
Sari bangun dari tidur siangnya ketika jam dinding menunjukan pukul 12.30 WIB. Sari hanya sedikit menggeser posisinya menghadap ke Musa.
Mengamati wajah Musa yang semakin lama semakin terlihat begitu mempesona, Sari menempelkan ujung jari telunjuknya menelusuri alis Musa yang tebal, turun menyentuh hidung, ke bawah hingga menyentuh bibirnya.
Meski sudah 3 tahun menikah dengan Musa, tapi jujur Sari justru semakin hari semakin mencintai Musa, bagi Sari Musa adalah anugrah terindah yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa untuknya.
Namun keisengannya memandangi wajah Musa langsung berakhir, Sari begitu terkejut ketika tiba-tiba Musa membuka matanya, sambil tersenyum lebar,
" Se-sejak kapan Mas terbangun?", Sari langsung menarik jarinya yang tengah menyentuh bibir Musa, dan meringkuk masuk ke dalam selimut. Musa langsung tersenyum geli melihat tingkah Sari.
" Sejak merasa ada yang menyentuh alis, kemudian hidung dan bibir Mas", Sari semakin meringkuk malu mendengar jawaban Musa.
Tapi justru Musa jadi semakin gemas dengan sikap Sari yang malu-malu seperti itu. Dan memeluk tubuh Sari yang di bungkus selimut beberapa menit, kemudian ikut memasukkan kepalanya ke dalam selimut. " Kenapa sembunyi?".
" Sari malu sama Mas Musa" jawab Sari.
" Malu kenapa?, ini kan bukan yang pertama kali, bahkan sudah yang ke berapa ya?, Mas sampai tidak ingat sudah berapa kali kita melakukannya".
" Bukan begitu, Sari malu karena tadi Sari yang ajak duluan, biasanya kan Mas duluan yang nanya ke Sari", gumam Sari masih meringkuk dan bersembunyi di dalam selimut.
Apalagi Sari tadi begitu bersemangat dan bergairah hingga berulang kali mencapai klimaks, kesannya seperti Sari yang begitu 'menginginkannya'.
" Sayang... justru itu bagus, Nabi Muhammad SAW, berpesan kepada putrinya Siti Fatimah RA “Wahai Fatimah, tiada seorang perempuan yang menyiapkan diri untuk suaminya dengan senang hati kecuali seorang (malaikat) menyeru dari langit: ‘mulailah beraksi’ niscaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang kemudian” ( dikutip dari Jurnal Garut dari Hadist Syekh M Nawawi Banten).
" Seorang istri yang meminta hajat atau berjima lebih dulu kepada suaminya, maka akan mendapat fadhilah atau kemuliaan sebagaimana di kitab Adabun Nisa’ karya Abdul Malik bin Habib (Abu Marwan) Al-Qurthubi:
Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka, Allah akan memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh, dan dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan" ( Dilansir dari laman Pustaka Ilmu Sunii Salafiyah).
" Jadi kamu tidak perlu malu, karena justru jika kamu yang menawari Mas dahulu setiap hendak berhubungan, maka kamu akan mendapat banyak pahala". Musa menjelaskan panjang lebar pada Sari.
Sari yang mendengar penjelasan Musa itu perlahan menyibak selimut yang menutupi kepalanya. " Benarkah?, mas nggak bohong kan?, itu ada hadist nya beneran?, bukan karena ingin menghibur Sari?", tanya Sari penasaran.
" Iya beneran, masa Mas bohong, kamu itu ada-ada saja... sudah siang, ayo kita bangun, sudah kelewat waktu sholat Dzuhur, kita bersihkan diri dulu, mandi junub, baru kita sholat Dzuhur berjama'ah". Musa menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, mengambilkan pakaian Sari yang bercecer di lantai, mengenakan pada Sari, kemudian menuju kamar mandi bersama-sama.
