Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Merespon


__ADS_3

Minggu ke 16, saat usia kandungan Sari memasuki usia 4 bulan, di kediaman mereka, Musa mengadakan acara tadarus Alquran. Sengaja mengundang saudara, tetangga dan beberapa teman dekat.


Kakek Atmo dan kedua orang tua Musa dan Sari sudah sampai di rumah mereka sejak pagi. Sari memilih acara 4 bulanan diadakan hari minggu sore di rumah mereka.


Tadinya Umi usul untuk mengadakan acara 4 bulanan di ballroom hotel milik Musa. Tapi Musa menolak, karena berasa kurang kekeluargaan.


Susunan acara sore itu di mulai dari tadarus Alquran secara bersama-sama, karena yang hadir sekitar 50 undangan, di tambah Musa, Sari, dan keluarga sehingga bisa mengkhatamkan Al-Qur'an 2 khataman.


Acara di lanjut usai sholat Isa, yaitu pembacaan maulid simtuduror, dipimpin oleh salah satu ustadz yang di undang dari solo, beliau adalah teman dekat Musa saat dulu kuliah di Kairo.


Dan acara pun berlangsung hingga jam 9 malam. Musa sengaja menggunakan jasa EO (event organizer), agar semuanya bisa beres tanpa membuat Sari dan keluarganya pusing dan lelah memikirkan segala macam keperluan acara.


Malam harinya Umi dan Abi menginap di rumah Musa, sedangkan Triono dan Esti memilih untuk pulang ke rumah kakek Atmo dan sekalian berpamitan karena esok akan berangkat pagi-pagi sekali.


" Maaf ya sayang...mama nggak bisa nginep di sini".


" Mama dan Papa sedang banyak sekali pekerjaan di kantor, jadi kamu jaga diri baik-baik, semoga kamu dan janin dalam perutmu selalu sehat dan dapat perlindungan dari Allah", ucap Mama seraya mengelus perut Sari yang sudah mulai terlihat membuncit.


" Musa..... papa percaya kamu akan menjaga Sari lebih baik dari kami, benar kan ma?".


Mama mengangguk seraya tersenyum tulus.


Kakek Atmo yang paling panjang memberi petuah pada Sari dan Musa, apalagi ini hamil sari yang pertama, jadi harus di jaga dengan baik, jangan sampai seperti mamanya/ Esti, yang harus kehilangan anak pertamanya karena kelelahan bekerja dan kurang istirahat.


Tentu saja Esti jadi kembali teringat masa lampau, saat dia harus kehilangan anak pertamanya yang masih ada di dalam perut karena keteledorannya. Namun itu hanya segelintir masa lalu yang pahit, dan bisa segera terkubur setelah lahirnya Dimas dan Sari.


Sedangkan Abi yang sempat trauma gara-gara dulu Umi sempat koma saat melahirkan Musa, selalu menasehati Musa agar menjaga Sari dengan ekstra hati-hati.


" Istrimu itu sedang berjuang untuk membahagiakan mu dengan mengandung calon anakmu dalam perutnya. Hargai dia, sayangi dia dan hormati dia seperti kamu menghormati umi mu".


Tentu saja tanpa nasehat dari para orang tua, Musa juga sudah banyak belajar dari guru besar tentang bagaimana harus bersikap sebagai seorang suami yang baik.


Namun Musa tetap mendengarkan semua


saran, anjuran dan petuah dari para sesepuh, yang intinya harus memperlakukan Sari dengan baik.

__ADS_1


***


Sore hari di akhir pekan, setelah 2 minggu usai acara 4 bulanan kehamilan Sari. Suasana di rumah terasa sepi, karena Musa belum pulang dari kampus, ada acara seminar yang harus dihadirinya, Musa diminta untuk hadir sebagai narasumber.


Sari yang sudah memiliki jam kerja yang lumayan padat di rumah sakit, memilih untuk beristirahat di rumah pada akhir pekan. Jika masih lajang seperti teman-temannya mungkin Sari akan membuka praktek sendiri. Namun Sari mengikuti anjuran dokter agar banyak beristirahat dan jangan terlalu kecapekan. Karena awal kehamilannya tidak terlalu baik, beberapa kali pingsan dan opname, jadi Sari harus berhati-hati dengan kehamilannya.


Sari memilih bersantai di halaman samping, sambil memandang beberapa tanaman anggrek yang sengaja di tanam oleh Umi untuk mempercantik halaman samping rumah.


Ada anggrek bulan dengan berbagai aneka warna, ada yang berwarna kuning, putih, pink, ungu dan juga perpaduan ungu dan putih.


