
Sedikit cuap-cuap dari author
Maaf di bab ini ada beberapa part yang di buang dan di ganti, yaitu part pembahasan tentang virus, awalnya author memang ingin memasukkan konflik yang cukup serius, dengan membahas masalah virus dan perjuangan para dokter di rumah sakit, tapi setelah dipertimbangkan baik buruknya, dan author juga tidak terlalu paham akan kebenaran / fakta dari pembahasan itu sendiri, maka author mengedit part ini, demi kenyamanan bersama.
Mohon maaf atas ketidak nyamanan yang di timbulkan, dan terimakasih atas kritik dan sarannya 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepulang dari baby shop Sari dan Musa menjumpai Umi dan Abi yang tengah menunggu di teras rumah, Musa sampai lupa kalau umi dan Abinya masih berada di rumah kakek Atmo.
" Kalian ini dari mana?, pergi kok nggak pamitan, umi telepon nomer kalian juga nggak di angkat ?".
Sari mengecek ponselnya yang berada di dalam sling bag, benar sekali ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Umi.
" Maaf Umi, ponsel Sari tadi Sari silent, jadi nggak ketahuan ada telepon dari Umi".
" Ponsel Musa masih dikamar, tadi Sari ngajak perginya mendadak, jadi lupa nggak bawa ponsel", terang Musa.
" Umi sama Abi tadi kemana?", tanya Musa.
Umi berdiri dari kursi kayu yang berada di teras dan menghampiri Musa. " Ke rumah mas Irsyad, sudah lama nggak main ke sana, mumpung sudah sampai disini, jadi Umi sekalian minta doa restu dan mengabari Mas Irsyad dan mba Santi tentang rencana pernikahan kalian bulan depan".
Musa hanya ber 'ooh' panjang.
Saat mereka masih berdiri dan ngobrol di halaman rumah, Bibi Nunung keluar dari rumah. " Mba, Bibi sudah mau pulang, sudah selesai masak buat makan malam nanti, sekarang juga sudah jam setengah 5 ini sudah waktunya pulang", Bu Nunung mengabari Sari sesuai pesan sari padanya tadi.
" Umi sama Abi mau ikut juga kerumah Bi Nunung?, Sari rencananya mau mampir ke rumah Bi Nunung sebelum pulang, mau nengok cucunya bi nunung, nggak papa kan Mi?", tanya Sari, sambil mengajak Uminya.
" Boleh juga, ya sudah, kita pamitan sama Kakek dulu ke dalam".
__ADS_1
Mereka semua berpamitan, setelah berpamitan pada kakek Atmo, dan kedua orang tua Sari, Sari, Musa, Umi dan Abi langsung masuk mobil bersama Bi Nunung, namun mobil Musa hanya bisa sampai depan gang, karena rumah bi Nunung sedikit masuk ke dalam gang.
Rumah yang dulu sangat sederhana karena hanya bagian depan yang permanen, dan ke belakang masih menggunakan bambu, sekarang rumah Bi Nunung sudah seluruhnya bangunan permanen semua, bahkan sudah diperbesar dari sebelumnya, semua itu sejak Ridwan lulus kuliah dan bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Jogja.
" Wah baru delapan bulan nggak main kesini, rumah Bi Nunung sudah berubah jadi lebih besar dan bagus ya", gumam Sari.
" Mari silahkan masuk semua, Alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa menabung, ditambah dapat kiriman dari Ridwan, dia berpesan agar uang itu untuk perbaikan rumah", terang Bi Nunung.
Semuanya masuk ke dalam rumah, disambut Soleh dan istrinya yang sedang duduk-duduk sambil bermain-main dengan putri kecilnya yang lucu itu.
Sari menyerahkan kotak berukuran besar yang di bungkus kertas kado dengan gambar boneka beruang lucu.
" Ini buat Dede Ai, semoga suka dan bermanfaat", ucap Sari berharap.
" Wah terimakasih Mba Sari, malah jadi merepotkan, kalau mau main kesini main saja, jangan sungkan, nggak usah repot-repot bawa apa-apa", jawab Soleh yang sudah menjadi supir pribadi kakek Atmo cukup lama. Dan mengenal Sari cukup dekat.
Istri Soleh langsung memberikan putrinya untuk di gendong Sari, " Tapi nggak dipakein popok, takutnya nanti ngompol".
