
Liburan sekolah telah berakhir, Sari kembali melakukan aktivitas rutin, berangkat pagi-pagi ke sekolahan, Sari langsung menuju papan pengumuman yang sedang di kerumuni banyak siswa-siswi di sana, untuk melihat di kelas mana mereka di tempatkan.
" Tri Hapsari 12 IPA 1, waduh ada teman yang bareng nggak ya?", batin Sari sambil mengamati daftar nama yang tertera di papan pengumuman , " Alhamdulillah, bareng sama Eli lagi" Sari langsung menyungging kan senyumnya.
Ternyata Sari masuk di kelas 12 IPA 1, memang ada beberapa reshuffle murid tiap tahunnya, murid dengan perolehan nilai tertinggi secara paralel akan masuk di kelas IPA 1, dan selebihnya akan masuk di kelas IPA 2, IPA 3 dan IPA 4.
Untung saja Eli juga masuk kelas yang sama lagi dengan Sari, sehingga Sari tidak begitu kesepian.
Satu kelas dengan jumlah murid sebanyak 40 anak, membuat suasana pagi hari di kelas baru Sari terasa begitu ramai.
" Wah, surprise banget ternyata kita sekelas!", seru Rizal dengan wajah sumringahnya melihat Sari masuk ke dalam kelas yang sama.
Semua mata langsung tertuju pada sosok Sari yang baru masuk, gara-gara kalimat Rizal barusan.
Rizal ingin sekali duduk di dekat bangku Sari, tapi ternyata bangku di sekitar tempat duduk Rizal sudah terisi semua, tentu saja karena Rizal most wanted nya siswi-siswi di sana, sudah sewajarnya para siswi itu ingin duduk di dekat bangku Rizal.
Sari mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Dan melihat Eli yang sedang melambaikan tangan kepadanya.
" Duduk Sini Sar !", seru Eli yang sudah sampai terlebih dahulu dan sudah memilih kursi sebagai tempat duduk mereka untuk setahun kedepan.
Benar sekali, hari ini adalah hari penentu dimana siswa akan memilih dimana mereka akan duduk, dan bagi yang datang terlambat harus menerima tempat duduk sisa yang tidak dipilih oleh yang datang lebih awal.
Sari tersenyum mendapati sahabat barunya itu sudah lebih dulu berangkat dan memilih kursi di bagian depan meja guru, sama seperti di kelas 11 dulu.
Padahal tidak perlu berangkat lebih awal juga siswa yang lain tidak akan mungkin memilih bangku itu. Bangku yang berada persis di depan meja guru itu adalah bangku terakhir yang akan di pilih oleh para siswa. Di cap dengan sebutan ' bangku horor '.
Tapi justru Eli dan Sari sudah nyaman untuk menempati bangku di posisi itu, Sari merasa lebih jelas mendengar penjelasan dari guru jika posisi duduknya lebih dekat dengan meja guru.
Eli yang sepaham dengan pemikiran Sari tentu saja menjadi partner yang tepat, karena pola pikir mereka yang sejalan.
Sari langsung menghampiri Eli dan berpelukan dengannya, " Eli... kamu memang selalu bisa di andalkan".
" Berangkat dari rumah jam berapa?, pasti pagi banget ya?", tanya Sari sambil melepas pelukannya dan meletakkan tas ranselnya di bangku barunya.
" Duduk dulu Sar", Eli menarik tangan Sari untuk duduk seperti dirinya.
__ADS_1
" Aku juga baru sampai, belum lama, selisih 3 menit dari kedatangan kamu . Oh iya kemarin liburan sekolah pergi kemana?", tanya Eli sambil merubah posisinya menghadap ke arah Sari.
" Nggak kemana-mana, mau balik ke Malang juga nggak jadi. Mama sama Papa malah lagi tugas di luar negeri, jadi kalau pulang pun nggak ada orang di rumah. Mending disini nemenin kakek", ujar Sari dengan wajah sedikit kecewa, karena rencananya untuk menengok Kak Dimas gagal.
" Kenapa nggak nyusul mama sama papa kamu saja ke luar?", kadang Eli memang rada lemot cara berpikirnya.
" Please deh El..., aku belum berani pergi ke luar negeri sendiri, lagian mama sama papa di sana itu sedang bekerja, bukan liburan, kalau aku nyusul ke sana, yang ada aku cuma diem terus di hotel, nunggu mereka pulang kerja, ih... ogah banget", ujar Sari sambil mencibirkan bibirnya.
" Iya juga sih, hehehehe...", Eli terkekeh.
" Kamu liburan kemana?, pasti asyik ya jalan-jalan bersama keluarga?", tanya Sari.
" Nggak jauh-jauh, aku pergi ke Bandung, bude aku kan ada yang tinggal disana, sekarang jadi warga sana, terus punya perkebunan bunga yang luas, jadi sekalian jalan-jalan, juga silaturahmi, sambil menyelam minum air".
" Nih aku tunjukkin foto-foto yang aku ambil di kebun bunga milik bude kemarin, asli indah banget buat foto-foto". Eli membuka galeri ponselnya dan menunjukan beberapa Foto yang dia ambil di kebun bunga.
