Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Dukungan Keluarga


__ADS_3

" Putri ibu sayang..., kenapa nggak pernah cerita sama ibu dan ayah kalau kamu sudah punya pacar?"


Linda sungguh bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri masih sedikit syok dengan kelakuan Dimas tadi.


" Itu..., anu Bu....Linda belum siap saja untuk cerita....", jawab Linda asal.


" Mba Linda pasti sengaja merahasiakan dari ibu dan ayah, dia kan sudah cukup umur untuk menikah, pakai alasan belum siap cerita".


" Mba nggak kasihan sama aku apa?, tiap hari jadi diomelin sama ibu dan ayah karena sudah punya pacar, sedangkan Mba nggak pernah sekalipun bawa cowok ke rumah !".


Nilam adalah adik Linda satu-satunya, dia langsung meluapkan isi hatinya, mumpung nemu momen yang pas.


" Baguslah kalau kakaknya Mba Sari mau seriusan sama Mba, beruntung banget dapat calon suami yang ganteng pake banget".


" Nilam setuju 100% kalau kakak married sama cowok tadi".


" Ayah dan Ibu juga setuju kan?", Nilam langsung memprovokasi kedua orangtuanya.


" Kalau menurut ibu... dia pria yang tampan, tadi juga kelihatan sopan, dan dari keluarga yang terpandang, jadi sudah cukup alasan untuk ibu dan ayah merestui hubungan kalian".


Linda hanya meringis, karena tidak mau sampai keceplosan, meski Linda sudah lama suka dengan Dimas, tapi kisah yang sebenarnya bahwa mereka baru saja resmi pacaran. Itupun keputusan sepihak dari Dimas, karena Linda hanya diam saat Dimas mengumumkan jika sekarang mereka resmi pacaran.


***


Dimas kembali ke rumah sakit untuk menemani Sari dan mamanya. Sementara papa ada dirumah untuk menemani kakek Atmo.


Saat masuk ke dalam kamar, Dimas langsung mendapat berondongan pertanyaan dari Sari.


" Gimana kak?, sukses?".


" Langsung nembak apa pedekate dulu?".


" Setahuku selama ini Linda masih sendiri, meski banyak yang ngedeketin dia, apa Linda sudah punya seseorang yang di pilihnya?".


" Kakak masuk ke rumahnya kan?".


" Ketemu sama orang tuanya nggak?".


" Kakak seharusnya memperkenalkan diri sebagai kakakku, ayah dan ibunya Linda pasti akan setuju...".


Sari baru bungkam ketika Dimas berjalan dan menutupi wajah Sari dengan bantal.


" Dimas, Sari belum pulih, kamu ini becandanya jangan begitu ih...", justru mama yang protes saat Dimas membekap Sari.


" Nggak papa ma, kak Dimas cuma becanda ", bela Sari.


" Lagian Sari nanya nggak selesai-selesai, kan aku jadi nggak bisa jawab".


" Aku jawab yang mana dulu nih...".


" Jadi yang tadi kamu kejar Linda, apa putra mama misinya sukses?", selidik Esti yang ikut kepo.


" Sukses dong".


" Ayah ibunya gimana?", Esti semakin penasaran.


" Seperti yang Sari bilang tadi, saat aku memperkenalkan diri sebagai cucu kakek dan kakaknya Sari, ibu dan ayahnya Linda langsung ACC (kasih ijin)".


Sari langsung membulatkan matanya, mendengar berita bagus ini.

__ADS_1


" Kakakku memang keren..., nggak sia-sia aku kirim rekaman suara Linda waktu itu", Sari cengar-cengir sendiri. Karena merasa senang jika yang akan menjadi iparnya adalah Linda, sahabatnya sendiri, yang sudah Sari kenal baik. Dan yang jelas Linda adalah gadis baik dari keluarga yang sudah dikenalnya.


Dulu beberapa kali Sari sempat main kerumah Linda bersama Eli dan Nina, saat menjenguk Linda yang sakit dan tidak masuk sekolah. Ibunya punya usaha katering yang sekarang sudah cukup terkenal, dan masakan ibunya Linda sangat enak. Sari tahu karena Sari sempat makan saat di rumah Linda.


