
Sari langsung menuju tempat cuci piring usai menghabiskan makanannya, lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih untuknya dan untuk Musa. Sari meletakkan gelas milik Musa di samping mangkuk mie yang sedang Musa nikmati isinya.
" Wah ternyata dari sini asal bau sedap itu, masih ada sisa nggak ?", tanya salah seorang mahasiswa yang tiba-tiba masuk ke dapur, dia adalah salah satu mahasiswa yang tadi ikut berkumpul di teras samping.
" Maaf Mas , sudah habis, nggak ada lagi mie instan di laci. Kalau mas mau, ada minimarket yang buka 24 jam, dari jalan ini lurus terus, naik ke atas, sekitar 400 meter, minimarketnya di sebelah kiri jalan", ucap Sari mencoba menjelaskan.
" Mau nemenin nggak dek?, biar ada temen ngobrol di jalan", ajak si mahasiswa SKSD ( sok kenal sok dekat ).
"Ehem....", Musa sengaja berdehem.
" Maaf ngggak bisa Mas, dia lagi nemenin saya makan", justru Musa yang menjawab pertanyaan pria itu.
Mana mungkin Musa akan mengijinkan Sari keluar tengah malam bersama laki-laki asing yang baru pertama kali bertemu dengannya.
" Ooh... lagi nemenin Mas-nya makan ya, ya sudah biar ngajak teman yang lain". Si mahasiswa keluar dari dapur dan terdengar ramai-ramai di teras samping, ternyata si mahasiswa hanya modus untuk PDKT sama Sari, dan langsung di soraki teman-temannya yang tahu kalau misinya gagal.
" Sari kembali ke kamar ya Tadz", ijin Sari sambil membalikkan badan menuju arah kamarnya.
" Tunggu...!", seketika Sari menahan langkahnya.
" Bisa tunggu sampai aku selesai makan kan?, tadi juga aku sudah temenin kamu sampai selesai makan", ucap Musa sambil terus menyendok mie dari mangkuknya.
Sari kembali duduk di samping Musa. Mereka duduk sambil terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Apa aku boleh menyampaikan sesuatu?", tanya Musa usai mencuci mangkuk yang di pakainya.
Sari mengangguk,
" Katakan saja, semua orang mempunyai hak untuk berbicara, dan itu juga di lindungi dalam undang-undang", jawab Sari yang teringat dengan soal ujian kemarin, undang-undang yang menanyakan tentang kebebasan untuk berbicara dan berpendapat.
Musa kembali duduk di kursi yang tepat berada di sebelah Sari. Menarik kursi itu sehingga posisinya persis menghadap ke arah Sari.
" Aku ingin lebih dekat dengan kamu", ucap Musa dengan nada serius.
__ADS_1
Sari langsung sulit menelan salivanya melihat ekspresi wajah Musa yang sangat serius saat mengatakan kalimat itu. Tepat di hadapannya.
" Bukankah kita sudah dekat ?,
sebagai seorang murid dan Guru, Sari merasa, jika dibandingkan dengan guru yang lain, bapak adalah guru yang paling dekat dengan Sari", ujar Sari mencoba untuk menguraikan kalimat Musa yang masih menggunakan kosa kata umum. Sari tidak mau dikira ke PD an dengan menyimpulkan kalimat Musa sesuai dengan pikirannya sendiri.
" Bukan sebagai guru dan murid ".
Sari kembali menelan salivanya, saat ini pikirannya semakin yakin dengan maksud kalimat Musa. Bukan Sari yang ke PD an, tapi memang Musa mempunyai rasa yang spesial padanya.
" Maksud bapak, bagaimana?", tanya Sari gugup.
" Saya ingin lebih dekat dan mengenal kamu sebagai seorang laki-laki dan perempuan, usiamu sudah 17 tahun, sudah cukup dewasa untuk memahami dengan maksud ucapanku", ujar Musa sambil menatap Sari lekat.
" Apa kamu sudah punya seseorang yang dekat denganmu?, semacam pacar atau teman dekat lawan jenis yang spesial?", tanya Musa.
Sari menggeleng dengan cepat, " tidak ada, hanya teman biasa saja, tidak ada yang spesial".
" Saya hanya butuh persetujuan kamu Sar, sebenarnya kalau kamu sudah sedikit lebih dewasa aku ingin segera mengkhitbah kamu, meminta restu orang tua dan Kakekmu untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku, karena aku benar-benar menyukaimu", ucap Musa dengan suara lembut.
" Oh my God, apa ini yang disebut sedang mendapatkan pernyataan cinta ?, jadi Pak Musa sedang menyatakan perasaanya padaku?, atau sedang melamar ku? , aduh aku jadi bingung harus jawab apa", batin Sari.
