
Author POV
" Siapa?, cewek kamu?", tanya Azka saat melihat Musa menghampirinya bersama dengan seorang gadis cantik berperawakan tinggi sedang, berambut lurus sebahu. Tapi sesaat kemudian setelah mereka berada lebih dekat, Azka justru fokus pada tangan kanan Sari yang terbungkus gips.
Musa duduk di sebelah Azka yang tengah duduk di kursi panjang di pinggiran lapang yang biasanya sebagai tempat duduk penonton jika ada pertandingan voli atau bulu tangkis di lapangan itu.
Sari mengikuti untuk duduk di sebelah Musa, tentu saja menggunakan physical distancing alias jaga jarak. Takut nyetrum kalau terlalu dekat.
" Ini Sari, cucunya Kakek Atmo, tetangga rumahmu, masa kamu nggak kenal?". Musa memperkenalkan Sari.
Sari hanya melambaikan tangan kirinya, berdada-dada, " hai... salam kenal, aku Sari "
" Aku Azka ", mereka saling menyebut nama satu sama lain. Azka terus memperhatikan Sari, tatapannya enggan beralih dari wajah Sari.
" True beauty, bagaimana bisa aku baru mengetahui ada gadis secantik ini tinggal di sebelah rumahku", batin Azka.
Ehem....
Musa berdehem karena Azka cukup lama menatap wajah Sari. Terlihat Sari yang merasa tidak nyaman.
" Ternyata kakek Atmo punya cucu cewek yang sangat cantik, aku baru tahu, yang ku tahu cucu beliau yang cowok...", ucap Azka sambil mengalihkan pandangannya, kemudian berpikir sejenak.
" Dimas..., iya aku tahunya cucu yang namanya Dimas, beberapa kali ketemu kalau pulang dari sholat Ied tiap lebaran".
" Kalau yang cewek, aku baru tahu, jarang keluar rumah ya kalau mudik ke sini?", tebak Azka.
" Iya Kak, lagian nggak punya kenalan anak sini, terus mudik paling 3 atau 4 hari sudah balik ke Malang, jadi mending di rumah memanfaatkan waktu yang cuma sebentar bersama nenek dan kakek", jawab Sari.
" Ooh....pantesan".
" Tapi tiap tahun aku juga ke rumah kakek buat silaturahmi, kenapa kamu nggak pernah kelihatan?", tanya Azka penasaran.
" Mungkin lagi di belakang, soalnya tiap lebaran tamunya kakek begitu banyak, jadi usai sungkeman sama Kakek, nenek dan mama-papa, biasanya langsung ke belakang", terang Sari.
__ADS_1
" Oooohhh...., kalau boleh tahu, tangan kamu kenapa?", Azka yang dari tadi memperhatikan tangan Sari memilih untuk bertanya dari pada penasaran.
" Jatuh waktu bonceng motor temen", jawab Sari seperlunya.
" Oh, jatuh.... kok kalian berdua bisa saling kenal?", pertanyaan Azka kali ini membuat Musa yang dari tadi terus diam seperti orang ilang, memilih untuk memberi jawaban.
" Dia sekolah di SMA negeri, jadi dia itu muridku...kamu ini banyak nanya, kapan kamu pulang dari Bandung?", tanya Musa sambil menatap Azka lekat.
Musa sadar jika Azka tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sari sejak tadi.
" Kemarin siang, sudah mulai membuat skripsi, jadi tidak bisa sering-sering pulang, waktu habis untuk kuliah dan mencari bahan skripsi", terang Azka.
" Kakak kuliah di Bandung?", Sari bertanya kepada Azka.
" Iya, apa kamu minat untuk kuliah di Bandung juga?", tanya Azka penasaran.
" Dulu sih sempat kepengin, pernah bahas juga sama temen-temenku, tapi nggak tahu jadinya gimana nanti, mungkin kuliah disini saja, kasihan juga kalau kakek tinggal sendirian" gumam Sari.
Ternyata Azka dan Sari terus asyik mengobrol, harapan Musa mengajak Sari ke lapangan agar bisa ngobrol nyaman ternyata mendapat gangguan, justru Sari begitu nyambung ngobrol dengan Azka.
" Kakak..., Naura mau pipis, ayo kita pulang cepet-cepet", tiba-tiba Naura yang sejak tadi bermain kembang api di tengah lapang dengan anak-anak kecil yang lain, berlari kepinggir menghampiri Azka dan menarik-narik tangannya.
" Iya...iya...ayo kita pulang sekarang", Azka berdiri dan mengikuti Naura yang masih menarik tangannya.
Azka menatap ke arah Sari, " Besok-besok kalau ada waktu, kita sambung ngobrol-ngobrol nya ya Sar, kalau kamu nggak keberatan, aku mau ajak jalan-jalan ke tempat-tempat nongkrong yang asyik di sini", Azka sedikit berteriak karena Naura terus menarik tangan nya.
