
Sari mulai melatih Rasyid untuk mimi ASI menggunakan botol susu. Sari sengaja membeli pompa ASI elektrik, guna untuk memeras ASI nya di saat dia harus mulai bekerja di rumah sakit.
Awalnya Rasyid seperti menolak untuk minum melalui botol, mungkin karena tekstur dot yang berbeda dengan p*ting pay*dara Sari, sehingga Rasyid menolak, tapi Sari tetap berusaha, agar Rasyid tetap meminum ASI dari botol, pelan-pelan Sari mencoba membuat Rasyid mau menggunakan botol susu, karena sebentar lagi dirinya harus bekerja, sedangkan Sari ingin mematuhi anjuran dokter, agar melakukan ASI eksklusif, yaitu Rasyid hanya minum ASI saja selama 6 bulan.
Dalam waktu 3 hari, setelah berkali-kali melakukan percobaan minum melalui botol, akhirnya Rasyid mau juga menghisap dot, mungkin karena merasa haus dan lapar, mau tidak mau Rasyid menghisap dot dengan semangat, sama seperti saat menghisap ASI pada bundanya.
" Duh....pinternya putra bunda sudah mau mimi pakai botol, biar bunda bisa tenang saat di tempat kerja nanti, maafin bunda ya sayang, nggak bisa terus jagain Rasyid selama 24 jam".
" Bunda harus menepati sumpah bunda untuk terus membantu sesama".
" Tapi tenang sayang, di luar itu, bunda akan selalu bersama Rasyid. Jadi Rasyid jadi anak yang baik ya, jangan rewel saat bunda harus berangkat ke rumah sakit".
Bi Nunung hanya bisa tersenyum melihat Rasyid yang terkekeh saat Sari mengajaknya bicara.
Jika di siang hari, Sari memang biasanya mengajak Rasyid bermain di atas kasur yang sengaja di taruh di ruang tengah untuk tiduran Rasyid di siang hari.
Bayi mon tok itu sudah mulai memiring- miringkan badannya, dan berusaha untuk tengkurap, melihat usianya yang sudah hampir tiga bulan memang sudah semestinya
Rasyid mulai belajar tengkurap.
" Ta...ta....ta...ta...aah...", Rasyid mulai mengoceh sambil menarik-narik seprei dan memiring-miringkan badannya.
" Putra bunda semangat ayo..., belajar tengkurap, bunda bantu ya".
Sari sengaja memainkan krincingan berwarna merah agar Rasyid mengikuti arah suara, Rasyid terus mendorong-dorong pan tat nya untuk menggapai krincingan yang sedang dimainkan bundanya.
" Assalamualaikum",
" Wa'alaikumsalam", jawab Sari.
Terdengar suara Musa dari arah pintu masuk. Musa langsung menuju kamar mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah dan tidak lupa cuci muka, tangan dan kakinya sebelum mendekati Rasyid.
" Ye...ayah pulang lebih awal rupanya, Dede Rasyid ada temennya lagi".
Bi Nunung langsung menyiapkan makan siang di meja makan.
__ADS_1
" Biar Rasyid sama saya dulu mba Sari, mungkin ustadz Musa mau makan siang dulu".
Sari beranjak dari kasur busa ruang tengah, namun langkahnya terhenti saat Musa mengatakan ingin bermain dengan Rasyid terlebih dahulu.
" Mas nanti saja makannya, tadi sudah makan kudapan jam 10, apa kamu belum makan?", Musa menatap Sari.
" Sudah Mas, sudah dua kali, tadi pagi pas bareng Mas, sama tadi jam 11, cepet laper soalnya lagi me nyu su i, sekarang Sari belum lapar lagi", Sari kembali naik ke atas kasur busa dan bermain-main dengan Rasyid.
Musa pun melakukan hal yang sama, dan langsung tengkurap di samping Rasyid, bermain serta mengajak ngobrol Rasyid yang sangat senang jika diajak ngobrol.
" Sayang, apa sudah kedatangan tamu dari butik?".
" Kata kak Dimas mau buat seragam keluarga buat acara resepsi minggu depan, dan ternyata acara pernikahan kak Dimas berbarengan dengan acara pernikahan Azka di Bandung".
Pernikahan Azka yang pelaksanaannya seharusnya beberapa bulan yang lalu, harus di undur karena calon mertua Azka mengalami kecelakaan, sehingga menunggu calon ayah mertua Azka sembuh terlebih dahulu.
