
Angin semilir menerpa jilbab Sari yang berwarna abu-abu, membuat jilbab dan gamis Sari sedikit berkibar. Sari yang tengah berdiri di halaman rumah kakek Atmo menatap lapangan voli yang berada di seberang jalan. Lapangan yang meninggalkan kenangan indah bersama Musa dua tahun yang lalu.
Keadaan lapangan masih sama seperti dua tahun yang lalu, bedanya malam ini tidak ada anak-anak kecil yang bermain kembang api, dan juga tidak ada suara takbir berkumandang.
Sari mendudukkan diri di undakan teras, dan menyeruput lemon tea hangat yang sengaja dibuatnya untuk menghangatkan badan, sekalian tadi bikin buat Musa dan kakek Atmo.
Musa dan kakek Atmo masih mengobrol dengan asyiknya di teras rumah. Musa yang duduk di samping Sari sesekali menepuk pundaknya, berusaha membuat Sari merasa tidak di abaikan. Karena dari tadi Kakek Atmo terus bercerita tentang lahan di daerah Baturaden, yang tak jauh dari posisi hotel Musa.
Padahal Sari baik-baik saja meski suami dan kakeknya asyik mengobrol berdua.
" Samikum...!", teriak Dimas yang baru saja masuk bersama dua kawannya, Agung dan Cahyo, yang dulu juga teman sekelas Sari saat SMA, Agung bareng Sari di kelas 12, sedangkan Cahyo bareng dengan Sari di kelas 11.
" Ucapin salam yang bener dong kak...!, artinya itu dalem banget tahu, sama seperti do'a", gerutu Sari saat mendengar Dimas mengucapkan salam dengan sembarangan.
" Iya..iya... assalamualaikum ibu nyai....", Dimas sengaja menggoda Sari dengan panggilan ibu nyai, seperti panggilan pada istri kiyai.
" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu, aamiinin saja kalau ada yang doain baik-baik", Sari enggan protes, karena ibu nyai bukan sebuah panggilan sembarangan, karena biasanya hanya istri-istri ustad dan kiyai yang menyandang panggilan itu.
" Apa kabar kamu Sar?, aku denger dari Dimas, kamu sama pak guru sudah menikah habis lebaran kemarin?, selamat ya", Agung mengulurkan tangannya menyalami Sari, kemudian juga menyalami dan mengucapkan selamat pada Musa yang sedang duduk di samping Sari, bersama kakek Atmo.
Agung, Cahyo dan Dimas masuk ke dalam rumah setelah bersalaman dengan Kakek Atmo.
" Sari ikut masuk ya Mas", ucap Sari meminta ijin bertemu teman-temannya. Musa hanya mengangguk, karena masih mendengarkan kakek berbicara.
" Kita nggak nyangka, kamu bakal nikah secepat ini. Tapi memang jodoh tidak ada yang pernah tahu kapan akan dipertemukan", gumam Agung yang jadi teringat pada Rizal jika melihat Sari.
" Apa Rizal sudah tahu kamu sama pak guru menikah?", tanya Agung saat mereka betiga duduk di ruang tamu, sedangkan Dimas langsung masuk menuju kamar mandi.
__ADS_1
" Belum tahu, dia nggak pernah tanya juga, teman kuliahku belum ada yang aku kasih tahu tentang pernikahanku ini, lagian belum di legalkan, aku baru menikah secara siri", terang Sari.
" Wah kalau Rizal tahu Sari sudah menikah dengan Pak Musa, dia pasti akan langsung patah hati, seperti perumpamaan 'kalah sebelum perang', malang nian nasibmu sobat..", batin Agung.
" Apa itu permintaan pak guru Sar?, wah jangan-jangan sebentar lagi kamu di ceraikan, agar statusnya tetap lajang saat menikahi istrinya kelak", Cahyo sengaja memanas-manasi Sari agar merasa khawatir. Membuat Sari kemudian menggebrak meja.
" Enak saja kamu kalau ngomong, nggak ada filternya, main ceplos saja. Lagian yang minta nikah siri itu aku, bukan Mas Musa, dia sih oke-oke saja kalau pernikahan kami mau dilegalkan, tapi aku yang belum siap", ujar Sari menjelaskan.
" Aku bikinin minum dulu, kalian mau minum apa?", Sari beranjak dari duduknya dengan perasaan yang sedikit kesal mendengar ucapan Cahyo barusan.
" Kopi saja Sar, racikan kopi buatan kamu kan paling pas di lidah", Cahyo memuji Sari agar tidak keterusan marah-marah nya.