" Woow..!!, ada danau nya juga di dekat kebun bunga?", Sari langsung fokus pada danau kecil di dekat kebun bunga dari foto yang ditunjukkan oleh Eli.
Eli mengangguk ," iya, indah banget kan Sar?. Aku sudah berencana kalau jadi daftar kuliah di Bandung, aku mau tinggal di rumah bude saja, yang pemandangannya indah, sekaligus gratis , hahahaha", tawa Eli pecah.
" Loh kok kamu duduk disitu?, sejak kapan?", tanya Sari yang kaget karena Rizal membawa tas dan juga teman sebangkunya pindah di belakangnya.
" Sejak Eli bilang mau kuliah di Bandung", jawab Rizal santai, " asyik banget ngobrolnya sampai ada orang duduk dibelakangnya nggak disapa", gurau Rizal.
" Eh iya, sorry, nggak denger kamu pindah duduk disitu. Kenapa kamu pindah?", Sari jadi penasaran.
" Biar duduknya berdekatan sama kamu", jawab Rizal enteng. " Kenalin nih Agung, bestfriend aku, kelas 11 kita juga duduk sebangku", Rizal memperkenalkan Agung dengan Sari.
" Hai, aku Sari, dan ini Eli teman sebangkuku sejak kelas 11 juga", giliran Sari yang memperkenalkan teman sebangkunya.
" Sudah kenal aku sama Eli, kelas 10 kita sekelas, ya kan El?", sapa Agung.
Eli mengangguk, " iya, kelas 10 Agung jadi peringkat pertama di kelas, makanya bisa masuk 11 IPA 1", terang Eli.
" Sayangnya setelah masuk IPA 1, jadi susah buat dapet rangking lagi", ujar Agung sambil terkekeh, " Nih juara bertahan, nggak tau sama orang tuanya di kasih makan apa, sampai bisa jadi pinter begitu", Agung menunjuk ke arah Rizal dengan dagunya.
__ADS_1
Interaksi mereka ber empat membuat beberapa murid lain merasa tidak suka pada Sari, apa lagi yang sudah datang pagi-pagi sekali dan sengaja mencari tempat duduk di samping Rizal, dan semuanya berantakan karena Rizal memilih untuk pindah bangku yang ada di belakang Sari.
***
" Selamat pagi anak-anak... saya bu Nindi, wali kelas kalian di kelas 12 IPA 1, seperti kalian tahu ibu adalah guru mata pelajaran biologi jadi selain saat perwalian, kita juga akan bertemu setiap ada jam mata pelajaran biologi". Bu Nindi adalah guru muda yang baru mengajar selama 3 tahun di SMA negeri, beliau baru berusia 27 tahun, dan masih singgle.
Banyak yang tahu kalau Bu Nindi sedang PDKT dengan salah satu guru di SMA negeri juga. Guru itu adalah Pak Musa, guru agama yang baru setahun mengajar di sekolah yang sama. Namun justru hati Musa telah terpikat oleh seorang siswi cantik yaitu Sari.
" Baik untuk pertemuan pertama kita, ibu ingin kalian membentuk kepengurusan kelas terlebih dahulu, apa ada yang mau dengan suka rela menjadi ketua kelas?", pertanyaan Bu Nindi membuat suasana kelas menjadi senyap, tidak ada yang berniat untuk mengajukan diri.
" Ada yang punya pandangan calon kandidat yang kompeten?", Bu Nindi mengajukan pertanyaan lain.
" Rizal Bu !"
" Rizal saja ! "
" Rizal kompeten !"
Teriak murid-murid di kelas itu.
" Iya, Rizal di kelas 11 juga jadi ketua kelas, sekaligus ketua OSIS", teriak salah satu siswi yang duduk di tengah-tengah.
" Oke Rizal jadi kandidat pertama, apa ada calon lain?", ucap Bu Nindi sambil menatap ke arah Rizal yang duduk dengan begitu tenangnya.
" Agung Bu, dia dulu ketua kelas di kelas 10", ada yang meneriakkan nama Agung juga.
Dan setelah melalui voting pengambilan suara terbanyak, Rizal terpilih menjadi ketua kelas, dan agung menjadi wakilnya.
" Untuk kepengurusan yang yang lain seperti sekertaris, bendahara, dan seksi-seksi, ibu serahkan pada Rizal dan Agung untuk memilih yang bisa di ajak kerja team", ujar Bu Nindi.
" Kalian diskusikan sendiri terlebih dahulu, karena ibu ada rapat guru sekarang. Untuk mencatat jadwal pelajaran bisa suruh sekertaris kelas ke ruang guru, jadwal terpajang di papan white board di sebelah pintu masuk ruang guru", usai menjelaskan semuanya, Bu Nindi keluar dari kelas untuk mengikuti rapat.
Rizal memanfaatkan jabatan yang dimilikinya untuk menjadikan Sari lebih dekat dengannya, dengan memilih Sari menjadi sekertaris kelas dan Eli sebagai bendahara 1.
" Sekarang lakukan tugas pertama kamu untuk pergi ke ruang guru dan mencatat jadwal pelajaran kelas kita, aku temani ya... takutnya kamu nggak tahu dimana tempatnya", Rizal langsung modus, melancarkan aksinya untuk pendekatan.
__ADS_1
Agung yang tahu niat terselubung sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sahabatnya itu.