Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kejutan dari Abi dan Umi


__ADS_3

" Terserah kalian lah". Musa memilih pergi meninggalkan kedua temannya yang semakin kepo.


Secara.... Ardi dan Hendrik tahu, sejak dulu Musa tidak pernah akrab dan dekat dengan perempuan manapun, jika ada murid dengan suara lembut menelponnya di saat liburan sekolah, bukankah itu spesial?.


Musa duduk di kursi depan terasnya menghindari teman-temannya yang semakin kepo dan menggodanya terus-menerus. Sambil menatap langit biru yang mulai berubah menjadi jingga, dan burung-burung yang berterbangan kembali ke sarangnya, pertanda hari akan segera gelap dan waktu untuk berbuka puasa akan segera tiba.


Di raihnya ponsel yang bergetar dari dalam sakunya, dan melihat pesan yang baru saja masuk.


~ Putra Abi dan umi yang paling ganteng, Abi dan Umi sudah sampai di solo sejak kemarin, maaf tidak memberi tahu mu lebih awal, Abi dan umi sengaja ingin memberi kejutan. Jangan susul kesini, karena Abi dan Umi sedang dalam perjalanan menuju ke kediamanmu di Purwokerto, mungkin sampainya malam, karena baru sampai Boyolali, nanti Abi dan umi buka puasa di luar, sampai ketemu nanti malam sayang~


Musa langsung tersenyum lebar karena mengetahui kedua orang tuanya hendak datang. Musa mencoba untuk melakukan panggilan dengan Abi dan ummi, tapi sayangnya tidak mereka angkat, mungkin mereka sedang di mobil, sehingga tidak tahu kalau Musa melakukan panggilan. Akhirnya Musa mengurungkan niatnya menelepon mereka .


Setelah mematikan panggilan yang tidak kunjung diangkat, Musa masuk ke dalam rumahnya menjumpai Ardi dan Hendrik yang masih berada di ruang tamu.


" Kenapa?, apa murid spesial kamu mau datang kesini?, kok ekspresi mu begitu sumringah, mencurigakan", tuduhan Ardi justru membuat Musa yang tadi sedang tersenyum lebar, berubah seketika menjadi manyun.


" Cukup ya bercanda nya, mulai saat ini, jangan ada yang bahas tentang hal ini lagi, karena ada kabar yang lebih membahagiakan saat ini", ungkap Musa.

__ADS_1


" Hal apa yang membuatmu jadi sebahagia ini?, apa kamu menang undian Mus?", Musa kembali manyun mendengar tebakan Hendrik yang nggak jelas.


" Lebih dari sekedar menang undian, karena Abi dan umi sedang dalam perjalanan menuju ke sini, kalian tahu nggak rekomendasi makanan yang enak-enak?", Musa berpikir hendak menjamu kedua orangtuanya dengan maksimal, agar Abi dan uminya kerasan main ke rumahnya.


Ardi dan Hendrik saling menatap sambil membelalakkan matanya. " Jadi Abi dan Umi kamu sudah ada di Indonesia?, kapan mereka sampai?, kenapa kita nggak susul ke solo saja?, sekalian aku mudik", ujar Hendrik.


" Katanya sampai di Indonesia kemarin, dan sekarang mereka sudah menuju kemari, sedang dalam perjalanan, memang baru sampai di Boyolali si, mungkin sampai di sini malam, habis tarawih, jadi tau nggak rekomendasi tempat yang bisa DO makanan yang enak?", Musa mengulangi pertanyaannya.


Ardi yang paling banyak kenalannya diantara mereka bertiga, langsung memesan makanan melalui aplikasi di ponselnya. " Sudah aku pesenin, ini sudah hampir Maghrib, mungkin sampainya pas kita lagi buka puasa nanti".


Sementara pesenan Ardi untuk menu buka puasa mereka bertiga sudah tersaji di ruang makan, Ardi memang meminta salah satu temannya yang membuka usaha rumah makan untuk membuatkan menu spesial untuk mereka buka bersama.


Dari pertemuan di seminar itu, karena merasa mempunyai tujuan yang sama, akhirnya mereka berdua bekerja sama untuk memulai bisnis bersama, Ardi yang kesulitan dalam mencari modal, sangat bersyukur bertemu dengan Musa yang mempunyai modal tapi tidak bisa menjalankan bisnis sendiri, bukan karena tidak bisa, tapi karena dari dulu Musa memang bercita-cita menjadi guru dan sangat menikmati pekerjaan itu.


Sebenarnya Musa juga mendapat tawaran dari IAIN Salatiga untuk menjadi dosen bahasa Arab disana, karena sebagai lulusan terbaik di Al-Azhar seolah membuka pintu akses kemana saja untuk menjadi seorang guru agama, tapi karena Musa mempertimbangkan permintaan pamannya, yaitu Pak Irsyad untuk membantunya mengajar di SMA negeri yang di kepalai oleh nya saat ini, Musa mencoba menerima tawaran Pak Irsyad, selain menambah pengalaman menjadi guru di SMA, juga bertujuan untuk membantu pamannya.


