Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Cemburu


__ADS_3

Sampai di depan rumah kakek Atmo lampu rumah terlihat sudah mati. Saat ini pukul setengah 11 malam, pintu gerbang juga sudah di tutup rapat, padahal tadi pagi Sari sudah berpesan akan pulang ke rumah kakek Atmo malam ini.


" Gimana?, mau tetep masuk ke dalam, atau mau pulang ke rumah kita?", Musa mematikan mesin mobilnya, dan menggeser tubuhnya menatap Sari, Sari mengernyitkan dahi, terlihat tengah berpikir.


" Coba Sari telepon Kak Dimas dulu, kalau nggak di jawab, kita pulang ke rumah kita", Sari mengambil ponselnya dan menelepon Dimas, teleponnya diangkat.


" Halo assalamualaikum Kak, belum tidur ya?, Sari lagi didepan rumah sama Mas Musa, bisa tolong bukakan pintu?"


" Siapa sih yang telepon malam-malam begini sayang?, ehm.... gangguin kenikmatan kita saja, ehm... ssssshhhhhh.....".


Sari bisa mendengar suara seorang wanita berada di dekat Dimas, suara yang begitu manja dan sesekali merintih, mendengarnya saja Sari langsung merinding, sepertinya Dimas sedang bersama pacarnya dan entah apa yang sedang mereka lakukan, yang jelas Sari langsung berpikir yang 'tidak-tidak' mendengar desahan suara wanita itu.


" Aku nggak pulang kerumah, hah hah hah.... lagi nginep di rumah temen, hah hah hah...., buka sendiri pintunya bisa kan?,hah hah hah...., kalau di kunci pulang ke rumah suamimu saja", jawab Dimas dengan nafas yang memburu, Sari semakin berpikir bahwa kakaknya sedang melakukan hal yang belum pantas untuk dilakukannya.


" Kakak lagi ngapain sih?, awas kalau macem-macem, nanti Sari aduin sama mama papa!, kakak nggak boleh ngelakuin begituan kalau belum menikah!", teriak Sari begitu marah mendengar suara desahan dan nafas memburu yang begitu menjijikan dari Dimas dan wanita yang bersamanya.


" Dasar anak kecil, mainnya ngadu, hah hah hah...., santai saja, kakak nggak macem-macem, cuma se macem saja, hahahaha, sudah ya, kamu ganggu aktifitas kakak!. Klik ", telepon dari Sari langsung di putus.


" Kenapa kamu malah marah-marah?",


Sari hanya meringis saat Musa menegurnya. Tidak mungkin menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.


" Kita pulang ke rumah saja Mas, Kak Dimas nggak di rumah, katanya lagi nginep di rumah temennya, lampu sudah mati, mungkin mama papa dan kakek sudah tidur, besok saja kita ke sini lagi", Sari sengaja menyembunyikan emosinya dengan tingkah laku Dimas.


Musa pun melajukan kembali mobilnya menembus jalanan malam, tapi mungkin karena malam mingguan, jadi jalanan masih ramai meski malam sudah larut.


" Kita mampir beli bakmi ya Mas, Sari laper, tapi belum ada makanan di rumah ".


Akhirnya Musa menepikan mobilnya saat melihat penjual bakmi yang masih jualan selarut ini.


" Bakmi yang pedes satu, nasi gorengnya 1, jangan pedes Bang", pesan Musa.


" Mau makan disini apa bungkus Mas?", tanya si penjual.


Musa menatap ke arah Sari meminta persetujuan, mulut Sari komat-kamit dari dalam mobil, " bungkus saja bang", itu jawaban yang bisa Musa tangkap dari gerakan bibir Sari.


15 menit kemudian, Sari dan Musa sampai di rumah. Sari langsung ke kamar, membersihkan diri, berganti pakaian dan langsung menuju meja makan, dimana Musa sudah siap dengan dua buah piring, yang satu berisi bakmi dan satunya nasi goreng.


Sari sebenarnya tadi ingin makan bakmi di tempat penjual bakmi, tapi tidak sengaja Sari melihat Dimas berjalan keluar dari salah satu hotel yang berada tidak jauh dari penjual bakmi, Sari begitu terkejut ketika menjumpai yang bersama Dimas itu bukan Ayu pacarnya, melainkan Linda, teman masa SMA nya dulu.