" Jujur Sari bingung Pak, harus menjawab apa".
" Apa Sari boleh minta waktu untuk berpikir terlebih dahulu?, bapak ini apa tidak salah menyatakan perasaanya sama Sari, murid yang ngefans sama bapak itu banyak banget, Sari takut kalau di benci oleh mereka yang suka sama bapak", ujar Sari menjelaskan.
Musa tersenyum melihat ekspresi Sari yang membayangkan akan di perlakukan tidak baik oleh teman-temannya yang ngefans dengan Musa.
" Saya juga belum berniat untuk meng-ekspose kedekatan kita, hanya sebagai pengikat saja antara aku sama kamu, kita sama-sama sepakat untuk mengenal lebih jauh satu sama lain, kita bisa melakukannya di luar sekolah, dan selama di sekolahan kita bisa bersikap seperti biasa, layaknya guru dan murid".
" Bukan karena saya tidak mau mempublikasikan pada semua orang kalau sudah ada seorang gadis dalam hati ini, tapi karena saya juga tau, saat ini keadaan kita sebagai guru dan murid sangat tidak mendukung kita untuk mempublikasikan kedekatan kita pada semua orang".
" Saya hanya butuh persetujuan kamu, setelah itu akan saya tolak dan jauhi semua perempuan yang berusaha mendekat".
__ADS_1
" Dan saya harap begitu juga dengan kamu, setelah mengetahui perasaanku yang sebenarnya, kamu bisa menjauhi laki-laki lain yang berusaha mendekatimu, untuk sama-sama menjaga perasaan kita masing-masing".
Sari merenung untuk sesaat.
" Lho sudah malam malah lagi pada ngobrol di sini, lagi ngobrolin apa, dari tadi kakek perhatikan kalian seperti sedang membahas sesuatu yang sangat serius?", tanya Kakek Atmo yang membawa gelas kosong ke dapur, untuk diisi ulang.
" Apa ustadz belum tidur sejak tadi?, waktu saya tidur ustad belum kembali ke kamar, waktu saya terbangun ustad juga tidak ada di kamar",ujar Kakek Atmo sambil mengisi gelas dengan air putih hingga penuh.
" Iya kek, habis dimasakin mie instan sama Sari, jadi makan malam dua kali", Musa tersenyum sopan.
" Sari tadi belum makan malah, langsung tidur, jadi kebangun gara-gara lapar, pas mau ke dapur ada ustadz Musa juga, jadi Sari bagi dua mie satu bungkus", Sari berusaha menjelaskan, agar kakeknya tidak berpikir macam-macam.
" Sudah malam, ayo kembali ke kamar, tidur, besok kita kembali ke rumah, sekitar habis Dzuhur, takut ikan peliharaan kakek pada mati, soalnya kelamaan nggak di kasih makan".
Alasan kakek untuk kembali ke rumah memang sedikit absurd, tapi memang benar, sudah seharian ini ikan di kolam belakang rumah tidak ada yang kasih makan, karena semua penghuni rumah ikut pergi ke penginapan. Kasihan juga kalau ikannya pada mati karena kelaparan.
Sari berjalan mengekor di belakang kakeknya, lalu berbelok masuk ke kamar sambil mengucapkan selamat malam pada kakek Atmo dan Musa.
Musa dan kakek Atmo masuk ke dalam kamar mereka,
" Maaf bukan kakek menguping, tapi kakek mendengar semua percakapan Ustadz dengan Sari di ruang makan tadi".
Musa kaget mendengar pernyataan Kakek Atmo. " Apa kakek marah?".
" Tidak..., Kakek justru senang karena Sari sangat beruntung bisa di cintai oleh seseorang yang paham agama, mengerti tata krama, dan seorang laki-laki dewasa yang mapan, seperti Ustadz Musa".
" Kakek, tidak mau ikut campur dengan urusan asmara cucu kakek, semua keputusan kakek ngikut sama Sari. Tapi kalau boleh memberi saran, karena Sari masih sekolah. Dia masih sangat muda, dia juga bercita-cita ingin menjadi seorang dokter".
" Kakek harap ustadz Musa tidak menjadi penghalang bagi Sari untuk mencapai cita-citanya", Kakek Atmo menjelaskan panjang lebar.
Musa mengangguk tanda mengerti, " Saya tidak akan menjadi penghalang Sari untuk meraih cita-citanya Kek, sebagai seorang yang menyayanginya, saya juga ingin Sari mencapai apa yang menjadi cita-citanya".
Kalimat Musa membuat kakek Atmo merasa tenang. " Kakek akan sangat bersyukur jika Sari memperoleh pendamping hidup seperti Ustadz Musa", kalimat terakhir kakek Atmo sebelum mereka sama-sama tertidur dengan pulas.
__ADS_1