
Selesai sarapan, Sari dan Bi Nunung membereskan meja makan. Sari menemani Bi Nunung yang tengah mencuci piring dan gelas kotor.
" Bi, bibi punya tetangga atau kenalan orang yang lagi nyari kerjaan nggak?, yang orangnya rajin, terus bisa dipercaya, Sari butuh orang yang bisa bantu-bantu bersihin rumah, soalnya tiap hari Sari dan Mas Musa ke kampus, pulangnya sore, sudah capek, nggak sempet bersihin rumah, kemarin saja bersihin rumah berdua, rasanya capek banget", tanya Sari sambil membantu mengelap piring dan menatanya ke dalam lemari.
" Bibi si ada itu tetangga, tapi mau yang gimana mba Sari?, yang tiap hari datang kayak bibi, atau seminggu sekali?, terus rencananya mau di suruh kerjanya ngapain?, cuma bersih-bersih rumah, atau masak juga kayak bibi?", tanya Bi Nunung.
" Rencananya sih cuma 2 kali seminggu, paling bersih-bersih rumah saja, kalau masak, Sari masih bisa sendiri, kira-kira bibi bisa cariin orang yang mau?", Sari mengelap tangannya dengan handuk kering.
Begitu juga dengan Bi Nunung, selesai mengelap tangannya langsung menghampiri Sari yang kini tengah menyender dinding dapur.
" Ada teman bibi yang sepertinya sesuai dengan kriteria yang mba Sari katakan, kalau mba Sari mau ketemu orangnya, nanti habis bibi nyuci baju sama ngepel rumah, bibi antar ke rumahnya", ujar bi Nunung.
" Oke makasih bi, kalau begitu Sari mau mandi dulu", Sari berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Sari juga sempat menyampaikan pada Musa tentang rencananya menemui kenalan bi Nunung.
Sekitar jam 10, bi Nunung sudah selesai mengepel rumah dan menjemur cucian, kemudian menghampiri Sari yang sedang duduk santai bersama Musa menonton televisi.
" Mba Sari, bibi sudah selesai, jadi kan ke rumah temen bibi?", tanya Bi Nunung.
" Iya jadi dong bi, nanti sama mas Musa sekalian, biar bisa langsung membuat keputusan, mau mempekerjakan atau tidak".
Sari berdiri mengambil Sling bag dari kamar, membawa dompet dan ponselnya, kemudian mengajak Musa untuk ikut.
Sari minta pamit pada kakek Atmo untuk pergi ke rumah temannya Bi Nunung bersama Musa dan Bu Nunung, sekalian mampir ke rumah Musa karena sayuran belanjaanya ikut di simpan di kulkas rumah kakek Atmo, membuat kulkas kelebihan muatan.
" Maaf ya kek, Sari dan Mas Musa pamit dulu, mau ke rumah temennya bi Nunung, kan sudah ada Kak Dimas, Agung dan Cahyo disini, kakek nggak sendirian lagi, Sari pergi nggak lama kok". Sari dan Musa masuk ke dalam mobil, di ikuti bi Nunung yang masuk di bangku belakang.
__ADS_1
" Mau kemana Sar?", teriak Dimas yang sedang duduk di teras rumah.
" Mau ke rumah temennya bi Nunung sebentar, kakak jangan kelayapan ya, temenin kakek", teriak Sari dari kaca mobil yang di buka. Namun tak mendengar jawaban dari Dimas, keburu mobil sudah keluar dari pintu gerbang rumah.
***
10 menit perjalanan sampai di rumah Musa, Sari turun dan menaruh sayuran ke dalam kulkas, kemudian kembali ke mobil.
Di dalam mobil, Musa dan Bi Nunung sedang mengobrol, obrolan terakhir yang bisa Sari tangkap saat Musa menanyakan berapa usia kenalan bi Nunung.
Bi Nunung menjawab usia kenalannya sepantaran dengan bi Nunung, berarti kemungkinan anak-anaknya sudah besar-besar. Dan benar saat sampai di rumah kenalan bi Nunung, Sari langsung terkejut ketika yang membukakan pintu rumah adalah Yanto, teman kuliahnya.
Bi Nunung dan Ibunya Yanto sempat ngobrol di belakang cukup lama, baru kemudian mereka keluar dan duduk bersama di ruang tamu.
Sari, Musa , Bi Nunung, Yanto dan ibunya Yanto duduk di ruang tamu yang sempit dengan beralaskan tikar pandan di atas lantai.