" Mungkin mereka menjadi dekat saat Linda datang dan banyak membantu di acara pernikahanku kemarin, tapi pergi bersama hingga semalam ini?, apa yang mereka berdua lakukan?, apa suara wanita yang mendesah tadi, itu suara Linda?", Sari dibuat semakin penasaran dan berpikir keras.


" Sayang...!, ngelamunin apa?, nggak baik ngelamun di depan makanan", suara Musa langsung membuyarkan lamunan Sari.


" Eh, iya Mas, hem...baunya sedap!", Sari langsung berusaha mengalihkan fokus dengan membahas makanan, memang tadi habis melamun, tapi nggak mungkin juga bercerita apa yang sedang dilamunkannya pada Musa.

__ADS_1


Untung saja Musa tidak begitu mempermasalahkan lamunan Sari tadi, sehingga suasana bisa kembali normal.


Sari langsung memasukkan suapan pertama pada mulutnya, begitu bersemangat menyantap bakmi miliknya, Musa memang sudah paham dengan selera Sari yang pecinta makanan pedas, selalu memesan makanan dengan kepedasan level tinggi.


Usai makan dan membersihan peralatan makan mereka, Sari masuk ke kamar menghampiri Musa yang tengah duduk bersandar di bagian kepala ranjang.


Sari duduk di sebelah Musa dan menyandarkan kepalanya di bahu Musa.


" Bagaimana kegiatan hari ini?, apa ada kendala?", Musa memang selalu perhatian, dengan menanyakan kegiatan Sari.


" Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, bahkan tadi Sari benar-benar melakukan pemeriksaan pada anak-anak kecil Mas, dokter Kurni memberi kesempatan Sari untuk mendiagnosa dan mengobati pasien secara mandiri, masih di awasi sih sama dokter Kurni, tapi ada 4 pasien yang Sari tangani sendiri. Kata dokter Kurni, Senin besok Sari bakalan latihan melakukan pemeriksaan secara mandiri lagi", terang Sari dengan wajah bahagia dan bangga pada pencapaiannya.


" Istri Mas memang sangat hebat !, Musa mengacungkan kedua jempol tangan nya, " terus apa lagi yang di bahas dengan dokter Kurni?", tanya Musa.


" Ini ilmu buat di praktekan sendiri...", ucap Sari dengan pipi memerah.


" Kalau pengen cepet dapet momongan, harus rajin usaha... kalau bisa 'melakukannya' di pagi hari", ucap Sari sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


" Benarkah?, ya sudah sekarang kita tidur saja dulu, istirahat, dan kumpulkan tenaga buat besok pagi, kamu juga pasti capek pulang sampai malam", Musa memang begitu bijaksana, meski sedari tadi juniornya sudah bangun dan keinginan batinnya berharap bisa di salurkan. Namun Sari memang terlihat sangat lelah, ada baiknya membiarkan Sari beristirahat dan lakukan 'hal itu', besok pagi usai sholat subuh, sesuai saran dokter Kurni.


Musa dan Sari pun langsung tidur dengan saling berpelukkan.


***


Musa dan Sari selesai sholat subuh beberapa menit yang lalu, Sari sudah merasa deg-degan jika tiba-tiba Musa akan menerjangnya, namun sudah menunggu setengah jam di kamar, Musa belum juga keluar dari mushola rumah. Masih berdzikir dan melakukan sholat sunat lainnya.


Sari membuat sup, menggoreng tempe dan oseng kacang panjang. Dalam waktu setengah jam, tiga menu masakan sudah selesai di masaknya. Sari menghidangkan di meja makan.


Dengan wajah cemberut Sari menuju mushola rumah mencari keberadaan Musa, namun ternyata Musa sudah tidak ada di sana.


" Kemana si mas Musa, semalam katanya pagi ini mau 'begituan', tapi malah berdo'a dan berdo'a terus", gerutu Sari sambil berjalan menuju kamarnya, masih mencari-cari keberadaan Musa.


Benar saja Musa tengah di kamar, bertelepon dengan seseorang sambil tersenyum begitu lebar. Membuat Sari langsung curiga.


Sari masuk ke kamar saat Musa selesai menelepon.


" Siapa yang telepon pagi-pagi sekali Mas?".


" Salah satu mahasiswa Mas", jawab Musa singkat.


" Cewek apa cowok?", tanya Sari penasaran.


" Cewek, dia nanya tentang beberapa pembahasan materi di pertemuan minggu lalu".


Deg....

