
Sari begitu bersemangat untuk menjemput kedatangan kedua orang tuanya, meski jika di Malang Sari juga jarang berkumpul dengan mereka, tapi setidaknya setiap pagi mereka selalu sarapan bersama-sama, sambil membahas kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan hari itu. Itu sudah cukup bagi Sari untuk mengetahui jika kedua orang tuanya akan kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaannya.
Mas Soleh melajukan mobil mereka menuju bengkel tempat dimana mama papanya menunggu, mobil mereka mengalami mogok, dan masih beruntung karena mogoknya setelah sampai di Purwokerto, hanya tinggal beberapa menit perjalanan hingga sampai di rumah Kakek Atmo.
Namun kata papa, montir yang memperbaiki perlu waktu cukup lama, karena beberapa karyawan mereka sudah ada yang mulai cuti lebaran, sehingga meminta supir kakek untuk menjemput mereka.
Sampailah Sari di sebuah bengkel yang tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah kakek Atmo, hanya butuh 10 menit perjalanan dengan mobil.
" Sudah sampai mba Sari", ucap Soleh.
Sari turun dari mobil dan berjalan memasuki bengkel, Triono dan Esti yang melihat putrinya dari kejauhan langsung memanggil-manggil nama putrinya itu. Bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna putih di belakang mobil milik kakek Atmo.
" Sari !!", seru Esti yang langsung berdiri dan menghambur memeluk putrinya.
Bersamaan dengan ketiga orang yang keluar dari mobil di belakangnya dan langsung menatap gadis cantik yang baru keluar dari mobil di depannya dan memeluk perempuan yang memanggil namanya.
Mereka bertiga tertegun, begitu juga dengan papa dan mama Sari, tidak kalah terkejutnya melihat keadaan putrinya itu.
" Tangan kamu kenapa sayang?, bagaimana bisa di gips seperti ini?", suara Esti langsung terdengar begitu khawatir melihat tangan kanan putrinya yang di gips.
Begitu juga dengan Triono, tidak kalah terkejut, yang kemudian langsung memeluk Sari. " Putri papa kenapa tidak bilang kalau habis kena musibah?", papa mengambil tangan kanan Sari dan menatapnya nanar.
" Siapa pelakunya?, biar papa tuntut karena sudah melukai putri papa!", ujar Triono emosi.
" Sabar pa, namanya juga sedang kena musibah, orangnya juga nggak sengaja, sebentar lagi pasti Sari sembuh, cuma retak sedikit di pangkal jari tengah", ucap Sari menjelaskan.
Musa yang berdiri di belakang umi dan Abi nya masih terkejut dengan kebetulan yang terjadi, " kebetulan macam apa yang membawa gadis ini sampai di bengkel ku sepagi ini", pikir Musa.
" Ehem.... assalamualaikum", umi berdehem dan mengucap salam, membuat Sari dan kedua orangtuanya menatap ke arah asal suara sambil menjawab salam kompak.
" Wa'alaikum salam".
" Hai Sari, selamat pagi", suara lembut ibu-ibu yang kemarin bertemu dengannya di alun-alun kembali terdengar.
Sari begitu terkejut saat bapak dan ibu yang kemarin menemukan tasnya tengah berdiri bersama dengan Musa." Siapa gerangan mereka berdua?", batin Sari.
" Eh.... ibu dan bapak yang kemarin di alun-alun, selamat pagi", Sari menundukan kepalanya memberi salam.
Triono dan Estiana saling menatap, " Siapa sayang ?", tanya Esti.
__ADS_1
" Oh iya ma, ceritanya panjang, nanti Sari ceritakan di rumah, singkatnya bapak sama ibu ini yang kemarin sudah bantu Sari pas tas Sari ketinggalan di alun-alun", jawab Sari seperlunya. Kemudian menatap ke arah Musa dengan tatapan penuh tanya.
Mata Sari dan Musa saling bertemu beberapa detik, sorot mata yang sama-sama memancarkan kerinduan yang tersembunyi, sorot mata itu tertangkap jelas di mata umi dan Abi nya musa, juga oleh mama papanya Sari.
