
" Bisa jalankan mobilnya lagi, atau aku turun dan pulang sendiri", Bukannya menerima permintaan maaf Musa, justru kalimat Sari adalah memintanya untuk menjalankan mobil kembali.
Musa hanya menghembuskan nafas panjang, dan menjalankan kembali mobilnya, membelah jalan raya yang saat itu terlihat lengang.
Entah Sari mendengarkan atau tidak, karena dia tengah menatap layar ponselnya sejak tadi, tapi Musa berusaha terus menjelaskan, di dengarkan alhamdulilah, tidak di dengarkan juga tidak papa, yang penting Musa sudah berusaha menjelaskan pada Sari.
" Sar, saat itu aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu, kamu masih di balut gips, tangan kananmu belum sembuh total, tapi kamu menerima ajakan Azka untuk pergi berjalan-jalan, apalagi saat aku tahu ternyata track disana cukup ekstrim, aku begitu mengkhawatirkan kamu, itu kenapa aku tetap ikut meski terpaksa, karena aku sangat mengkhawatirkan kamu".
Musa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kakek Atmo, Sari turun dari mobil Musa dan berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini perasaannya sungguh campur aduk, tadinya dia ingin marah, tapi mendengar penjelasan Musa dia justru bisa merasakan betapa besar ketulusan dan perhatian Musa kepadanya. Meski saat Musa berbicara Sari berlagak menyibukkan diri dengan menatap ponselnya. Tapi Sari bisa mendengar semua yang Musa ucapkan.
Musa mengikuti langkah Sari memasuki rumah.
" Assalamualaikum, kakek... Sari pulang, ada ustadz Musa juga!", teriak Sari sambil sedikit melirik ke arah Musa, kemudian langsung masuk ke dalam kamar.
Kakek keluar dan menemui Musa di ruang tamu, saling mengobrol dan menanyakan kabar , karena sudah hampir sebulan sejak terakhir mereka bertemu saat lebaran.
" Jadi ustadz Musa yang mengantar Sari dan temannya ke tempat wawancara, terimakasih sudah mengantar Sari sampai rumah", ucap Kakek Atmo.
" Sudah jadi tugas saya Kek, Pak kepsek sendiri yang langsung memberi tugas untuk mengantar mereka berdua", jawab Musa.
Sari keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan kaos oblong dan celana kulot panjang.
Saat Sari hendak berjalan ke dapur, kakek Atmo memanggilnya.
" Kemari sebentar Sar", Sari berbalik arah dan dengan menyeret langkahnya yang terasa berat.
" Kamu mau kemana?, lagi ada ustadz Musa malah mau di tinggal ke belakang", gumam Kakek Atmo.
Sari duduk di samping kakeknya dengan wajah ditekuk. " Sari mau bikin minum buat pak guru, kan sudah jam lima lebih, pasti bi Nunung sudah pulang ke rumahnya kan Kek?", jawab Sari beralasan.
" Tidak usah repot-repot, cuma mampir sebentar saja", terang Musa.
" Ya sudah, kalau nggak mau", Sari berbicara dengan nada ketus.
" Nggak boleh begitu Sari, ambilkan air putih saja kalau begitu", perintah Kakek Atmo langsung di laksanakan, Sari mengambil dua gelas air putih dan meletakkan di atas meja.
" Ayo silahkan di minum, maaf cuma air putih, sebagai teman makan kue sisa lebaran buatan mamanya Sari", ujar Kakek Atmo.
__ADS_1
" Terimakasih Kek", Musa meneguk air putih hingga habis setengah gelas. Dan mengambil sepotong putri salju dari dalam toples.
" Jadi kapan ustadz akan mulai mengajari Sari lagi?, waktu itu kan saya minta berhenti dulu karena Sari tengah cidera, takut kurang maksimal belajar nya, tapi sekarang Sari sudah sembuh, sudah sehat, sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasanya", Kakek Atmo meminta Musa mulai mengajari Sari untuk mengaji lagi.
" Saya Insyaallah siap jika mau di mulai kapan saja, cuman kadang baru pulang sekolah sore, kalau harus membimbing kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, jadi paling bisanya malam hari, usai Maghrib", Musa menjelaskan jadwalnya yang sudah kembali seperti semula.
" Dan mau di mulai lagi kapan, terserah Sari nya saja kapan bisa mulai belajar lagi", ucap Musa .
Kakek Atmo menatap cucunya yang sejak tadi membuang pandangannya ke sembarang arah, padahal Musa tengah berbicara padanya.
" Bagaimana , mau di mulai lagi kapan mengajinya?, bukankah tinggal melancarkan saja Sari?".
Sari mengangguk, " Sari juga sesekali masih membaca Alquran kalau habis Maghrib, jadi mau di mulai kapan terserah kakek saja", jawab Sari.
" Ya sudah besok di mulai lagi pertemuannya, pindah jadwal menjadi ba'da (usai) Maghrib ya", Kakek Atmo meminta pendapat Sari dan Musa.
" Baiklah Kek, Sari setuju".
" Musa juga setuju Kek, kalau begitu sekarang Musa pamit pulang dulu, minumnya sudah Musa habiskan, terimakasih", Musa berdiri dan bersalaman dengan Kakek Atmo, kemudian berjalan keluar rumah.
