Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Nilai Plus (+)


__ADS_3

Di parkiran Bi Nunung duduk sendiri memandangi sayuran yang menumpuk, melebihi kapasitas tas jinjing. Sambil menunggu Sari kembali, Bi Nunung sengaja memisah bumbu-bumbu dan memasukkan ke kantong plastik besar, agar mengurangi muatan dari dalam tas jinjing.


" Maaf mba, yang tadi sama Sari ya?", sapa seorang wanita pada Bi Nunung, wanita yang tadi di pasar menatap Sari terus dengan lekat.


" Eh iya betul, ibu yang tadi ketemu di dalam, ternyata masih disini, belum pulang ?", bi Nunung menghentikan kegiatannya memasukkan bumbu dapur ke dalam kantong plastik.


" Sarinya dimana?, belum selesai belanjaanya?", tanya Ibunya Rizal.


" Sebenarnya sudah selesai belanjaanya, tapi tadi kakaknya telepon, minta dibelikan jajan pasar, buat teman-temannya yang lagi dirumah", terang bi Nunung seperlunya.


Ibunya Rizal sebenarnya tadi sudah hendak pulang bersama Eli dan ibunya. Tapi mengurungkan niatnya dan menyuruh Eli dan Ibunya untuk pulang terlebih dahulu, karena mendadak Ibunya Rizal ingat ucapan Rizal beberapa hari yang lalu, saat Rizal pulang sore dari kampus dan ibunya tahu kalau dia mengantarkan Eli pulang. Di beri tahu oleh ibunya Eli.


Saat Rizal diberi pertanyaan kenapa tumben-tumbenan mengantar Eli, Rizal menjawab, nawarin tumpangannya ke Sari, tapi justru Eli yang kebawa, jika diibaratkan sedang mancing, bisa dibilang salah nangkap ikan. Niat hati nangkap gurame, malah yang kebawa ikan lele.


Jika benar yang dimaksud Rizal kemarin, Sari itu teman kuliahnya dan gadis yang sedang belanja itu juga kuliah bareng Eli, berarti Sari yang lagi di deketin sama Rizal ya Sari yang tadi ketemu dengannya di pasar.


Ibunya Rizal berniat mencari tahu tentang Sari, bagaimana sikap Sari sehari-hari , karena untuk paras dan kecerdasan sudah tentu Sari unggul, mahasiswa kedokteran yang sangat cantik, itu sudah jadi nilai plus bagi Sari, jika nanti saat diajak ngobrol Sari sopan, berarti itu jadi nilai plus lagi. Tentu saja ibunya Rizal akan dengan senang hati membantu Rizal mendekati Sari.


Sepuluh menit ngobrol dengan bi Nunung, cukup membuat ibunya Rizal memperoleh banyak informasi, karena tadi sempat ngobrol menanyakan tentang keluarga Sari, berapa saudaranya, kerja apa ayah ibunya, dan dimana alamat tempat tinggalnya.


" Fix..., putraku Rizal memang pinter milih gadis untuk dijadikan kekasihnya, dari bibit, bebet dan bobot, Sari termasuk gadis yang mendekati sempurna untuk dijadikan pasangan hidup", batin ibunya Rizal.


Sari berjalan dengan membawa beberapa kantong plastik berisi beberapa bungkusan daun pisang, Sari sengaja membeli lupis, cenil, klepon, kepok dan juga getuk.


" Wah beli jajannya banyak banget", Ibunya Rizal berkomentar.


" Eh...iya Tante, loh belum pulang?, Sari kira Tante sudah pulang dari tadi, apa Tante mau jajannya ?", Sari menyodorkan kantong plastik berisi jajan pasar ke arah ibunya Rizal.


" Wah nilai plus lagi, Sari baik hati dan suka memberi, nggak pelit", batin Ibunya Rizal.


" Nggak usah, Tante sudah beli banyak itu di tas jinjing, itu kan pesenan kakak kamu buat teman-temannya, pasti di rumah kamu semalam ramai ya, teman-teman kakak kamu pada menginap di rumah", gumam ibunya Rizal.

__ADS_1


" Bagaimana ibunya Rizal bisa tahu kalau temen kak Dimas semalam nginep", Sari menatap ke arah Bi Nunung yang langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah karena tadi sudah bocor dengan menceritakan keadaan rumah dengan orang yang baru dikenal.


" Iya ramai, tapi pada mainnya di kamar kakak sih, nge game bareng. Jadi nggak ramai-ramai banget", gumam Sari sambil nyengir.


" Oh iya, Tante tadi belum memperkenalkan diri dengan baik, kenalin nama Tante Anisa, bagaimana kalau Sari panggilnya ibu saja, sama seperti kalau manggil ibunya Eli tadi, rasanya di panggil Tante memang sedikit aneh", pinta Bu Anisa, ibunya Rizal.