" Linda langsung mau nerima kakak?".


Dimas menggelengkan kepalanya.


" Dia terlihat masih mempertimbangkan dan berpikir, mungkin dia masih ragu dengan pernyataan ku, gara-gara sikapku padanya dulu".


"Aku sudah minta ijin pada ayah dan ibunya, dan berjanji akan mengajak mama dan papa untuk berkunjung ke sana".


" Mama nanti sampaikan sama papa, rencana Dimas tadi".


" Mumpung mama dan papa lagi disini, Dimas harap Mama sama papa meluangkan waktu sebentar mengabulkan keinginan Dimas".


Esti mendekati Dimas dan memeluknya.


" Mama sebenarnya sempat khawatir, kamu akan menemukan gadis yang salah, tapi saat tadi mama ngobrol dengan Linda, mama bisa melihat ketulusan dan cinta yang begitu besar untuk kamu dari tatapan matanya".


"Mama akan langsung ngomong sama papa, untuk berkunjung ke rumah Linda, secepat mungkin". Ujar Esti meyakinkan.


Dimas membalas pelukan mamanya, sudah begitu lama momen seperti ini tidak terjadi, dan Sari begitu terharu saat mama dan kakaknya saling mencurahkan kasih sayang sebagai ibu dan anak.


" Ea.... ea....ea....ea....". Rasyid menangis karena pipis, membuat moment mengharukan langsung berubah menjadi senyuman ketiga orang dalam kamar itu.


Sari berdiri dan menghampiri box tempat Rasyid berada, kemudian membersihkan bagian bawah tubuh putranya, dan mengganti popok Rasyid dengan yang baru.


" Ternyata putra bunda pipis, apa pengin ikut-ikutan minta dipeluk juga kaya pakde?, sini bunda peluk sayang".


Sari menggendong Rasyid dan menciumi pipi yang chubby itu berkali-kali.


***


" Agak geser sedikit Mas, kalau bisa jangan mepet tembok, takut ada semut atau hewan kecil yang bisa merambat ke ranjang ".


Musa mengambil sudut paling pas untuk menaruh box bayi yang beberapa minggu yang lalu baru dibelinya. Musa dan Sari sudah berencana ingin menata kamar mereka, hari minggu besok, karena HPL (hari perkiraan melahirkan) Sari itu hari jum'at besok, namun ternyata persalinan Sari lebih cepat dari perkiraan, jadi Musa menitipkan Sari di rumah Sakit bersama mama dan Kak Dimas.


" Ya... sudah pas. Terimakasih ya Mas".


" Lemari bajunya di sebelah sini".


Musa terus mengatur letak barang-barang baru milik Rasyid.


" Paling cuma sampai beberapa bulan, nanti kalau Rasyid sudah bisa merangkak, lebih baik tidur bareng kalian di ranjang, takutnya bisa jatuh kalau tetap tidur di box bayi".


Umi memberi tahu sambil menata kasur kecil dan menata kain seprei di kasur Rasyid.


" Umi benar-benar bangga sama Sari, meski ini persalinan pertama, tapi dia begitu percaya diri, nggak manja dan nggak cengeng".


" Kemarin sesekali Umi melihat yang di bilik sebelah Sari, perempuan itu terus teriak-teriak sambil mengeluarkan kalimat sumpah serapah pada suaminya, katanya gara-gara suaminya dia jadi merasakan sakit yang amat sangat".


Umi sampai menggelengkan kepalanya saat mengingat yang dilihatnya kemarin.


" Musa juga sangat bersyukur karena Sari nggak manja, dan nggak banyak kemauan ini itu saat hamil".


" Cuma sedikit lebih cemburuan saja di awal kehamilan, setelah ketahuan ternyata sedang hamil, semua kecemburuannya mereda dengan sendirinya".


Musa tersenyum saat teringat kemarahan Sari di awal kehamilannya. Karena itu justru membuat Sari menjadi sangat lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


" Umi istirahat di rumah saja, Musa akan kembali ke rumah sakit, Musa sudah meminta salah satu koki hotel besok kemari untuk membantu Umi masak-masak".


