
Sari, Musa dan Bi Nunung berpamitan pulang ke rumah. Sekitar pukul 1 siang mobil Musa masuk ke halaman rumah Kakek Atmo.
" Lama amat Sar?, memangnya jauh rumah temennya bi Nunung?", tanya Dimas langsung menghampiri Sari yang baru turun dari mobil.
" Nggak jauh-jauh banget, cuma 15 menit perjalanan sudah sampai, kalau ke rumah mas Musa mungkin cukup 5 sampai 10 menit sudah sampai", Sari membawa kantong plastik berisi beberapa bungkus mie ayam yang sengaja di pesannya tadi pada bapaknya Yanto.
" Kok lama, mampir kemana lagi?", tanya Dimas melirik kantong plastik putih yang di bawa Sari.
" Nih mampir makan mie ayam, eh bukan mampir, tapi penjual mie ayamnya yang menghampiri kami, suaminya teman bi Nunung itu jualan mie ayam, tadi di suruh makan disana, karena rasanya enak, jadi kakak aku bungkusin nih", Sari menyerahkan kantong kresek pada Dimas.
" Bi tolong ambilin mangkok 4 ya, sama sendok dan garpu nya sekalian", Dimas kembali bergabung bersama Agung, Cahyo dan kakeknya, mereka ber empat sedang bermain games Ludo king bersama.
Menghilangkan gabut, sekaligus menghibur kakek biar nggak spaneng, menurut Dimas sekali-kali mengajak kakeknya main games di ponsel ngga ada salahnya.
" Wah kakek menang lagi, hebat!", seru Cahyo yang menjadi juara ke dua.
" Lagi main apa?, kelihatannya seru banget?", tanya Musa yang baru bergabung.
" Iya Pak guru, kakek benar-benar keren, awalnya bingung lihat kita bertiga main, dua kali kalah, setelah paham, langsung deh jadi pemenang terus", gumam Agung memuji kehebatan kakek Atmo.
" Sudah dulu mainnya, ini Sari dapat mie ayam, kita makan siang dulu, tadi habis sholat belum ada yang makan kan?, ayo kita santap siang!", Dimas yang hobi banget makan mie dimasak dengan resep apapun, mau mie kuah maupun mie kering, Dimas pasti suka, paling semangat untuk makan jika menuju mie.
" Wah rejeki nomplok nih, ayo makan-makan", Kakek Atmo yang pertama mendapatkan mie ayam yang Dimas bukakan bungkusnya. Baru yang lain membuka bareng dengan Dimas dan makan bersama-sama.
" Pak guru nggak sekalian makan?", Cahyo menatap kantong plastik, masih ada 2 bungkus mie ayam, berniat mengambilkan untuk Musa.
__ADS_1
" Tidak, saya tadi sudah makan di sana, sama Sari dan Bi Nunung. Maaf saya masuk dulu, tadi belum sholat Dzuhur", Musa masuk ke dalam rumah.
" Wah enak nih mie ayamnya, mangkal dimana suami temennya bi Nunung?", tanya Dimas yang langsung cocok dengan cita rasa mie ayam yang sedang disantapnya.
" Itu mie ayam keliling, baru lagi nyari kios buat mangkal, apa kakak tahu dimana kios yang di sewakan dekat sini?", tanya Sari yang keluar sambil membawa 4 gelas air putih.
" Kayaknya di deretan ruko pinggir jalan besar ada itu yang disewakan, di antara toko penjual bakso dan penjual boneka" , gumam Dimas.
" Tapi kata bapaknya Yanto mau nyari sendiri dulu sih, mungkin yang dekat dengan rumahnya, karena di sekitar rumahnya sudah punya banyak langganan juga", terang Sari.
Dimas hanya mengangguk, pantas jika mie ayam seenak ini sudah punya banyak pelanggan setia, Dimas juga sudah merencanakan akan menjadi pelanggan setia mie ayam ini, rasanya benar-benar enak.
***
Esok harinya di kampus, Sari kembali bertemu dengan Yanto, Eli dan Rizal yang beberapa hari yang laku bergabung menjadi satu kelompok.