" Oh begitu , baik kalau begitu panggilannya Bu Anisa ya", ucap Sari sambil meringis.


Ibunya Rizal tampak sumringah karena Sari gadis yang penurut, nilai plus lagi untuk Sari .


" Bagus, kan jadi terlihat lebih akrab, apa nak Sari mau nemenin ibu buat beli bubur ayam, ada penjual bubur ayam yang paling enak loh di sini", ajak Bu Anisa.


" Maaf bukannya menolak, tapi mungkin lain kali saja Bu, ini jajan pasarnya sudah lagi di tungguin sama kakak, takutnya ngambek kalau Sari pulangnya kelamaan", Sari menolak dengan halus.


Ibunya Rizal kembali tersenyum,


" cara menolaknya pun, dengan tutur kata yang sopan dan tata Krama yang baik, satu nilai plus lagi untuk Sari", batin Ibunya Rizal.


Sari menganggukkan kepalanya, " kalau begitu, Sari permisi dulu ".


Sari menaruh tas jinjing di depan, sedangkan bi Nunung membawa plastik berisi jajan pasar dan bumbu-bumbu yang tadi sudah di pindahkan dari tas jinjing.


" Mari Bu... assalamualaikum", Sari menganggukkan kepalanya dan melajukan motornya untuk pulang.


" Nilai plus lagi, karena berpamitan dan mengucapkan salam, dia sangat sopan santun".


***


Setelah berjalan beberapa meter dari lokasi pasar, bi Nunung langsung meminta maaf pada Sari.


" Maaf ya Mba, tadi bibi keasyikan diajak ngobrol, jadi ngomongnya kebablasan, nggak bisa di rem", Bi Nunung berbicara dengan sedikit berteriak karena Sari melajukan motornya cukup cepat, agar cepat sampai di rumah.

__ADS_1


" Iya bi, nggak papa, yang penting jangan di ulangi lagi", jawab Sari dengan suara keras, agar terdengar oleh Bi Nunung.


Jam tangan Sari sudah menunjukkan pukul 07.14 WIB, seharusnya sudah selesai masak dari tadi, dan sarapan bersama, Kakek masih rutin mengkonsumsi obat, karena terus rawat jalan, nggak boleh makan kesiangan dan telat minum obat.


Yang tadinya rencana mampir ke rumah Musa untuk memasukkan sayur ke kulkas, akhirnya harus di pending, Sari langsung mengarahkan kemudi ke rumah kakek Atmo.


Sampai di rumah kakek Atmo, Sari dan Bi Nunung langsung menuju ke dapur untuk memasak.


Musa juga mengikuti istrinya ke dapur untuk ikut membantu.


Nasi sudah matang setengah jam yang lalu, dan sudah Musa aduk-aduk tadi, kini Musa mencabut colokan rice cooker dari stop kontak dan memindahkan Nasi ke wadah, kemudian meletakkan di meja makan agar nasi cepat dingin.


Bi Nunung memotong kangkung dengan begitu cepat, Sari menggoreng tongkol sambil mengupas telur puyuh yang akan dijadikan campuran balado tongkol, di bantu juga oleh Musa, membuat kegiatan kupas telur menjadi lebih cepat selesai.


Di tungku kompor yang sebelahnya, tengah di gunakan untuk menggoreng tempe mendoan, untung sekarang ada tepung mendoan yang instan, tinggal tepungnya di tambah air dan daun bawang, sudah langsung bisa di goreng bersama tempe, praktis.


Hanya 30 menit sayur kangkung, tempe mendoan, balado telur puyuh campur tongkol, sudah matang semua dan langsung di sajikan di atas meja makan.


" Wah... masak apa bi?, baunya dari kamar bikin perut jadi lapar", Dimas dan kedua temannya keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan.


Melihat Musa juga membantu mengeluarkan masakan dari dapur menuju meja makan, membuat Dimas, Agung dan Cahyo merasa tidak enak hati.


" Ustadz duduk saja , biar bibi sama Sari saja yang siapin sarapan", ucap Dimas yang akhirnya ikut membantu mengambil piring dan sendok.


" Nggak papa, lagian cuma mindahin ini, bukan hal yang sulit", ujar Musa.


Kakek Atmo bergabung dan duduk di kursi paling ujung, yang lain ikut duduk setelah semua hidangan sudah tertata rapi.


Sari mengambil nasi untuk kakeknya, kemudian untuk Musa, baru dia mengambil untuk dirinya sendiri, Dimas dan yang lain mengambil belakangan.


Semua terdiam saat tengah sarapan, hanya denting sendok dan garpu yang mengenai piring yang terdengar.

__ADS_1


Bi Nunung bersyukur karena Sari dan Musa membantunya, sehingga semua selesai dengan cepat dan bisa sarapan pagi bersama-sama.


__ADS_2