
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesungguhnya hamba-hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridha'i Allah Azza Wa Jalla tanpa berfikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan perkataanya itu".
***
Malam ini di kediaman Musa dan Sari penuh dengan tamu undangan, akan ada acara doa bersama sekaligus aqiqah untuk Rasyid. Malam ini juga Rasyid akan di cukur rambutnya untuk yang pertama kali. Sekaligus pemberitahuan nama lengkap Rasyid pada tetangga, saudara dan semua tamu undangan.
Beruntung sekali, semenjak acara lamaran Dimas yang berjalan lancar beberapa minggu yang lalu, kini Linda sering datang ke rumah Sari menemaninya sekaligus menengok Rasyid, 'calon ponakan'.
Benar sekali..., gumaman Linda saat menjenguk Sari di rumah sakit yang menyebut Rasyid sebagai keponakannya akan menjadi sebuah kenyataan.
Padahal waktu itu Linda mengatakan Rasyid sebagai keponakannya karena sudah menganggap Sari sahabatnya itu, sudah seperti saudara sendiri. Namun protes dari Agung justru seperti do'a, mungkin saat mengatakan hal itu ada malaikat yang lewat dan mengamininya.
" Nggak nyangka, bener-bener nggak kepikir kalau ucapan kamu di rumah sakit menjadi kenyataan".
" Padahal waktu itu kan aku yang komentar, kapan kawin sama Dimas-nya manggil si kecil Rasyid sebagai ponakan".
" Eh...malah jadi beneran".
Agung yang sudah mengenakan baju muslim, sarung dan peci yang sengaja baru di beli untuk menghadiri acara aqiqah Rasyid, terlihat sangat berbeda malam itu.
Linda hanya manyun saat Agung yang sedang bersama Dimas dan Cahyo sengaja meledeknya.
Mereka bertiga bersama Linda dan Eli sedang membantu memasukkan box makanan paket aqiqah yang baru sampai di antar oleh pihak pengurus aqiqah, yang pemiliknya tidak lain adalah ibunya Linda sendiri.
Beberapa waktu lalu, Musa memang sengaja meminta tolong pada Uminya untuk mengurus acara masak-memasak kambing untuk acara aqiqah Rasyid.
Sedangkan Umi yang mengetahui jika calon besan dari besannya sendiri/Esti , punya usaha katering, langsung menghubungi nomernya. Beruntung sempat bertukar nomer telepon saat acara lamaran beberapa minggu yang lalu.
Di acara lamaran Dimas kemarin, selain mengobrol urusan anak-anak dengan sesama ibu-ibu, ternyata Umi dan ibunya Linda begitu nyambung saat ngobrol, mungkin karena berkecimpung di dunia yang sama, yaitu usaha kuliner.
Tadinya Umi ingin mengundang chef dari restorannya, karena untuk mengolah kambing jelas Umi sudah sangat jago, hampir seperempat hidupnya tinggal di Kairo, dan sudah ber ribu kali masak domba ataupun unta.
Tapi Musa melarang, takut uminya kecapekan jika harus mengolah 3 kambing.
2 kambing khusus untuk di olah dan dimasukkan ke dalam box, dibagi untuk para tamu undangan, dan 1 kambing di masak untuk menjamu para tamu undangan di hidangkan di meja paresmanan.
Meski sama-sama usaha di bidang kuliner, namun ada juga perbedaan cara kerja antara Umi dengan Ibunya Linda.
__ADS_1
Restoran milik Umi yang ada di solo, untuk urusan masak ada ahlinya sendiri, Umi hanya sesekali membantu dan berkunjung. Sedangkan Ibunya Linda biasa berkecimpung dan terjun langsung dalam kegiatan masak memasak di dapur.
" Assalamualaikum....",
" Wa'alaikum salam...", jawab mereka semua serempak.
Ibunya Linda masuk sambil membawa olahan daging kambing di dalam wadah besar, menatap ke arah Linda.
" Lin... bisa bantu ibu masukan dua termos jumbo yang berisi nasi kebuli, sama panci di sebelahnya yang berisi acar".
Linda mengangguk.
" Biar aku saja yang bawa, ini berat, kamu lanjutkan bawa box paketan nasi saja yang ringan", Dimas mengambil termos jumbo berisi nasi kebuli yang hendak di ambil Linda dari dalam mobil.
" Cie...cie...co cweeet.... banget si".
" Yang berat itu bukan termos nasi, tapi rindu...kamu nggak akan kuat...., hahahaha", Cahyo ngakak mendengar ucapannya sendiri.
Kalimat dari potongan film dilan yang sengaja di plesetkan.
Cahyo pun menerima bogem mentah dari Dimas di lengan kanannya.