Selesai sholat Dzuhur, Sari keluar kamar terlebih dahulu, karena Musa masih harus berdzikir panjang seperti biasanya, dan di ruang tengah Sari mencari-cari keberadaan penghuni rumah yang lain, tapi suasana sangat sepi. Saat Sari memutuskan ke dapur untuk mengambil makan siang, Sari menjumpai bi Nunung yang tengah menyapu lantai dapur.
" Yang lain kemana bi?, kok sepi?", Sari mengambil gelas dan mengisi penuh dengan air putih, kemudian meminumnya hingga tandas.
__ADS_1
" Yang lain baru saja masuk ke kamar masing-masing, mau tidur siang katanya, tadi sudah pada makan siang, tadi bibi ketok-ketok pintu kamar mba Sari , di suruh kakek ajakin Mba Sari dan ustadz Musa makan siang bersama, tapi nggak ada jawaban, mungkin mba Sari sama ustadz Musa tadi lagi nyenyak tidur siang, makanya yang lain makan siang terlebih dahulu. Kalau mba Sari sama ustadz Musa mau makan siang biar bibi angetin lauknya" , Bi Nunung mengeluarkan lauk dan sayur dari dalam lemari.
" Nggak usah di angetin bi, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi", Sari mengambil mangkuk sayur dan lauk dan membawanya ke meja makan, kemudian mengambil nasi dari magicom, untuknya dan Musa.
Musa keluar masih menggunakan peci, baju Koko dan sarung selesai sholat Dzuhur dan berdzikir tadi.
Bi Nunung yang melanjutkan kegiatan menyapu lantai dan sudah sampai di ruang makan melihat Musa keluar dengan pakaian seperti itu begitu terlihat tampan.
" Masya Allah... ustadz Musa mengingatkan bibi waktu pertama kali Ustadz datang kesini, pakai baju Koko, sarung dan peci begini. Ganteng banget, rasanya adem melihatnya".
Musa yang kini hendak duduk di kursi makan, hanya tersenyum mendengar perkataan bi Nunung.
" Habis sholat belum sempat ganti Bi, sudah lapar banget, jadi mau makan dulu", jawab Musa jujur. Mungkin kegiatan di atas ranjang tadi menguras banyak energi, sehingga Musa merasa begitu lapar.
Sari mengambilkan Musa nasi dan lauknya, baru kemudian hendak mengambil untuk dirinya sendiri, namun Musa justru mengambil piring Sari dan mengambilkan lauk untuk Sari. Menyendok nasi dan menyuapkan pada Sari. Sari langsung tersenyum simpul baru membuka mulutnya menerima suapan dari Musa.
" Waduh... romantisnya, kayak pengantin baru saja, padahal sudah 3 tahun menikah, tapi masih tetep co cweat ", goda Bi Nunung yang memperhatikan Sari dan Musa di meja makan.
" Bibi mau?, makanya menikah lagi bi, sudah sangat lama bibi menjanda, apa bibi nggak kepikiran buat menikah lagi", tanya Sari di sela makannya.
Dua tahun yang lalu memang putra bi Nunung, Soleh sudah menikah, dan sekarang sudah dikaruniai anak perempuan baru berumur 8 bulan. Soleh masih tinggal bersama Bi Nunung karena keinginan bi Nunung yang merasa kesepian tinggal sendirian.
Putra bi Nunung yang kedua, Ridwan.... sudah lulus kuliah, dan kini bekerja di Jogja dan ngekos di sana. Ridwan memang termasuk orang yang beruntung, di jaman yang sulit mencari pekerjaan seperti sekarang ini, Ridwan bisa langsung di terima bekerja di perusahaan besar, karena setelah lulus kuliah Ridwan mengajukan lamaran kerja di perusahaan besar di Jogja dan langsung dapat panggilan interview, besok harinya langsung diterima bekerja.
Oleh karena itu bi Nunung meminta Soleh dan istrinya untuk tinggal bersamanya.
