Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Tak Mengakui


__ADS_3

Ini bukan cerita yang di ulang, tapi bercerita dari sisi Musa ya guys...


Musa POV


Aku memilih untuk tidur sambil memeluk tubuh Sari dengan erat, sebenarnya juniorku sudah 'bangun' dan aku begitu 'ingin melakukannya', namun Sari terlihat sangat lelah setelah seharian bekerja, jadi aku tidak mau memaksakan keinginanku untuk menc*mbu nya.


Tunggu besok pagi, sesuai dengan anjuran dokter Kurni, berhubungan di pagi hari akan sangat bagus untuk pasangan yang ingin segera mempunyai momongan untuk berhubungan suami-istri.


Pagi hari aku terbangun saat adzan subuh berkumandang, kulihat Sari masih tertidur dengan lelap, ku bangunkan Sari dan ku ajak dia subuh berjamaah di rumah, aku sengaja tidak subuh ke mushola, karena rencanaku untuk menghabiskan waktu bersama Sari pagi ini, aku ingin melakukan hal yang sudah tertunda semalam.


Kami subuh bersama, saat aku masih melakukan dzikir dan wirid kulihat Sari berjalan menuju arah kamar, aku memilih menyelesaikan wirid ku terlebih dahulu. Seperti kata guruku, "sebelum 'berusaha', sebaiknya berdoa terlebih dahulu, agar apa yang kita minta akan di kabulkan oleh Sang Maha Pencipta", pesan itu masih selalu aku ingat sampai sekarang. Dan aku ajarkan juga pada murid-muridku.


Saat aku selesai wirid dan menuju kamar untuk mengganti pakaian, ponselku tiba-tiba berdering, kulihat nomor baru yang menelepon, saat ku angkat ternyata salah satu mahasiswi ku yang menelepon, menanyakan tentang materi pelajaran minggu lalu.


Aku menjawab secara singkat pertanyaan yang diajukan oleh murid ku itu, namun mungkin karena aku terlalu cepat memberi penjelasan justru membuat murid ku semakin bingung, membuatku merasa lucu dengan sikap jujur murid ku itu, akupun tersenyum karena merasa lucu.


Dan saat itu tiba-tiba Sari masuk ke dalam kamar dengan wajah di tekuk, dia seperti sedang marah. Dia menanyakan siapa yang menelepon ku, dan ku jawab murid ku yang menelepon.


Namun setelah ku jawab dia kembali bertanya laki-laki atau perempuan, aku beri tahu yang menelepon perempuan, membuat Sari semakin marah dan berbicara dengan suara keras, mengatakan jika aku menyebalkan. Apa yang salah denganku?.


Ku ikuti kemana Sari pergi, ternyata dia duduk di sofa ruang santai sambil menangis sesenggukan, aku kembali berpikir apa kesalahan ku, tidak biasanya Sari marah-marah seperti ini.


Aku pun meminta maaf agar Sari lebih merasa tenang, meski aku sendiri bingung aku minta maaf untuk apa, yang penting aku harus minta maaf karena tadi Sari mengatakan kalau aku menyebalkan, itu berarti Sari sedang marah padaku.


Dan saat aku mencoba menenangkannya, ternyata alasan dia marah karena dia cemburu. Ya benar, Sari cemburu dengan murid yang tadi meneleponku. Padahal dia hanya seorang murid yang bertanya, aku bingung dengan sikap Sari yang begitu cemburu dan sensitif.


Tapi di satu sisi aku juga bahagia, karena kecemburuan Sari menunjukkan jika Sari benar-benar mencintaiku.


Aku berpikir bagaimana caranya untuk menghentikan tangisnya, ku kecup bibirnya, namun justru Sari menghindar dan mendorong wajahku dengan meletakkan telunjuknya di depan bibirku, dia menanyakan apakah bibirku ini hanya menyentuhnya?.

__ADS_1


Tentu saja iya, 100% aku yakin hanya pernah menyentuhkan bibir ini hanya dengan bibir Sari saja seumur hidupku (pengecualian untuk umi dan abiku). Bagaimana mungkin dia menanyakan hal seperti itu, Sari benar-benar membuatku merasa gemas padanya.


***


Author POV


Perasaan Musa begitu menggebu-gebu, karena kecemburuan Sari kepadanya, itu berarti Sari begitu mencintainya, dan sudah begitu dalam perasaan cinta Sari kepadanya.


Meski Sari jarang mengucapkan secara lisan bahwa Sari mencintai Musa, tapi dengan sikap marah Sari karena kecemburuannya sudah mewakili semua isi hatinya.


Musa langsung menghimpit Sari di bawah kungkungan nya, terus ******* bibir Sari dengan begitu semangat. Sari tak lagi melakukan penolakan, pada dasarnya Sari sudah menyiapkan jiwa dan raganya untuk 'pertempuran' pagi ini, berharap apa yang di inginkan olehnya dan oleh semua anggota keluarganya segera terkabul. Memiliki momongan.


Kini mereka berdua masih terus saling memag*t satu sama lain, tidak peduli di mana kini mereka berada. Sari kembali terlena dengan sentuhan-sentuhan lembut yang dilakukan oleh Musa, sekujur tubuhnya merasa begitu panas karena aliran darah mengalir dengan begitu cepat.


