
Musa langsung pamit pulang setelah mengantar Sari ke rumahnya. Tidak begitu lama berada di rumah Sari, hanya menyapa kakek Atmo kemudian pamit pulang ke rumah nya, karena keadaan belum benar-benar mencair, masih ada sedikit ketegangan di wajah Sari.
Jam menunjukkan pukul 5 sore ketika Musa sampai di rumahnya. Hendrik justru sudah sampai di rumah terlebih dahulu, dan tengah rebahan di sofa depan televisi di ruang santai.
" Pak Ustadz habis kencan sama santrinya ya?, pulang dari acara jam 1, tapi sampai rumah sudah jam 5 sore, wah ini sih pasti mampir dulu, ke pantai", goda Hendrik saat melihat kaos baru yang Musa kenakan.
" Aku capek banget Ndrik, aku mau istirahat, mbahasnya nanti ya...". Musa berjalan menuju ke dalam kamarnya. Mandi dan berganti pakaian, karena baju dan celana yang tadi dipakainya terasa lengket terkena air laut saat di pantai tadi.
Saat di kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, ponsel Musa berbunyi. Ada panggilan roaming dari orangtuanya.
" Halo assalamualaikum".
" Wa'alaikum salam, Nak Musa...ini Abi".
" Iya Abi, bagaimana kabar Abi?".
" Abi sehat, tapi Umi kamu sedang sakit, karena itu Abi menelepon kamu, saat ini Abi sedang menjaga Umi di rumah sakit. Restoran masih di buka, Pak Hamzah... teman Abi yang menghandle sementara", ucap Abi menjelaskan.
" Umi sakit apa Abi?, apa Musa sebaiknya menyusul kalian kesana?", tanya Musa merasa begitu khawatir dengan keadaan uminya.
" Kamu datang saja ke sini, kata Dokter yang menangani umi, Umi itu terserang gejala stroke ringan. Untung cepat-cepat di bawa ke rumah sakit, kata dokter jika terlambat beberapa menit saja, ada kemungkinan Umi akan terkena serangan stroke".
" Abi juga bingung, padahal Umi kamu itu tadi pagi baik-baik saja, bahkan sedang masak nasi kebuli di dapur, tapi tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing dan di bawa tiduran di kasur. Saat Abi mencoba membangunkan nya, bibir umi sudah sedikit menceng, dan sulit untuk berbicara, dan tangan kirinya sudah tidak bisa di gerakkan. Karena itu Abi panik dan langsung membawanya ke rumah sakit".
Musa sudah beranjak dari tidurannya, membuka laci yang berada di lemari kecil disamping tempat tidurnya untuk mengambil paspor dan visa, kemudian mengambil kunci mobil dan langsung berjalan keluar, saat ini tujuannya adalah ke bandara.
" Mau kemana Mus?, kok kamu tergesa-gesa banget?", tanya Hendrik yang menatap Musa heran karena wajahnya begitu mendung.
" Aku mau ke Kairo, Umi sedang dirawat di rumah sakit, terkena serangan stroke, tolong kamu tetap tinggal di rumah ini dan handle semuanya ya, nanti aku telepon Ardi juga agar membantumu. Aku percayakan semuanya pada kalian berdua, termasuk pembangunan hotel, nanti di bahas juga dengan Fajar".
__ADS_1
Hendrik hanya melongo mendengar ucapan Musa tapi kemudian buru-buru berlari mengejarnya.
" Salam buat umi dan Abi, kamu tenang saja, aku dan ardi akan handle semua. Aku juga akan menemui Fajar dan mendiskusikan masalah hotel".
Musa mengangguk mendengar ucapan Hendrik dan langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Di mobil, sambil menyetir, Musa menyempatkan untuk menelepon Paman Irsyad, menceritakan keadaan umi nya, dan meminta ijin untuk mengambil cuti beberapa hari sampai uminya sembuh.
Pak Irsyad langsung memberi ijin, " kamu tenang saja, nanti saya ijinkan ketidak hadiran mu, paman dan semua warga sekolahan akan turut mendoakan untuk kesembuhan Umi kamu.
Musa juga menelepon Sari ketika dirinya sudah sampai di bandara. Setelah saling mengucapkan salam, Musa menjelaskan keadaan uminya pada Sari.