"Mungkin besok Mas ke rumah paman Irsyad, untuk menyampaikan permintaan maaf karena kita nggak bisa ngikut ke Bandung, dan juga menitipkan hadiah pernikahan dari kita untuk Azka".
" Mas juga perlu bertemu dengan kakek, ada yang ingin mas bicarakan dengan beliau, mungkin cukup lama Mas di sana, kamu mau ikut atau tetap di rumah?"
" Oke, besok Rasyid mau ikut ke rumah kakek buyut, jadi jam berapa berangkatnya, biar bisa siap-siap dulu", bawa Rasyid berarti harus membawa barang-barang keperluan Rasyid juga, karena bepergian membawa bayi itu perlu membawa begitu banyak barang bawaan.
" Jam 9 kita berangkat, jadi nggak terlalu pagi, cuaca tiap pagi lagi dingin banget, kasihan Rasyid, kalau jam segitu kan juga nggak terlalu siang, takut Rasyid kepanasan juga di jalan".
Saat mereka masih mengobrol tamu dari butik pun tiba, untuk melakukan pengukuran pada Sari, Musa, Rasyid dan bi Nunung juga.
" Mba... kalau bisa kain yang buat si kecil yang terasa dingin saat di pakainya, biar dia nyaman memakai baju itu, dan biar nggak rewel selama acara kan pasti banyak orang dan akan terasa panas". Sari begitu memikirkan Rasyid, jiwa ke ibuan-nya semakin terlihat jika sudah menyangkut kepentingan putranya.
" Tentu... dokter Sari tenang saja, saya jamin si kecil akan sangat nyaman dengan baju yang akan kami buatkan", ujar designer itu.
" Terimakasih banyak kalau begitu mba, saya memang selalu puas dengan pakaian yang mba buat", puji Sari.
"Untung saja hanya membuat seragam keluarga inti, Mas Dimas bilangnya begitu mendadak".
" Untuk saja gaun pengantin sudah selesai, jadi tinggal fokus membuat seragam untuk keluarga, waktu 5 hari untuk membuat 9 pakaian itu cukup keteter, untung karyawan saya mau lembur".
__ADS_1
" Kalau bukan untuk acara keluarga dokter Sari saya pasti sudah menolaknya".
Designer yang membuat pakaian untuk Sari beserta keluarga memang kenal dengan Sari, adiknya adalah salah satu teman Sari di rumah sakit, menjadi kepala bagian Humas rumah sakit tempat Sari bekerja.
***
" Sudah kakek tunggu-tunggu sejak kemarin, kapan cucu kakek akan main kesini membawa buyut kakek yang tampan ini".
" Akhirnya penantian kakek terjawab juga".
" Sudah pinter apa le (panggilan sayang untuk anak laki-laki) ?".
" Sudah pinter ngobrol sama pinter nangis yut (panggilan untuk buyut) ", Sari mewakili Rasyid menjawab pertanyaan kakek Atmo, suaranya sengaja di kecil-kecilan seperti suara bayi.
" Ta...ta...ta...ta..."
Kakek dan Sari pun terus mengobrol bersama Rasyid yang terus bergumam.
" Kek, Musa mau ke rumah paman Irsyad terlebih dahulu, mau menitipkan hadiah pernikahan untuk Azka, sekalian menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa menepati janji untuk ikut ke Bandung"
" Kalau begitu kakek sekalian ikut, kakek juga akan menyampaikan hal yang sama".
" Padahal seharusnya sudah beberapa bulan yang lalu pesta pernikahan itu diadakan, tapi ternyata malah jadinya minggu depan".
" Dan entah bagaimana justru berbarengan dengan pernikahan Dimas juga".
" Sayang, Mas dan kakek mau ke rumah Paman Irsyad dulu, kamu di temani bi Nunung dan istrinya mas Soleh ya".
Musa pun keluar rumah, diikuti kakek Atmo yang masuk ke kamar terlebih dahulu mengambil hadiah pernikahan untuk Azka.
Pagi pun berganti siang, kakek dan Musa baru pulang dari rumah Paman Irsyad, mereka membawa mangga begitu banyak, satu kantong plastik penuh.
" Di kasih sama Paman Irsyad, panen di kebun belakang, katanya manis banget kaya yang punya, mangga Indramayu ".
Sari langsung mengintip isi kantong plastik dan tersenyum lebar, mengambil beberapa mangga untuk dicuci dan dikupas, namun saat hendak mengupas mangga, tiba-tiba Rasyid menangis karena lapar sehingga Musa pun berinisiatif untuk mengupas kan mangga untuk istri tercinta.
__ADS_1