Semua terlihat sangat indah karena tengah bermekaran bersama-sama, benar-benar momen yang jarang bisa dilihat, karena kadang satu mekar dan yang lain masih kuncup, sedangkan kali ini semua mekar bersamaan.


" Lagi ngapain sayang...?", Musa keluar dari dalam rumah dan berjongkok di depan Sari yang tengah duduk bersandar di kursi kayu.


Sari yang sedang menghirup aroma tanah basah usai hujan, sambil memejamkan matanya, merasa kaget ketika tiba-tiba suara Musa terdengar di depannya.


" Loh, kapan Mas pulang?, kok Sari nggak denger salam?".


" Sudah 15 menit yang lalu, saat hujan masih deras, Mas sudah salam, tapi nggak ada jawaban, jadi Mas masuk begitu saja, untung bawa kunci cadangan".


" Iya, tadi sedikit kehujanan saat menuju parkiran kampus, jadi keramas deh..."


" Sayang bagaimana dengan rencana untuk USG besok?, apa sudah bikin janji sama dokter Agus?", tanya Musa.


" Sari sudah bikin janji sejak seminggu yang lalu. Apa jadwal Mas senin besok jam ngajarnya penuh?", tanya Sari sambil menahan tangan Musa yang tengah mengelus perutnya agar berhenti, karena Sari merasa geli.


Entah sejak kapan seperti menjadi kebiasaan baru Musa, selalu mengelus perut Sari yang sudah terlihat membuncit. Rasanya seperti memberi ketenangan jika mengelus perut istrinya itu. Atau mungkin karena seolah sedang berinteraksi dengan calon anaknya yang masih di dalam perut. Jadi hatinya merasa tenang.


Sari juga merasa tenang saat Musa mengelus perutnya, namun jika Musa mengelus terlalu lembut, rasanya berubah menjadi geli.


" Jangan begitu dong Mas, Sari geli kalau mas megangnya lembut banget seperti itu".


" Eeh... eh... eh...!"


Sari kaget ketika tiba-tiba Musa menggendong Sari masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.

__ADS_1


" Sudah sore, sebentar lagi Maghrib, nggak baik buat ibu hamil duduk-duduk di luar rumah".


" Iya...iya... Mas, tapi Sari kan bisa jalan sendiri, turunin Sari".


Musa membopong Sari masuk ke dalam rumah, sambil menerangkan jadwalnya di hari Senin besok.


" Mas Senin ada kelas jam 8 pagi, jam 10 sampai jam 12 kosong, jadi Mas bisa kerumah sakit buat lihat hasil USG bareng sama kamu, habis makan siang Mas kembali ke kampus", ujar Musa.


" Oke deh, tapi sekarang turunin Sari", Sari masih merengek minta untuk di turunkan.


Musa pun menuruti keinginan Sari, menurunkannya di atas sofa ruang tengah. Sambil tersenyum menatap Sari dengan lekat.


" Kok Mas malah senyum-senyum sendiri, kenapa?, Sari jelek ya, karena sekarang jadi lebih berisi?", Sari berdiri dan berkacak pinggang dengan Musa.


Musa menggelengkan kepalanya, " Nggak istriku yang manis, malah jadi tambah cantik dan seksi, Mas jadi tambah sayang", Musa memeluk Sari dari arah belakang, sambil lagi-lagi mengelus perut Sari dengan telapak tangannya.


Det....


Musa langsung terbelalak ketika telapak tangannya merasakan ada gerakan dari dalam perut Sari.


" Sayang bayi dalam perut kamu sudah mulai bergerak dan merespon". Musa langsung memutar badan dan menghadap perut Sari yang masih tertutup baju santai.


" Benarkah?, tapi Sari belum jelas merasakannya, mungkin karena tadi Mas lagi meluk, jadi Sari kira gerakan tangan Mas".


Musa menarik tangan Sari mengajaknya masuk kedalam kamar.


" Sini, biar lebih jelas, Mas tunjukkin".


Sari duduk di tepian kasur dan Musa menyingkap baju atasan Sari, memperhatikan perut Sari yang telanjang.


" Mas sentuh ya, biar dede merespon", Musa pun menyentuh perut Sari, dan benar saja, terlihat ada gerakan dari dalam perut Sari.


Sari pun langsung terharu, dan menitikkan air matanya.


Benar yang dikatakan dokter Agus beberapa hari yang lalu, gerakan dari janin akan mulai terasa kuat di minggu ke 18.

__ADS_1


Sari dan Musa saling memandang dengan wajah penuh syukur dan kebahagiaan.


__ADS_2