Musa yang baru kelar usai mengurus keperluan lainnya hanya menggelengkan kepalanya mendengar gurauan ngga jelas dari para mantan anak didiknya. Namun langkahnya terhenti saat dia hendak masuk kembali kerumah, demi mendengarkan kembali obrolan nggak jelas dari mereka yang sedang membantu memindahkan makanan dari mobil.
" Kalau dipikir-pikir, masa depan itu seperti rahasia yang tidak ada satupun manusia biasa yang bisa menebaknya".
" Yang jelas sampai sekarang Pak Musa masih menjadi guru terbaik dan yang tak akan pernah terlupakan, beliau itu ustadz idolaku, dari sekian guru yang pernah mengajariku di sekolah".
Agung kali ini ikut angkat bicara sekaligus angkat panci berisi acar buah dari mobil ibunya Linda. wkwkwkwk 😁
Akhirnya Musa keluar dan ikut membantu mengangkat box paket makanan ke dalam rumah, hanya tinggal beberapa paket saja.
Semua terdiam saat Musa bergabung dengan mereka, mungkin masih merasa canggung untuk mengobrol santai dengan mantan gurunya. Mereka bahkan masih menganggap Musa sebagai guru mereka, bukan mantan, karena sampai kapanpun sekali guru akan tetap menjadi guru dalam hati dan pikiran mereka. Dan acara memindah box pun selesai karena begitu banyak yang membantu.
\=\=
Eli dan Linda kini sudah berada di kamar Sari sengaja bermain dengan si kecil Rasyid yang kini pipinya semakin chubby seperti bakpao.
" Duh... Rasyid makin besar, tambah ganteng saja, makin bikin aunty jadi gemesh", Eli menciumi pipi Rasyid yang seperti bakpao berulang kali.
__ADS_1
Umi yang baru masuk kamar langsung menyapa Eli dan Linda, sekarang Umi sudah semakin kenal dengan sahabat-sahabatnya Sari.
" Wah... senengnya Rasyid lagi di ajak main sama aunty-aunty cantik".
" Eh Umi, lagi sibuk ya?", Linda langsung sungkem, begitu juga dengan Eli.
" Sudah beres semua, tinggal nunggu tamu undangan hadir, jadi sekarang santai. Untung ada ibunya Linda yang banyak bantu".
Linda hanya tersenyum tipis, sejak tadi tidak melihat keberadaan mamanya Sari, alias calon mertua.
" Mama kok nggak kelihatan Sar?", Linda bertanya sambil melirik ke kanan kiri melihat ekspresi Eli dan Umi yang sedang tersenyum.
" Nanti, paling sebentar lagi sampai, lagi pulang dulu jemput kakek".
" Ooooh...", Linda membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut.
" Kalau Linda kan dua bulan lagi sudah mau di sah-kan, kalau Eli apa sudah ada calon?", akhirnya Umi mengeluarkan rasa penasarannya tentang Eli.
Eli meringis mendengar pertanyaan Umi,
" baru rencana mau lamaran bulan depan Umi, soalnya kami berdua sama-sama masih studi ngejar spesialis".
" Calonnya sepantaran, kami seangkatan, dulu sekelas, muridnya pak Musa juga" , terang Eli.
" Belajar itu jangan menjadi alasan untuk menunda hal baik".
" Dulu Sari juga masih kuliah waktu menikah dengan Musa, tapi bisa menjalani kedua peran sebagai mahasiswi dan juga sebagai istri, secara bersamaan".
" Kalau perempuan menikah sudah berumur juga kurang baik, kan harus mengandung dan melahirkan nantinya".
Ucapan Umi membuat Eli berpikir sejenak.
" Iya Umi, ibuku juga pernah mengatakan hal itu, biar nanti Eli diskusikan bersama keluarga".
Linda dan Sari hanya saling menatap, tapi tetap terdiam, tidak berani berkomentar apapun, terutama Sari, karena pacar Eli adalah Rizal, orang yang terang-terangan pernah mencintainya.
Kalau Sari ikut bicara takutnya salah ngomong dan menyakiti hati Eli, bahkan sampai sekarang Eli tidak pernah menceritakan tentang hubungannya dengan Rizal secara blak-blakan dengan Sari.
Sari pun tidak ambil pusing dengan hal itu, setiap orang berhak punya privasi masing-masing. Dan Sari menghormati keputusan Eli untuk tidak membahas tentang Rizal bersamanya.
__ADS_1
Sudah cukup dengan ngobrol dan membahas hal lainnya. Hubungan persahabatan ini lebih penting dari sebuah cerita pribadi mengenai pasangan masing-masing.
Karena Sari sendiri jarang membahas tentang Musa jika sedang bertemu dan ngerumpi dengan para sahabatnya.