Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Belajar Bersikap


__ADS_3

Di dalam mobil semuanya terdiam, suasana begitu terasa canggung. Tidak ada satupun yang berusaha untuk bersuara, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, begitu juga dengan Sari, yang pandangannya menerawang jauh ke depan, terlihat sekali dia sedang melamun.


Musa yang menyetir mobil, Sari duduk di sebelahnya, sedangkan Umi dan Abi duduk di bangku belakang, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di rumah kakek Atmo.


Saat mobil sampai di depan rumah kakeknya, Sari langsung turun dan menghambur masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Sari menghambur ke pelukan kakeknya yang tengah bersantai di gazebo belakang sambil memberi makan ikan.


" Loh, kenapa cucu kakek, datang-datang kok langsung peluk-peluk begini?, mana suamimu?", Kakek Atmo mengedarkan pandangannya, dan langsung menangkap sosok Musa yang baru saja masuk ke dalam.


Tapi juga sedikit terkejut ketika ternyata orang tua Musa mengikuti di belakang Musa.


Sari langsung melepaskan pelukannya. Umi dan Abi langsung saling memandang melihat tingkah Sari yang begitu sayang kepada kakeknya.


" Assalamualaikum...", tidak sengaja Musa dan kedua orangtuanya mengucap salam serempak. Membuat Kakek Atmo langsung tertawa, menampakkan gigi putihnya yang di beberapa bagian sudah tidak asli lagi, alias menggunakan gigi palsu.


" Wa'alaikum salam, ada tamu jauh ini, alhamdulilah, bahagia sekali kakek kedatangan anak dan cucu semua berkumpul. Esti dan Triono juga sudah sampai sejak semalam, tapi mereka masih di pasar belum pulang-pulang", terang Kakek Atmo.


" Kak Dimas dimana kek?", tanya Sari berusaha bersikap biasa saja di depan kakek Atmo.


" Pergi sejak habis subuh, katanya mau joging di GOR bareng Agung dan Cahyo. Kakek senang, sejak mereka bekerja di perusahaan yang sama, mereka sekarang jadi sering nginep disini kalau akhir pekan, jadi bikin rame suasana rumah". Kakek Atmo beranjak dari duduknya, menyalami Musa dan kedua orang tuanya.


Dimas, Agung dan Cahyo memang bekerja di perusahaan software yang didirikan oleh salah satu teman mereka yang bernama Toni, mereka merintis perusahaan bersama mulai dari nol, dan sekarang sudah satu tahun perusahaan software itu berdiri, dan sudah lebih berkembang.


" Ayo duduk di depan saja, kakek sudah sejak pagi disini, pengin ganti suasana, lagian mendung, takutnya tiba-tiba hujan, bisa basah kalau duduk-duduk di gazebo", gumam Kakek sambil berjalan menuju ruang tengah.


Saat mereka berlima duduk di ruang tengah, Bi Nunung sudah selesai membuatkan teh manis, dan baru selesai menggoreng mendoan. Pas banget cuaca mendung sambil makan mendoan anget pakai cabe ijo.


Sari ikut ke dapur membantu bi Nunung mengambil beberapa cemilan lainnya.


Bi Nunung yang penasaran langsung bertanya pada Sari,


" Mau ada acara apa Mba Sari?, kok kumpul semua?, tadi pagi bibi tanya sama Bu Esti, tapi Bu Esti pas mau pergi ke pasar, jadi belum sempat jawab", pertanyaan bi Nunung membuat Sari menghentikan langkahnya.


" Nanti bibi dengerin saja apa yang akan di bahas, Sari juga belum tahu persis, itu rencana para orang tua, yang jelas tentang rencana pesta pernikahan Sari sama Mas Musa, tapi mereka yang mau ngatur semuanya, karena Sari nggak sempet urus, masih sibuk koas", jawab Sari sekenanya.


" Wah jadi sudah mau nikah sah ke KUA?, selamat ya Mbak!", wajah Bi Nunung langsung memancarkan kebahagiaan.


" Iya bi, kan sebentar lagi Sari selesai koas, sudah lama juga kami menikah siri, jadi memang sudah seharusnya di daftarkan ke KUA", Sari menjawab sambil keluar dari dapur, menuju ruang tengah.


" Silahkan di minum teh nya, dan itu mendoan di cicipi, mumpung masih anget", Kakek Atmo mempersilahkan pada Musa dan kedua orangtuanya untuk menikmati suguhan seadanya.