Rizal yang memperhatikan Sari begitu asyik ngobrol bersama Yanto, dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, karena sekilas di dengar-dengar jelas mereka berdua bukan sedang membahas masalah mata kuliah tadi, bukan juga membicarakan tentang mahasiswa lain ataupun tentang dosen. Kata yang tertangkap di telinga Rizal kurang familiar di dengar.
Saking penasarannya, Rizal memilih untuk duduk di depan Sari sambil menikmati bakso sapi miliknya.
" Jadi kalau sudah yakin dengan lokasi nya, kabari saja, nanti urusan pembayaran dan biaya-biaya serahkan saja padaku" gumam Sari. Memang Sari di beri mandat oleh Musa untuk latihan management, dengan mempercayakan urusan sewa kios mie ayam pada Sari.
" Iya, aku kan sudah nyimpen nomer kamu, jadi kalau nanti deal, aku bisa langsung hubungi nomer kamu, kamu bisa langsung datang, atau boleh transfer ke rekeningku, aku kirim no rekening ku, buat jaga-jaga ", Yanto mengirim 15 digit angka pada Sari,yang ternyata adalah nomer rekening nya.
" Kalian berdua lagi ngobrolin apa sih?, aku perhatikan dari tadi kalian serius banget?", Rizal menatap Yanto dengan wajah kesal dan marah, merasa kalau Yanto begitu dekat dengan Sari. Dan dirinya di abaikan begitu saja, tidak di ajak ngobrol, seolah dirinya adalah makhluk tak kasat mata.
__ADS_1
" Eh mana bakso punyaku?, wah aku lama ya di kamar mandi, sampe adem gini baksonya", gumam Eli yang baru bergabung.
" Iya lama banget kamu, ngapain tidur kamu dikamar mandi?", gurau Sari.
" Iya tapa Brata, biar dapat Wahyu", canda Eli.
" Bukan biar dapat 'Wahyu', tapi biar dapat 'Yanto', hihihi", Sari menutup mulutnya karena berhasil membuat lelucon, meski sedikit garing.
Eli langsung menepuk pundak Sari cukup keras," ih kamu itu, kalau becanda nggak pake akhlak, ada orangnya disini juga di bawa-bawa".
" Nggak papa, lagian Yanto juga baik-baik saja, iya kan Yan?",
Yanto hanya menganggukkan kepala, karena Yanto sadar, sedari tadi ada tatapan tajam menuju dirinya, seperti mata elang yang hendak menerkam ayam, terus mengincar dengan begitu dingin dan menusuk.
Rizal semakin tersinggung karena pertanyaan tidak di jawab oleh Sari dan Yanto.
Sebenarnya Sari maupun Yanto tidak bermaksud begitu, karena tadi Eli tiba-tiba gabung, membuat Sari dan Yanto lupa dengan pertanyaan Rizal.
" Wah bentar lagi sudah ada kelas lagi, kita kan belum sholat Dzuhur, buruan makannya El, keburu kita kehabisan.waktu istirahat", justru Sari mengajak Eli agar mempercepat acara makan siang mereka, karena belum sholat.
Sari dan Eli pun pergi dari kantin, meninggalkan Rizal dan Yanto yang saling diam dan menikmati makanan masing-masing.
Sepeninggal Sari, Rizal langsung bertanya pada Yanto, apa yang dibicarakannya bersama Sari tadi.
" Nggak ada yang penting, hanya membahas urusan pribadi saja, dan itu bukan untuk di konsumsi oleh orang lain", jawab Yanto.
__ADS_1
" Maaf aku juga mau ke mushola dulu, belum sempet Dzuhur dari tadi, permisi", Yanto justru ikut meninggalkan Rizal yang masih terpaku, karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari Yanto maupun dari Sari.
" Urusan pribadi apa yang dimiliki Sari dan Yanto, sampai aku tidak boleh tahu?, apa lebihnya Yanto dari ku?, di hanya anak yang kuliah dengan bantuan pemerintah, tapi kenapa Sari justru begitu asyik ngobrol bersamanya?, dasar menyebalkan". batin Rizal.