Tapi justru Umi yang mengomentari,
" Nggak papa mba, kalau di pipisin Dede kan bisa mandi, biar Sari gendong dedenya, siapa tahu jadi nular, ada Dede di perutnya", doa Umi, di Amini oleh semua yang ada di ruang itu, termasuk Sari.
***
Sari dan yang lain sampai di rumah saat adzan Isa berkumandang, mereka tadi Maghrib di rumah Bi Nunung dan makan malam di sana.
Umi dan Abi malam ini kembali menginap di rumah Musa. Namun esok harinya pagi-pagi sekali sehabis subuh mereka berdua pamit untuk pulang ke Solo karena banyak yang harus segera di urus untuk persiapan pernikahan Musa dan Sari.
Pagi ini seperti biasa Musa mengantar Sari ke rumah sakit, baru kemudian berangkat ke kampusnya.
__ADS_1
Di rumah sakit tempat Sari koas tiba-tiba di umumkan ada breefing mendadak, membahas tentang akhir masa koas Sari dan beberapa dokter muda yang lain. Karena sudah mendekati waktu akhir dari pelaksanaan koas.
Setelah breefing selesai Sari dipanggil secara pribadi oleh direktur rumah sakit, Sari ditawari untuk menjadi dokter umum di klinik Umum rumah sakit usai koas, tentu saja Sari sangat senang dan merasa beruntung karena mendapatkan tawaran yang begitu diinginkannya.
Setidaknya dengan tawaran itu Sari berpeluang besar untuk diterima di rumah sakit itu, dan menjadi dokter di sana, hanya perlu menyiapkan dokumen-dokumen yang di butuhkan untuk mendaftar menjadi dokter umum di rumah sakit tersebut.
***
Persiapan resepsi pernikahan Sari sudah hampir 80% beres, undangan sudah dibagi dua minggu sebelum hari H, tinggal menunggu 2 minggu lagi impian Sari dan Musa akan segera terwujud. Meresmikan hubungan mereka untuk diakui negara.
Sari juga sebentar lagi selesai menjalankan koas, tinggal menghitung hari, namun Sari harus menemui direktur rumah sakit untuk meminta ijin selama beberapa hari perihal untuk acara pernikahannya.
Sari juga mengundang direktur dan jajaran kepengurusan rumah sakit tempatnya menjalankan koas, semua rekan dokter, perawat, hingga karyawan dari semua bagian. Karena sikap Sari yang supel di rumah sakit, membuat hampir semua yang bekerja di sana mengenalinya.
Semua yang mengetahui Sari akan segera menikah dengan salah satu dosen di Universitas Islam negeri banyak yang kaget, karena yang mereka ketahui selama ini Sari di dekati oleh Rizal sesama koas, namun ternyata Sari menikah dengan laki-laki lain.
" Sari, aku sudah dapat undangan darimu, wah selamat ya, ternyata jodoh memang tidak ada yang pernah tau kemana arah akan membawanya, yang setiap hari mepet malah kalah set sama yang jarang kelihatan", ada yang sengaja menyindir Sari seperti itu, yang di maksud oleh nya adalah Rizal yang tiap hari PDKT, tapi orang lain yang jadi suami Sari.
Namun tidak sedikit juga dari rekan Sari memberinya selamat saat bertemu dengannya. Padahal acara masih 2 mingu lagi, tapi Sari sudah dapat banyak doa baik dari rekan-rekannya.
" Sari... selamat ya, semoga semuanya lancar sampai hari H, jangan kecapekan, siapkan tenaga buat malam pertama nanti", beberapa dokter perempuan yang sudah menikah sengaja menggoda Sari, mereka memang tidak tahu kalau ternyata malam pertama Sari sudah berlalu tiga tahun yang lalu.
Sari hanya menahan senyum saat ada yang berpesan seperti itu.
Ada juga yang berpesan dan memberi petuah pada Sari agar Sari begini dan begitu, kebanyakan dari mereka yang berasal dari daerah, karena masih banyak kepercayaan dan mitos tentang yang harus dilakukan oleh calon pengantin yang sebentar lagi akan menikah.
Sari mendengarkan semua ajaran dan petuah yang di berikan oleh rekan-rekannya yang sudah lebih dulu menikah, selama itu masuk akal dan tidak aneh-aneh, Sari tentu akan menerima petuah itu dengan senang hati.
" Semoga saja semuanya akan berjalan dengan lancar seperti yang di harapkan, aamiin", do'a Sari dalam hati.
__ADS_1