Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kecewa


__ADS_3

Sari hendak kembali ke kelasnya saat teman-temannya sudah selesai bersalam-salaman, namun langkahnya terhenti saat Bu Berta memanggilnya.


" Sari, tolong kamu ke ruang guru sebentar sebelum kembali ke kelas ya..", pinta Bu Berta.


" Baik Bu", Sari berjalan mengekor di belakang Bu Berta persis, beberapa guru menatapnya karena gips pada tangannya menarik perhatian semua guru. Hingga Sari sampai di ruang guru.


" Minal 'aidzin wal Faidzin ya Bu, mohon maaf lahir batin, maaf juga tadi Sari nggak masuk ke barisan, nggak mungkin juga bersalaman dengan siapapun saat ini", ucap Sari mencoba menjelaskan.


" Iya, mohon maaf lahir batin juga, nggak papa semua juga lihat perban di tangan kamu, semua warga sekolah, juga pasti sudah mendengar kejadian yang menimpa kamu dan bisa memakluminya", tukas Bu Berta sambil tersenyum ramah.


" Ibu kenapa minta Sari kemari?".


" Sebenarnya sekolahan dapat undangan dari salah satu saluran radio, untuk melakukan wawancara khusus untuk pemenang debat kemarin ...."


" Maaf Bu saya baru sampai", Rizal yang baru saja datang memohon maaf karena keterlambatannya.


" Nggak papa, ibu baru sedang menjelaskan sama Sari, ibu ulang ya".


" Sekolahan dapat undangan dari salah satu saluran radio untuk melakukan wawancara pada kalian berdua yang kemarin memenangkan lomba debat. Ibu belum menyetujui karena mengingat kondisinya Sari masih belum benar-benar sembuh, ibu minta pendapat kalian berdua, mau di terima atau tidak permintaan dari pihak radio, mereka bilang akan ada uang transport dan bingkisan sebagai ucapan terima kasih kalau kalian mau di wawancarai", Bu Berta menjelaskan panjang lebar.


" Saya tidak masalah, tapi keputusan saya ngikut Sari saja Bu, kalau dia setuju, saya juga setuju, kalau Sari nggak bisa, saya juga nggak bisa".


Jawaban Rizal yang lugas, tertangkap telinga Musa, membuat Musa menggelengkan kepalanya.


" Bagaimana Sar, keputusan mu?", tanya Bu Berta.


" Kapan jadwal wawancara nya Bu?", Sari balik bertanya.


" Baru akan di agendakan kalau kalian sudah setuju", jawab Bu Berta.


" Saya setuju, Buguru", Sari menyetujui permintaan pihak radio.


" Tapi kamu nggak papa dengan ini?", tanya Rizal sambil menyentuh gips yang masih menempel di tangan Sari dengan jari telunjuknya.


" Nggak papa Zal, jangan khawatir dengan ini, sudah mulai terbiasa pergi-pergi dan mendapat tatapan aneh dari orang yang melihatnya", terang Sari.


Sari dan Rizal keluar dari ruang guru bersama, mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas mereka yang bersebelahan. Saat melewati meja Musa, Sari tidak menyapa Musa sama sekali, justru Rizal yang tersenyum dan menundukan kepalanya sejenak.


Musa menyadari hal itu, mungkin sikapnya beberapa hari yang lalu membuat hubungan nya dengan Sari menjadi kurang baik. Apalagi saat H+2 lebaran, dimana pertemuan mereka yang terakhir , sebelum akhirnya kembali bertemu hari ini.


Perjalanan yang membuat Sari kecewa dan memilih untuk tidak lagi memikirkan Musa, mulai hari itu.

__ADS_1


***


Flashback on


" Assalamualaikum...", ucap para tamu serempak, ada pak Irsyad dan keluarga, juga Musa bersama orangtuanya datang bersilaturahmi ke rumah Kakek Atmo.


" Wa'alaikum salam...., wah ada tamu jauh", kakek Atmo bercanda saat mengetahui yang datang adalah pak Irsyad tetangga rumahnya.


" Iya ini Pak Atmo, tamu jauh sekali, dari negeri seberang, hahahaha", tawa mereka pecah bersamaan.


Dan semua kembali sepi saat mereka mulai bermaaf-maafan, saling bersalaman dan duduk-duduk di ruang tamu.


" Sari dimana kek?", tanya Azka yang tidak menemukan keberadaan Sari.


" Ada di belakang, katanya di depan panas dan rame, jadi ngadem di belakang".


" Soleh..., tolong panggil Sari untuk keluar, ada guru-guru nya datang", seru kakek Atmo pada Soleh.


" Baik Kek", Soleh langsung lari ke dalam rumah untuk memanggil Sari.


Tak lama kemudian Sari keluar bersama Soleh dan bi Nunung yang membawa nampan berisi minuman untuk para tamu.


Saat Bi Nunung sibuk meletakkan satu persatu gelas untuk tamu, Sari menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan meminta maaf pada semua tamu yang ada. Termasuk pada kedua orang tua Musa dan terakhir pada Musa.


" Sejak kapan kalian akrab?", tanya Mama Esti saat melihat Sari dan Azka terus ngobrol sejak tadi.


