Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Terkejut


__ADS_3

" Mas sudah nggak sabar menunggu hari esok. Pengin lihat seperti apa anakku yang masih ada di dalam perutmu sayang".


Sari langsung cemberut mendengar ucapan Musa barusan. " Anak kita !, bukan anak mu saja Mas. Kan aku yang mengandungnya".


" Iya sayang... maksudnya anak kita, hehehe", Musa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena salah mengucapkan kalimat.


" Oh iya, Mas tadi bawa sesuatu yang cukup berkesan buat kamu, tunggu sebentar ya, mas ambilkan".


Musa mengambil sesuatu dari dalam saku tas kerjanya. Sari memperhatikan apa yang Musa ambil.


" Permen...?", tanya Sari sambil mengernyitkan keningnya.


Musa mengangguk, " benar sekali, lihat ini permen bersejarah yang membuat Mas selalu teringat momen dimana kita menghadiri pernikahan Fajar di Cilacap, setiap kali lihat permen ini, mas jadi iseng-iseng baca tulisan yang ada dibungkus nya, hehehe", Musa terkekeh sendiri menyadari ke absurd an nya.



Sari tersenyum simpul, melihat permen bertuliskan ' i love you' pada bungkusnya.


Kenangan saat dirinya dan Musa dalam masa pendekatan dulu.


" Jodoh memang sudah di atur Allah, dan tidak ada yang tahu, tapi entah kenapa, sejak pertama kali bertemu dengan kamu dan melihatmu di kelas 11 IPA 2 dulu..., Mas merasa... seperti ada sesuatu yang berbeda dari dirimu".


" Mas sudah bertemu dengan berbagai macam jenis sifat wanita, tidak ada yang berkesan dan terngiang di pikiran Mas satu pun".


" Tapi saat melihat kamu, dan mungkin Allah yang berkehendak menggerakkan hati Mas, dan mengatur semua pertemuan kita".


" Lagi dan lagi aku harus bertemu dengan kamu, entah itu di sengaja, maupun karena kebetulan, menjadi guru ngaji kamu, jadi pembimbing lomba debat, harus menjagamu di rumah sakit saat kamu opname, semuanya seperti sebuah kebetulan yang sudah direncanakan oleh Allah".


Sari tersenyum mendengar kalimat Musa.


" Mas..., seandainya saat Mas pergi ke Kairo tiba-tiba ada laki-laki lain yang melamar Sari. Apa mas akan memperjuangkan Sari dan kembali ke Indonesia untuk membatalkan lamaran dari laki-laki lain?", mata Sari menuntut jawaban yang tepat.


" Kalau kamu di lamar laki-laki lain, Mas tidak akan melamar kamu saat pulang dari Kairo. Mas nunggu kamu membatalkan lamaran dari yang lain dulu, karena Mas bukan perebut calon istri orang, hehehe...".


" Tapi kalau kamu menyukai laki-laki yang lebih dulu melamar mu itu, maka Mas juga akan bahagia atas kebahagiaan mu".


Jawaban Musa tentu saja membuat Sari merasa sedikit kecewa. Seolah Musa seperti tidak mau berusaha memperjuangkan Sari.


" Sudah lah..., Mas itu nggak gentle !. Kalau di sinetron-sinetron itu kan biasanya si cowok akan adu jotos buat memperebutkan perempuan yang di cintai nya", ujar Sari membayangkan sinetron yang dulu pernah dilihatnya di televisi jaman dirinya masih murid SMP.


" Memang kamu pernah lihat sinetron yang ceritanya seperti itu kapan?", bahkan mas perhatikan kamu lebih sering nonton film kartun kalau akhir pekan", ujar Musa.


" Pernah lah, dulu...", ucap Sari.


" Dulu banget ?", sambung Musa.


" Itu bukan hal baik yang harus di contoh. Kamu kan wanita terpelajar. Pasti kamu tahu mana tontonan yang pantas di tiru, dan mana yang tidak pantas di tiru".

__ADS_1


" Kalau seseorang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Seharusnya sebagai orang yang mencintai nya kita juga harus bahagia".


" Karena kebahagiaan seseorang yang kita cinta itu adalah kebahagiaan untuk kita juga".


" Kebahagiaan itu hanya akan di rasakan oleh mereka yang tahu caranya berbahagia".


Sari mengernyitkan keningnya mencerna kalimat yang Musa ucapkan barusan.


" Sudah jangan terlalu dipikirin kata-kata Mas tadi. Sudah terdengar adzan magrib, kita sholat berjamaah yuk...!".


" Nanti kita makan malam di luar, dan kamu boleh pesen apapun yang kamu mau". Musa sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Sari melupakan kekecewaannya terhadap jawaban Musa barusan.


Sari mengangguk cepat dan berjalan mengikuti Musa untuk mengambil air wudhu.


Sekitar 30 menit kemudian, Musa memarkirkan mobilnya di salah satu rumah makan dengan menu makanan seafood.


Sari yang tadi membuat keputusan akan makan malam dengan menu masakan seafood, dia meminta untuk makan malam di restoran itu.


Dan betapa terkejutnya Musa saat Sari memesan berbagai macam olahan seafood. Ada lima menu utama yang di pesan Sari.


Sari memesan kepiting saus tiram, sate udang, gulai kepala ikan, capcay seafood dan cumi goreng tepung.


Musa hanya memesan nasi goreng seafood saja, dengan jeruk anget.


" Apa kamu yakin bisa menghabiskan semuanya?", Musa menatap Sari dengan tatapan tidak yakin.