Sari dan Musa sama-sama tersadar ketika mendengar suara pintu mobil terbuka.
Soleh turun dari mobil dan membungkuk memberi salam pada kedua orang tua Sari dan juga orang tua Musa.
" Ini mas-mas yang kemarin juga sama Sari ke alun-alun?, sama ibu-ibu yang gembul itu nggak ikut sekarang?", tanya umi.
" Beliau ibu saya, saya supir pribadinya kakeknya Mba Sari Ibu", Soleh mencoba menjelaskan. Sedangkan umi dan Abi hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
Esti yang merasa aneh dengan sikap putrinya yang diam-diam terus curi-curi pandang, ke arah pemuda di hadapannya mencoba mengalihkan perhatian.
" Wah terimakasih ya mba, mas, Sari memang begitu... sedikit ceroboh, lihatlah itu tangan kanapa?, bagaimana bisa nggak kasih tau mama sama papa kalau kamu kena musibah", ekspresi wajah mama terlihat sangat kecewa, karena Sari merahasiakan hal besar darinya.
Sari menunduk, " maaf, Sari cuma nggak mau mama dan papa khawatir dengan keadaan Sari".
" Loh mama sama papanya baru tahu keadaan putrinya ?", umi langsung penasaran gara-gara kalimat mamanya Sari.
" Iya mba, Sari di sini tinggal sama kakeknya, baru pindah beberapa hari disini, belum genap sebulan, katanya kasihan sama kakeknya, sejak neneknya meninggal beberapa bulan yang lalu, kakek jadi kesepian, sedangkan saya dan suami punya pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan di Malang, jadi Sari yang nemenin kakeknya tinggal disini", Esti berusaha menjelaskan.
" Maaf pagi-pagi sekali berada di bengkel apa ada masalah?", tanya Abi sambil menatap Triono... papanya Sari.
Triono mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Mobil kami mogok, mungkin karena perjalanan mudik yang jauh, dari Malang kemari, jadi aki mobilnya protes, untung saja mogok di daerah sini, dan masih ada bengkel yang buka, meski sudah mendekati lebaran. Ini mas dan mba apa mau servis mobil juga?", tanya Triono berbasa-basi.
" Oh begitu kronologi nya, kalau mobil kami baik-baik saja, ini bengkel milik putra kami, sebenarnya kami juga mirip kisahnya, karena harus tinggal berpisah dari putra kami satu-satunya, karena mempertahankan pekerjaan dan harus menjaga restoran di Kairo, kami baru sampai di sini kemarin, sama seperti mas dan mba nya yang baru ketemu sama anaknya, dan hari pertama kami disini, pengin lihat apa saja yang dilakukan putra kami di sini, pertama-tama ya melihat bengkel miliknya", terang Abi, sambil merangkul Musa.
" Ini putranya?, wah mirip sekali bapak dan anak", ungkap mamanya Sari.
" Pantas saat melihat di alun-alun kemarin seperti familiar dengan wajah mereka, ternyata ayah dan ibunya ustadz Musa", batin Sari, sambil tersenyum sendiri melihat kemiripan mereka berdua. Sama-sama tampan berkharisma.
" Pagi pak guru!", suara Sari begitu lantang menyapa Musa yang masih terdiam seakan sedang merasa takjub dengan cara Yang Maha Kuasa mempertemukan nya dengan gadis yang sering sekali muncul di mimpinya, apalagi bertemu juga dengan kedua orang tuanya.
" Pagi, jadi yang traktir umi dan Abi pecel di alun-alun itu Sari ini?, dia itu salah satu anak didik Musa, Umi", terang Musa." Terimakasih untuk traktiran nya ya", ucapnya pada Sari.
" Wah benarkah?, ini merupakan sebuah kebetulan ya", gumam Umi yang menangkap tatapan mata putranya yang berbinar saat menatap Sari yang dia bilang adalah muridnya.
__ADS_1
" Mari silahkan masuk ke dalam, biar saya minta Hendrik untuk lebih mempercepat proses perbaikan mobilnya". ujar Musa sambil menatap papanya Sari.