Di bulan kedua Irsyad mengajar, dia mengikuti tes pendaftaran calon pegawai negeri sipil, dan alhamdulilah langsung diangkat, karena pengalamannya yang juga pernah menjadi asisten dosen saat masih kuliah, mempermudah jalannya mendapat poin plus.

__ADS_1


Di bulan itu juga Musa bertemu lagi dengan Hendrik teman SMA nya saat di Solo, saat mengikuti tes CPNS di jogja, Musa sengaja main ke rumahnya di Solo, sekalian mampir ke rumah Hendrik yang dulu adalah teman dekatnya. Saat itu Hendrik memang sudah membuka bengkel motor di rumahnya dan saat Musa menawarkan kerjasama untuk membuka bengkel yang lebih besar, dengan senang hati Hendrik menerima tawaran itu, dan ikut Musa ke Purwokerto, membuka bengkel yang cukup besar dengan empat orang karyawan dan juga seorang administrasi, Hendrik sebenarnya ikut tinggal di rumah Musa tapi dia jarang pulang kerumah, karena lebih sering menginap di bengkel.


Bermodal kenalan Ardi yang begitu banyak, juga guru-guru kenalan Musa dan terus menyebar ke kerabat, saudara dan teman mereka, selama empat bulan bengkel beroperasi, kini alhamdulilah sudah mempunyai banyak pelanggan setia yang mempercayakan kendaraannya untuk sekedar di servis ataupun perbaikan di bengkel mereka.


Dan terhitung selama 7 bulan Musa di Indonesia, dia sudah mempunyai tiga usaha sampingan, di luar pekerjaan utamanya menjadi seorang guru.


Selama itu juga kedekatan antara Musa, Ardi, Hendrik semakin terjalin dengan baik, lima bulan Ardi dan Musa saling mengenal, mereka berdua sudah saling menaruh kepercayaan satu sama lain. Selama awal membangun usaha memang sedikit mendapat kendala, tapi mereka optimis dan berusaha untuk terus maju.


Sedangkan Hendrik yang baru datang kerumah Musa empat bulan yang lalu, menjadi dekat juga dengan Ardi, bahkan sekarang Ardi dan Hendrik lebih sering bertemu dari pada dengan Musa, Ardi sering menanyakan perihal tentang Musa saat masih SMA pada Hendrik, dan penjelasan Hendrik tentang Musa saat SMA, masih sama seperti saat ini, sifat dasar tidak pernah berubah, hanya lebih agamis, mungkin karena Musa semakin mengetahui banyak tentang ilmu agama.


" Sudah hampir 5 tahun, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Abi dan ummi, dulu mereka berdua selalu mesra dimana pun berada, membuatku berharap kedua orang tuaku juga bisa seperti Abi dan Umi kamu". Hendrik yang saat SMA dulu sering bermain kerumah Musa, kembali mengingat bagaimana mesranya kedua orang tua Musa. Bukan mesra dalam arti mengumbar kemesraan saling berpelukan atau apalah tentang hubungan fisik, tapi mesra yang orang tua Musa tunjukkan itu adalah dari segi tutur kata dan sorot mata yang penuh kasih sayang saat mereka saling melempar pandangan. Rasanya hubungan mereka sungguh adem, damai dan harmonis.


" Bukankah kedua orang tuamu juga sangat mesra, kemarin saat aku bermain ke rumahmu, beliau berdua kompakan pas mau mengambil sendok nasi, sampai kayak di sinetron tangan mereka saling bertemu di atas magicom", Musa tersenyum saat mengingat bapak dan ibunya Hendrik tarik menarik sendok Nasi karena mereka mengulurkan tangan untuk mengambil sendok nasi disaat yang bersamaan.


" Kamu itu Mus, nyindir ya, jelas-jelas saat itu mereka saling tarik menarik berebut sendok nasi, kayak orang kelaparan", mengingat kejadian saat itu, Hendrik benar-benar merasa emosi karena tingkah kedua orangtuanya, dan sangat malu pada Musa yang sedang bertamu dirumahnya waktu itu.


" Itu juga wujud kemesraan Ndrik, masih bisa makan bersama, kan ada banyak keluarga yang suami, istri dan juga anaknya itu makan sendiri-sendiri karena kesibukan masing-masing".

__ADS_1


Hendrik kembali berpikir, " ada benarnya juga ucapan Musa, memang sudah menjadi bidangnya untuk menceramahi seseorang", batin Hendrik sambil manggut-manggut.


__ADS_2