Saat mereka semua tengah menikmati mendoan hangat buatan bi Nunung yang lezat dan gurih, mama dan papanya Sari pun sampai di rumah pas kebetulan sampai bareng dengan Dimas dan kedua temannya. Cahyo dan Agung langsung masuk ke kamar setelah bersalaman. Namun Dimas masih berdiri di samping mamanya.

__ADS_1


" Wah...ternyata sudah lagi kumpul semua, kapan sampai jeng?", Esti langsung menyalami Umi dan becipika-cipiki, mereka memang sudah cukup akrab sejak anak-anak mereka menikah tiga tahun yang lalu, bisa dibilang besan rasa saudara.


" Sampai pagi tadi, habis sarapan langsung di ajak ke sini sama anak-anak", ujar Umi.


" Pasti mereka berdua sudah tidak sabar mau meresmikan hubungan mereka berdua", gumam Esti.


" Tentu saja mereka kan sudah menikah siri selama 3 tahun, tentu saja mereka sudah ingin meresmikan hubungan mereka dan melegalkan pernikahan mereka agar diakui oleh negara". Dimas ikut saja nimbrung pembicaraan orang tua. Menjawab pernyataan yang bukan di tunjukan padanya.


" Kamu itu kalau lagi kumat, penyakit sok tahunya , jadi seperti kaya mbah dukun saja" , gumam mama yang mengelus rambut Dimas, merasa beruntung putranya bisa cepat merubah kebiasaan hidupnya yang kelam dulu, menjadi lebih baik sejak hidup dengan kakek Atmo.


" Bagaimana yang menjalani apa sudah siap ?", tanya Kakek yang sejak tadi terdiam.


Musa dan Sari saling memandang.


" Tentu saja sudah sangat siap kalau Musa, yang seharusnya di tanya itu Sari nya Kek ", ujar Umi.


" Apa maksud Umi berbicara seperti itu, apa Umi mau melanjutkan perdebatan di rumah tadi?", batin Musa, langsung menatap Sari merasa khawatir akan terjadi perdebatan lagi.


Namun yang dikhawatirkannya tidak terjadi, karena Sari menjawab dengan kalimat yang sangat sopan.


" Sari siap, silahkan di bahas para orang tua, Sari ke kamar dulu dan setuju saja dengan apapun keputusan para orang tua", gumam Sari kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Musa yang tadi sempat khawatir jika perdebatan uminya dan Sari akan berlanjut sedikit menghembuskan nafas lega, Musa pun pamit dan mengikuti Sari memasuki kamar.


Musa sudah menyerahkan semuanya pada para orang tua, dan mengikuti Sari masuk ke dalam kamar.


Musa menutup pintu kamarnya, kemudian duduk di tepian kasur, menggenggam tangan Sari dengan begitu lembut.


" Terimakasih sayang, Mas benar-benar berterimakasih sama kamu, karena sudah mau mengikuti keinginan Umi, meski Mas tahu persis jika kamu sibuk, tapi kamu menyetujui usulan Umi".


Sari yang duduk menyender di kepala ranjang tidurnya langsung menegakkan tubuhnya, mendekat ke Musa.


" Sepanjang perjalanan Sari terus memikirkan ucapan Umi pada Mas di rumah tadi. Apa Sari se egois itu Mas?, maaf kalau selama ini Sari sudah sangat merepotkan Mas, selama 3 tahun kita hidup bersama, Mas tidak pernah mengeluh sedikitpun dengan semua tindakan Sari. Padahal Sari masih sering melakukan apa-apa semaunya sendiri, Sari benar-benar minta maaf". Sari menunduk mengakui kekurangannya.


Setelah memikirkan ucapan uminya pada Musa tadi, Sari langsung merasa bersalah, Musa sudah sangat baik kepadanya, menuruti semua keinginannya, dan kali ini Sari berusaha untuk bisa bersikap seperti Musa, dengan menuruti keinginan Umi dan Abinya.


Musa sangat bersyukur karena Sari sudah bisa berpikir lebih bijaksana, itu berarti Sari sudah mulai bersikap dewasa.


Sari melepas hijabnya dan meletakkan di gantungan. Udara siang itu terasa sangat panas, padahal cuaca mendung, kemungkinan akan turun hujan.


" Rambutmu basah, apa tamu bulananmu sudah selesai?", tanya Musa sambil menatap rambut Sari yang masih basah.

