udara sejuk di dalam mobil, Sari pun ketiduran di mobil.
Dijalan Musa sengaja menepikan mobilnya di depan rumah makan Padang, sengaja mampir membeli nasi Padang untuk makan siang mereka berdua.
Tadi pagi mereka hanya sarapan bubur ayam, itu pun beli, karena lagi-lagi Musa mengajak Sari melakukan 'olahraga pagi' di atas kasur, yang seolah sudah menjadi aktifitas rutin di hari libur mereka.
Musa sengaja melarang Sari masak, dan memesan bubur ayam yang biasa keliling komplek. Hanya dengan mengirim pesan singkat, dalam 5 menit penjual bubur ayam sudah berada di depan rumah mereka, mengantarkan pesanan Musa.
Mungkin di kontak HP Musa kini sudah tersimpan banyak nomer abang-abang penjual makanan. Karena Musa tidak pernah mengharuskan Sari untuk masak.
Aktifitas Sari yang padat, ditambah perut Sari yang semakin besar, membuat Sari cepat lelah, Musa sudah pernah menyarankan untuk mempekerjakan ART, tapi Sari masih belum setuju. Masih merasa nyaman dengan membayar orang seminggu dua kali untuk beres-beres rumah dan merapikan pakaian.
Ibunya Yanto sudah lama berhenti bersih-bersih di rumah Sari, sejak usaha mie ayam suaminya berkembang pesat. Tapi ibunya Yanto memperkenalkan Sari dengan salah satu tetangga mereka, yang sekarang menggantikan pekerjaannya, bersih-bersih di rumah Sari.
Saat keluar dari rumah makan Padang, Musa juga membeli lutisan. Ada penjual lutisan keliling yang sedang berhenti di depan warung nasi Padang .
Mengingat kemarin Sari begitu semangat dan menikmati lutisan mangga muda buatan bi Nunung, membuat Musa jadi membeli 2 porsi lutisan yang dibungkus dengan mika.
Musa kembali melajukan mobilnya, Sari masih saja tertidur dengan pulas, tidak terusik sedikitpun dengan goyangan mobil yang kembali melaju.
Sari menggeliat dan kaget ketika Musa berada begitu dekat dengannya.
" Mas mau ngapain?", sambil melirik ke posisi tangan Musa yang sudah bersiap untuk mengangkat tubuh Sari.
" Niatnya mau gendong kamu masuk ke dalam", Musa menarik tangannya dan berdiri di depan pintu mobil.
" Tadi kamu tidur pulas banget, jadi nggak tega mau bangunin, karena sekarang sudah bangun, jadi bisa jalan sendiri ke dalam, hehehe", Musa membantu Sari turun dari mobil dan mengambil beberapa kantong plastik dari kursi belakang.
" Apa itu Mas ?"
" Menu makan siang kita sayang", jawab Musa sambil merangkul Ari masuk ke dalam rumah.
" Kapan Mas beli itu?, apa waktu Sari lagi di dalam kelas?", tanya Sari penasaran.
" Bukan... Mas beli tadi waktu pulang, kamu tidurnya pules banget sampai nggak tahu kita tadi berhenti ya?".
Sari mengangguk, " Kalau begitu tungguin sebentar ya Mas, Sari pengin mandi dulu, badan bau asem tadi keringetan banyak banget, hehehe".
Musa mengangguk, sedangkan Sari berjalan masuk ke kamar, mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Saat keluar kamar mandi Musa sudah mengenakan sarung dan baju muslim.
" Sudah wudhu sekalian?", tanya Musa.
" Sudah", jawab Sari singkat, karena tadi sempat mendengar suara adzan Dzuhur berkumandang saat berada di dalam kamar mandi.
" Kita sholat dulu, habis itu baru makan", ujar Musa.
Sari mengangguk cepat dan mengenakan mukenanya, bergabung bersama Musa untuk sholat berjamaah.
Musa mengulurkan tangannya, memberikan suapan pertama untuk Sari. Sari tersenyum dan membuka mulutnya, menerima suapan nasi dari Musa.
" Bagaimana rasanya?".
" Enak Mas, ini beli di warung nasi Padang yang sebelah mana Mas".
" Yang di kiri jalan sebelum perempatan yang mau ke rumah sakit", terang Musa.
" Ooh, pantesan di sana rame terus, ternyata enak", ujar Sari.
Setelah mereka menghabiskan nasi Padang, Musa mengambil kantong plastik satunya.
" Ada satu lagi ini buat istri Mas tersayang".
Musa mengeluarkan bungkusan dari dalam kantong.
Dan Sari langsung menelan saliva sambil membelalakkan matanya, siang-siang begini melihat lutisan yang terlihat begitu segar.
Sari langsung berdiri dan memeluk Musa,
" Mas memang paling tahu keinginan Sari, muach...", Sari mengecup pipi Musa begitu semangat, " ciuman hadiah karena Mas sudah kasih sesuatu yang Sari pengen".
Musa hanya tersenyum, " begitu mudah membuat kamu bahagia, hanya dengan hal sepele seperti itu kamu sudah begitu bahagianya", batin Musa, sambil memeluk dan mencium perut Sari yang tepat berada di hadapannya.
Ternyata beribadah dan menambah pahala setelah menikah itu, adalah hal yang begitu mudah.
Musa selalu teringat dengan ajaran guru besar saat membahas bab tentang suami istri, yaitu tentang sunah-sunah yang bisa dilakukan suami pada istrinya.
" Jika kalian sudah menjadi imam dalam sebuah keluarga, perlakukan lah istri kalian dengan baik. Apa saja sunah yang begitu mudah dan bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?".
" Membukakan pintu untuk istri, baik di kendaraan, rumah dan lainnya. Sering Mencium Istri. Makan sepiring berdua. Suami menyuapi istri. Berlemah lembut, melayani dan memanjakan istri sakit. Bersenda gurau, bermain untuk membangun kemesraan. Memberi hadiah. Tiduran di pangkuan istri. Itu adalah hal-hal yang begitu mudah untuk di lakukan dalam kehidupan sehari-hari, tapi dengan melakukan itu kita akan mendapatkan banyak pahala, dan insyaallah Allah akan memudahkan rejeki kita".
Dan memang benar apa yang di sampaikan oleh gurunya itu. Sampai saat ini semua bisnis yang Musa kelola bersama teman-temannya semakin membaik dan berkembang.
__ADS_1
Mungkin itu adalah salah satu berkah yang Musa peroleh karena menyayangi dan memperlakukan Sari beserta keluarga dengan begitu tulus dan penuh kasih.