
Hari demi hari berlalu dengan cepat, tinggal satu bulan lagi Sari menjalankan kewajiban koas di rumah Sakit, jika semua berjalan dengan lancar, maka tinggal menunggu sekitar dua bulan lagi Sari sudah resmi menjadi seorang Dokter.
Perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar untuk sampai di titik ini, dari pengorbanan tenaga, waktu, pikiran, dan juga biaya. Beruntung Sari berasal dari latar belakang keluarga yang cukup berada, apalagi kini tanggung jawab membiayai kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah semua di urus oleh Musa, suaminya.
Di akhir pekan Sari sengaja bangun agak siangan, karena dia tengah datang bulan, Musa pun membiarkan istrinya untuk bersantai mumpung sedang libur.
Saat Sari masih memejamkan matanya, tercium aroma makanan yang menyeruak masuk kedalam kamarnya. Membuat Sari yang semalam tidak makan malam merasa perutnya protes minta untuk di isi, saking laparnya.
Sari terpaksa bangun dan berjalan ke kamar mandi, mencuci muka agar lebih fresh, juga menggosok gigi, baru kemudian keluar kamar menuju aroma itu berasal, Sari menatap begitu banyak makanan di meja makan, ada urap, mendoan, ayam panggang dan juga rempeyek. Ada Umi dan Abi juga yang duduk bersebelahan di kursi tempat makan, di dapur juga ada Musa yang tengah mengambil gelas dan piring untuk sarapan.
" Umi, Abi, kapan sampai?", Sari langsung berlari dan memeluk Umi, baru kemudian bersalaman dan sungkem pada Abi.
" Umi baru saja sampai, tadi mau bangunin kamu, tapi kata Musa suruh jangan di ganggu, ya sudah nggak jadi umi bangunin deh".
Musa yang keluar dari dapur sambil membawa piring dan gelas, langsung meletakkan di meja, Sari membantu menata piring dan gelas untuk Umi dan Abi.
" Cuci muka dulu sana, itu muka kamu kelihatan banget baru bangun tidur", Musa mendorong Sari menuju kamar kembali untuk mencuci muka dan bergosok gigi.
" Ih....mas ini kenapa sih?, kok main dorong-dorong begini?", wajah Sari langsung cemberut dengan sikap Musa. " Sari kan sudah cuci muka dan gosok gigi sebelum keluar kamar tadi", gumam Sari yang tengah mendudukkan diri di tepian kasur.
" Kamu tahu kenapa Umi dan Abi kesini sepagi ini?, nggak penasaran dengan kehadiran mereka berdua yang tiba-tiba?", Musa duduk di sebelah Sari sambil memegang kedua pundaknya.
Sari langsung berfikir mendengar kalimat Musa barusan.
" Benar juga, jam berapa mereka berangkat dari solo jika sepagi ini sudah sampai disini?", pikir Sari.
Karena Sari terus terdiam, Musa kembali melanjutkan kalimatnya. " Umi dan Abi itu tadi tiba-tiba menanyakan kapan kamu selesai koas. Mereka berdua mau menyiapkan pesta pernikahan kita. Dan tadi Abi memintaku menyiapkan semua berkas persyaratan untuk mendaftar ke KUA, jadi kamu jangan kaget kalau nanti tiba-tiba umi dan Abi membahas hal itu", Musa sengaja memberi tahu Sari terlebih dahulu agar tidak terkejut.
__ADS_1
" Oooh... jadi umi dan Abi kesini sepagi ini karena mau bahas soal itu. Oke Sari bisa ngerti, ya sudah ayo keluar dong Mas, Sari sudah laper banget, semalam pulang dari rumah sakit langsung tidur, ngantuk banget nggak sempet makan malam", gumam Sari seraya berdiri dan keluar dari kamar.
" Kamu itu, sudah dibilangin jangan telat makan, kok malah tidur tanpa makan malam, nggak ingat kemarin di opname seminggu di rumah sakit ya?", teriak Musa dari dalam kamar, karena Sari sudah berjalan cepat menuju meja makan.
Sari meninggalkan Musa yang entah mengatakan apa dari kamar.
" Maaf Umi, Abi, kelamaan ya nunggu kami, mari makan, wah... Umi beli dimana ini sepagi ini sudah bawa makanan lezat seperti ini?", Sari mengambilkan nasi untuk Musa, dan baru mengisi piringnya sendiri.
" Umi mampir ke pasar tadi, sengaja beli sayur mateng, soalnya sudah lapar pas di jalan, mau makan di luar, tapi belum ada rumah makan atau restoran yang buka, jadi umi minta Abi mampir ke pasar dan beli sayur mateng, semoga rasanya enak, karena dari aromanya juga sangat enak, ayo dimakan".
Sari langsung menyuapkan nasi kedalam mulutnya, namun semangatnya langsung luntur ketika ternyata rasa dari sayur yang dibeli umi tidak sesuai dengan ekspektasi.
" Kenapa?", Musa memperhatikan ekspresi wajah Sari yang langsung berubah, tidak se sumringah tadi.
" Nggak papa, ini urap nya pahit, mendoan nya juga rasa tempenya agak asam", gumam Sari, sambil menyingkir-nyingkirkan urap dan mendoan yang masih hangat di pinggiran piring. Sari akhirnya hanya memakan nasi dan ayam panggang saja.
