
Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156)
***
Sepanjang perjalanan Sari mengunci mulutnya rapat, berharap Musa bisa fokus menyetir mobil dan cepat sampai di rumah kakek. Sedangkan sepanjang perjalanan Musa berusaha menenangkan Sari.
Sampai di rumah kakek, sudah ada banyak orang hilir mudik di sana, bi Nunung yang melihat mobil Musa, langsung menghampiri dan meraih Rasyid ke dalam pelukannya saat Sari turun dari mobil.
Bendera putih bertuliskan inna lillahi wa innaa ilaihi rooji'uun berkibar karena diterpa angin.
Kelopak mata Sari langsung dipenuhi dengan genangan air mata. Kakinya terasa lemas, dan sangat berat untuk melangkah.
Meski Musa sudah menenangkannya sepanjang perjalanan dengan berbagai cara, tapi saat melihat keadaan rumah kakek yang ramai, dan saat sampai di kamar melihat tubuh kakek yang membujur tak menghembuskan nafas lagi, di sampingnya ditemani pak Irsyad, Umi dan Abi yang sedang bertadarus Al Qur'an. Sari tak lagi bisa menahan tangisnya.
Usaha Sari untuk menahan tangis sejak tadi pun akhirnya gagal, air matanya bagaikan mata air yang mengucur deras membanjiri pipinya. Sari langsung menekuk lutut dan memeluk jazad kakeknya yang terlihat seperti orang yang sedang tertidur sambil tersenyum.
Meski tanpa suara, namun melihat dari bahunya yang naik turun, sambil sesegukkan, semua orang tahu jika Sari tengah menangisi kepergian kakeknya.
" Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun, astaghfirullah hal'adzim", Umi membimbing Sari agar beristighfar.
Kini suara orang bertadarus terdengar semakin ramai, para tetangga semakin banyak berdatangan mengucapkan bela sungkawa, dan ikut melakukan prosesi pengurusan jenazah, hingga ke pemakaman.
Tepat saat adzan Isa berkumandang, pemakaman Kakek Atmo sudah selesai dilakukan, semua proses berjalan dengan lancar dan cepat.
***
Abi POV
" Mbahe tiyang sae, mulo katah ingkang nganter tindak pesarean" ( Kakek orang baik, makanya banyak yang mengantar ke pemakaman).
" Insyaallah mlebet suarganing Gusti Allah, Si Mbah Atmo kan ngibadaeh rajin sanget, nopo malih sodakohe, Masya Allah ra tau keri" ( insyaallah masuk surga, kakek Atmo kan sangat rajin beribadah, apalagi sodakoh nya nggak pernah ketinggalan).
" Sing krasa kelangan banget mesti ya Sari, putu wadon sing manggon bareng, mbatiri wis welasan taun, kawit sedane Mbah putri" ( Yang merasa benar-benar kehilangan pasti Sari, cucu perempuan yang tinggal bersamanya, menemani sudah belasan tahun, semenjak nenek meninggal).
" Wong Urip mesti utang pati, apa maning nyatane mbahe wis sepuh, tapi termasuke ya dewei umur dawa, kelakon menangi putune pada dadi wong sukses. Siji dadi dokter, wis mbojo karo dosen, siji maning kerja neng kantor, olih bojone pegawe bank" ( Yang hidup pasti berhutang mati, apa lagi kenyataannya kakek sudah tua, tapi kakek tergolong panjang umur, sampai menyaksikan cucu-cucunya menjadi orang sukses. Satu menjadi dokter dan sudah menikah dengan dosen, satu lagi bekerja kantoran, dan istrinya bekerja di bank).
__ADS_1
" Kira-kira kie umah arep depanggoni sapa ?, putune wis pada mbojo, manggone ngetutna bojone kabeh, anake apa maning ora tau gelem manggon neng kene"( Kira-kira rumah ini siapa yang akan menempati ?, cucunya sudah pada menikah, tinggalnya mengikuti pasangan, apa lagi anaknya tidak pernah mau tinggal disini).