__ADS_1


" Iya Mas, tadi Sari mandi keramas, tapi belum sempat di keringkan , takutnya umi dan Abi kelamaan nungguin Sari selesai mandi, kan mereka tadi bilang mau ngobrol sama Kakek", ujar Sari menjelaskan.


Sari berjalan ke depan meja rias, mengambil hairdryer dan menyalakannya. Musa mendekat dan mengambil alih hairdryer dari tangan Sari.


" Sini Mas bantu keringkan rambutmu".


Dan dengan gerakan seperti slow motion, Musa mengarahkan hairdryer ke rambut Sari, jari jemarinya sesekali menyentuh tengkuk Sari, membuat Sari merasakan glenyeran aneh yang tiba-tiba muncul.


Aroma wangi dari sampo yang tadi Sari pakai, langsung tercium di hidung Musa saat hairdryer diarahkan ke rambut Sari, dan dengan tidak sengaja membuat rambut Sari berterbangan mengenai hidung Musa yang posisinya berada begitu dekat.


Padahal ini bukan kali pertama Musa menyentuh Sari, entah untuk ke berapa ratus kali Musa menyentuhnya, tapi semuanya masih sama seperti saat Musa pertama kali menyentuhnya, masih tetap membuat Sari berdebar karena Musa yang melakukan sentuhan dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


Rambut Sari sudah tidak basah lagi, Musa mengusapnya pelan dengan penuh perasaan, gadis yang sama yang membuatnya jatuh cinta lagi untuk setiap harinya. Meski kadang sikapnya kekanakan dan sedikit egois, tapi Musa tidak pernah sekalipun menyesal menikahinya.


Musa membungkukkan badannya di atas pundak Sari, meletakkan hairdryer ke dalam laci yang berada di bawah cermin, tak sengaja anggota tubuh bagian bawahnya tiba-tiba mengeras karena kontak fisik yang tak sengaja di lakukan membuat Sari tersenyum simpul.


" Apa Mas mau?". Sari sedang belajar bersikap sebagai seorang istri yang baik.


" Hah?, mau apa?", Musa justru bertanya balik, takutnya yang dimaksud Sari dan yang di tangkapnya adalah hal yang berbeda, karena selama ini sekalipun Sari belum pernah menawarkan diri, karena selalu Musa yang bertanya terlebih dahulu.


Sari berdiri dan melingkarkan tangannya di leher Musa, mendekati wajah mereka dan mengecup bibir Musa dengan lembut.


Musa membalas kecupan Sari dengan mengecup lebih lama, semakin lama semakin menuntut, hingga kecupan berubah menjadi ciuman yang panas.


Cuaca yang sedari tadi sudah mendung pun akhirnya menurunkan pasukan air ke bumi, hujan begitu deras mengguyur hampir sebagian besar daerah Purwokerto.


Musa yang sejak tadi sudah terlebih dahulu merasa tegang kini membuat Sari ikut-ikutan tegang dengan sentuhan dan ciuman yang dilakukan suaminya di sekujur tubuh Sari.


Muka Sari sampai berubah merah karena merasa malu, baru kali ini Sari yang mengajak, padahal tindakan sepele, menawarkan diri seperti itu pada suaminya, pasti akan mendapatkan pahala yang begitu besar.


Perlakuan Musa yang sedemikian rupa, membuat Sari sampai mengeluarkan suara desahan lirih.


Musa langsung mengangkat tubuh Sari dan merebahkannya di atas kasur.


" Apa boleh ?", Musa bertanya dengan tatapan yang penuh gairah.


Sari tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Memberi lampu hijau agar Musa melanjutkan perjalanan percintaan mereka di atas ranjang.


***


Di ruang tengah para orang tua masih sibuk berdiskusi, sedangkan di dalam kamar Sari dan Musa tengah saling memadu kasih, di tengah lebatnya guyuran hujan siang itu.

__ADS_1


Waktu pesta pernikahan sudah di putuskan , persis satu bulan lagi, Sari dan Musa akan menikah secara resmi dan mendaftar di KUA setempat. Pesata akan diadakan di tiga kota.


Untuk urusan pesta pernikahan, dan ugo rampenya semua di urus oleh Umi dan mama Esti, ibu-ibu muda yang sama-sama baru pernah akan menggelar hajatan, membuat mereka berdua sama-sama begitu antusias, ingin pesta pernikahan putra-putrinya berjalan se meriah mungkin.


__ADS_2