" Benar sekali Bi, berapa usia cucu bibi sekarang?, Sari sudah lama sekali tidak melihatnya, terakhir lihat pas dulu beberapa hari setelah lahiran, masih bayi merah", ucap Sari.
" Sudah 8 bulan, lagi montok-montoknya, pokoknya ngegemesin banget Mba".
Bi Nunung yang selesai menyapu lantai kembali ke dapur setelah meletakkan sapu pada tempatnya.
Sari dan Musa juga sudah selesai makan siang.
Sari menaruh piring ke tempat cucian dan mencuci tangannya.
" Nanti Sari sama Mas Musa ikut main ke rumah bibi ya kalau bibi mau pulang ke rumah?, pengin lihat cucu bibi, siapa namanya Bi?".
__ADS_1
" Namanya Aisyah, biasa di panggil 'Ai' sama mama papanya", jawab bi Nunung.
" Kabari Sari kalau bibi mau pulang, biar Sari sama mas Musa ikut".
Sari masuk ke kamar, mengambil kunci mobil , Hp dan dompet, kemudian menghampiri Musa dan mengajaknya keluar rumah.
" Mau kemana?", tanya Musa penasaran karena Sari mengajaknya pergi begitu saja.
" Kita jalan-jalan ke baby shop terdekat Mas, beli baju-baju bayi cewek buat cucunya bi Nunung. Nanti sore kita ikut bi Nunung kerumahnya, sudah lama Sari nggak lihat cucunya bi Nunung".
Duapuluh menit perjalanan, Sari dan Musa sampai di baby shop terdekat. Sari langsung masuk ke dalam toko.
" Selamat siang bapak ibu, mau cari apa?, persiapan buat calon baby ya Bu?", karyawan toko yang masih sangat muda menyapa kedatangan Sari dan Musa dengan sangat ramah.
Namun pertanyaan karyawan baby shop tadi justru membuat Sari tersipu malu, " apa aku kelihatan kayak orang lagi hamil muda?", batin Sari.
" Eh bukan Mba, kami mau cari baju bayi cewek 8 bulanan, di sebelah mana ya mba?" Karyawan perempuan itu pun mengantar Sari menuju tempat baju-baju bayi perempuan, Musa hanya mengekor di belakang Sari.
Sari begitu terpesona melihat baju bayi perempuan yang sangat lucu-lucu.
" Mas lihat ini, lucu-lucu banget ya bajunya, bikin gemes lihat baju bayi cewek", Sari begitu antusias mengambil beberapa baju bayi yang menurutnya paling lucu".
Saat berjalan menuju kasir, Sari juga melihat sepatu bayi yang sangat cantik. Berwarna pink bertabur bunga-bunga kecil berwarna warni di bagian atasnya. Sari pun mengambil sepatu itu.
Sampai di kasir Sari membayar semua barang belanjaannya dan meminta pada kasir untuk membungkusnya menjadi kado.
Sari dan Musa keluar dari baby shop dan langsung pulang menuju rumah kakek Atmo.
Di perjalanan Sari mengajak ngobrol Musa dengan sedikit berkhayal.
" Mas , kalau Tuhan mempercayakan kepada kita seorang anak, Mas pengennya kita punya anak cewek apa cowok lebih dahulu?", tanya Sari yang menatap Musa yang tengah serius menyetir mobil membelah rintik hujan yang mulai mereda.
" Se-dikasihnya saja, Mas suka semuanya baik cewek maupun cowok, kamu bertanya seperti itu, apa kamu sudah siap untuk hamil?" Musa balik bertanya.
Sari mengangguk pelan. " Cita-cita Sari sebentar lagi akan tercapai, jadi tinggal berdoa dan berharap semoga Sari secepatnya hamil, biar keinginan Umi, Abi, mama dan papa jadi kenyataan, bisa menimang cucu secepatnya", gumam Sari.
" Istri Mas memang semakin bijaksana, bikin Mas makin sayang sama kamu", Musa menggenggam tangan kanan Sari menggunakan sebelah tangannya dengan begitu erat.
__ADS_1