Sari hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Untung saja Naura menarik Azka untuk segera pulang, kalau tidak mungkin aku terus jadi kambing congek mendengarkan mereka asyik ngobrol berdua", batin Musa.
" Benar selama ini kalian baru ketemu?", tanya Musa menyelidik. Secara....kan mereka tinggal bersebelahan. Seharusnya setiap Sari mudik lebaran ke rumah Kakek nya, saat itu Azka juga mudik dari kos-kosannya di Bandung. Seharusnya mereka berdua sudah lebih dulu saling kenal.
Sari kembali mengangguk, " Sari jarang keluar rumah, atau main-main di sekitar komplek sini. Paling dulu kalau keluar sama nenek dan mama buat belanja, atau pergi berlibur sekeluarga ngadem ke Baturraden, disana kakek juga punya penginapan yang di kelola oleh adiknya", terang Sari.
__ADS_1
" Maaf, tentang percakapan kamu sama Azka tadi, kalau tidak salah dengar, dia tadi menyebut cucu Kakek Atmo yang lain, apa dia saudaramu?", tanya Musa yang pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah dengar cukup banyak informasi tentang keluarga Sari dari Paman Irsyad.
Sekedar sebagai bahan obrolan, karena Musa tidak tahu mau mengobrol apa saat hanya berdua dengan Sari seperti ini, meski sebenarnya begitu banyak anak kecil di tengah lapang, tapi tak ada yang dikenal satupun oleh mereka berdua, jadi serasa seperti berdua saja.
" Iya, Dimas itu kakakku,tapi tahun ini dia tidak bisa ikut mudik", jawab Sari seperlunya, kemudian Sari berdiri dari duduknya, tampaknya Sari enggan membahas tentang kakaknya, mungkin karena dia tidak ingin aku bertanya terlalu jauh dan mengetahui kebenaran tentang saudaranya itu.
" Kenapa berdiri?, bukankah kamu lagi santai sejak tadi ?, kamu bilang mama kamu sama bi Nunung belum selesai bikin kue, tapi saat aku lewat depan rumahmu tadi aku lihat kamu lagi ngobrol di teras sama seseorang lewat video call", Sari sedikit terkejut karena ternyata Musa tadi melihatnya tengah bersantai di teras, jadi tidak mungkin membuat alasan pulang karena ingin membantu mama dan bi Nunung di dapur, itu jelas ketahuan bohongnya.
" Kamu nggak suka aku tanya-tanya tentang keluargamu?, oke...aku nggak akan tanya-tanya lagi, sekarang duduk santai saja, liat anak-anak main kembang api", pinta Musa sambil menepuk bangku tempat tadi Sari duduk, menyuruh Sari kembali pada posisinya tadi.
Sari menurut dan duduk kembali di sebelah Musa.
Mereka sama-sama terdiam selama beberapa menit, karena tidak ada yang bicara, rasanya jadi canggung duduk bersebelahan seperti ini.
Kruwuk... kruwuk....
Terdengar perut Musa yang berbunyi, memang tadi Musa tidak menghabiskan kolak dan teh manisnya, karena itu sekarang perutnya berbunyi protes minta untuk diisi.
" Mau menemaniku makan?", tanya Musa, ketika melihat Sari tertawa, mendengar bunyi perut Musa.
" Makan apa?". Sari bertanya masih dengan menutup mulutnya yang tersenyum.
" Kita jalan sebentar ke pertigaan yang di ujung sana, sepertinya saat lewat tadi aku melihat penjual pecel lele yang mangkal disana", ujar Musa.
Sari mengangguk, tentu saja dengan senang Hati Sari mengikuti ajakan Musa, meski Sari tidak merasa lapar, tapi ini momen langka, kapan lagi bisa berjalan berdua dan makan malam hanya berdua dengan Ustad idolanya itu.
" Apa ustadz tidak punya saudara?, maksud Sari apa ustad anak tunggal?", Sari membuka pembicaraan saat mereka berdua berjalan menuju pertigaan yang ada di ujung komplek.
" Iya, aku anak tunggal, kata Abi saat Umi melahirkan ku dulu, Umi sempat mengalami koma selama tiga hari, gara-gara pendarahan hebat saat proses melahirkan aku. Abi sempat merasa putus asa saat Umi tidak sadar-sadar, Abi terus menerus berdoa untuk kesembuhan Umi, sampai tiga hari do'a Abi akhirnya di kabulkan oleh Sang Maha Penyembuh, umi tersadar dan mencari-cari keberadaan ku, Umi takut terjadi apa-apa padaku, tapi alhamdulilah aku baik-baik saja".
" Sejak saat itu Abi langsung melakukan vasektomi, Abi tidak mau umi hamil lagi, beliau takut Umi akan koma jika melahirkan anak lagi", ucap Musa menjelaskan.
Sebegitu besar rasa cinta Abi pada umi, yang begitu merasa takut kehilangan
__ADS_1