***
" Maaf ustadz Musa, kakek tinggal dulu, sekalian nitip Sari, ajari dia sampai dia benar-benar pandai membaca Alquran", pesan kakek Atmo sebelum beliau keluar rumah.
Sari keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi teh manis untuk Musa, sudah lengkap menggunakan baju muslim dan kerudung.
Sari mengambil Al-Qur'an miliknya dari dalam mushola rumah, dan duduk di hadapan Musa .
Musa memanfaatkan waktu saat Kakek Atmo tidak di rumah untuk kembali meminta maaf pada Sari.
" Sari, aku minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf, apa kamu lama kalau marah?, sudah dua minggu kamu tidak pernah memberi kabar, dan tidak pernah mau menatap ke arahku, apa aku se menyebalkan itu?", Musa mengambil Al-Qur'an miliknya dan meletakkan diatas meja.
Sari sendiri bingung kenapa begitu sulit memaafkan Musa, padahal Musa melakukan itu juga karena emosi dengan sikapnya yang kurang menjada diri. Tapi entah mengapa Sari merasa begitu sakit hati saat Musa yang mengatakan hal itu.
" Baiklah Sari maafkan, tapi kalau sampai ustadz mengulang kalimat itu lagi, Sari nggak bisa jamin bisa memaafkan untuk kedua kalinya", jawab Sari tegas.
Musa tersenyum lega, karena sudah memperoleh permintaan maaf dari Sari.
__ADS_1
" Alhamdulillah, kalau begitu sekarang kita lanjut belajar mengajinya", Musa memajukan posisi duduknya agar bisa lebih jelas mendengar bacaan Alquran Sari yang masih pelan dan sering salah panjang pendeknya.
Saat Sari tengah membaca potongan ayat, ada bacaannya yang kurang sesuai menurut Musa.
" Sari... bacaan ' Haamiyatun ' , huruf 'ha' bertemu dengan ' alif' yang kamu baca itu adalah bacaan Mad Thobi’i, maksudnya mempunyai arti alami atau biasa, yaitu tidak lebih dan juga tidak kurang. Dibaca dengan panjang 2 harakat atau 1 Alif".
" Hukum Mad Thobi’i ini berlaku ketika, pertama, huruf hijaiyah dengan harakat fathah ketemu dengan huruf hijaiyah Alif.
Yang kedua, huruf hijaiyah dengan harakat kasrah ketemu huruf hijaiyah ' Ya Sukun ',
dan ketiga, huruf hijaiyah dengan harakat dhammah ketemu dengan huruf ' Waw sukun', maka huruf-huruf itu dibaca dengan panjang 1 alif atau 2 harakat"
" Contohnya ayat yang sedang kamu baca tadi , huruf 'Ha' dibaca dua harkat,
' Haamiyatun', paham?', Sari mengangguk dan mengulangi bacaannya.
" Haamiyatun ", ucap Sari.
" Betul sekali, untuk selanjutnya jika dalam bacaan kamu menemukan huruf-huruf seperti yang tadi ustadz jelaskan, maka di baca sepanjang dua harkat mengerti?".
Sari mengangguk, " mengerti Ustadz ".
" Wah ternyata lagi serius belajar ya, pantas saja kakek ucap salam sampai masuk ke dalam nggak ada yang dengar", ujar Kakek Atmo.
" Benarkah?, maaf tadi tidak dengar Kek", ucap Musa.
" Iya tidak apa, ini ada nasi boks, dari orang selamatan tadi, apa kalian mau makan malam ?, kalau kakek tadi sudah makan di sana, tapi ini dapat dua boks, katanya sisa banyak, kalian makan saja dulu, sudah malam, belajar jangan di forsir terlalu lama, sedikit-sedikit tapi masuk, itu lebih efektif".
Ada benarnya juga ucapan Kakek Atmo, akhirnya Musa mengakhiri pertemuan malam ini. Dan makan malam bersama Sari, memakan nasi box yang di berikan kakek Atmo.
Sari dan Musa makan malam bersama di gazebo belakang sambil menemani kakek Atmo bersantai disana.
" Ustadz Musa, kalau suatu hari nanti Sari melakukan kesalahan atau berprilaku tidak baik, tolong ustadz sebagai guru agamanya untuk mengingatkan Sari. Mungkin kakek sudah tidak bisa terus-terusan mengingatkan Sari, karena sudah tua, umur juga sudah banyak, jadi kemungkinan hidup hanya tinggal beberapa tahun saja".
Ucapan Kakek Atmo membuat Sari langsung sulit menelan nasi yang sudah dikunyah nya. Sari teringat pesan dari Fera beberapa waktu lalu yang mengabari Sari tentang sakit yang disembunyikan kakeknya.
Musa juga sedikit merasa aneh dengan ucapan Kakek Atmo saat itu. Tapi Musa berpikir positif, mungkin hanya pesan yang ingin disampaikan seorang kakek yang mengkhawatirkan kondisi cucunya.
__ADS_1
Tapi Musa kaget saat menatap Sari tiba-tiba menghentikan makannya dan memalingkan wajah dari kakek Atmo dan menyusut air mata dari ujung matanya.
" Ada apa gerangan ?", batin Musa.