Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kontraksi


__ADS_3

Sudah 7 kali Sari mengikuti kelas ibu hamil, itu berarti semakin mendekati hari perkiraan melahirkan.


Sari sudah mengajukan cuti melahirkan beberapa hari yang lalu pada pihak rumah sakit, dan mulai menjalani cuti hari Senin besok.


" Sayang, mulai besok Umi dan Abi akan tinggal disini, karena kehamilan kamu sudah mendekati masa persalinan, mas merasa tidak tenang meninggalkan kamu sendirian di rumah".


" Maaf karena Mas nggak bisa mengajukan cuti terlalu lama pada pihak kampus".


Sari bisa mengerti dan mahami keadaan Musa. " Nggak papa Mas, ditemani Umi dan Abi sudah cukup".


Sari tahu jika Musa benar-benar gelisah karena Sari semakin mendekati waktu persalinan. Sari yang tiap malam sudah tidak nyenyak tidur karena keadaan perutnya yang sudah besar. Sering mondar-mandir ke kamar mandi, karena ingin buang air kecil, dan tiap malm mendapati Musa yang tengah sholat malam, berdoa dan memohon agar Sari dimudahkan saat persalinan.


Sari hanya bisa meng-aamini doa suaminya, dan seringkali ikut melakukan sholat malam juga, jika tidak bisa tidur.


Untuk kandungan mendekati usia 9 bulan seperti Sari memang kebanyakan baik suami maupun keluarga biasanya lebih merasakan kecemasan, jika sewaktu-waktu tiba-tiba Sari merasakan kontraksi karena hendak melahirkan.


" Mas tenang saja, dan lakukan kegiatan seperti biasanya. Sari kan sudah dapat banyak ilmu saat mengikuti kelas ibu hamil, dan sudah sedikit paham dengan tanda-tanda saat mau melahirkan".


" Sukur-sukur si Dede ngajak keluarnya malam-malam, pas bundanya lagi bareng sama ayahnya. Jadi nggak bikin umi dan Abi panik", harap Sari.


Namun entah kebetulan, atau mungkin saat Sari mengucapkan kalimat tadi, ada malaikat yang lewat, 9 hari kemudian, yaitu hari Jum'at Sari mulai merasakan kontraksi palsu yang rasanya berbeda dari sebelumnya.


Meski Umi dan Abi bersamanya seharian, Sari tetap diam dan tidak mengatakannya pada Umi jika perutnya sudah merasakan kontraksi.


Jum'at pagi Sari masih keluar rumah dan berjalan-jalan di sekitar komplek ditemani Musa. Sari belum cerita jika dirinya sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan.


Jika tiba-tiba perut terasa kontraksi Sari berhenti menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, kadang menunduk dan menengadah, dengan alasan stretching sebentar, dan saat kontraksi mereda Sari akan kembali melanjutkan perjalanan.


Pagi itu pun Musa berangkat ke kampus seperti biasa.


" Sayang, kalau tiba-tiba kamu merasakan tanda-tanda mau melahirkan, kamu langsung telepon Mas ya, Mas pasti langsung pulang".


Musa merasa berat untuk meninggalkan Sari hari itu, meski Sari belum cerita keadaannya, tapi Musa benar-benar merasa kekhawatiran seorang calon bapak yang menantikan kehadiran si buah hati.


Siang hari Sari masih bisa tidur siang hampir 1 jam, karena intensitas kontraksi sudah semakin sering, Tadi pagi hanya beberapa kali terasa, sedangkan siang ini beberapa kali dalam satu jam. Sari masih bisa menahannya.


" Rasanya mirip seperti jika mau datang bulan, perut kram, dan nyeri di bagian pinggang", batin Sari saat kontraksi mereda.


Saat makan siang pun Sari sengaja makan cukup banyak, meski sudah merasa tidak nafsu karena perut yang sewaktu terasa kram dan kencang, namun Sari tetap berusaha untuk makan, agar nanti memiliki banyak tenaga saat melahirkan.


Umi sebenarnya merasa curiga dengan ekspresi Sari yang kadang tersenyum, namun sesekali terlihat menahan sakit.


" Sayang, apa masakan Umi siang ini tidak sesuai dengan selera kamu?, Umi perhatikan kamu nggak selera makan? ", Umi berusaha mencari jawaban.

__ADS_1


Sari tersenyum, " Masakan umi paling sedap kok, benar kan Abi?, Sari kan sudah nambah makanannya, Abi juga", gumam Sari melempar tatapan pada piring Abi yang sudah nambah makanannya.


Abi mengangguk. " Sampai perut terasa nggak muat lagi, padahal masih pengin nambah", gumam Abi.


Tapi Umi sama sekali tidak merasa bahagia meski masakannya sedang di puji suami dan menantunya. Umi masih fokus dengan ekspresi wajah Sari yang sesekali seperti menahan sakit.


" Kalau masakan umi enak, kenapa ekspresi kamu itu mengatakan hal yang berbeda, atau... apa kamu sudah mulai merasakan kontraksi", akhirnya Umi menanyakannya juga.


Sari hanya meringis, " Kontraksi palsu sudah terasa sejak kemarin Umi, tapi masih jarang-jarang, kadang seperti tiba-tiba muncul, tapi cuma sebentar akan hilang sendiri" .


Dan setelah mendengar ucapan Sari itu, Umi langsung mengambil ponsel, hendak menghubungi Musa.


" Jangan Umi, jangan dulu telepon Mas Musa. Sari yakin masih lama, baru kontraksi palsu".


