Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Keputusan Sari


__ADS_3

Siang hari, usai sholat Dzuhur dan makan siang bersama, Sari dan rombongan sudah masuk ke dalam mobil kakek Atmo. Formasi tetap sama seperti saat berangkat.


Sesampainya di rumah Kakek Atmo, Musa langsung berpamitan untuk pulang, karena baru saja di telepon oleh pak Ghofur jika beliau akan datang kerumahnya menyelesaikan urusan lahan yang kemarin sudah Musa dan Sari tinjau, dan memperoleh kesepakatan.


" Musa pamit dulu kakek, terimakasih sudah mengajak Musa berlibur, liburan kemarin tidak akan pernah Musa lupakan", ucap Musa sambil melirik ke arah Sari dan tersenyum menatap liontin yang melingkar di leher Sari.


" Assalamualaikum", pamit Musa kemudian masuk kedalam mobilnya yang sengaja ia tinggal di garasi rumah kakek Atmo.


Tampak dari kaca spion, Sari dan kakek Atmo berdiri di pintu gerbang, mengantar kepergian Musa.


Dalam hati Musa masih enggan untuk berpisah dari Sari, tapi tidak mungkin juga dia tetap berada di rumah itu berlama-lama.


Musa kembali teringat kejadian tadi pagi, saat Musa keluar dari kamar dan mendapati Sari yang juga sama keluar dari kamarnya, kebetulan sekali, seperti di buat-buat, tapi itu alami. Alias di atur oleh Sang Maha Pencipta, bukan setingan.


Sari terlihat begitu gugup saat melihat Musa.


Wajahnya sedikit pucat dan ada lingkar hitam di sekitar matanya.


" Mau cari sarapan?", tanya Musa.


Sari mengangguk, " Apa kakek masih ada di kamar?".


Musa menggelengkan kepalanya, " Sudah keluar sejak subuh, mungkin ada urusan di luar. Apa kamu mau sarapan bareng sama saya?", tanya Musa sambil masih mengamati Sari dengan seksama, dia terlihat lesu seperti kurang tidur.


" Ustadz mau makan apa?, bi Nunung sudah ke dapur sejak tadi, mungkin sudah selesai masak", ujar Sari memberi tahu.


" Ooh.... jadi bi Nunung sudah masak, ya ayo kita ke dapur, coba kita lihat apa yang di masak bi Nunung", Musa berjalan menuju dapur, namun Sari masih terus berdiri di depan pintu kamarnya.


Langkah Musa terhenti ketika mengetahui Sari tidak beranjak dari posisinya.


" Kenapa masih di situ?, apa kamu malu jalan beriringan dengan saya?", Musa menatap Sari mencari tahu jawabannya dari ekspresi wajah Sari.

__ADS_1


Sari menggeleng, " bukan begitu, sebenarnya Sari sudah memikirkan semalaman tentang jawaban dari pertanyaan ustadz semalam".


Musa tersenyum dan berjalan menghampiri Sari, " sudah jam 7 lebih, sekarang kita sarapan dulu, habis itu bisa kita lanjutkan pembahasan yang semalam", Musa mempersilahkan Sari untuk berjalan terlebih dahulu dengan mengangkat tangannya seraya mengucapkan, " Ladies first"


Sari menunduk malu diperlakukan sedemikian rupa sehingga merasa menjadi gadis yang begitu dipuja dan sangat beruntung.


" Jadi wajah kamu sampai pucat begitu gara-gara semalaman nggak bisa tidur, memikirkan jawaban untuk pertanyaanku. Maaf ya, membuat kamu nggak nyenyak tidur", Musa tersenyum begitu manis.


Sari bisa diabetes kalau keseringan melihat senyum Musa yang begitu manis seperti saat ini.


" Aku nggak bisa tidur karena sudah tidur sebelumnya, tapi memang ada benarnya juga sih karena kepikiran terus dengan pertanyaan Musa semalam", batin Sari.


" Bukan, Sari nggak bisa tidur kerena sudah tidur sebelumnya, jadi susah untuk bisa tidur lagi", jawab Sari beralasan.


Musa dan Sari sampai di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.


" Pagi mba Sari, pagi Ustadz Musa", sapa bi Nunung yang meletakkan nasi goreng di meja makan.


" Sini Bi, makan sekalian, biar jadi tambah enak kalau rame-rame, Ridwan sama Mas Soleh dimana Bi?", tanya Sari mencari keberadaan kakak beradik itu.