Akhir-akhir ini nafsu makan Sari memang lebih meningkat, bisa sehari Sari makan hingga 5 sampai 6 kali. Belum termasuk cemilan dan minum susu bumil.


Sambil menunggu pesanan datang, Sari memilih untuk mengambil ponsel dan membaca beberapa pesan yang masuk.


Ternyata Eli juga sedang jalan-jalan dan berada di sekitar restoran seafood tempat Sari akan makan malam. Sari mengetahui dari status Eli yang berfoto di depan salah satu toko yang berada tidak jauh dari restoran tempat Sari berada.


Sari mengajak sahabatnya itu untuk makan malam bersama, namun Eli mengatakan dia sedang bersama dengan seseorang dan takut mengganggu acara makan malam Sari dan Musa.


Sebenarnya Sari sedikit penasaran teman siapa yang bersama Eli, jalan-jalan malam mingguan berdua, dari foto yang Eli ambil dan upload, Eli menggandeng tangan laki-laki, meski tidak nampak wajahnya, karena hanya gambar tangannya saja yang terekspos, namun Sari yakin itu tangan seorang laki-laki.


" Mas lihat deh", Sari menunjukkan foto yang ada di status Eli.


" Kenapa ?. Eli ada di sekitar sini?", Musa memperhatikan deretan toko yang ada dibelakang foto Eli.


Sari mengangguk, " bukan itu yang mau Sari kasih tunjuk. Ini lihat tangan yang sedang Eli gandeng. Seumur-umur baru pernah lihat Eli jalan sama cowok", ujar Sari menunjukkan tangan laki-laki yang di gandeng Eli.


" Dia kan memang sudah dewasa, sudah waktunya mencari pasangan hidup. Kamu saja, teman seumurannya, sudah mau punya anak. Apa salahnya kalau Eli jalan dengan laki-laki yang mungkin akan menjadi calon imam nya".


Musa sebenarnya paling malas untuk membicarakan urusan orang lain. Beruntung makanan pesanan mereka sampai, diantar oleh seorang pelayan restoran. Jadi bisa mengalihkan bahan perbincangan.


" Selamat menikmati...!", ujar pelayanan restoran ramah sambil tersenyum, usai menyajikan semua pesanan Sari dan Musa di atas meja. Membuat meja mereka penuh dengan piring makanan.

__ADS_1


" Terimakasih Mas", Musa membalas senyuman si pelayan.


Mata Sari langsung berbinar melihat berbagai jenis olahan seafood di meja makan, setelah berdoa, Sari langsung mulai menikmati makanan satu demi satu dengan lahap. Sari hampir memakan semua makanan di atas meja. Dimulai dari memakan gulai kepala ikan, kemudian, capcay seafood, kepiting saus tiram, capcay udang dan yang terakhir cumi goreng tepung. Lengkap dengan dua piring nasi putih.


Sampai membuat Musa menggelengkan kepalanya melihat nafsu makan Sari yang meningkat drastis.


" Apa kamu nggak sakit perut, makan sebanyak itu sayang?", Musa khawatir kalau Sari kekenyangan dan sakit perut.


" Nggak papa sayang, masih muat, kan Sari makan untuk mengisi dua perut", ucap Sari sambil terkekeh.


Musa pun hanya tersenyum, dan bersyukur kini istrinya terlihat lebih sehat dan segar, karena nafsu makannya meningkat.


Menghabiskan waktu selama satu jam di restoran, Musa dan Sari keluar saat jam menunjukan pukul 8 malam.


" Mau langsung pulang, atau mau kemana?", tanya Musa.


" Kita beli martabak saja, terus mampir kerumah kakek. Sudah lama nggak main ke sana", ujar Sari.


" Oke".


Usai membeli martabak untuk dibawa ke rumah kakek Atmo. Musa membukakan pintu mobil untuk Sari, namun saat Sari hendak masuk ke dalam mobil Sari melihat Eli keluar dari salah satu kafe yang berada tak jauh dari tempat Sari.


" Mas, itu Eli, kita samperin yuk", ajak Sari.


Namun Musa memasang tampang malas. Karena Musa ingin menghabiskan quality time berdua bersama Sari.


" Sudah malam sayang... apa mau batal ke rumah kakek Atmo?".


Sari langsung meringis," benar juga, ini sudah jam 8 lewat, kalau nyamperin Eli bisa kemalaman sampai rumahnya kakek".


" Ya sudah kita langsung jalan ke rumah kakek saja", Sari masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju melewati Eli yang sedang berdiri bersama seorang laki-laki di depan kafe.


Sari sengaja menatap ke arah Eli dan mengambil foto Eli dari dalam mobil. Berniat untuk mengirimkan ke Eli dan menggodanya.


Tapi betapa terkejutnya Sari ketika melihat, laki-laki yang sedang gandengan tangan dengan Eli itu ternyata adalah Rizal.


Musa juga sempat melirik ke arah Eli dan memperhatikan ekspresi terkejut Sari saat melihatnya.


" Nggak sakit hati kan, laki-laki yang dulu mencintai kamu kini membuka hati untuk gadis lain?".


Sari langsung menatap Musa dan menghilangkan ekspresi terkejutnya.


" Nggak lah Mas... cuma kaget saja, sejak kapan mereka jadi dekat".


" Syukur kalau ternyata mereka berjodoh. Mereka berdua sama-sama orang yang baik", ujar Sari sambil tersenyum.


" Eli pasti ingin balas dendam padaku dengan tidak memberi tahu kalau dia sudah punya kekasih, dan kekasihnya adalah Rizal. Pasti karena dulu aku juga tidak bercerita padanya saat aku telah menikah siri dengan Musa", batin Sari.

__ADS_1


__ADS_2