Umi menatap jam dinding " Makan malam saja dulu, baru kamu kembali ke rumah sakit".


Musa pun makan malam bersama kedua orangtuanya di rumah, saat hendak ke rumah sakit, Musa sengaja membeli martabak dan beberapa cemilan, sengaja untuk Dimas dan Mama, apalagi tadi Dimas mengajak dua temannya, jadi sebagai ungkapan terimakasih sudah menjaga Sari .


Namun saat Musa sampai di rumah sakit, hanya ada Sari dan mama saja. Akhirnya Musa meletakkan martabak dan cemilan di meja, Musa berpamitan untuk sholat Isa di masjid rumah sakit.


Saat kembali dari rumah sakit, suasana kamar begitu mengharukan, ada Kak Dimas dan mama yang tengah berpelukan, ada juga Sari yang sedang menggendong Rasyid sambil mengecup pipinya berulang kali.


" Wah... ada apa ini?, apakah aku ketinggalan berita?". Musa masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


" Kak Dimas habis ke rumah Linda, sudah ngobrol serius sama ayah dan ibunya Linda".


" Terus sekarang ceritanya lagi minta mama buat ngomong ke papa biar secepatnya main ke rumah Linda".


Musa mengangguk-anggukkan kepalanya,


" syukurlah kalau begitu, saya pasti akan mendukung keputusan Kak Dimas".


Dimas menatap Musa, " jadi kemarin sama ayu nggak mendukung ceritanya?".


" No comment !", ujar Musa sambil tersenyum dan membelai pipi Rasyid yang sudah tertidur.


***


Pagi hari Musa, Sari, Dimas, mama dan Rasyid langsung masuk ke mobil, setelah semua administrasi selesai di urus.


Papa tidak menjemput, karena sengaja mengantar kakek langsung ke rumah Musa.


Dan saat Musa dan rombongan sampai di rumah, umi, Abi, kakek Atmo, papa dan bi Nunung menyambut kedatangan mereka.


" Alhamdulillah hirobbil'alamin, cucu Akung dan Uti akhirnya sampai di rumah juga", Umi langsung mengambil Rasyid dari gendongan Esti.


" Istirahat dulu mba, biar Rasyid sama saya, pasti capek nginep di rumah sakit, tidurnya nggak nyaman".


Esti tentu saja menyerahkan Rasyid, karena memang semalam kurang tidur, Rasyid sebentar-sebentar bangun dan menangis, dengan berbagai alasan, karena pipis lah, habis pipis jadi lapar minta nen sama bundanya, habis nen pup...dan entah sampai berapa kali mengulang hal seperti itu semalaman.


Sebenarnya Sari dan Musa begitu telaten mengurus Rasyid sendiri, tapi mama yang merasa berisik karena tangisan Rasyid jadi tidak nyenyak tidur.


Saat semua sedang sibuk dengan Rasyid, diam-diam Esti mengajak Triono ke teras samping.


" Pa, mama mau ngomong penting".


Dan berceritalah mama Esti panjang lebar tentang permintaan Dimas pada mereka.


" Jadi gadis itu sahabat Sari?, kalau memang dia gadis baik-baik, tentu saja papa nggak masalah jika kita ke sana malam ini juga".


" Papa serius?".


" Tentu !, dua rius malah".


" Kalau begitu mama bilang sama Dimas biar mengabari Linda untuk rencana kedatangan kita nanti malam ya Pa?".


" Iya, jangan lupa pesan semua yang harus di bawa ke sana, yang terbaik, biar nggak malu-maluin".


" Siap papa, papa memang paling pengertian ", Esti memeluk suaminya dengan erat saking senangnya.


Dan langsung melepas pelukkan ketika kakek Atmo menghampiri mereka.

__ADS_1


Mama langsung menyampaikan rencana mereka pada kakek, Kakek Atmo pun langsung setuju untuk ikut, karena kakek sudah mengenal Linda, dan pernah bertemu dengan orang tuanya juga, waktu kumpulan wali murid, saat Sari masih SMA.


__ADS_2