" Maaf kalau memberitahu kamu begitu mendadak, tadi Abi telepon saat Saya baru sampai di rumah. Minta doanya ya semoga Umi cepat sembuh".
Sari hanya terdiam, tenggorokan nya serasa tercekat, sepintas Sari mengingat seperti apa wajah Umi nya Musa. Wajah cantik, anggun dan adem di lihat, justru terserang stroke, Sari tidak bisa membayangkan seperti apa sedihnya Musa saat ini.
" Halo Sar.....kamu masih di sana kan?", Musa menyadarkan Sari dari lamunannya.
***
Hari demi hari telah berlalu.
Hari berganti dengan minggu, minggu berganti dengan bulan, dan bulan pun berganti menjadi tahun.
Selama dua tahun Musa tak juga kembali ke Indonesia. Sari sudah lulus SMA dan masuk kuliah di Universitas Jenderal Soedirman ( Unsoed ) Purwokerto, fakultas kedokteran. Sari masuk melalui jalur SNMPTN, karena banyak prestasi yang Sari raih, dia dengan mudah bisa di terima menjadi mahasiswa di fakultas yang di inginkan olehnya.
Sari dan Rizal masuk di fakultas yang sama, karena saat kelulusan SMA, mereka berdua mendapat peringkat tertinggi paralel se SMA negeri.
Rizal dan Sari pun kini semakin dekat, sudah tak terhitung berapa puluh kali Rizal main ke rumah Sari.
__ADS_1
Dari yang awalnya hanya menawarkan tumpangan pulang kuliah saat mas Soleh tidak bisa menjemputnya. Atau jika ada acara-acara tertentu yang mengharuskannya pulang sampai larut. Rizal dengan senang hati akan mengantarkannya pulang.
Di awal Musa pergi ke Kairo, hampir setiap hari Musa dan Sari melakukan video call, sampai beberapa minggu, dan semakin lama semakin jarang mereka saling bertukar kabar.
Memang keadaan Umi sudah lebih baik, meski belum bisa bergerak luwes seperti sebelumnya. Namun sebulan setelah Musa berada di Kairo, Musa memperkenalkan Sari pada uminya sebagai calon istri.
Namun entah mengapa Musa tak kunjung kembali ke Indonesia, alasannya selalu sama
' ingin menjaga Umi nya '
Bahkan lama kelamaan Musa dan Sari semakin jarang bertukar kabar, sudah sebulan ini Sari tidak menghubungi Musa, karena disibukkan dengan tugas kuliah yang begitu banyak.
***
Tri Hapsari gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 3 fakultas kedokteran Unsoed Purwokerto. Gadis berhijab yang selalu kelihatan cantik dan elegan.
Benar sekali, sudah hampir setahun ini Sari mulai berhijab. Berawal saat kakaknya Sari...Dimas, dinyatakan sembuh dari ketergantungan obat terlarang.
Dimas bebas dan ikut pindah ke Purwokerto atas perintah kedua orangtuanya. Triono dan Esti tidak mau putra sulungnya salah pergaulan lagi.
Kedua orang tua Sari mendaftarkan Dimas kuliah di salah satu universitas swasta di Purwokerto. Dia masuk di fakultas ekonomi, beda kampus dengan Sari.
Karena itu kini Sari tidak lagi merasa kesepian tinggal di rumah kakek Atmo, sudah ada Dimas yang juga tinggal bersama.
Sayangnya teman-teman Dimas yang dulunya ternyata satu SMA dengannya, sering ikut main kerumah dan sering menggoda Sari.
Sari yang kurang nyaman dengan sikap teman kuliah Dimas alias mantan teman-teman SMA nya, memutuskan untuk menutup semua mata yang memandangnya dengan menggunakan hijab.
Sari masih berpegang teguh pada hubungannya dengan Musa, meski komunikasi semakin tidak lancar, karena kesibukan masing-masing. Tapi sekalipun Sari tidak pernah berpikir berpaling, atau mencintai laki-laki lain.
__ADS_1
Sari hanya berharap jika sudah tiba waktunya, dia dan Musa akan di pertemukan kembali oleh Sang Maha Kuasa dalam suasana yang indah dan penuh kasih.