Dan siang itu Umi menyuruh Sari untuk tiduran saja di kamarnya. Umi memang membatalkan menelepon Musa, tapi sebagai gantinya. Umi terus menemani Sari yang memilih untuk tadarus Alquran, membaca surat Maryam dan Yusuf berkali-kali. Begitu juga dengan Umi yang ikut tadarus di kamar Sari.


Sari berusaha mengalihkan perhatian Umi dengan tadarus, dan hasilnya sangat efektif, Umi lebih terlihat tenang setelah membaca Alquran.


Sampai jam 3 sore, saat Musa pulang, Umi baru mau dan setuju untuk meninggalkan Sari, dan keluar dari kamar mereka.


" Kenapa Umi tadarusnya di sini, bukan di mushola belakang?", tanya Musa pada Sari saat Umi sudah keluar dari kamar.


" Nggak papa, biar ada temennya jadi tadarus bareng", gumam Sari, masih dengan ekspresi menahan perut kram .


" Mas...mas....bangun mas...", Musa langsung terbangun dan kaget.


" Iya sayang, apa sudah mules- mules perutnya?, mau ke rumah sakit sekarang", Musa langsung berdiri dan mondar-mandir seperti orang bingung.


" Ssshhhhhh.... subhanallah...", Sari meringis saat perutnya seperti di pelintir-pelintir.


" Mas masukkan tas yang sudah Sari siapkan itu ada di samping lemari, tolong di masukkan ke mobil dulu".


" Ada keperluan Dede bayi dan juga baju-bajuku yang sudah ku siapkan di dalam sana".


" Mas tenang saja, durasi kontraksinya masih lama... Sari akan keluar pelan-pelan saat keadaan membaik", gumam Sari.


Musa menuruti keinginan Sari, berlari membawa koper ke dalam mobil.


Jam menunjukkan pukul 11.30 malam, Musa berlari cepat menghampiri Sari setelah menyalakan mobil dan memasukkan koper ke bagasi mobil.


Sari meminta Musa untuk jangan berisik dan tidak membuat kegaduhan. Sari tidak mau Umi dan Abi terbangun dan menjadi khawatir.


Dengan hati-hati Musa melajukan mobil dan membawa Sari yang sudah semakin pucat dan lemes, langsung menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Musa langsung menggendong Sari dan membawanya ke dalam IGD.


" Dokter Sari, sudah terasa kontraksi ya?", salah satu perawat IGD langsung berlari mengikuti Musa yang menggendong Sari dan menidurkan nya di atas bed.


" Dokternya dimana Sus?, tolong di bantu istri saya".


Dan beruntung malam itu dokter jaganya ada dokter Setiawan. Saat mendengar informasi dari suster jika Sari mengalami kontraksi, dokter Setiawan memanggilkan bidan jaga.


Bu bidan mengecek jalan lahir dan tersenyum.


" Sudah pembukaan 4, kita tunggu sampai pembukaan sempurna ya Dok", Bidan Tatik mengusap kening Sari yang penuh keringat.


Suster memasang selang infus karena hasil tensi darah Sari begitu rendah, mungkin karena itu Sari terlihat begitu pucat dan lemes.


" Tolong siapkan makanan untuk Dokter Sari ya Sus, sama teh manis juga, dia butuh tenaga untuk berjuang nanti, jadi harus dipaksa makan dulu".


" Meski nggak kepingin makan, dipaksakan ya Pak, istrinya buat makan, biar ada tenaga buat mengejan nanti".


" Perlengkapan bayinya bisa diambil dan di bawa kesini Pak", Bidan Tatik memberi instruksi pada Musa.


Musa baru teringat jika koper Sari masih di dalam bagasi mobil.


" Saya titip Sari sebentar Bu bidan, Dokter Setiawan, saya ambil koper di mobil dulu".


" Iya pak Musa, santai saja, masih lama ini proses pembukaannya sampai pembukaan penuh, jadi sekalian parkir kan mobil dulu juga nggak papa, biar nggak menghalangi ambulance atau mobil lain yang lewat IGD", ujar Bidan Tatik.


Musa mengangguk mengerti, dan berlari keluar untuk memarkirkan mobilnya dan membawa koper Sari.


Sampai di IGD, Musa tidak mendapati Sari maupun bidan Tatik dan dokter Setiawan. Musa merasa panik, dan berlari bertanya pada suster yang tadi.


" Istri saya dimana Sus?".


Suster jaga menunjuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari IGD, " Dokter Sari dipindah keruangan bersalin Pak, bapak lurus saja, yang di ujung lorong itu ruangannya".


" Terimakasih Sus",Musa berjalan cepat menuju ruangan yang suster tadi tunjukkan, disana justru Musa terkejut karena Sari sedang berdiri dan jalan-jalan di dalam ruangan sambil ngobrol-ngobrol dengan bidan Tatik.


" Jangan terlalu panik Pak Musa, memang sebaiknya dokter Sari di bawa jalan-jalan dan beraktifitas untuk membantu mempercepat pembukaan jalan lahir Pak", terang bidan Tatik.


Musa meletakkan koper Sari dan melingkarkan tangan Sari ke pinggangnya untuk berpegangan, sedangkan tangan Musa satunya memegangi tiang infus.


Sari dan Musa berjalan-jalan di sekitaran ruang bersalin, dan sesekali memilih duduk jika Sari kembali merasakan kontraksi.


Dengan melihat ekspresi wajah Sari yang menahan sakit, Musa dapat menyaksikan betapa sakitnya perjuangan seorang ibu yang hendak melahirkan.

__ADS_1


" Ya Allah mudahkanlah persalinan istri hamba, hamba rela menggantikan untuk merasakan rasa sakit yang tengah di rasakan nya saat ini", Musa berulang kali memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar meringankan sakit yang tengah dirasakan istrinya saat kontraksi.


__ADS_2