
Sampai di rumahnya, Sari dan Musa langsung menata barang-barang belanjaan pada tempatnya.
Awalnya Sari hanya meletakkan kantong belanjaan di pojokan dapur, karena sudah malam dan ngantuk, tapi saat melihat Musa mengeluarkan isi kantong yang pertama dan menaruh sayuran ke dalam kulkas, Sari merasa tidak enak hati dan ikut turun tangan memasukkan buah-buahan ke dalam kulkas.
" Mas, di beresin besok saja kan bisa, habis subuh, sekarang sudah malam, kita istirahat saja yuk...", Sari memang sudah merasa ngantuk.
" Kamu tidur dulu saja nggak papa, Mas bisa menyelesaikan semua ini sendiri kok, sebelumnya Mas kan sudah terbiasa hidup sendiri, jadi bukan hal yang sulit untuk menata semua ini sendirian. Hidup itu jangan suka menunda-nunda pekerjaan, lakukan yang bisa dilakukan saat ini,", gumam Musa sambil meletakkan kaleng sarden dan softdrink di kulkas.
" Coba bayangkan.... kalau sayur ini tetap di kantong sampai besok, bisa-bisa pas dibuka besok sudah layu, atau bahkan busuk, kan jadi mubadzir, meski terlihat sepele, tapi menunda pekerjaan itu bisa menimbulkan dampak yang besar".
" Ya sudah.... Sari bantu sampai selesai", setelah mendengar ceramah dari Musa, meski dengan sedikit terpaksa, tapi Sari akhirnya ikut menata belanjaan sampai semuanya tertata rapi pada tempatnya masing-masing.
" Habis ini kita sholat Isa dulu, tadi kan belum sholat, jangan tiduran, kalau ketiduran dan nggak bangun lagi bagaimana?".
Sari yang sudah masuk ke kamar dan hendak naik ke atas ranjang mengurungkan niatnya dan berbalik menuju ke kamar mandi.
Memang sudah Sari bayangkan jika menikah dan tinggal dengan Musa pasti akan begini keadaannya, tapi mau bagaimana lagi, Sari memang mencintai Musa, buktinya saat dua tahun di tinggal ke Kairo, Sari begitu merindukan semua yang ada di diri Musa, termasuk kebiasaannya yang suka menceramahi Sari, dan memberi Sari nasehat, serasa ada yang hilang saat Musa tidak ada.
Sari juga tahu jika semua yang Musa ucapkan semata-mata hanya untuk kebaikan Sari.
Setelah selesai sholat berjamaah, Sari langsung naik ke ranjang, merebahkan diri, menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.
" Sudah tidur?", suara Musa terdengar lirih di telinga Sari. Hembusan hangat nafasnya membuat Sari merinding dan reflek menutup seluruh kepalanya dengan selimut tebal.
" Sari sudah ngantuk, mau tidur, Mas jangan bisik-bisik begitu dong, Sari jadi merinding", Musa hanya tersenyum mendengar ucapan Sari.
" Baiklah kalau begitu, selamat tidur sayang, semoga mimpi yang indah", Musa mengelus kepala Sari kemudian memposisikan tubuhnya mencari posisi ternyaman dan memejamkan matanya.
***
__ADS_1
Esok harinya Sari dan Musa kembali disibukkan dengan rutinitas masing-masing, menyiapkan sarapan bersama, kemudian berangkat ke kampus masing-masing, setiap hari Musa mengantar Sari terlebih dahulu baru kemudian berangkat ke kampusnya.
Selama seminggu rutinitas mereka berdua terus seperti itu, berangkat pagi dan pulang hingga sore, sampai akhirnya weekend pun tiba, Sari ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah di forsir selama lima hari ini.
" Mas, bagaimana kalau kita ke rumahnya kakek nanti sorean saja?, Sari pengin berendam dan tidur siang mumpung liburan, Sari pengen bersantai hari ini".
Musa menghampiri Sari yang tengah memotong-motong wortel untuk membuat sup.
" Mas terserah kamu saja, yang penting kamu merasa nyaman dan bahagia, mas juga akan merasa bahagia". Sari tersenyum sambil menyerahkan potongan kentang, wortel dan labu siam pada Musa, kemudian Musa mencucinya dan memasukkan ke dalam panci berisi air mendidih.
Musa lanjut memotong kubis, brokoli, sosis dan baso. Sedangkan Sari mengulek bawang putih, merica, garam dan kemiri hingga halus, baru kemudian memasukkan bumbu sup yang tadi Sari ulek ke dalam panci.
Klek....
Terdengar bunyi rice cooker menandakan nasi sudah matang dan siap untuk di makan. Musa berpindah membuka rice cooker dan mengaduk-aduk nasi agar matang merata. Mengambil nasi ke wadah, kemudian kembali menutup rice cookernya.
Musa langsung meletakkan wadah nasi di meja makan agar nasi cepat dingin.
Sepuluh menit kemudian, sup, ayam goreng dan sambel terasi sudah siap dihidangkan. Sari dan Musa sarapan bersama.