" Tidak apa pak guru, sebenarnya kami mau pulang dengan mobilnya bapak, jadi mobil mau ditinggal saja, di tunggu sama Soleh", terang Triono.
" Owh... jadi mas Soleh yang mau nungguin?, mari mas Soleh", ajak Musa, sambil berjalan masuk ke dalam bengkel.
Tapi justru Musa yang juga mengenal Soleh, yang bekerja sebagai supir kakek Atmo, membuat ke empat orang tua saling menatap.
Soleh yang tahu kebingungan yang terjadi mencoba menjelaskan. " Ustad Musa itu sering ke rumah untuk mengajari Mba Sari mengaji bapak-bapak dan ibu-ibu, jadi beliau mengenal saya juga", ucap Soleh menjelaskan. Membuat semuanya mengangguk bersamaan.
Sari tersenyum melihat ke empat orang itu mengangguk bersamaan.
Mama dan papanya Sari masuk kedalam mobil. Sedangkan Sari berpamitan pada kedua orang tua Musa.
" Sari permisi dulu bapak dan ibu, jujur Sari memang belum bisa mengaji meski sudah sebesar ini, tapi sejak di ajari sama ustadz Musa, sedikit demi sedikit Sari sudah mulai bisa membaca Alquran", terang Sari begitu jujur, tanpa malu-malu mengakui dirinya belum bisa membaca Alquran pada kedua orang tua Musa.
Abi dan umi hanya saling menatap dan tersenyum melihat kepolosan Sari," hati-hati di jalan, semoga segera diberi kesembuhan", ucap Umi sambil menatap tangan kanan Sari.
Sepeninggal Sari dan kedua orangtuanya, Umi dan Abi langsung saling memberi kode.
" Pak guru kok nggak pernah cerita sama Umi kalau punya murid yang sangat cantik ?".
" Umi ini, maksudnya apa bicara seperti itu, murid Musa kan banyak banget, masa iya harus ceritain ke umi", kilah Musa menutupi rasa bahagia yang entah kenapa menyeruak di hatinya. Padahal hanya melihat Sari dan keluarganya, tapi menimbulkan efek yang dalam dan luar biasa. Amazing
" Tapi kenapa kamu nggak cerita kalau selain jadi guru SMA, kamu ngajar private ngaji juga, sejak kapan?", kali ini Abi yang bertanya.
Musa menggaruk tengkuknya yang samasekali tidak gatal. " Paman Irsyad yang minta Musa untuk mengajarinya belajar membaca iqro, saat Paman Irsyad menelepon dan bilang kalau cucu dari tetangganya ingin belajar iqro, Musa kira adalah anak kecil, nggak tahunya pas datang kerumah mereka, yang belajar ngaji itu sudah besar, bahkan dia adalah murid pindahan baru di sekolah tempat Musa mengajar, Musa juga sempat kaget, tapi terlanjur janji sama Paman", Musa menjelaskan panjang lebar.
" Owh... ternyata..., pamanmu itu memang paling bisa melihat permata yang tersembunyi di dasar lautan, pokoknya besok lebaran umi mau ke rumah pamanmu, sekalian mampir ke rumah tetangganya", Umi kembali menggoda.
" Umi...!", ekspresi Musa seperti anak kecil yang ketahuan sudah menyembunyikan kesalahan.
Soleh hanya bisa tersenyum sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan, saat mendengar percakapan dan candaan anak dan orang tua di depannya. Karena Soleh tau jika ustadz Musa sedang di goda oleh kedua orangtuanya.
Sedangkan Hendrik yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka, langsung menghentikan kegiatannya mengotak-atik mobil orang tua Sari.
" Umi..., Musa itu sudah punya murid yang spesial, kalau umi mau tahu, cek saja ponselnya, cuma ada satu nomer ponsel muridnya yang dia simpan di kontak. Kalau umi nemu kontak itu, berarti itu dia murid spesial dengan suara lembut yang masih sering teleponan sama pak guru di hari libur", Hendrik malah menambah penasaran Umi dan Abi.
Musa langsung terperanjat mendengar Hendrik ikut-ikutan menggodanya.
__ADS_1