Musa mulai melepas kancing piyama Sari, setelah berhasil melepasnya, dia pun melepas baju Koko yang dikenakannya.


Saat Musa sibuk melepas bajunya, entah dorongan dari mana, Sari berinisiatif untuk menjadi lebih dominan, Sari membantu Musa agar lebih cepat menanggalkan bajunya, dan mendorong tubuh Musa, sehingga terlentang di atas sofa, kini posisi Sari yang berada di atas tubuh Musa, mungkin karena perasaan cintanya yang tengah meluap-luap ditambah Libido yang meningkat, membuat Sari begitu bersemangat.


Musa tidak bermaksud melepasnya, hanya membalik posisi dan mengunci Sari di bawah tubuhnya. Kemudian gantian Musa yang bergerak naik turun di atas tubuh Sari yang kini berada di bawahnya.


Mungkin benar yang di ucapkan dokter Kurni, di pagi hari level hormon testosteron dan estrogen memuncak, dan libido dapat dipengaruhi oleh hormon sek*ual tersebut. Membuat Musa dan Sari merasa begitu bersemangat.


Hingga Musa mempercepat gerakannya dan melakukan hentakan terakhir, menyirami rahim Sari dengan benih-benih yang keluar dari tubuhnya.


Gelora cinta yang tengah sama-sama mereka rasakan membuat 'hubungan suami-istri' yang mereka lakukan pagi ini begitu indah.


Mungkin baru kali ini Musa merasa begitu 'turn on', dengan bagian anggota tubuhnya. Merasakan begitu prima, dan membuat Sari merasa sangat 'puas' dengan hubungan yang mereka lakukan.


Mereka berdua sama-sama lelah dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, sambil mengatur nafas agar kembali normal.

__ADS_1


Kruwuk.... kruwuk.....


Musa langsung tersenyum mendengar bunyi perut Sari. Ternyata kegiatan panas yang mereka lakukan membuat Sari merasa lapar. Tentu saja, karena Musa juga sudah merasa sangat lapar saat ini.


Sari masih tiduran di sofa dan memiringkan tubuhnya ke kanan, menyembunyikan wajahnya di sandaran sofa, selain malu karena bunyi perutnya terdengar begitu nyaring, Sari juga malu karena tadi bertindak begitu aktif dan agr*sif.


Musa membiarkan Sari tetap tiduran di sofa, dia sendiri ke meja makan dan mengambil sarapan di satu piring dengan porsi double. Pagi ini Musa ingin makan sepiring berdua dengan Sari. Musa membawa piring berisi makanan penuh dan juga gelas berisi air putih penuh ke ruang santai.


" Sarapan dulu sayang...", Musa meletakkan piring dan gelas di atas meja, menyalakan televisi yang menyiarkan acara-acara kartun anak-anak.


" Sari membenahi diri dengan mengancing bajunya kembali, memposisikan dirinya untuk duduk di sofa dan menenggak habis segelas air putih yang dibawakan Musa.


" Haus ya?, hehehehe", Musa hanya tersenyum sambil mengambil botol berisi air putih dan meletakkannya di meja.


" Maafkan Sari kalau tadi Sari begitu kekanak-kanakan, Sari nggak suka kalau Mas itu dekat dengan wanita lain", Sari menunduk malu, karena entah kenapa sikapnya tidak seperti biasanya, Sari yang biasanya tidak peduli dengan siapa Musa berteleponan, atau tersenyum lebar saat mengobrol, tapi kali ini Sari begitu cemburu, mungkin karena semalam Musa sudah menjanjikan untuk 'melakukan itu' pagi ini, dan Sari yang sudah mempersiapkan diri menerima perlakuan Musa, namun Musa justru tak kunjung mengajaknya.


" Iya sayang, Mas nggak papa kalau kamu cemburu, itu tandanya kamu benar-benar mencintai Mas".


" Siapa yang cemburu?, Sari bukan type pencemburu, Sari cuma nggak suka kalau Mas tersenyum begitu saat ngobrol sama cewek lain", gumam Sari, tidak mengakui bahwa dirinya cemburu.


" Ya sudah kalau nggak mau ngaku juga nggak papa, yang penting mas sudah senang melihatmu tadi cemburu", Musa sengaja menggoda Sari.


" ih...Mas kalau Sari bilang nggak cemburu ya enggak, titik !",


Sari beranjak dan pergi ke kamarnya kembali merajuk.


" Iya sayang... tadi nggak cemburu, cuma ngomel-ngomel nggak jelas saja, karena marah dengan kebodohan Mas!", teriak Musa ketika Sari masuk kamar dan menutup pintunya.


" Haduh... jangan marah lagi, padahal kan Mas cuma becanda sayang!", Musa menggedor-gedor pintu kamar, merasa pusing dengan sikap Sari menjadi sangat sensitif.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Libido : istilah yang digunakan untuk menggambarkan dorongan atau hasrat seksual seseorang untuk melakukan aktivitas atau hubungan seksual


__ADS_2