" Lagi nemenin kakek keluar dari tadi pagi, belum pulang-pulang", jawab bi Nunung.


Mereka bertiga sarapan nasi goreng bersama. Setelah selesai sarapan Musa mengajak Sari keluar dari penginapan dan duduk di pondokan tempatnya semalam bersantai.


" Silahkan... kamu bilang mau menjawab pertanyaan ku, apapun yang akan kamu katakan, saya harap setelah ini tidak merubah apapun, jangan malah membuat kamu menjadi canggung saat bertemu denganku seperti tadi saat keluar kamar", ledek Musa yang mengetahui jika Sari merasa canggung saat bertemu dengannya tadi pagi.


" Kelihatan banget ya Tadz?", Sari nyengir merasa malu karena ketahuan grogi.


" Sebenarnya sebelum ini Sari belum pernah dekat dengan pria lain, selain kakak Sari, jadi Sari sedikit bingung, bagaimana harus bersikap".


" Sebelum Sari menjawab, apa boleh Sari bertanya terlebih dahulu?".

__ADS_1


" Tentu saja boleh, mau tanya apa?", Musa menatap Sari dengan intens.


" Kalau misal Sari setuju dengan ajakan Ustadz untuk saling mengenal lebih dekat, apa ustadz akan tetap mengijinkan Sari untuk tetap kuliah setelah lulus SMA nanti?".


" Soalnya Sari baca di novel-novel tentang pesantren dan tentang kisah kasih seorang ustadz, ataupun tentang film yang mengandung unsur agama, kebanyakan perempuannya itu setelah mau di khitbah jadi kurang bebas untuk berekspresi".


" Jujur, Sari pengin jadi dokter, apa ustadz akan memberi Sari kesempatan untuk mencapai cita-cita Sari?".


Musa tersenyum lebar mendengar ucapan Sari barusan.


" Jadi pengin jadi dokter?", Musa pura-pura tidak tahu, padahal semalam sudah tahu dari Kakek Atmo.


" Saya tidak akan melarang kamu, untuk menggapai cita-cita kamu, apalagi menjadi seorang dokter itu pekerjaan yang mulia, bisa membantu orang lain, justru saya akan sangat mendukung kamu, sampai kamu menjadi dokter yang bisa menyembuhkan banyak pasien", ucapan Musa membuat Sari merasa begitu tenang.


" Kalau begitu jawaban Sari ' iya ', Sari mau mengenal ustadz lebih baik" , jawaban Sari membuat Musa tersenyum begitu lebar, saking bahagianya.


" Terimakasih, tunggu sebentar, kamu tetap disini ya, cuma sebentar aku kembali lagi", Musa berlari menuju kek kamarnya. Ternyata untuk mengambil ponsel.


Musa langsung melakukan video call dengan umi dan Abi nya, mengabari jika Sari menyetujui untuk lebih dekat dengannya.


Umi dan Abi yang juga menyukai Sari sejak awal bertemu, merasa sangat bahagia untuk keputusan yang putranya ambil. Sari memang gadis yang baik, sopan dan sangat cantik.


Selesai melakukan video call dengan kedua orangtuanya, Musa menyerahkan kotak kecil pada Sari seraya membukanya.


Liontin cantik dengan bandul berinisial huruf 'M', benar-benar indah.


" Ini buat kamu, sebagai tanda kalau aku serius, sebagai seorang laki-laki yang siap untuk menjadi calon imam dalam hidupmu, kapanpun kamu sudah siap, tinggal bilang saja, saat itu juga aku akan meminta restu pada kedua orang tuamu, juga pada Kakekmu, untuk menikahi mu".


Musa mengambil liontin dari dalam kotak kecil dan memakaikannya di leher Sari yang seputih susu itu. Tentu saja dengan sedikit gemetar, karena ini baru pertama kalinya Musa bertindak sejauh ini pada seorang gadis, apalagi saat Sari tiba-tiba bergerak refleks saat liontin itu menyentuh kulit lehernya. Tangan Musa jadi semakin gemetar karena jarinya tidak sengaja menyentuh kulit leher Sari juga.


Seperti tersengat arus listrik, jantung Sari dan Musa langsung berdetak tak terkendali. Hingga Musa selesai menyematkan liontin di leher jenjang Sari, mereka berdua saling menatap dalam diam dengan rasa bahagia yang sama-sama membuncah di hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2