Dan masih banyak obrolan-obrolan dari orang yang sedang takziah di rumah kakek Atmo tertangkap oleh telingaku.
Malam ini acara pengajian kirim doa untuk Kakek Atmo langsung dilaksanakan. Begitu banyak jama'ah yang hadir, pasti karena kakek adalah orang yang supel, mudah bergaul dengan semua orang dan semua kalangan. Banyak kenalan dan juga aktif di perkumpulan.
Aku jadi kembali mengingat saat tadi, pagi menjelang siang beliau meneleponku .
" Maaf mengganggu, pasti sedang sibuk urus kambing sama sapi ya?".
Saat itu nada bicara kakek masih baik-baik saja, aku tidak menaruh curiga sedikitpun. Tapi saat di akhir percakapan kalimatnya membuatku memilih menyerahkan pisau yang akan ku gunakan untuk memotong-motong daging sapi kepada panitia lainnya.
" Kakek menelepon cuma mau memohon maaf sebesar-besarnya, jika sudah banyak merepotkan Abi dan ummi nya Musa selama ini, dan kakek titip Sari, tolong sayangi dan jaga dia seperti kalian menyayangi dan menjaga anak sendiri".
Bisa kudengar suaranya yang serak, mungkin menahan tangis.
Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, mengajak istriku pergi ke Purwokerto, menggunakan kereta api, untung masih dapat tiket dengan keberangkatan paling dekat.
Hampir 4 jam perjalanan, kami sampai di stasiun. Jam setengah 3, aku dan istri memutuskan untuk sholat Dzuhur distasiun, sudah sangat akhir, tapi semoga masih di terima.
Sampai di rumah kakek jam 3 lebih, aku mendengar suara seorang wanita yang sedang mengaji dari dalam kamar, ternyata bibi yang mengasuh Rasyid duduk di samping kakek, saat itu tatapan mata kakek sudah kosong dan tidak bisa diajak bicara lagi.
Aku langsung mengambil wudhu dan ikut membaca Al Qur'an yang kuambil dari atas nakas. Begitu juga dengan istriku.
Saat itu aku belum menyadari jika putra dan menantuku ternyata belum berada di rumah itu. Aku kira mereka sudah ada di sini, makanya aku tidak menghubungi Musa ataupun Sari.
Baru saat kakek sudah menghembuskan nafas terakhirnya, Aku mundur dari tempatku duduk dan mengabari keluarga jika kakek sudah tiada, jam 5 sore, waktu yang sangat tanggung untuk memakamkan jenazah, tapi ternyata Irsyad menyarankan untuk langsung di sucikan dan dimakamkan, itu adalah pesan dari kakek langsung, sebelum beliau meninggal.
Dan tak kuduga, saat kabar meninggalnya beliau di siarkan di pengeras suara masjid dan mushola-mushola, begitu banyak tetangga yang datang untuk ikut menyolati serta mengantarkan ke pemakaman.
Bahkan saat mengantar jenazah ke pemakaman, sudah ada begitu banyak warga yang berada di sana, mereka ikut membuat lubang kubur untuk kakek, mungkin ada sekitar 25 orang atau lebih.
Pantas saja hanya beberapa jam lubang itu sudah siap untuk menguburkan jenazah kakek.
Aku semakin dibuat terharu dengan semua kemudahan dan kelancaran proses pemakaman Kakek Atmo. Dan semakin terharu ketika melihat betapa banyak orang yang datang melayat dan ikut mengantar kepergiannya.
__ADS_1
Saat pulang dari pemakaman kulihat ratusan rangkaian bunga ucapan turut berduka cita dari berbagai kalangan. Ada yang dari pribadi, instansi-instansi, perusahaan, pejabat pemerintah, dan dari berbagai kalangan lain sudah berjajar rapi sepanjang perjalanan menuju ke rumah.