" Baru saja ma, kenal juga baru semalam", jawab Sari.


" Benarkah?, ibu kira kalian sudah saling kenal sejak lama, kan tiap lebaran kita silaturahmi ke sini, ternyata baru kenal, tapi kok sudah kelihatan akrab", ujar Bu Santi...ibunya Azka yang Justru begitu senang putranya dekat dengan cucunya Kakek Atmo.


" Memang baru kenal semalam Bu, tapi Sari anaknya asyik dan nyambung diajak ngobrol, jadi nggak ngebosenin", terang Azka, yang memang sudah merasa tertarik pada Sari sejak awal melihatnya.


" Tante Esti, kalau Sari besok aku ajak jalan-jalan boleh nggak?", tanya Azka begitu percaya diri di depan semua keluarga.


Esti yang sejak dulu hidupnya tidak banyak aturan, memang tidak pernah mengekang Sari untuk bermain dengan siapa dan pergi kemana, karena Sari sendiri yang seringnya menolak untuk pergi-pergi, Sari memang tipe gadis rumahan. Karena itu Esti tidak terlalu mengkhawatirkan Sari.


" Tante si nggak masalah, terserah Sari nya saja, mau apa nggak, soalnya dia kan belum sembuh total", jawab Esti.


Sari yang di minta untuk memberi jawaban merasa bingung, mau menolak tidak enak, mau menerima juga sebenarnya malas.


Sari berusaha mendapat jawaban dengan menatap Musa, tapi sayangnya hanya sekejap mereka bertemu pandang, dan Musa langsung memalingkan wajahnya ketika Sari berusaha mencari jawaban dari tatapan mata Musa. Sari merasa sangat kecewa dengan perubahan sikap Musa saat ini.

__ADS_1


" Memangnya mau kemana Kak Azka?, sekedar informasi, Sari nggak suka tempat-tempat yang rame dan panas", ucap Sari.


" Kita mau ngadem ke Air terjun di Cipendok, bareng sama teman-teman komplek sini juga, nanti sekalian kamu ku kenalkan sama remaja-remaja komplek sini, bukankah sekarang kamu sudah menetap disini?", ujar Azka.


" Ada benarnya juga ucapan Azka, mungkin sebaiknya aku ikut, agar kenal dengan anak-anak komplek sini", pikir Sari.


" Baiklah aku ikut kalau memang perginya rame-rame", jawab Sari.


" Sekalian Musa di ajak dong Ka, dia kan juga belum tahu banyak tempat-tempat di daerah sini", gumam Umi yang tahu kalau sebenarnya ada yang mengganjal di hati putranya.


" Boleh, besok datang saja ke rumah jam 7 pagi kita berangkat", terang Azka.


\=\=


Besoknya Azka mengajak Sari untuk pergi ke Curug yang di maksud, sebelum pergi Sari berpamitan pada kakek dan kedua orangtuanya. Ternyata anak-anak remaja yang tinggal di komplek kakek Atmo cukup banyak.


Azka memperkenalkan Sari pada teman-temannya. Azka semobil dengan Musa, Sari, Anggi dan Fera.


Anggi dan Fera teman se kelas Azka waktu di SD, Anggi yang sekarang kuliah di Jogja dan Fera kuliah di fakultas kedokteran UMP.


Ada tiga mobil yang berangkat pagi itu, total rombongan ada 13 anak. Dan Sari yang paling muda diantara mereka semua.


Mereka saling bercerita dan mengenal satu sama lain, sepanjang perjalanan. Dan semuanya terdiam saat mobil sudah dekat dari lokasi air terjun, ternyata jalan yang dilewati lumayan memacu adrenalin, tanjakan dan turunan yang ekstrem, juga jalan sempit yang pinggirnya adalah tebing, benar-benar membuat spot jantung.


Hingga akhirnya rombongan sampai di lokasi wisata air terjun di Cipendok.


" Gila, ternyata mantap banget jalannya bro", teman Azka yang baru pernah ikut juga merasa begitu tertantang saat melewati jalan berliku dan naik turun tadi.


Mereka semua berjalan menuju air terjun, yang ternyata cukup jauh dari tempat parkir mobil.


Saat berjalan Sari sengaja mendekat ke Musa.


" Apa bapak juga baru pernah ke sini? ", tanya Sari sambil mendekat ke arah Musa.


" Iya, kenapa?, kamu ini aneh-aneh saja, sudah tau tangan masih dibalut seperti itu, main setuju dan iya-iya saja mengikuti ajakan Azka".


" Apa kamu jadi orang itu nggak bisa nolak ajakan orang lain?, gampangan banget jadi cewek", ucap Musa yang kecewa pada keputusan Sari, bercampur rasa emosi karena sebenarnya paling malas untuk jalan-jalan dan pergi rombongan, terpaksa harus ikut karena mengkhawatirkan Sari.


Tapi sayangnya pemilihan kata yang Musa ucapkan tadi membuat Sari merasa di rendahkan, ' gampangan banget jadi cewek'.


Seumur-umur baru pernah ada yang mengatai Sari sebagai cewek gampangan, dan yang lebih menyakitkan, bahwa yang mengucapkan hal itu adalah Musa.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2