__ADS_1


Jantung Sari berdetak begitu cepat ketika mengetahui Musa habis ngobrol dengan mahasiswi sambil tersenyum begitu lebar.


Ada rasa sedih, marah, cemburu, dan kecewa menjadi satu. Apalagi Musa menunda 'begituan' dengan Sari hanya demi bertelepon ria sambil tersenyum-senyum dengan muridnya itu.


" Hari libur saja masih membahas materi kuliah, apa nggak bisa di tunda besok pas di kampus!", Suara Sari meninggi, jarang sekali Sari bersikap seperti itu.


" Kamu kenapa sayang?", Musa mengusap tangan Sari dan menggenggamnya.


" Pakai nanya kenapa, apa dia lupa mengajakku bercinta pagi ini?", batin Sari dengan nafas memburu menahan emosinya.


" Kok malah ngeliatin mas terus, tanpa bicara apa-apa?", Musa masih meremas tangan Sari.


" Mas nyebelin !".


Sari langsung melepas genggaman tangan Musa dan keluar dari kamar dengan berlari kecil, menahan air mata yang siap meluncur sewaktu-waktu.


" Apa yang salah dari yang barusan aku lakukan?", Musa semakin bingung dan hanya bisa ikut berlari mengejar Sari.


Saat ini Sari sudah menangis di sofa ruang santai, Musa mendekatinya dan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak di ketahuinya.


" Maaf kalau sikap Mas menyakiti kamu sayang, tapi apa yang salah dengan yang mas lakukan, kenapa kamu jadi sensitif begini?", Musa bingung dengan sikap Sari yang begitu sensitif pagi ini.


" Mas ngapain teleponan sama cewek kuliahan itu, mas bilang kita mau 'begituan' pagi ini, tapi Mas malah ketawa ketiwi sambil teleponan sama cewek lain, hix...", Sari sampai menangis sesegukkan .


" Sayang, itu bukan cewek lain, dia itu murid ku, kenapa kamu jadi cemburuan begini ?,tadi hanya membahas materi pelajaran, tidak ada yang lain", Musa mendekap tubuh Sari dan menepuk-nepuk punggung nya, berusaha membuat Sari untuk tenang.


" Dulu Sari juga cuma murid Mas, tapi nyatanya Mas jatuh cinta kan sama Sari, hix.... Awalnya juga kita cuma membahas pelajaran seperti itu, tapi lama-lama Sari jadi jatuh cinta juga sama Mas, hix....", Sari kembali sesegukkan.


Memang benar yang dikatakan Sari, hubungan mereka berdua itu berawal dari Guru dan murid, tapi kasus kali ini beda, Musa memang hanya membahas materi pelajaran dan tidak berpikir terlalu jauh, apalagi Musa sudah menikah, bagaiman bisa dia akan mencintai wanita lain selain istrinya.


" Mas cuma sayang sama kamu, kecemburuan kamu itu tidak beralasan, tatap mata Mas, lihat apa ada kebohongan dalam mata ini?, Mas benar-benar hanya mencintai kamu sayang..., istri Mas yang paling cantik", Musa berusaha merayu Sari.


Sari menatap mata Musa dengan masih berlinang air mata, Musa menyusut air mata Sari dengan ujung lengan baju koko nya.


" Sudah jangan menangis lagi ya", Musa merasa lucu dengan sikap Sari, namun sekaligus bahagia dengan kecemburuan yang Sari tunjukkan padanya sepagi ini.


Musa tidak mau Sari berlarut di dalam kemarahannya.


Musa berinisiatif untuk menghentikan tangis istrinya dengan mengecup bibir Sari dengan lembut. Namun Sari menghindar. Sari mendorong bibir Musa yang tadi hendak mengecupnya dengan jari telunjuknya.


" Apa bibir ini cuma menyentuhku?". Pertanyaan Sari kali ini benar-benar membuat Musa begitu gemas padanya.


" Tentu saja, semua bagian tubuh Mas itu hanya milikmu, seutuhnya milikmu saja", Musa memeluk Sari dengan erat, menenggelamkan wajahnya ke leher Sari.


Kali ini Sari tidak lagi memberontak. Musa langsung menc*umi leher Sari dengan begitu agresif. Kecemburuan Sari membuat Musa semakin bersemangat untuk menc*mbunya.

__ADS_1


Sari pun seketika menghentikan tangisannya, dan pasrah menerima perlakuan Musa yang begitu menggelora.


__ADS_2