
Musa pov
Hari ini, sudah dua minggu sejak lebaran, akhirnya aku mempunyai kesempatan berdua bersama dengan Sari di dalam mobil, aku memang di tugaskan oleh bapak kepala sekolah, untuk mengantar dua murid yang akan melakukan wawancara di salah satu Stasiun Radio.
Mereka adalah Sari dan Rizal, dua murid yang menjadi team peraih juara 1 lomba debat bahasa Inggris beberapa waktu lalu.
Aku sudah menyadari jika sikap Sari sejak beberapa waktu lalu terus mengacuhkan ku, bahkan sama sekali tidak mau melihat ke arahku, dan akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk bertanya kepadanya saat aku mengantarnya pulang usai wawancara.
Rizal sengaja kuturunkan terlebih dahulu di rumahnya, sehingga aku mempunyai kesempatan hanya berdua dengan Sari, dan bisa ngobrol lebih nyaman dengannya.
" Kenapa kamu terus diam dan dingin padaku Sar ?, aku merasa kamu tidak seperti Sari yang dulu, kamu berubah".
Sari tersentak saat aku menanyakan hal itu padanya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
" Benarkah?, bukankah sekarang aku lebih baik dari yang dulu", jawabnya dengan ketus, ini benar-benar bukan sikap Sari yang ku kenal.
Aku menanyakan dan minta maaf padanya jika ada sikapku yang menyakiti hatinya. Dan ternyata memang benar, dia tersinggung atas ucapanku saat kami bersama-sama pergi ke lokasi wisata air terjun beberapa waktu lalu.
Padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkannya, saat itu aku sedikit emosi dengan sikapnya yang kurang menjaga diri, disaat cideranya belum benar-benar sembuh. Aku juga terus berusaha menjelaskan padanya, meski dia terus menyibukkan diri dengan ponselnya.
Tapi Sari masih belum bisa memaafkan ku, sampai esok harinya saat kami memulai kembali kegiatan mengaji di rumahnya, dan saat itu kakek Atmo harus pergi menghadiri undangan acara selamatan dari tetangganya, aku kembali meminta maaf pada Sari atas ucapanku yang menyakiti hatinya. Dan aku begitu lega saat dia berkata mau memaafkan ku.
Kami makan malam bersama di gazebo belakang setelah usai kegiatan belajar mengaji, tapi sikap Sari aneh saat Kakek Atmo mengucapkan kalimat yang memintaku untuk terus mengingatkan Sari jika suatu hari nanti Sari melakukan kesalahan atau berperilaku tidak baik.
__ADS_1
Aku bisa melihat Sari memalingkan wajahnya dari kakek Atmo sambil menyusut air matanya, kemudian pergi dengan alasan untuk mencuci tangan, aku pun selesai makan dan menuju wastafel untuk mencuci tangan juga, tapi justru kudapati Sari tengah melamun dan kembali menyusut air matanya saat aku berdehem di belakangnya. Dia kaget dan kembali menyusut air matanya.
Karena penasaran, aku bertanya alasan mengapa dia menangis. Dan Sari bilang mau menceritakan alasannya jika aku berjanji untuk membantunya. Anehnya aku mengangguk begitu saja setuju untuk membantunya, meski aku belum tahu apa alasan yang membuatnya menangis.
Selalu seperti ini, hati dan pikiranku tidak sinkron, hal yang sangat menyebalkan.
Esok harinya dia mengirim pesan padaku meminta bertemu di kafe yang berada dekat dari sekolahan, awalnya aku ragu untuk menuruti kemauannya atau menolak, karena jika ada siswa atau guru SMA negeri yang mengetahui kami bertemu berdua saja di kafe, pasti akan terlihat aneh dan mencurigakan.
Atau mungkin justru aku yang berpikir berlebihan?
Dan kami bertemu di kafe tempat kami janjian, aku seperti maling saat mau masuk ke sana, melihat kanan dan kiri memastikan tidak ada satupun yang ku kenal, baru aku menghampiri Sari yang melambaikan tangan padaku.
Di kafe Sari sudah memesankan aku secangkir espreso dan brownis. Tapi sebenarnya aku tidak terlalu suka minum kopi, jadi aku hanya menatap cangkir itu tak tertarik untuk meminumnya.
Bahkan kata Sari beberapa waktu lalu kakek menyuruh Sari untuk kembali ke Malang tinggal bersama Mama dan papanya. Mungkin itu yang membuat Sari sedih dan menangis.
Malam hari saat aku selesai sholat Maghrib aku mengecek ponsel dan mendapati ada pesan masuk dari Sari. Dia memintaku untuk membujuk kakek Atmo agar mau melakukan operasi.
Usai membaca pesan aku langsung menuju rumah kakek Atmo, untuk mengajar Sari mengaji, juga melakukan apa yang Sari minta, membujuk kakek Atmo, semoga saja beliau tidak marah saat aku membujug nya nanti.
Tepat setelah acara mengaji selesai Sari mengajakku masuk ke dalam menemui Kakek Atmo.
Dan meninggalkan aku berdua dengan kakek Atmo. " Semangat ustadz, semoga berhasil, hwaiting", kulihat Sari keluar sambil mengepalkan tangannya dan mengangkat lengan ke atas bermaksud memberiku semangat.
__ADS_1
Kakek Atmo sempat bertanya darimana aku tahu tentang penyakit yang dideritanya. Aku hanya mengatakan kalau aku pernah melihat kakek di klinik penyakit dalam, ternyata kakek Atmo percaya begitu saja dengan kebohonganku.
Dan ternyata tidak butuh alasan macam-macam, karena hanya butuh 30 menit untuk bicara dari hati ke hati dengan kakek Atmo. Beliau mau menuruti untuk melakukan operasi. Tapi tentu saja dengan mengabulkan syarat yang di ajukan oleh kakek Atmo.
Yang penting misi berhasil.
Semoga sedikit kebohonganku untuk membujuk agar kakek Atmo mau melakukan operasi akan dimaafkan oleh Yang Maha Kuasa.
***
Author POV
Esoknya usai operasi , sesuai syarat yang sudah kami sepakati, kakek Atmo minta untuk pulang ke rumah dengan membawa suster ke rumahnya untuk merawat.
Kakek Atmo memang paling anti untuk menginap di rumah sakit, mungkin mengingatkan pada mendiang istrinya yang meninggal setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit.
Karena itu Sore hari kakek langsung pulang di bawa dengan ambulans pulang ke rumah, ada dua suster jaga yang bergantian merawat kakek Atmo. Semua suster adalah rekomendasi dari dokter Setiawan yang bersyukur karena Kakek Atmo mau di operasi.
Setelah kakek meminum obat dan tertidur di kamarnya, Sari keluar menemui Musa yang terus menemani Sari sejak awal datang kerumah sakit, saat Kakek tengah di operasi, hingga sampai di rumah, Musa terus mendampingi Sari.
" Terimakasih Ustad Musa, kalau bukan karena ustadz, Sari tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi, Sari janji akan membantu Ustadz jika suatu hari nanti ustadz membutuhkan bantuan Sari, selama Sari mampu, insyaallah dengan senang hati Sari akan membantu", ucap Sari.
Janji yang tak pernah di sadarinya akan menjadi sebuah janji besar yang akan merubah dunianya. Karena janji itu pula Sari akan menjadi pribadi baru yang tak pernah di sangkanya.
__ADS_1