Lima menit kemudian Sari keluar membawa tiga cangkir kopi, Dimas yang tadi langsung masuk kamar mandi saat pulang sudah duduk di ruang tamu juga.
" Kamu kan pihak cewek Sar, pasti rugi kalau menikah secar siri, kamu nggak khawatir kalau Pak Musa tiba-tiba berpaling?", tanya Agung penasaran.
" Sory...sory...santai dong bro...jangan ngegas, kan kita cuma penasaran, jarang-jarang ada cewek kaya kamu", Agung langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada, meminta maaf.
" Tapi nggak dirahasiakan kan pernikahan kalian?, maksudnya kalau sewaktu-waktu aku keceplosan ngomong ke teman-teman kita, nggak papa kan Sar?", tanya Cahyo, dia memang terkadang sering keceplosan dan bocor kalau sudah asyik ngobrol dengan siapapun, dan sulit sekali bisa menyimpan rahasia.
" Kamu mah biasa, bocor!, tapi nggak papa juga sih, toh nantinya juga aku sama Mas Musa bakalan melegalkan pernikahan kami", ujar Sari.
" Widih...manggilnya sekarang jadi 'Mas' nih...", goda Cahyo.
" Ya iyalah, kan sudah jadi istrinya, masa iya masih tetep panggil 'Pak Guru', kaya kalian".
" Benar juga, pasti bakalan lucu kalau di kamar terus Bobo bareng terus nanya, 'Pak guru apa bapak malam ini mau ********?', hahaha", tawa Cahyo langsung pecah.
__ADS_1
" Dasar anak nggak ada akhlak, ngomongnya begitu-begituan, kayak tahu saja, dasar Jones (Jomblo Ngenes)!", Sari semakin sewot.
Semuanya terdiam karena Sari yang terlihat marah.
" Memangnya, kapan pernikahanmu mau dilegalkan Sar?", tanya Agung memecah kesunyian.
" Nunggu ada panggilan hati!", justru Dimas yang menjawabnya. Lagian dari tadi kedua temannya justru sibuk mengobrol dengan Sari, dan dirinya di cuekin seperti tak nampak keberadaannya.
" Betul itu kata kak Dimas, nunggu ada panggilan hati, dan itu bisa kapan saja, mungkin lama, atau bisa jadi besok, kan nggak ada yang tahu kapan hati ini memutuskan". Sari berdiri dan membawa nampan kosong yang tadi di gunakannya membawa cangkir kopi, kemudian meletakkan di dapur, dan kembali ke ruang tamu dengan membawa toples berisi cemilan.
Saat Sari meletakkan toples di meja, Musa dan Kakek Atmo masuk kedalam rumah.
" Kakek mau istirahat dulu ya, meski ini malam minggu jangan kalian begadang terlalu malam, tetep jaga kesehatan", Kakek Atmo masuk kedalam kamarnya untuk tidur, karena jam sudah menunjukkan jam 9 malam.
" Lagi bahas apa?, dari tadi terdengar begitu rame dari luar, sepertinya seru banget kayak lagi reunian", ujar Musa.
" Nggak penting Pak guru, cuma lagi ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas", Agung menjawab dengan cengengesan.
" Apa kalian mau menginap di sini?", tanya Musa yang ikut gabung duduk bersama di ruang tamu.
" Rencananya sih iya Pak guru, tadi Dimas nggak bilang kalau bapak dan Sari mau datang kerumah malam ini, jadi kita setuju buat nginep. Kalau keberadaan kami mengganggu kenyamanan bapak, kita bisa batalin rencana menginapnya", terang Agung, dengan ekspresi tak enak pada Musa.
" Nggak papa kok kalau mau nginep disini, kan kamar juga masih kosong satu", ujar Musa.
" Kita mau tidur dikamar Dimas Pak, bertiga, lumayan luas juga kamarnya, sekalian mau nge-game, nyoba game keluaran terbaru, kan Dimas punya games terbaru, keren banget ! ", gumam Cahyo.
" Oke kalau kalian mau lanjut nge-game, saya tinggal ke kamar dulu ya, sepertinya Sari sudah mengantuk", Musa membuat alasan jika Sari mengantuk, padahal Sari belum ngantuk sama sekali, soalnya tadi siang sehabis mandi sambil 'bermain-main' dengan Musa di kamar mandi, Sari dan Musa tidur siang cukup lama. Jadi sekarang tidak ngantuk sama sekali.
__ADS_1
Tapi Sari terpaksa mengikuti Musa masuk ke dalam kamar, dan meninggalkan kedua teman rempong nya bersama kakak tercinta.