
Hari berganti hari Sari terus melakukan rutinitas pergi ke sekolah, mengaji dan satu rutinitas baru, yaitu merawat kakek Atmo, Sari juga menjadi akrab dengan dua suster yang merawat kakeknya.
Sampai sebulan lebih Kakek Atmo perlu perawatan khusus, dan Sari selalu belajar dari para suster bagaimana tata cara mengganti perban, membersihkan area bekas operasi, dan masih banyak lagi pengetahuan baru yang Sari pelajari.
Sesuai keinginan Kakek Atmo, Sari tidak memberi tahu keadaan kakeknya pada Mama dan papanya. Karena takutnya akan membuat mama dan papa justru menarik Sari kembali ke rumah. Alias kembali ke Malang.
Bukan Sari tidak mau kembali bersama kedua orang tuanya, hanya saja Sari tidak tega meninggalkan Kakek Atmo yang sudah tua seorang diri tanpa keluarganya.
Hari ini jadwal kontrol ke rumah sakit setelah 6 minggu kakek di rawat intensif di rumah. Sari bersama kedua suster jaga merasa bersyukur karena semangat kakek Atmo untuk sembuh cukup besar, sehingga membantu pemulihan dengan cepat.
Setelah melakukan pengecekan secara keseluruhan, dan hasil USG menyatakan semua organ dalam Kakek Atmo dalam keadaan baik. Hari itu juga kakek dinyatakan sembuh.
Sari mengucapkan terimakasih kepada kedua suster yang sudah merawat kakeknya dengan telaten. Mereka juga sudah menjadi teman dekat Sari. Karena selama enam Minggu tinggal bersama. Dan merasakan suka duka bersama.
Sari juga sesekali ikut mengantar suster Dewi dan suster Ema jika mereka hendak kembali ke kos-kosan, ternyata mereka berdua bukan asli warga Purwokerto, tapi mereka adalah orang Cilacap dan Wonosobo. Sehingga mereka harus tinggal di kost-kostan yang dekat dengan area rumah sakit.
Bersyukur Sari mengenal Suster Ema dan suster Dewi, membuat Sari bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, agar hidupnya bisa membantu dan mengobati orang-orang yang sakit, dan berguna bagi orang lain.
" Suster Dewi dan suster Ema, Sari dan Kakek Atmo mengucapkan banyak terimakasih atas bantuannya selama ini. Sari tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian selama ini", ucap Sari saat mereka bertiga hendak berpisah di lobby rumah sakit.
Dan anehnya kedua suster itu justru meminta nomer ponsel milik Musa pada Sari, ternyata Dewi dan Ema sama-sama terpikat pada pesona Musa yang datang setiap malam untuk mengajar Sari mengaji.
__ADS_1
Sari bingung mau memberikan nomer Musa atau tidak, sehingga Sari belum memberikannya, dia beralasan mau meminta ijin pada gurunya itu terlebih dahulu.
Sebulan yang lalu, saat Kakek sudah dua minggu usai di operasi, Musa tidak datang ke rumah Kakek Atmo selama dua minggu, karena Sari tengah mengikuti UAS, jadi Musa memberi waktu Sari untuk fokus belajar menghadapi ujian akhir semester.
Sari memang sudah lancar membaca Al-Qur'an, tapi seperti keinginan Kakek Atmo sebelumnya, Musa akan terus memantaunya sampai Sari selesai / khatam membaca Alquran.
***
Sari pov
Karena tengah libur kenaikan kelas, Aku mengajak Kakek untuk sekedar refreshing ke penginapan milik kakek yang ada di Baturaden. Juga karena kakek sudah di nyatakan sembuh, sekalian sebagai jalan-jalan syukuran setelah keberhasilan operasi yang dilakukan Kakek beberapa minggu yang lalu.
Mas Soleh yang mengemudikan mobil, Musa duduk di samping Soleh, ternyata kakek yang mengajaknya. Kakek Atmo duduk di sebelahku, dan di belakang ada bi Nunung dan putra keduanya bi Nunung yang bernama Ridwan, dia juga sedang libur sekolah sama sepertiku. Sehingga kakek juga mengajaknya untuk ikut.
Bersyukur saja, berarti pemasukan bulan ini akan banyak.
Akhirnya di putuskan, aku dan bi Nunung tidur sekamar, Kakek sekamar bersama ustadz Musa, dan Soleh bersama Ridwan. Dan aku bersyukur, karena kemarin kakek mengabari pihak pengelola penginapan terlebih dahulu agar di siapi kamar VIP, setidaknya saat sampai di kamar, aku langsung menuju kamar mandi dan berendam air hangat di sana. Rasanya begitu segar, apalagi ku teteskan sedikit aroma terapi ke dalam bathub. Membuat pikiranku tenang dan rileks.
Kami berangkat dari rumah jam 10 pagi, sekitar 40 menit perjalanan, dan sekarang sudah jam setengah dua belas, berarti aku sudah berendam selama kurang lebih satu jam di dalam bathub.
Memang terasa begitu segar karena sudah lama sekali tidak berendam. Saat aku keluar dari kamar mandi, ku lihat bi Nunung sedang tidur begitu lelap di atas kasur. Mungkin karena hawa sejuk dan udara segar membuat bi Nunung lebih rileks dan mengantuk.
__ADS_1
Akhirnya aku keluar dari kamarku setelah berganti pakaian dan sholat Dzuhur, aku menuju kamar sebelah dan mengetuk pintu kamar kakek Atmo. Aku memanggil-manggil kakek dan mengucap salam, tapi tidak ada jawaban, saat ku coba menarik gagang pintu, ternyata pintu tidak di kunci, aku memutuskan untuk masuk dan mengecek apakah kakek ada di dalam atau tidak.
Tapi saat aku masuk ke dalam, justru pemandangan tak terduga yang ku jumpai.
Ustadz Musa baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih. Dia hanya memakai celana pendek selutut tanpa mengenakan atasan.
Ternyata tubuh yang selama ini sering sekali ku lihat tertutup baju Koko dan seragam keki, memiliki bentuk yang sixpack, otot perut yang kencang dan bagian dada yang mirip roti sobek.
" Astaghfirullah hal'adzim !", Pak Musa begitu kaget ketika mendapati aku yang berada di dalam kamarnya, sambil menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Musa buru-buru menutupi bagian atas tubuhnya dengan handuk yang sedang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
" Sejak kapan kamu ada di sana?", itu pertanyaan Musa yang membuatku tersadar dari lamunan kotor.
Musa langsung mengambil kaos putih dari dalam tasnya dan buru-buru memakainya.
" Maaf, tadi aku ketuk pintu dan panggil-panggil tapi tidak ada jawaban, jadi aku coba buka pintu dan tidak di kunci, jadi aku masuk, sebenarnya mau mengajak Kakek makan siang. Eh, waktunya pas bapak keluar dari kamar mandi, jadi bukan salah saya melihat bapak nggak pakai baju", aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dan langsung membalikkan badan untuk keluar dari kamar. Tapi Musa menghentikan ku seraya menarik bagian belakang bajuku.
" Tolong jangan bilang siapapun tentang apa yang baru saja terjadi", ucap Musa dengan suara begitu dalam. Membuatku merinding mendengarnya, apalagi dia berbicara persis di belakangku, hembusan nafasnya yang mengenai tengkukku dan tetesan air dari rambutnya yang basah jatuh mengenai
__ADS_1
pelipis nya, aku bisa melihat dari lirikan mataku.
" Oh my God, apa yang terjadi padaku, setelah sekian lama, aku kembali merasakan debaran dan keanehan ini".