" Maaf ya, sebenarnya tadi umi mau beli di ibu-ibu penjual yang jualannya ramai dengan pembeli, tapi di sampingnya lapak ibu-ibu itu, ada nenek-nenek yang juga jualan, tapi sepi pembeli, karena umi kasihan sama nenek-nenek itu, jadi umi beli sayuran mateng pada beliau, bermaksud membantu buat penglaris, ternyata rasanya tidak sesuai, tidak seperti baunya yang enak. Maaf ya, membuat nafsu makan kalian jadi hilang".
Sudah Musa duga, Umi selalu saja seperti itu, dari dulu selalu kasihan jika ada nenek-nenek atau kakek-kakek jualan, selalu kasihan pada mereka, dan membeli hanya karena berniat untuk membantu.
" Ya sudah dimakan yang bisa dimakan saja, kan masih ada ayam panggang sama rempeyek", Abi menengahi, merekapun kembali diam dan menghabiskan sarapan mereka.
Usai sarapan, Sari membersihkan meja makan dan mencuci piring bersama Musa. Setelah itu kembali duduk bersama umi dan Abi di ruang santai, setelah mandi dan berganti pakaian, Sari dan Umi menemani Abi melihat acara berita di televisi.
Saat Musa bergabung juga dengan mereka usai mandi, baru Umi mulai berbicara serius perihal yang di sampaikan Musa pada Sari tadi di kamar.
" Sari sebentar lagi sudah selesai koas kan?, Umi sengaja datang bersama Abi kesini karena mau ketemu sama Kakek kamu, membahas rencana pesta pernikahan kalian berdua. Seminggu yang lalu Umi sama Abi juga sudah kerumah orang tua kamu di Malang, dan membicarakan tentang rencana pesta pernikahan kalian. Semuanya sudah di atur oleh umi dan mama kamu, karena Umi dan mamamu tahu kamu masih sibuk koas".
__ADS_1
Musa dan Sari hanya saling menatap dan terdiam membiarkan umi untuk menjelaskan semuanya terlebih dahulu.
" Umi, Abi dan mama papamu, sudah sepakat akan mengadakan pesta di tiga tempat, di sini, di Malang dan di Solo. Karena saudara kita banyak, jadi mungkin harus dilakukan di tiga tempat", terang Umi.
" Tapi Umi, Sari masih sebulan lagi koas nya, apa nggak bisa pestanya sekali saja di sini?, mungkin setelah selesai koas sari akan langsung bekerja di rumah sakit. Mungkin waktu yang Sari punya tidak selapang itu sampai bisa mengadakan pesta di tiga tempat". Sari berusaha menjelaskan keadaannya.
Ekspresi Umi langsung berubah muram. Selama ini Umi sudah terlalu banyak mengalah dan berusaha berlapang dada menerima dan mengikuti semua keinginan Sari. Hanya untuk satu kali dia mengadakan pesta pernikahan putranya. Tentu saja Umi berniat mengadakan pesta yang besar dan mengundang semua keluarga dan kenalannya. Apalagi Musa adalah putra semata wayangnya, hanya sekali seumur hidup dia mengadakan pesta untuk pernikahan putranya, tapi justru Sari seperti tidak setuju dengan rencana yang sudah di rancang nya bersama Esti (mamanya Sari), seminggu yang lalu.
Esti juga ingin mengadakan pesta pernikahan Sari di Malang dan mengundang semua saudara dan rekan kerjanya.
" Pasti jika mamamu tahu jawaban putrinya, dia akan sangat kecewa, sama sepertiku", ujar Umi.
Musa yang tidak ingin Umi dan istrinya berselisih paham, menengahi pembicaraan mereka.
" Nanti kita kerumah Kakek dulu, kita tanya bagaimana pendapat kakek tentang hal ini, bagaimana kalau sekarang kita siap-siap untuk pergi ke rumah kakek?", tanya Musa dengan suara pelan, karena Musa tahu persis pikiran Umi dan Sari sama-sama sedang tegang.
" Baiklah kita kerumah Kakek sekarang, Sari ambil ponsel sama dompet sebentar", Sari langsung beranjak dan masuk ke kamarnya dengan dada bergemuruh mendengar kalimat umi tadi.
Sedangkan Abi ke kamar untuk berganti pakaian.
Saat Sari sudah di kamar, Musa langsung mendekati uminya. " Umi pelan-pelan saja menyampaikan rencana pernikahan Musa pada Kakek, nanti Musa juga akan bicara pelan-pelan pada Sari dan berusaha membujuknya", ucap Musa lirih, takut Sari tiba-tiba keluar dan mendengar nya.
" Selama ini umi sudah banyak mengalah dan menuruti semua keinginan Sari, dari yang maunya nikah siri dulu, yang dia pasang KB tanpa meminta ijin terlebih dahulu sama kamu, yang ingin ini yang mau itu, semua Umi ikuti !,cuma kali ini Umi mau Sari mengikuti keinginan Umi, karena kamu itu putra Umi satu-satunya, cuma sekali Umi akan menggelar hajatan dan mengumpulkan keluarga besar, apa keinginan Umi terlalu muluk-muluk?, tidak kan?".
" Kamu itu jadi suami kadang juga harus sedikit tegas, jangan terus menerus mengikuti semua keinginannya, jadi ngelatih istri kamu itu biar nggak mau pakai kemauan dia sendiri terus".
Musa begitu kaget ketika membalikkan badan dan melihat Sari sedang berdiri beberapa langkah dari posisinya saat ini.
__ADS_1
Sari yang ternyata sudah keluar dari kamar beberapa menit yang lalu, mendengar semua yang dikatakan Umi barusan, Sari hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan, dan berjalan menuju ke mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.