Usai sarapan Sari menyapu lantai, sedangkan Musa yang mengepelnya. Sudah seminggu rumah tidak pernah di pel, karena kesibukan mereka berdua. Juga karena tidak ada anak kecil yang tinggal di rumah itu, membuat keadaan rumah tetap bersih meski jarang di pel.
Semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong, sehingga cepat selesai. Jam 9 Sari dan Musa selesai membersihkan semua bagian rumah. Dari dapur, ruang tamu, ruang santai, kamar, hingga halaman, semuanya terlihat sangat bersih dan rapi.
Saat tengah beristirahat di ruang santai sambil meluruskan kakinya, Musa mendekat dan memijat-mijat kaki Sari yang tengah Sari tepuk-tepuk.
" Capek ya?, pasti waktu masih tinggal di rumah kakek nggak pernah di suruh buat bersih-bersih rumah ya?", tebak Musa.
Memang baik di rumah kakek ataupun di rumahnya sendiri di Malang, Sari tidak pernah bersih-bersih rumah karena sudah ada bibi yang membantu membersihkan rumah.
__ADS_1
" Ya iyalah capek Mas, menyapu rumah seluas ini bagaimana bisa nggak capek. Kenapa Mas nggak cari pembantu sih?, biar ada yang bantu bersih-bersih rumah?", ujar Sari, membiarkan Musa terus memijat-mijat kakinya.
" Sebenarnya dulu ada yang bantu bersihin rumah seminggu sekali, tapi beberapa bulan yang lalu beliau punya cucu baru, jadi lagi sibuk bantu putrinya mengurus anak pertamanya. Mas kan balik ke sini juga belum lama, belum nemu pengganti bibi yang suka bantu-bantu bersihin rumah", jawab Musa menjelaskan.
" Mas, bagaimana kalau pas nanti kita ke rumah kakek, kita tanya sama Bi Nunung, siapa tahu dia punya tetangga atau kenalan yang bisa bantu kita bersihin rumah. Maaf ya Mas, bukannya Sari nggak mau bersihin rumah, tapi ternyata cukup makan tenaga juga membersihkan rumah yang cukup luas ini, lagian kita berdua kan sama-sama sering pulang sampai sore, capek di kampus, belum lagi kalau ada acara lain habis itu, jadi nyari orang yang bisa bantu bersih-bersih rumah nggak papa kan?", Sari meminta persetujuan.
" Iya, Mas juga setuju, apa sekarang sudah mendingan atau masih capek?", Musa menghentikan pijitan di kaki Sari.
" Sudah mendingan Mas, Sari mau mandi dan berendam, tapi nanti... sebentar lagi, nunggu keringatnya udah nggak ngucur lagi, nggak baik kalau mandi lagi keringetan", ujar Sari.
" Kalau begitu Mas yang mandi duluan ya, nanti gantian kamu yang mandi kalau sudah nggak keringetan lagi".
Musa mandi cukup lama, tidak seperti biasanya, bahkan menyempatkan diri berendam beberapa menit, karena ternyata sabun aromaterapi yang dibeli Sari untuk berendam, memiliki aroma yang sangat wangi, membuat rileks saat menghirupnya.
Musa keluar setelah setengah jam berendam di bathtub, dan keluar kamar hanya menggunakan handuk kimono yang menutup tubuhnya.
Sari masuk dan menghirup wangi semerbak dari arah kamar mandi, kemudian mengendus-endus menciumi tubuh Musa yang kini beraroma sangat segar.
Musa yang hanya mengenakan handuk kimono menjadi salah tingkah. Meski berstatus suami istri, tapi Musa baru sekali melakukannya bersama Sari, hampir seminggu yang lalu. Karena setiap malam Musa merasa kasihan melihat Sari yang terlihat sangat lelah usai kuliah. Tidak mungkin juga memaksakan keinginan untuk menuntaskan hasratnya. Musa lebih memang suami yang sangat bijaksana.
" Wah, keduluan nih pakai sabun nya", Sari memang belum sempat memakai sabun ber aromaterapi karena tidak sempat untuk berendam beberapa hari ini. Pulang sore membuatnya merasa malas untuk berendam.
" Hehehe, aromanya wangi dan segar, rasanya fresh banget habis berendam", kamu mau berendam juga kan?, sudah Mas isi dengan air hangat hingga penuh,sudah di kasih aromaterapi juga, kamu tinggal masuk dan berendam", Musa mengalihkan perhatian dengan menghadap ke lemari pakaian mengambil baju ganti.
" Mas mau mandi lagi?", tatapan Sari begitu menggoda dan menggoyahkan benteng pertahanan Musa.
Sari sengaja mengunci pintu kamar saat masuk tadi, dan tetap membuka pintu kamar mandi saat Sari berada di dalamnya sambil melepas semua pakaiannya. Musa yang melihat dari cermin lemari pakaian, mengurungkan niatnya untuk berpakaian dan menyusul Sari, masuk ke dalam kamar mandi kembali.
____
__ADS_1
Sudah cukup ya..., habis itu dikamar mandi pada ngapain, terserah imajinasi para readers saja, mau membayangkan bagaimana,
hehehehe....