Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Liburan yang sempurna


__ADS_3

" Kamu mau ikut naik motor lagi, atau mau naik mobil sama Ardi?", Musa memberi pilihan pada Sari, karena rute ke penginapan adalah turunan yang sangat curam.


Sari menengok ke arah Ardi yang nyengir kuda, menatap ke arah Sari.


" Sari sama Ustadz saja", jawab Sari sambil naik ke atas boncengan motor. " Ogah banget naik mobil berdua sama cowok yang hobinya cengar-cengir nggak jelas", batin Sari.


" Nggak takut jatuh dari motor neng..., jalannya curam banget loh", gumam Ardi sambil matanya melirik kearah aspal jalan yang miring.


" Nggak takut tuh, udah pernah jatuh dari motor, nggak sakit juga", Sari berbicara dengan acuh, tanpa menatap ke arah Ardi.


" Ayo Tadz, kita jalan", Sari meminta Musa menjalankan motornya.


Musa dan Sari kembali berboncengan motor, kali ini Musa memilih untuk melajukan motornya dengan pelan-pelan karena melewati lintasan yang curam.


" Kok pelan banget sih Tadz, tadi berangkatnya bisa ngebut banget, sengaja ngulur waktu, biar bisa lama-lama di atas motor ya?", tuduh Sari, yang menganggap seolah Musa mencari kesempatan untuk berdua dengannya. Meski sedikit ada benarnya juga tuduhan itu, tapi alasan utamanya karena untuk keselamatan saja.


" Kamu itu nggak bisa diam apa?, ini jalan turunan, kalau cepet-cepet takutnya kebablasan, harus pelan-pelan, kalau tadi berangkatnya kan jalan naik, cepet-cepet juga nggak bakal kebablasan, aman, jadi jangan main tuduh kalau saya nyari kesempatan", gumam Musa menolak tuduhan Sari yang sebenarnya ada benarnya juga.


" Tapi Sari sudah ngantuk, pengin tidur siang. Jadi lebih cepat lagi bisa kan?", Sari terus protes.


Akhirnya Musa mempercepat laju motor yang dikendarainya, sesuai keinginan Sari, membuat Sari tersentak dan refleks memegang pinggang Musa sebagai pegangan.


Deg....


Genggaman tangan Sari membuat Musa kaget, dan merinding karena selama hidupnya baru kali ini ada seorang gadis yang mencengkeram pinggangnya. Karena kaget Musa tak sengaja menginjak rem motor secara mendadak dan...


Bug....


Tubuh Sari merosot dan nemplok di punggung Musa, membuat Musa semakin grogi dan mengeluarkan keringat dingin karena dua gundukan di bagian dada Sari saat ini menempel di punggungnya.


" Astaghfirullah hal'adzim" !, batin Musa, mencoba menetralkan suasana hati nya yang semakin tidak menentu.

__ADS_1


" Aduh..., ustad ini kok main ngerem mendadak, Sari jadi nggak bisa jaga keseimbangan", Sari kembali mundur dan menjaga jarak dari Musa.


Hingga beberapa menit kemudian mereka sampai di penginapan.


Sari langsung turun dari motor dan berlari menuju ke kamarnya.


" Oh my God, bagaimana bisa perutnya begitu kencang, dan punggungnya begitu bidang", batin Sari sambil tersipu sendiri mengingat momen yang baru saja terjadi padanya beberapa menit yang lalu.


Sari menangkupkan kedua tangannya di pipinya yang merona. Sari sengaja cepat-cepat lari ke kamar untuk menutupi pipinya yang sudah semerah tomat.


" Kenapa Mba Sari?, kok pipinya merah begitu, habis makan makanan pedas ya?", tebak Bi Nunung saat melihat pipi Sari yang memerah.


" Eh, bibi, sudah bangun, tadi pas Sari mau keluar buat nyari makan, bibi lagi tidur, jadi Sari tinggal, mau di bangunin kayaknya lagi nyenyak banget, takut ganggu. Iya tadi Sari sudah makan", gumam Sari asal menjawab, meski alasan pipinya yang merah bukan karena konsumsi makanan seperti perkiraan bi Nunung.


" Iya nggak papa Mba Sari, ini bibi baru selesai sholat, baru bangun dari tadi, tidur disini rasanya nyenyak banget, hawanya adem, jadi buat tidur nyaman banget Mba, mba Sari sudah makan ya, makan apa?, malah bibi jadi nggak masakin buat makan siang", wajah bi Nunung tampak merasa bersalah.