" Jadi calon majikan yang mba Nunung bilang ini Mba Sari teman kuliahnya Yanto, saya baru tahu kalau teman Yanto sudah ada yang berkeluarga", ucap Bu Yani, ibunya Yanto.
" Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu, juga baru nikah siri, untuk menghindari hal yang tidak baik Bu, Rencananya akan nikah sah nanti nunggu kuliahnya kelar", terang Sari.
Yanto yang baru tahu juga sangat kaget, tidak menyangka jika Sari sudah menikah. Yanto memang sempat tertarik pada Sari, gadis yang ceria, yang mau berteman dengan siapa saja tanpa memandang status dan tampang, Sari membaur dengan semua orang tanpa membeda-bedakan.
Tapi Yanto selalu sadar diri jika Sari bukan gadis yang layak dia sayangi dan dia gapai, Sari terlalu baik dan terlalu banyak kelebihannya, Yanto juga tahu jika Rizal menyukai Sari, tidak mungkin Yanto akan bersaing dengan Rizal yang lebih tampan, lebih segala-galanya dari Yanto dan berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
" Oh...begitu, kata mba Nunung, hanya perlu bersih-bersih rumah 2 kali seminggu, kalau begitu saya mau, soalnya kadang harus bantu bapaknya Yanto buat jualan mie ayam", Bapaknya Yanto memang penjual mie ayam keliling, sudah ada rencana mau mangkal, tapi belum punya modal cukup untuk menyewa tempat. Mungkin dengan bekerja di tempat Sari, bisa membantu pendapatan suaminya dan bisa menyewa tempat untuk mangkal.
__ADS_1
" Iya , kalau bisa datang Senin dan Jum'at, sebelum kami berangkat ke kampus, agar kami bisa menyerahkan kunci rumah sama ibu, soalnya cuma ada dua kunci rumah, dipegang Mas Musa satu dan sama saya satu", ujar Sari.
" Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak untuk kepercayaannya kepada saya", Bu Yani menyalami Sari dengan begitu semangat, saking bahagianya mendapatkan pekerjaan.
Sari dan Musa memang tadi sempat berunding saat bi Nunung dan Bu Yani sedang mengobrol di dalam rumah, mereka berdua sepakat untuk mempekerjakan ibunya Yanto. Selain Sari sudah mengenal Yanto, juga untuk membantu perekonomian keluarga Yanto yang ternyata memang sangat kekurangan.
" Iya Bu, kami juga terimakasih sama ibu, ini alamat rumah kami, jadi besok Bu Yani bisa langsung datang ke rumah". Sari menyerahkan secarik kertas dengan tulisan alamat lengkap rumah mereka.
Sari, Musa dan Bi Nunung hendak berpamitan untuk pulang. Namun tepat saat bapaknya Yanto pulang keliling, Bu Yani memaksa mereka untuk mencicipi mie ayam buatan suaminya.
" Enak rasanya, pasti tiap hari banyak yang beli ya pak?, sudah dapat banyak pelanggan?", tanya Musa.
" Alhamdulillah lumayan banyak yang suka mie ayamnya, memang rencana ingin sewa lapak,tapi belum kumpul-kumpul modalnya", terang Bapaknya Yanto.
" Kalau saya ikut tanam modal dan kerjasama dengan bapak bagaimana?", Musa mengajukan kerjasama.
" Wah apa ini serius atau becandaan Mas?".
" Serius saya mau ajak bapak bekerja sama".
Bu Yani dan Sari saling memandang dan tersenyum.
" Wah terimakasih banyak kalau begitu", ucap Bapaknya Yanto sambil menundukkan kepalanya merasa terharu. Entah mimpi apa semalam, hingga hari ini dipertemukan dengan Sari dan keluarganya, memberi pekerjaan untuk istrinya, dan menawarkan kerja sama dengannya.
" Bapak silahkan cari lapak yang bapak mau, nanti hubungi saya kalau sudah menemukan tempat jualan yang sesuai keinginan, nanti saya bayar sewa tempat itu, atau kalau boleh bisa saya beli, agar menjadi hak milik", gumam Musa.
__ADS_1
Yanto, dan kedua orangtuanya tersenyum sumringah.
" Pantas saja Sari mau menikah dengan Pak Musa, dia begitu baik hati dan dermawan, suka menolong orang susah seperti keluargaku, semoga pernikahan Sari dan Pak Musa langgeng hingga maut memisahkan, aamiin...", batin Yanto mendoakan kedua pengantin baru yang baik hati itu.