Memang benar kata-kata bijak yang sering aku dengar, " apa yang kau petik sekarang itu adalah hasil dari apa yang selama ini kau tanam. Benih-benih yang kau sirami dalam hidup mu secara terus menerus akan tumbuh dan menghasilkan buah yang nantinya akan kau petik dan nikmati".
" Seperti hal nya dengan sikap mu selama ini. jika saja kau bebuat baik niscaya kau akan selalu mendapatkan kebaikan dari sekitarmu".
Aku teringat ada salah satu ayat di alqur’an yang menjelaskan bahwa, " berbuat baiklah, mudahkan seseorang yang sedang kesulitan maka lihatlah kau pun akan dimudahkan oleh Allah".
Dan itu semua benar adanya, bisa ku lihat sendiri saat ini, betapa Allah mempermudah semua proses, dari mensucikan jenazah, mengantar, hingga memakamkan jenazah kakek Atmo.
Jika kita berbuat baik kepada sesama tanpa kita sadari kebaikan selalu ada di sisi kita. Tergantung bagimana hati kita menyikapi suatu hal, akan lebih baik bila kita terus berprasangka baik terhadap sesama dan juga kepada Sang Pencipta.
***
Musa masih berusaha menenangkan Sari, tentu saja menggunakan Rasyid sebagai alasan agar Sari tetap sadar dan tidak terlarut dalam kesedihan.
Sebenarnya Musa juga memaklumi kesedihan yang Sari rasakan, karena selama ini Sari lebih dekat dengan kakeknya dari pada dengan mama papanya. Tidak heran jika Sari begitu merasa kehilangan.
" Sayang... meski kamu sedang tidak ingin makan, tolong tetap makan, Rasyid masih membutuhkan bundanya, jangan sampai karena kamu terlarut dalam kesedihan, membuat ASI kamu tidak lancar, dan akan berdampak juga pada putra kita".
Sari hanya mengangguk tanpa ekspresi, seperti itik yang kehilangan induknya. Padahal dari kemarin Sari sudah belajar menata hati, untuk menerima jika sewaktu-waktu kakeknya harus pergi menghadap Sang Ilahi.
Tapi pada kenyataannya, Sari sulit untuk bisa bersikap se-biasa mungkin. Karena kakek sudah seperti soulmate nya selama ini.
Kakek yang dulu Sari kira begitu egois, dengan memaksanya untuk tinggal di Purwokerto. Ternyata adalah malaikat tak bersayap Sari, karena kakek yang bisa membuat Sari perlahan berubah menjadi lebih baik.
Dulu kakek yang mencarikannya ustadz untuk mengajar ngaji, kakek yang selalu datang di setiap pertemuan wali murid, Kakek yang menghiburnya saat dia sedang merasa sedih, Kakek yang selalu mengucapkan selamat di setiap keberhasilan yang dicapainya, Kakek yang datang di hari kelulusannya di SMA. Kakek yang selalu bahagia untuk kebahagiaannya, dan akan bersedih untuk kesedihan yang dirasakannya.
Hidup Sari penuh dengan kenangan bersama kakeknya. Jadi tentu saja sulit untuk Sari tetap bersikap baik-baik saja, saat hatinya merasa begitu sedih.
" Selamat jalan kakek Atmo, semoga kakek di tempatkan di tempat terindah, tempat yang penuh kedamaian di sisi-Nya, Sari akan mencoba untuk mengikhlaskan kepergian kakek".
" Kau adalah kakek yang terbaik, Sari akan belajar melakukan dan melanjutkan semua kebaikan yang kakek lakukan selama ini, insyaallah.... ", do'a Sari usai dia melaksanakan sholat sunah Anisil Qabri*.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
*Shalat Anisil Qabri ini adalah sholat sunah pada malam pertama jenazah dikuburkan. Dengan harapan shalat ini bisa memberikan pertolongan kepada jenazah sehingga ia selamat dari siksa kubur.