" Nggak papa Bi, di dapur ada koki yang biasa masak buat para penyewa kamar. Jadi Sari tadi makan nasi goreng super pedas, enak banget Bi, kalau bibi mau, ke dapur saja, minta di buatin sama koki itu, sekalian minta resepnya, biar bisa bikin pas sudah di rumah nanti", ujar Sari sambil menuju kamar mandi, untuk cuci tangan dan kaki sebelum tidur siang.


***


Hari pertama di penginapan kakek Atmo, semua sibuk dengan urusan masing-masing, hingga esok harinya, semua bangun pagi untuk subuh berjama'ah, dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju 'pancuran Pitu ' , salah satu wahana di Lokawisata Baturaden.


" Kalian hati-hati ya, kalau capek, istirahat dulu soalnya medannya terjal", pesan kakek Atmo saat rombongan hendak berangkat memulai perjalanan menuju Lokawisata Baturraden menggunakan mobil.


" Paling mobil bisa sampai di parkiran, ke atasnya kita jalan kaki, tapi spotnya indah-indah banget", terang Soleh yang sudah berkali-kali main ke sana.


Sampai di Lokawisata, Soleh memarkirkan mobil dan mulai perjalanan menuju Pancuran Pitu.


" Mba Sari tahu nggak kenapa tempat ini di beri nama Baturraden?", tanya Bi Nunung yang berjalan di samping Sari.


" Memang kenapa Bi?, bukankah memang itu nama dari kecamatan di sini?", ternyata Sari belum mengetahui mitos tentang sejarah Baturraden.

__ADS_1


" Bukan begitu Mba, Kalau sejarahnya, nama tempat ini berasal dari seorang anak bupati (Raden) dan anak pembantu (Batur) yang diketahui berhubungan namun tidak disetujui, kemudian tempat ini jadi dinamakan Baturaden. Mitos yang beredar mengatakan bahwa sebagian besar pasangan yang ke sini berakhir dengan putus, begitu mitosnya Mba Sari", Sari yang baru pernah dengar ada mitos semacam itu tiba-tiba langsung menatap ke arah Musa, bersamaan tepat saat Musa juga menatapnya.


" Bi... kalau cuma teman, nggak bakal putus hubungan kan?", tanya Sari penasaran.


" Ya nggak lah Mba, itu kan mitosnya buat yang pasangan kekasih, kalau sama teman ya nggak papa", ucap Bi Nunung menjelaskan.


Sari mengangguk-angguk mendengar ucapan Bu Nunung, sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol dan sesekali melakukan foto selfy dan wefy, sehingga tidak terasa mereka ber lima sampai di Pancuran Pitu.


Sari langsung memasukkan kakinya ke aliran air yang terasa hangat itu .


" Aww....!", jerit Sari saat pertama kali memasukkan kakinya ke air.


Musa langsung berlari ke arah Sari, " kenapa Sar?, apa kamu terluka?", tanya Musa khawatir.


" Aduh, please deh jangan sok perhatian seperti itu, Sari bisa jadi salah sangka kalau terus di perhatiin begitu sama ustadz", batin Sari.


" Nggak papa Tadz, cuma tadi goresan gara-gara kena rumput liar dan ilalang kemarin terasa perih pertama kena air tadi, sekarang sudah nggak papa kok", terang Sari, kemudian melanjutkan bermain-main air hangat yang keluar dari pancuran itu, air yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung belerang.


Musa mendekat ke arah Sari dan menatap ke arah kakinya yang memang benar terdapat beberapa goresan ilalang. Tapi perlakuan Musa dengan memperhatikan betis kakinya lagi-lagi membuat Sari salah tingkah.


Bi Nunung, Ridwan, dan Soleh memilih untuk melakukan pijat kaki saat sampai di sana, lokasinya beberapa meter dari posisi Sari saat ini, hanya membayar 10 ribu untuk menikmati pijatan kaki kanan dan kiri.


Alhasil Musa dan Sari tinggal berdua bermain-main air hangat. Sesekali Musa mengambil foto Sari secara diam-diam.


Ternyata sejak masih di bawah tadi Musa sudah mengambil beberapa foto Sari. Meski dia sendiri belum yakin perasaannya, tapi tindakannya mulai lepas kontrol, tidak sesuai dengan perintah otak.


Akhirnya Musa mengikuti apa keinginan hatinya saja. Toh masih normal kan seorang pria menyukai seorang gadis, meski jarak usia yang cukup jauh, banyak juga pasangan yang selisih umurnya lebih dari 8 tahun, jadi sah-sah saja perasaan Musa pada Sari saat ini.


Musa mendekat ke Sari dan ikut bermain-main aliran air hangat bercampur belerang yang mengalir dari ketujuh pancuran itu.


Rasanya begitu nyaman, bermain air hangat di udara pegunungan yang sejuk, dan bersama dengan seseorang yang menjadi tambatan hatinya, sebuah perpaduan yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2